Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
171. Pertemuan kembali Er dan Rio


__ADS_3

"Selamat datang Nyonya dan Tuan Erlangga! Akhirnya kita bisa bertemu lagi." Rio menyambut kedatangan sahabatnya dengan ramah.


Erlangga tertawa seraya membalas jabat tangan dan pelukan hangat dari sahabat, dia pun duduk bersama sang istri di dalam ruangan kantor Rio. Erlangga mengajak sang istri untuk menemaninya bertemu dengan Rio mengajaknya bekerja sama sebagai rekan bisnis.


"Suatu kehormatan bagi saya, tuan Erlangga mau datang langsung ke kantor saya!" Rio memberikan minuman dingin kepada Erlangga dan juga Grael.


Erlangga hanya tertawa mendengar ucapan Rio lantas melihat sahabatnya itu memberikan minuman seraya melirik ke arah sang istri. Bisa Erlangga tebak bahwa sahabatnya itu masih memiliki perasaan pada istrinya karena sampai pada saat ini Rio masih tahu minuman kesukaan Grael, dia hanya tersenyum saat melihat bagaimana sahabatnya itu berusaha untuk membatasi dirinya pada sang istri.


"Jadi bagaimana? Apakah kamu akan setuju?" tanya Erlangga. Dia tidak akan ragu-ragu memilih partner bisnisnya untuk diajak kerjasama, karena menurutnya Rio adalah tipe orang yang bekerja keras cerdas dan cekatan.


Terbukti ketika melihat perusahaan Mahendra yang hanya dalam hitungan beberapa hari sudah berkembang dengan pesat, karena itulah Erlangga benar-benar berat merelakan Rio keluar dari perusahaannya.


"Apa aku akan menjadi sainganmu jika tidak mau menandatanganinya?" Rio menunjukkan ekspresi wajah yang sombongnya.


Erlangga tertawa lalu berkata, "Kau akan menyesali bila menolak bekerja sama dengan grup jaya!"


"Wow! Sungguh luar biasa," ucap Rio seraya menepuk tangan, dia pun melirik ke arah Grael. "Aku akan tertarik dan mempertimbangkan untuk bekerja sama dengan grup jaya, asal Nyonya Erlangga sendiri yang memintanya."

__ADS_1


"Apa kau mau mati?" Erlangga langsung melempar tatapan sinis kearah Rio.


"Sayang!" ucap Grael yang menahan tangan suaminya agar tidak terpancing emosi dengan candaan sahabatnya.


Rio tertawa lepas ketika melihat ekspresi dari raut wajah sahabatnya yang sangat mudah terpancing emosi ketika menyangkut istri tercinta—Grael Arabella, dia sangat suka menggoda sahabatnya yang satu ini.


"Ayolah, Er ... apa kamu akan rela bila aku menjadi saingan bisnismu? Itu sih, terserah keputusanmu!" Rio masih dengan sombongnya terus memancing emosi sahabatnya itu.


"Dalam mimpimu!" Erlangga melempar tatapan sinis ke arah Rio tetapi sahabatnya itu masih dengan angkuh menatap ke arahnya.


"Tidak, tidak usah! Tidak jadi, kita pulang!" Erlangga langsung berdiri menggandeng tangan istrinya.


"Oh, oke! Sekarang kita saingan bukan di dunia percintaan saja ya? Tetapi juga di dunia bisnis?" ucap Rio.


"Kak Rio! Kenapa sih kalian berdua ketemu berantem, jauhan aja pada kangen! Lagian tinggal di tandatangani aja sih kak!" ucap Gatel yang menjadi emosi.


"Sayang!" Kesal Erlangga ketika mendengar Grael mengucapkan meminta Rio untuk tanda tangan hingga membuat sahabatnya itu tertawa senang penuh kemenangan.

__ADS_1


"Oke, aku akan menandatanganinya! Karena istrimu sendiri yang memaksaku!" Rio masih dengan sikap sombongnya langsung menandatangani surat kerjasama.


"Kamu itu!" Erlangga langsung mencium bibir Grael di depan sahabatnya saat dia selesai menandatangani kesepakatan antara mereka.


"Astaga!" Rio hanya menggelengkan kepala saat melihat kedua sejoli itu sedang menikmati cumbuan mesra di kantornya.


Tentu saja Rio mengusir kedua sejoli tersebut dari dalam ruangannya seraya menyerahkan dokumen kepada Erlangga, dia begitu kesal karena baru saja dia putus dengan tunangannya tetapi Erlangga secara gamblang mempertontonkan aksi tumbuhannya bersama wanita dan kini masih tersimpan di relung hatinya.


Begitu Erlangga dan Grael telah pergi, dia pun kembali melakukan aktivitas seperti biasanya duduk di kursi singgasana perusahaan yang masih merintis untuk menuju kesuksesan. Namun, pada saat dia ingin memulai kembali aktivitas, sekretaris menghubungi dia melalui telepon kantor bila ada interview pada calon karyawan baru di perusahaan tersebut.


Rio menyuruh sekretarisnya untuk membiarkan para peserta calon karyawan di perusahaannya masuk ke dalam ruangannya. Begitu sekretaris itu mengatakan bila para calon sekretaris yang akan menggantikan posisinya sudah ada di depan pintu ruangan miliknya, iya pun langsung menyuruh agar mereka masuk ke dalam ruangan.


Rio teramat terkejut, bila salah satu yang menjadi peserta calon sekretaris dia adalah wanita yang dulu kemarin pernah dia ajak gelut seperti pertandingan sumo.


"Ck! Ternyata dia? Apakah dia tidak lolos melamar di hotel tersebut?" Ucap Rio dalam hati.


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2