
Hening sesaat ketika Erlangga sudah mengeluarkan segala emosinya dengan memporak pondahkan isi kamarnya, tempat tidur yang awalnya tertata rapih kini sudah tidak berbentuk, semua pajangan yang tersusun rapi kini hancur berkeping-keping.
Erlangga duduk di samping tempat tidur, dengan raut wajah yang sangat sulit di artikan, masih terasa deru napas yang menggebu-gebu saat melampiaskan kekesalannya terhadap benda yang ada di sekitarnya karena seberapapun Erlangga marah, dia tidak bisa melampiaskan nya pada tubuh sang istri.
Sementara Grael, dia tidak bisa berhenti mengeluarkan air mata menangisi kesalahan yang sudah dia perbuat, sama halnya yang pernah dulu Rangga lakukan terhadapnya. Entah karma atau Tuhan sedang menguji dirinya untuk merasakan posisi dulu di mana Rangga merasakan.
Grael pun pasrah, apa pun yang dilakukan Erlangga terhadap dirinya, entah itu mengusirnya atau menceraikannya, karena dia tahu kesalahan yang telah dia lakukan sulit untuk dimaafkan.
"Berhentilah menangis, kalau memang kamu masih mencintainya ... dan tidak bisa menerima pernikahan kita, aku kasih kamu kesempatan untuk lepas dari pernikahan ini!" Erlangga bangun dari duduknya, dia berdiri tepat di hadapan Grael kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar tersebut.
Begitu suara pintu tertutup, Grael langsung memeluk kedua lututnya seraya menangis sejadi-jadinya. Perasaannya begitu sakit saat melihat amarah dan ucapan Erlangga sangat menusuk ke relung hatinya, dia pantas menerima ini, dia akan menerima apapun hukumannya asal Erlangga mau memaafkannya.
Cinta pertama yang Grael miliki menjadi malapetaka bagi kehidupan rumah tangganya, sangat sakit hingga sulit rasanya Grael untuk bernapas. Dia memukul-mukul dadanya agar rasa sesaknya sedikit berkurang, tetapi tetap saja semua begitu sulit untuk Grael rasakan.
...----------------...
Malam pun semakin larut, tapi Grael tetap setia menunggu Erlangga untuk kembali pulang, sampai tubuhnya begitu lemas ketika dia melewatkan makan malamnya, walaupun Josua sudah mencoba untuk membujuknya makan. Namun, Grael memilih untuk menunggu sang suami pulang untuk makan bersama.
Sudah beberapa kali Grael menghubungi Erlangga, tetapi nomornya tidak aktif, dia juga sudah menghubungi Rio untuk menanyakan keberadaan suaminya, tetapi Rio sedang tidak bersama Erlangga dan akan mengabari Grael ketika Rio sudah menemukan Erlangga.
"Kak," gumam Grael ketika dia tertidur mengigau memanggil nama suaminya.
Sementara itu, di lain sisi. Suara alunan musik disko begitu menggema di ruangan itu, semua orang bersorak gembira melikak likukan tubuh mereka seirama dengan alunan musik yang dimainkan.
"Er, kita pulang sekarang!" Rio berniat membawa Erlangga untuk pulang ke rumah karena dia tahu kalau Grael sedang mengkhawatirkan Erlangga.
"Jangan sentuh gue! Biarin gue di sini, gue nggak mau pulang!" tolak Erlangga saat dirinya sudah dalam keadaan mabuk.
__ADS_1
"Er, kasian Grael, dia khawatir sama, Lo!" Rio mengangkat tangan Erlangga agar berada di pundaknya.
"Gue bilang, gue nggak mau pulang! Bodo amat kelinci liar itu khawatir atau nggak, gue nggak peduli! Sakit, Yo! Saakiit!" Erlangga menangis memeluk Rio.
Rio pun terdiam, dia sudah tahu semuanya entah apa yang ada dibenaknya saat ini dia merasa kasian terhadap Erlangga, hatinya memang memiliki perasaan pada istri sahabatnya itu, tapi dia tidak mau bila Erlangga sampai berantem dengan sang istri apalagi berpisah.
"Er ... gue rasa, Grael melakukannya karena terpaksa!" Rio mencoba memberi nasihat kepada Erlangga.
"Terpaksa? Terpaksa atau memang dia mau!" Erlangga tertawa seraya ingin menenggak minuman beralkohol lagi, tetapi Rio mencegahnya.
"Gue percaya sama Grael, dia tidak mungkin mengkhianati Lo, Grael cinta sama Lo, Er!" Rio terus menahan tubuh Erlangga agar bisa duduk dengan tegak.
"Cinta? Ck! Lo percaya sama dia? Karena, Lo juga cinta kan sama dia!" Erlangga tertawa ketika mendengar ucapan Rio.
"Bu–bukan gitu, mak–maksdu gue—"
Rio pun menarik bahu Erlangga agar duduk tegak, kemudian merangkulnya agar bisa di bawa ke dalam mobil, perlahan tapi pasti mereka pun sampai di dalam mobil.
"Gue akan buat dia hamil anak gue, Yo! Sebelum dia memutuskan untuk kembali ke anak ingusan itu! Aaiisshh ... dasar anak sialan! Semua yang gue punya pasti selalu dia ambil! Aaakkkhh ... brengsek! Gue nggak mau pulang, Yoo!" celoteh Erlangga ketika dia sudah berada di dalam mobil, dia pun mencekik Rio sembari melarangnya agar tidak membawa pulang ke rumah utama.
...----------------...
Pagi harinya, Grael terbangun di atas sofa kamar, dia tidak tidur di atas tempat tidur karena berharap Erlangga pulang meski telat. Dia pun menghela napas dengan pelan ketika dia melihat jam sudah menunjukan pukul enam pagi, kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
Hari ini Grael terpaksa masuk sekolah dengan kondisi yang kurang enak badan, matanya menghitam seperti panda, wajahnya sedikit pucat karena tidak bisa tidur, walaupun dia tahu kalau dia sudah ke siangan untuk berangkat ke sekolah.
"Ck, kasian! Baru juga menikah tapi sudah di tinggal pergi sama suaminya! Aah ... apa jangan-jangan—"
__ADS_1
Lydia menyindir Grael yang baru saja keluar dari kamar ketika hendak menuruni anak tangga.
"Berani Lo, ngomong! Gue ceburin Lo, ke kolam ikan!" ancam Grael dengan tatapan sinis.
"Kenapa? Lo, ngancem gue? Lo, pikir gue takut?" Lydia mendorong tubuh Grael saat berdiri tepat di pinggir tangga, sehingga Grael kehilangan keseimbangan dan menarik rambut Lydia.
"Aakkh! Sakit!" keluh Lydia yang kini posisinya berubah menjadi dia yang berada di ambang pinggir tangga sembari memegang tangan Grael.
"Ck! Lo, pikir gue takut sama babu kaya, Lo?" Grael tersenyum sinis ketika dia berhasil mengubah posisi mereka.
"Ja–jangan lepasin! Please!" mohon Lydia yang begitu ketakutan ketika nyawanya menjadi taruhannya.
"Heh! Apa yang kamu lakukan? Saya bisa menuntut apa yang kamu lakukan terhadap asisten rumah tangga saya!" Kylie datang menghampiri Grael yang berusaha untuk menjatuhkan Lydia dari tangga.
Lydia pun tersenyum ketika hidupnya tidak terancam. Dia pun berdiri di samping Kylie ketika wanita paru baya itu menyelamatkannya.
"Dasar menantu tidak tahu diri!" Kylie menampar pipi Grael dengan keras.
"Mih!" ucap Grael yang lirih ketika mendapat tamparan dari Kylie.
"Apa kamu bilang? Mih? Kamu pikir aku sudi dipanggil Mami sama kamu? Hah! Dengar ya, sampai kapanpun saya tidak Sudi punya menantu miskin seperti kamu! Dan jangan pernah berani-beraninya sok berkuasa di rumah ini!" Kylie menjambak rambut Grael dengan kencang.
"Aakkh, sakit! Tante!" Grael menahan jambakkan dari Kylie.
"Jangan coba-coba untuk menjadi Nyonya di rumah ini! Jangan kamu pikir, suami saya bersikap baik dan memanjakan kamu, terus kamu seenaknya di rumah ini! Sekali lagi saya lihat kamu mengusik asisten rumah tangga saya, kamu sendiri yang nanggung akibatnya!" Kylie melepas cengkramannya dengan kasar lalu pergi setelah menatap sinis ke arah Grael yang sedang kesakitan.
"Rasain!" Lydia menabrak bahu Grael dengan kencang lalu berlalu begitu saja.
__ADS_1
To be continued....