
"Astaga naga! Lo ngapain ke sini, ini kan toilet cewek! Gila Lo?" Grael terkejut saat keluar dari dalam toilet dan hendak mencuci tangannya, melihat Rangga sudah berdiri bertengger di depan wastafel.
"Ay, Lo juga tahukan? Kalau Ibu sambung Emira, bonyok—Veby?" tanya Rangga to the poin.
"Apaan si, ay, ay ay! Kan, bisa bicarain di rumah, Rangga! Dah ah ... gue mau keluar, entar yang ada, Kak Erlangga salah paham kalau sampai dia tahu!" Grael mendorong tubuh Rangga dan mencuci tangannya. Begitu telah usai dia ingin membuka pintu, tetapi dicegah lebih dulu oleh Rangga.
"Tunggu dulu! Gue belum selesai ngo—"
Baru saja Grael membuka pintunya tapi Erlangga sudah standby berdiri di depan pintu keluar toilet wanita. Rangga yang memegang tangan Grael langsung melepaskan begitu saja.
"Ka–kak, ini ... nggak seperti yang kamu kira! A–aku sama di–dia—”
Erlangga langsung meninggalkan mereka berdua dengan perasaan yang tidak menentu, hatinya tidak bisa dipungkiri bila dia memang cemburu, sangat cemburu dengan adik tirinya meski dia tahu Rangga tidak mungkin menyakiti Emira.
"Nggak usah lebay, Kak, cemburunya! Lo, tahu kan, gue nggak bakal ngerebut Ay gue dari Lo!" Rangga mengimbangi langkah kaki kakaknya.
Erlangga langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan sang adik. "Sekali lagi Lo nyebut istri gue, Ay! Tamat riwayat, Lo!" Erlangga melempar tatapan sinis ke arah Rangga dan melihat ke arah belakang ternyata istrinya berlari karena tertinggal jauh.
"Hanya bercanda Kak, anggep aja itu panggilan sayang gue ke—"
Ucapan Rangga terpotong saat Kakaknya maju satu langkah ke arah Rangga sembari memasang aura gelap. "Eh, iya, iya, iya ... nggak!"
Erlangga langsung menarik tangan sang istri untuk masuk ke dalam mobil miliknya, mobil pun melaju menuju rumah utama. Begitu sampai di rumah utama dan saat Erlangga dan istrinya masuk ke dalam. Tenyata Josua sudah lebih dulu tiba di rumah dan langkah mereka berhenti ketika Josua memanggilnya.
Mereka berdua duduk untuk membicarakan rencana Erlangga yang akan membawa Grael pindah ke rumah baru. Rumah yang baru saja selesai dibangun akan menjadi saksi rumah tangga yang harmonis dengan keceriaan canda tawa anak-anak mereka.
Josua sangat berat hati, bila harus jauh dari menantu kesayangan, dia berharap Grael masih tinggal di rumah utama sampai Grael lulus. Namun, Erlangga tidak mengijinkan harapan sang ayah untuk tetap tinggal di rumah utama sampai Grael lulus karena dia tidak mau bila rencana yang sudah berjalan 50% untuk menyelidiki kasus kematian ibunya berantakan begitu saja.
"Ok! Papi tidak akan melarang kalian lagi untuk tetap tinggal di sini, tapi ... ijinkan Papi mengajak Grael berlibur!" ucap Josua yang merasa sedih.
"Apa? Ngga!" tolak Erlangga dengan cepat
__ADS_1
"Pih!" Kylie terkejut dengan permintaan suaminya.
"Rangga setuju!" ujar Rangga dengan senang.
"Loh, kenapa? Papi hanya ingin merayakan ulang tahun menantu Papi! Apa salah? Lagian cuma satu hari masa nggak boleh!" terang Josua yang menjelaskan.
"Pi, istri Erlangga bukan anak perempuan kecil lagi!" Erlangga berdiri tapi Grael menarik lengannya agar duduk lagi.
"Ya, Papi cuma mau ajak ke pantai," ucap Josua.
"Pih, jangan kaya anak kecil! Lagian Grael bukan anak kecil lagi!" tegur Kylie yang kesal dengan sikap suaminya.
"Yes, Rangga setuju kita ke pantai!" sela Rangga dengan cepat.
"Kita sudah puas ke pantai, Pih!"
Josua pun merasa sedih ketika dia menginginkan satu hari bersama menantu kesayangannya ternyata masih tidak di kasih kesempatan oleh anak pertamanya.
"Pih, bagaimana kalau kita camping satu hari satu malam?" usul Grael yang menyarankan kepada Papi mertuanya.
Belum sempat Rangga menyetujui ide Grael, sorot matanya langsung menciut di saat Erlangga menatapnya dengan tatapan tajam.
"Mami nggak setuju! Pokoknya nggak ada camping-campingan segala! Norak!" Kylie bangun dari tempat duduknya dan pergi begitu saja.
Mendengar ucapan Kylie yang begitu kasar terhadap istrinya membuat Erlangga geram, ingin sekali dia langsung memberi Kylie pelajaran saat itu juga tapi Grael menahan tangannya sembari tersenyum.
"Ok, kita camping di danau M," ujar Erlangga yang membalas senyum istrinya agar tidak merasakan sakit hati dengan ucapan Kylie.
"Ok, kalau gitu kita berangkat pagi-pagi sebelum matahari terbit!" ucap Josua yang senang ketika dia bisa menikmati waktunya kembali dengan menantu Kesayangannya.
"Boleh, Rangga ajak Emira?" Rangga mengangkat tangannya sembari memakan buah jeruk yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Boleh," ucap Papi.
"Nggak!" bentak Erlangga.
"Apa urusannya sama Lo, Kak? Papi aja bolehin!" Rangga melempar kulit jeruk di atas meja dengan kesal.
"Ya adalah! Gue nggak mau sampai gue tidur terpisah sama istri gue, gara-gara tidur sama calon bini Lo!" Erlangga menyandarkan punggung di sandaran sofa dan mengangkat kakinya ke atas kaki satunya lagi sembari merentangkan tangannya ke arah bahu Grael agar sang istri bersandar di lengannya.
"Jadi bener, Pih? Rangga boleh satu tenda sama Emira?" tanya Rangga yang semangat mengartikan maksud Erlangga.
"Kata siapa?" Josua langsung mengambil tongkat saktinya mendengar pertanyaan Rangga. Tentu saja Rangga menunjuk sang kakak yang mengijinkan dia untuk satu tenda dengan Emira.
"Lah, gue di bawa-bawa, kamvret!" Erlangga langsung melempar bantal sofa ke arah wajah sang adik tepat sasaran, tentu saja aksi keributan antara sang ayah dan kedua anaknya membuat Grael tertawa.
"Ampun, Pih! Aduuh, sakit! Ay ... tolongin, Ay!" keluh Rangga yang mencoba menghindari dari amukan tongkat sang ayah sedangkan Erlangga langsung mencekik lehernya seraya menaiki tubuh sang adik dengan bercanda ketika mendengar kembali bila dia menyebut panggilan sayang untuk kakak iparnya.
...----------------...
Keesokan pagi sebelum matahari terbit, semua perlengkapan camping sudah di siapkan secara matang dan tidak ada satupun yang tertinggal, begitu komplit.
"Pih, Mami nggak ikut?" tanya Grael kepada Josua.
"Biarkan saja, dia ingin bersenang-senang dengan teman arisannya! Jangan terlalu dipikirkan, yang penting kita juga happy, nanti Papi ajari kamu memancing ikan!" Josua mencubit gemas pipi Grael.
Hal itu membuat Erlangga langsung berdiri di samping sang istri dengan rasa posesif sebagai suaminya, kemudian mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Perjalanan menuju tempat tujuan pun begitu menyenangkan ketika Josua terus mengajak Grael bernyanyi saat matahari telah menampakan kilau senjanya dari belahan bumi.
Pak Beni yang menyetir, Josua duduk di samping Beni. Erlangga dan Grael duduk di bangku tengah sedangkan Rangga duduk di bangku belakang sembari bermain game lewat ponselnya.
Terlihat jelas di wajah ceria lelaki tua itu di mata Erlangga ketika saat bersama Grael, entah apa yang membuatnya begitu menyayangi istrinya seperti anak perempuannya sendiri.
__ADS_1
Senyum di bibir Josua yang begitu banyak kerutan bersinar kembali setelah sekian lama semenjak istrinya meninggal senyum lebar itu jarang sekali Erlangga lihat. Namun, kehadiran Grael membawa warna kepada dirinya dan juga ayahnya.
To be continued...