Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
146. Rangga, Ringgi dan Runggu


__ADS_3

"Kak, aku mau sendiri! Aku mau istirahat!" ucap Grael dengan lemah setelah Erlangga memutuskan sambungan telepon pada Beni.


"Aku nggak mau! Aku akan tetap di sini menemani kamu. El, aku sudah memecat Sherly, aku harus bagaimana lagi supaya kamu mau memaafkan aku?" Erlangga meraih tangan Grael.


"Kasih aku waktu!" Grael menarik tangannya lalu memasukan ke dalam selimut.


"Ok! Istirahat yang cukup! Kalau ada apa-apa, panggil aku!" ucap Erlangga yang mendengus pelan lalu mengecup kening istrinya sebelum dia keluar dari kamar.


Suara dentuman pintu tertutup pun terdengar seiring dengan air mata yang keluar dari pelupuk mata Grael, dia meremas kuat bantal yang sedang dia pakai untuk menahan suara isak tangisnya agar tidak keluar.


...----------------...


Bel pulang sekolah berdering dengan sangat panjang, menandakan pelajaran telah usai dan seluruh siswa diperbolehkan untuk pulang, meskipun baru jam satu siang karena semua pihak sekolah mengadakan rapat dadakan.


Rangga yang sudah stand by menunggu Emira di tempat parkiran, langsung masuk ke dalam mobil setelah melihat gadis pujaan hatinya telah keluar dari dalam kelas karena dia sudah tidak tahan dengan cuaca hari ini yang begitu panas.


"Mir, buku Lo ketinggalan!" ucap Rico salah satu teman kelas Emira.


"Oh, thanks ya!" sahut Emira dengan ramah, dia pun masuk ke dalam mobil Rangga.


"Ciie ... perhatian banget!" celetuk Rangga cemburu seraya menjalankan mobilnya


"Temen, Kak!" ucap Emira, dia pun langsung membuka tasnya dan melempar ke belakang kursi.


"Temen apa demen?" cetus Rangga yang perlahan melajukan mobilnya menuju jalan raya.


Emira langsung tertawa ketika tahu bila kekasihnya sedang cemburu, dia pun langsung mencubit pipi Rangga dengan gemas seraya mengucapkan, "Teman, Ayank!"


"Oh, ok!" ucap Rangga dingin.

__ADS_1


"Apa sih?" Emira tambah tertawa saat melihat Rangga cemburu, lalu menyalakan AC dengan volume besar seraya berucap, "Kak, ini Ac-nya kok nggak berasa sih?"


Rangga pun membantu mengutak-atik mesin pendingin dalam mobilnya. "Gimana? Udah belum?"


"Lumayan? Mungkin karena tadi di luar panas banget jadi nggak berasa!" Emira pun mengibas-ngibaskan tangan kanannya pada bagian dada.


"Kasian, sampai lepek begini. Mau lebih berasa nggak?" goda Rangga seketika dia mengingat adegan sang kakak yang sedang bercumbu mesra dengan mantan kekasihnya.


"Iissh, mesum!" Emira mendorong wajah Rangga saat wajah pria itu begitu dekat dengan wajahnya.


Rangga pun tertawa dan melajukan mobilnya kembali secara perlahan, karena ternyata jalur yang biasa mereka lalu menjadi macet total. Rangga pun menghela napas kesal dan memijat kenging-nya yang terasa pusing di kala matanya melihat kemacetan di siang hari.


Udara panas di siang hari membuat kedua sejoli yang berada di dalam mobil masih saja kegerahan meski volume mesin pendingin mobil sudah ditingkatkan.


Emira yang tidak tahan langsung membuka dua kancing atas dan mengibaskannya u


"Kak, buka jendelanya! Nggak kuat!" keluh Emira, dia pun terpaksa membuka baju seragam dan memperlihatkan tangtop warna putih yang begitu melekat di tubuhnya.


Perlahan mobil pun jalan kembali, tetapi lagi-lagi mobil pun harus berhenti. Rangga pun melirik ke arah Emira yang ternyata tertidur dengan posisi yang menggoda, mungkin karena semilir angin yang berhasil menerpa kulit putih Emira, sehingga sang empu yang awalnya kepanasan menjadi nyaman.


Entah setan apa yang merasuki pikiran Rangga saat melihat Emira dengan posisi yang cukup menggoda syahwatnya, sampai dia pun nekat mengulurkan tangannya ke arah wajah Emira yang sedang tertidur pulas.


Awalnya Rangga mengusap pipi Emira yang lembut, tetapi perlahan belaian Rangga semakin turun ke arah lengan Emira hingga ke ujung jemari tangan wanita yang sedang tertidur pulas itu, hingga tangannya menuju ke arah bagian bawah.


"Eehmm," Emira menggeliat saat pahanya di sentuh.


Rangga refleks menjauhkan tangannya saat Emira mengubah posisi, dia pun kembali fokus ke arah jalanan yang masih terlihat macet. Degup jantungnya begitu kencang, dia seakan menjadi lelaki kurang ajar yang mempunyai niat buruk.


"Hayo, Rangga ... cepat! Tuntaskan hasratmu! Mumpung dia tertidur pulas," bisik Rangga yang memakai baju hitam.

__ADS_1


"Jangan Rangga! Nanti kalau Emira bangun dan mengetahui kamu sedang melecehkannya, dia akan membatalkan pernikahan kamu sama dia!" Tiba-tiba Rangga yang mengenakan baju putih muncul secara tiba-tiba.


"Heh, Ringgi! Kamu lebih baik diam! Biarkan Rangga menuntaskan keinginannya, karena semua ini gara-gara Erlangga yang memamerkan kemesraannya!" bentak Runggu.


"Tapi, tetap saja tidak boleh lakukan hal seperti itu di saat Emira masih tidur, Runggu!" ucap Ringgi.


"Maksud kamu, tunggu Emira bangun baru Rangga boleh melakukannya?" pancing Runggu yang tersenyum nakal.


"Iya, baru boleh!" ucap Ringgi sepintas, tetapi dia langsung menyadari perkataannya. "Eh, bukan itu maksudku!"


"Ah, sudahlah ... lebih baik kau diam dan nikmati sensasi nikmat yang dilakukan Rangga, lebih baik kita menonton kehebatan Rangga sebagai seorang pria normal!" Runggu langsung membekap mulut Ringgi dengan ketiak basahnya lalu menghilang dari pikiran Rangga.


Ya, betul saja. Setelah perdebatan antara napsu dan akal sehatnya, akhirnya Rangga pun kembali melanjutkan aksi nakalnya. Dia menyeludupkan tangan kiri masuk ke dalam rok rampel Emira yang hanya selutut, kemudian dia tarik rok itu hingga terlihat jelas cellana dallam berwarna putih.


Glug, Saliva Rangga pun tertelan melihat kue apem Emira begitu montok dan menggiurkan. Tanpa lama-lama lagi, tangan Rangga mengelus lembut daging tembem itu dari balik kain putih.


"Aaahmm," rintihan Emira keluar begitu saja membuat Rangga semakin terbakar oleh hasrat yang membara.


Jari telunjuk Rangga terus menari sesuka hati dari atas sampai bawah dan terus berulang sampai akhirnya Emira tersadar dari tidurnya.


"Kak!" ucap Emira yang perlahan membuka mata. Namun, dengan cepat Rangga langsung mengcup bibirnya dengan lembut.


Ciuman itu semakin lama semakin dalam, sampai tangan Rangga semakin nekat menyentuh kembali yang berada di bawah sana, tangannya pun mendapat cakalan dari Emira menandakan bahwa wanita itu melarangnya.


"Boleh ya, nakal dikit!" pinta Rangga yang memelas.


Emira sempat menolak tapi mungkin karena usapan Rangga terlalu nyaman hingga akhirnya membuat pertahanan Emira runtuh begitu saja saat tangan Rangga begitu pintar menari di bawah sana.


Rangga pun tersenyum lalu kembali mellumat bibir Emira dengan lembut, tangannya kembali mengelus di bawah sana hingga suara klakson menyadarkan mereka. Akan tetapi, raga yang sudah terbakar oleh api asmara dia pun kembali menjalankan mobil seraya tangan kirinya terus bergerak lincah di balik ****** ***** Emira.

__ADS_1


"Eehhhmmm, Kak!" Emira menutup matanya saat dia merasakan sesuatu yang terasa banjir di bawah sana.


To be continued....


__ADS_2