
Sungguh Grael terkejut saat anak kecil sekitar umur empat tahun melihat ke arah dia bersama Erlangga sedang bertukar saliva. Dia segera mengusap bibirnya yang masih basah akibat ulah sang suami dan melihat Erlangga berjongkok sejajar dengan tinggi anak itu.
"Nama kamu siapa?" tanya Erlangga pada anak kecil yang terlihat menggemakan.
"Gino, Om!" Anak kecil itu terus menjilati permen lollipopnya sembari melirik ke arah Grael yang ternyata tersenyum ke arahnya lalu berkata, "Kakak cantik!"
Erlangga melihat arah pandang anak itu yang melihat ke arah istrinya, dia pun sedikit kesal pada anak itu dan berkata, "Gino, kamu kok bisa sampai sini, Mama kamu ke mana?"
"Mama ada, tuh di belakang Kakak cantik!" Tunjuk Gino ke arah Grael.
Sontak saja Grael dan Erlangga menengok secara bersamaan ke belakang, tetapi anehnya tidak ada orang sama sekali yang berada di belakang Grael sehingga istri Erlangga itu pun sedikit takut dan langsung ikut berjongkok di samping sang suami.
"Kak," ucap Grael yang ketakutan.
Erlangga pun menarik napasnya dengan pelan, dia kembali melihat ke arah Gino dan terlihat bila anak kecil itu sekarang menatapnya. Tidak bisa dipungkiri oleh Erlangga bila dirinya pun juga ikut takut atas apa yang baru saja anak kecil itu ucapkan, dia melihat ke arah kaki anak kecil itu yang ternyata masih menginjak lantai rumah sakit dengan sempurna.
"Gino, Gino ke sini sama siapa?" tanya Erlangga lagi.
"Sama, Ayah," jawab Gino dengan cepat.
"Ayahnya mana?" Erlangga melirik ke arah sekitar yang masih sepi dengan orang lewat meski hari masih siang.
"Di sana!" Gino menunjuk ke arah belakang Erlangga.
Grael dan Erlangga saling tatap menatap, antara ingin melihat dan juga tidak. Debaran jantung mereka semakin kencang ketika angin yang bertiup ke arah mereka seakan membangkitkan bulu halus mereka untuk berdiri tegak yang sertai oleh lambaian anak itu.
"Ayah!" Gino melambaikan tangan ke arah ayahnya yang berada di belakang Erlangga dan juga Grael.
__ADS_1
"Astaga, Ayah cariin dari tadi ternyata kamu di sini!" Ayahnya itu menghampiri ke arah Gino.
Erlangga dan juga istrinya bernapas lega, ternyata kali ini ayahnya Gino berwujud manusia. Erlangga mengusap kasar wajah yang sudah dibanjiri oleh keringat dingin, sedangkan Grael menghirup udara dalam-dalam untuk menetralkan rasa tegang dan takutnya.
"Syukur, Gino sudah bertemu sama Ayahnya!" ucap Erlangga pada ayahnya Gino.
"Terima kasih ya, Pak! Kebetulan tadi saya sedang membayar administrasi, memang dia terlalu aktif hingga saya dibuat kelimpungan!" ujar Ayah—Gino.
"Tidak apa-apa, wajar anak kecil aktif, lain kali lebih dijaga lagi anaknya!" ucap Erlangga.
"Ya, terima kasih, Pak!" Pria itu tersenyum ke arah Erlangga dan juga wanita yang terlihat masih muda.
"Dia, istri saya!" cetus Erlangga dengan cepat seraya menggenggam tangan Grael dan tersenyum ke arah Pria yang kini sudah menggendong Gino.
"Oh iya," ucap pria itu yang langsung tersadar dari lamunannya karena begitu mirip dengan mendiang istrinya. "Kalau begitu saya permisi dulu!"
Pria itu membawa Gino menjauh dari pasangan suami istri tersebut, tetapi Gino melambaikan tangan seraya berkata, "Dadah, Mama cantik!"
***
Jam terus bergulir, Rangga mulai tersadar dari tidurnya. Dia melihat ke arah samping yang ternyata Emira masih terlelap dalam tidurnya. Wajah yang putih mulus bersih itu dia usap dengan tangannya, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah emira.
Sungguh pengalaman pertama yang luar biasa, dia begitu bahagia ketika apa yang dia minta dari Emira sudah dia dapat. Entah apa yang membuat Rangga nekat meminta malam pertamanya, meski pernikahan mereka dua Minggu lagi.
"Maafkan aku, Emira. Aku terpaksa meminta padamu, karena aku takut! Takut kehilanganmu, sama halnya yang dulu pernah aku rasakan ketika bersama Grael." Rangga mengecup lembut bibir Grael.
"Terima kasih, kau memberikannya untukku! Terima kasih kau telah menjaga kehormatanmu padaku! Aku senang, Emira, aku bahagia! Setidaknya perasaan aku lebih tenang, dengan begini kamu sudah menjadi milikku!" ucap Rangga yang kembali menyesap bibir, leher serta kedua dada Emira secara bergantian.
__ADS_1
"Eeuungh! Kak Rangga?" Emira terbangun dari tidurnya akibat diusik oleh Rangga, di sisa tenaganya yang masih lemas Emira mencoba untuk mendorong kepala Rangga dari aset kenyal miliknya, tetapi tidak berhasil.
"Pengen lagi, Yank!" pinta Rangga yang memasang wajah melasnya.
"Masih, perih," keluh Emira. Namun sayangnya Rangga tidak mendengarkan ucapannya, hingga Emira hanya pasrah dan membiarkan Rangga menyesap secara bergantian pada aset kenyalnya.
Mereka pun mengulangi kembali aktifitas bercocok tanam di kebun ladang yang begitu subur, hingga Rangga benar-benar puas dan Emira terkulai lemas tidak berdaya. Dia mengecup seluruh wajah Emira ketika keringat pilu membasahi wajah dan tubuh mereka
***
Setelah pulang dari rumah sakit, Grael terpaksa ikut ke perusahaan Erlangga, karena perasaan hawa takutnya yang masih ada. Semua karyawan pada menunduk saat Erlangga datang bersama wanita muda nan cantik, membuat semua orang tahu jika Grael adalah istri dari atasannya.
"Siang, Bos—"
Yogi terkejut saat dia melihat atasannya datang bersama dengan wanita cantik yang membuat dia sudah tidur selama semalaman, karena terbayang bentuk lekuk tubuh yang membuat si Joni kembali berdiri. Dia pun menundukkan kepalanya saat menyadari itu dan tidak mau bila atasannya bakalan salah paham.
"Aduh, apes banget si kamu, El! Di sekolah ketemu Papi dan Rangga. Di rumah sakit bertemu Dokter Nadin, sekarang ketemu asisten Erlangga! Udah habis harga diri Lo!" gerutu Grael dalam hatinya saat berpapasan dengan Yogi. Dia pun masih mengikuti langkah kaki Erlangga pergi.
"Selamat siang, Nyonya!" Yogi menundukkan kepalanya seraya mengucapkan salam pada Grael. Lantas mengimbangi langkah Erlangga menuju kursi. "Hari ini meeting bersama seluruh staf departemen dua, Bos!" Yogi menyerahkan berkas tepat di atas meja.
Erlangga langsung duduk di kursi singgasananya, sedangkan Grael berdiri di samping Erlangga, sampai sang empu pun melihat ke arahnya dan tertawa.
"Kemarilah!" Erlangga menepuk pahanya agar sang istri duduk di pangkuannya.
Grael melihat ke arah depan, di mana Yogi sedang menatapnya, hingga dia memutuskan untuk memilih duduk di sofa tunggu yang berada tidak jauh di depan meja kerja Erlangga dari pada duduk di pangkuan Erlangga yang sedang bekerja.
"Kamu yakin mau duduk di situ?" tanya Erlangga yang mencegah tangan sang istri lebih dulu, dan menyuruh Yogi membawa sofa empuk untuk sang istri.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang!" Grael tersenyum manis pada suaminya saat dia duduk di samping Erlangga, sedangkan Yogi mulai merasakan debaran aneh saat melihat senyuman manis pada wanita muda yang telah menjadi istri atasannya.
To be continued...