
"Jangan pernah tersenyum apalagi tertawa dengan pria manapun!" Erlangga memegang tangan Grael dan menatap lekat kedua mata gadis itu.
Grael menelan saliva-nya ketika Erlangga menatapnya dengan sangat dekat lalu memejamkan mata dan perlahan bibirnya mulai mendekat ke arah Grael. Tanpa sadar Grael pun ikut memejamkan matanya.
Senyum terukir di bibir Erlangga, saat dia melihat gadis itu juga memejamkan matanya. Namun, Erlangga justru meniup wajah Grael dengan kencang, sehingga Grael menjadi terkejut dan merasa malu. Lagi-lagi dia terjebak dengan bodoh dan terlalu terbawa suasana.
"Er ... dah selesaikan? Ayo, buruan. Kita lanjut pemotretan!" Rio tiba-tiba datang untuk memberitahu kepada Erlangga.
Grael yang merasa dirinya terselamatkan dari rasa malu, memilih untuk meninggalkan Erlangga yang masih tertawa bahagia. Rio yang tidak mengerti dengan keduanya hanya memasang sorot mata penuh tanda tanya.
"Kenapa lagi tuh sama anak!" Rio menepuk jidatnya sendiri.
Sesi pemotretan pun dimulai, dengan gaya yang begitu keren, Erlangga mengubah gayanya menghadap kamera. Grael yang berdiri di samping Rio, terus memperhatikan Erlangga.
"Minum dulu!" Rio memberikan sebotol air kepada Grael.
"Thanks," ucap Grael.
"Jangan terlalu kesal dengan sikap Erlangga, dia seperti itu hanya ingin mencari perhatian dari kamu," ujar Rio menasehati Grael.
"Perhatian apa? Perhatian karena kekurangan Fans-nya?" celetuk Grael yang tersenyum sinis.
"Lambat laun, kamu pasti terbiasa dengan sikapnya." Rio terus memperhatikan Erlangga yang di arahkan oleh fotografer-nya untuk mengubah posisi gayanya.
"Lambat laun? Lebih tepatnya harus bersabar selama seminggu." Grael meminum kembali minuman botolnya.
Rio hanya tertawa mendengar penuturan dari gadis yang masih sekolah itu, tapi tawanya langsung berhenti, ketika Erlangga menatap tajam ke arahnya.
"Bentar ya, aku angkat telepon dulu!" Grael meminta izin kepada Rio dan dia pun berlalu pergi dari ruangan tersebut.
Raut wajah Grael bingung, ketika melihat nomor yang tidak dikenal. Dia mencoba menjawab panggilan tersebut dan menanyakan siapa yang sudah meneleponya.
"Astaga! Kamu gak save nomor aku?" tanya Rangga yang berada di seberang telepon.
"Oh, hah ... ya, lupa." Grael merasa bersalah karena belum sempat menyimpan nomor Rangga.
Rangga merasa kecewa dengan Grael yang belum menyimpan nomornya, dia mencoba untuk menanyakan soal keberadaan Grael sudah pulang atau belum, menanyakan sudah makan apa belum, hanya untuk memberikan bukti kalau dia beneran ingin menerima perjodohan tersebut.
Mendapat perhatian dari orang yang Grael suka, tentu perasaanya senang, tapi dirinya masih ragu soal perjodohan mereka, karena ibunya tidak menyampaikan apapun termasuk soal perjodohan.
__ADS_1
Grael hanya menganggap ucapan Rangga hanya sekedar hiburan di saat hatinya terlampau jauh dengan kehaluannya yang sudah tingkat tinggi, karena itu Grael hanya menjawab pertanyaan dari Rangga tanpa menanyakan balik keadaan Rangga.
"Kalau udah selesai, aku jemput ya?" tanya Rangga.
"Ah, gak usah Ngga! Aku nanti ada yang jemput kok." Grael menolak agar Rangga tidak menjemputnya, karena dia sudah berada di tempat yang berbeda.
"Loh kenapa? Ya gak apa-apa, kan sekalian juga ketemu sama kakak kamu," ucap Rangga.
"Jangan! Waktunya gak tepat. Kapan-kapan aja ya," pinta Grael.
"Oh gitu, ya sudah ... tapi besok pagi aku jemput ya? Jangan nolak!" ucap Rangga dan dijawab iya oleh gadis itu.
"Ya sudah, jangan tidur malam-malam ya," ucap Rangga.
"Iya," ucap Grael sembari tersenyum.
"Bye, Ay." Rangga langsung memanggil Grael dengan sebutan sayang.
"Bye, Ngga." Grael menutup teleponnya sembari tersipu malu mendengar ucapan dari Rangga, walaupun mungkin ini hanya sekedar candaan tapi entah mengapa rasanya dia tetap senang dengan candaan Rangga ketimbang candaan dari Erlangga.
"Dari siapa?" tanya seseorang yang sudah berdiri mendengar percakapan Grael.
"Astaga naga!" Grael terkejut dengan Erlangga yang berada di belakangnya.
"Mau tau aja!" Grael mendekap ponselnya agar tidak diambil oleh Erlangga.
"Lo lupa? Dalam surat yang udah di tandatangan, dilarang berhubungan dengan pria manapun!" tegas Erlangga yang sudah terbakar api cemburu.
"Lupa apanya? Orang gak ada di dalam surat itu! Wah ... ngadi-ngadi nih orang." Grael mendorong sedikit dada Erlangga saat dirinya begitu dekat.
"Ada! Jelas ada!" bentak Erlangga yang tidak bisa terpungkiri bahwa dirinya sangat marah dan kecewa saat mendengar percakapan Grael dengan pria yang belum dia ketahui.
Rio yang melihat pertengkaran Erlangga dengan gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir bahwa Erlangga mengarang cerita hanya karena rasa cemburunya.
"Awas, gue mau nanya sama Kak Rio!" Grael mendorong tubuh Erlangga dan menghampiri Rio.
Erlangga langsung memukul dinding dan mengejar Grael, saat gadis itu tengah mengadu menanyakan soal perjanjian dengan Rio. Erlangga langsung menggerakan anggota tubuhnya untuk memberi kode kepada Rio di belakang Grael agar tidak memberitahukannya.
"Hmmm, nanti kita bahas ya ... sekarang kita langsung balik ke apartemen." Rio mempersilahkan Grael untuk jalan terlebih dahulu.
__ADS_1
Grael pun menghentakan kakinya dan menatap sinis ke arah Erlangga dan juga Rio, dia merasa dirinya sudah dipermainkan oleh artis tersebut. Tidak terima begitu saja, dia langsung melangkahkan kakinya terlebih dulu untuk masuk ke dalam mobil tanpa membukakan pintu untuk Erlangga.
"Er, Er ... besok-besok jangan bawa nama gue, ok!" Rio menepuk pundak Erlangga dan membukakan pintu untuknya.
Selama perjalanan, Grael dan Erlangga saling terdiam. Tanpa berbicara dan saling sibuk dengan layar ponselnya masing-masing. Erlangga yang sibuk mencaritahu siapa lelaki yang dekat dengannya sedangkan Grael sibuk membalas pesan kakaknya yang sudah marah-marah karena sang Adik belum juga pulang.
Sesampainya di apartemen Erlangga, dia sibuk mencatat agenda selama sepekan. Dia juga mencatat segala keperluan untuk meet and great serta batasan pengunjung yang akan meminta foto serta tanda-tanganya. Sampai akhirnya, dia lupa untuk tidak meminta surat perjanjian yang ingin dia lihat kembali.
"Gimana udah?" tanya Rio.
"Sudah kalau gitu, aku udah boleh pulang kak?" tanya Grael yang tersenyum ke arah Rio.
"Siapin air panas dulu, gue mau mandi!" pinta Erlangga yang melihat masih ada setengah jam sebelum Grael pulang.
Grael pun melihat ke arah jam yang menunjukan pukul 08 : 23 pm. Dia hanya berdengus kesal dan menyediakan air panas serta handuk.
Erlangga pun memasang wajah masamnya saat melewati Grael yang berada di pintu kamar mandi, dia juga tidak lupa menyuruh Grael untuk menyiapkan bajunya.
Grael hanya mengangguk sebagai tanda menuruti perintah tuannya, dia memasuki ruangan walk-in closed yang begitu luas, matanya terus berkata bahwa semuanya sungguh luar biasa. Tangannya pun meraba lemari besar yang menjulang cukup tinggi.
"Astaga ... ini lemari apa bagasi mobil? Gila ruangannya, lebih gede dari kamar gue!" celetuk Grael saat melihat yang ada pada ruangan tersebut.
Dia pun membuka-buka semula lemari, dan mengambil baju tidur Erlangga serta celana panjangnya. Tidak lupa dia memeriksa setiap laci untuk mencari cellana dallam artis tersebut.
Grael pun tertawa saat menemukan laci lemari yang berisikan pakaian dallam Erlangga, pikiran jahilnya menghantui jiwa pelawaknya. Membayangkan bila dia berselfi dengan cellana dallam sang empu dan mengirimkan foto tersebut kepada Veby, pasti temannya akan terkejut tujuh hari tujuh malam.
Namun, itu hanyalah pikiran nakalnya saja, hingga akhirnya dia hanya mengambil cellana dallam menggunakan baju tidur Erlangga agar tanganya tidak terkontaminasi oleh kain segita tersebut.
Grael pun terkejut, saat dia ingin keluar dari ruangan pakaian tersebut, ternyata Erlangga sudah berdiri di depan pintu sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Asataga naga! Ngagetin mulu sih?" Grael memegang bagian dadanya saat terkejut.
Mata Grael sekilas melirik ke arah perut sixpack milik Erlangga sampai dikesulitan untuk menelan saliva-nya, Erlangga yang tahu pikiran gadis itu hanya tersenyum dan perlahan mendekat ke arah Grael.
Gadis itu perlahan mundur kebelakang, jantungnya berdegup kencang, saat melihat Erlangga yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang.
Dia berusaha untuk menguatkan imannya agar tidak termakan jebakan Erlangga lagi, dia pun menarik napas dan terus fokus untuk mengingat Rangga jauh lebih dari segala-galanya.
"Siapa dia?" tanya Erlangga yang memepet tubuh Grael hingga mentok ke pintu lemari.
__ADS_1
"Hah?" Grael yang bingung mendengar pertanyaan dari Erlangga, langsung membuka matanya.
To be continued...