
Semua orang langsung terkejut dengan pengakuan Rangga, termasuk Emira sendiri. Kylie membuat mulutnya lebar-lebar, Josua langsung meremas kuat-kuat tongkatnya, sementara Grael langsung tersedak saat mengunyah buah apel pemberian sang suami, kecuali Erlangga, masih asik menikmati memakan buah apel bekas gigitan sang istri.
"Brengsek!" Rio langsung memukul wajah Rangga dengan sekali pukulan.
Rangga terhuyung ke bawah dan membuat bibir itu mengeluarkan darah, sontak saja semua langsung menambah ekspresi di wajahnya masing-masing.
"Kakak! Kenapa, Kakak mukul, Kak Rangga?" Emira mendorong tubuh Rio. Namun tidak digubris oleh Kakaknya.
Merasa tidak puas memukul Rangga sekali, dia pun melayangkan pukulannya lagi, sampai Erlangga juga ikut turun tangan sendiri menangani emosi Rio.
Entah dia membela Rangga karena tidak terima adiknya dipukul, atau itu tentang masalah emosi Rio, yang jelas untuk saat ini Erlangga bisa merasakan perasaan Rio sebagai seorang kakak.
"Yo, udah, Yo! Tenang, dulu!" Erlangga memeluk Rio sedangkan Emira memeluk Rangga.
"Lo, bilang tenang? Setelah apa yang Ade Lo lakuin ke Ade gua! Lo denger sendiri kan, dia ngomong apa? Ade Lo, udah ngerusak Emira!" Rio sekarang tersulut emosi menatap Erlangga.
"Gue tahu, Lo marah sama Rangga, tapi bener apa kata Rangga! Lebih baik dia yang tanggung jawab," ujar Erlangga yang menasihati sahabatnya.
"Kak! Aku tuh sama Rangga bel—"
__ADS_1
"Maaf, aku khilaf! Karena itu, aku mohon sama Kak Rio untuk merestui aku sama Emira!" Rangga menarik tangan Rio. Namun, sang empu menangkisnya, mau tidak mau Rangga berlutut meminta restu pada Rio.
"Rangga!" teriak Kylie yang menarik tangan Rangga agar bangun, tapi anaknya itu tidak juga mau bangun, hingga Kylie marah dan menampar pipi Rangga untuk bangun dan tidak berlutut.
Erlangga yang tersentuh dengan tindakan adiknya untuk meminta restu dari Rio, apalagi ketika matanya melihat air mata yang keluar dari Josua, gantinya gemetar merasakan sakit, dia mencoba berbicara secara perlahan pada sahabatnya itu agar merestui mereka.
Josua meraih bahu anaknya yang tengah berlutut di hadapan Rio agar bangun dan berdiri, dia sama sekali tidak bisa melihat anaknya mengemis seperti ini.
"Untuk saat ini, saya hanya bisa merestui kalian!" Rio mengucapkan hal tersebut sembari mengepalkan tangannya menahan emosi.
Mendengar Rio sudah memberikan dia restu, Rangga langsung bangun dari berlututnya, dia pun memeluk Rio dengan gembira seraya berkata, "Makasih, Kak! Makasih!"
"Jangan senang dulu, Mami masih belum merestui kalian! Jadi jangan harap bisa semudah itu!" ancam Kylie yang menatap sinis ke arah Emira.
"Apa sih, Pih! Nyebelin banget, dapat mantu satu tipe kaya dia aja, buat Mami pusing! Apalagi nambah satu lebih parah nyebelinnya dari, dia!" Kylie menatap tajam ke wajah Emira lalu berpindah menatap ke arah Grael, kemudian dia berjalan masuk menaiki tangga.
Setelah semua telah usai dengan keputusan Rangga akan bertanggung jawab, Josua akan menghubungi tanggal pertunangan Rangga dengan Emira secepatnya. Namun, Rio menolak karena Emira masih bertunangan dengan Steven, Rio akan bilang terlebih dahulu masalah Emira kepada orang tuanya.
Akan tetapi, bukan masalah perihal tentang Rangga yang akan bertanggung jawab kepada Emira. Usai memberi pengertian pada orang tua Rangga, Rio pun menarik tangan Emira untuk segera pulang dari sana.
__ADS_1
"Kak, aku mau ngomong sebentar sama Kak Rangga, Kakak duluan aja ke mobil, nanti aku nyusul!" ucap Emira.
"Awas lama! Jangan macam-macam!" bentak Rio.
"Iya!" sahut Emira yang tersenyum.
"Ya sudah kalau gitu, Papi mau ke atas dulu. Er, jagain Rangga! Awasi dia!" Josua menatap tajam ke arah Rangga.
Erlangga tidak mendengar ucapan ayahnya, dia lebih memilih untuk bicara pada Grael, sampai istrinya itu menyuruh Erlangga menjawab ucapan Josua.
"Er!" teriak Josua.
"Iya, Pih ... Erlangga juga denger! Nggak budek!" sahut Erlangga yang memang benar-benar membuat Josua terus darah tinggi.
Josua pun menatap sinis sembari mengarahkan tongkat ajaibnya ke arah Erlangga, kemudian dia melangkahkan lagi kakinya ke arah tangga.
"Mau ngomong apa?" tanya Rangga ketika mereka tinggal berempat di ruangan tengah itu.
"Kenapa Kak Rangga bisa ngomong itu ... sama Papi? Kan kita ... kenapa Kakak tidak jujur?" Emira terpaksa memotong sesuatu dengan kata-kata tertentu agar Erlangga dan Grael tidak mengerti bahwa mereka.
__ADS_1
Rangga langsung menjelaskan secara perinci kenapa dia bisa berbicara seperti itu, agar dia bisa merebut Emira dari tangan Steven, meskinpun membuat semua salah paham terhadap mereka berdua, setidaknya itu membuat mereka terikat.
...To be continued......