Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
7. Hari pertama


__ADS_3

"Thanks, ya ... Ngga." Grael membuka sabuk pengamannya ketika sudah sampai di depan sebuah hotel.


Rangga menahan tangan Grael sebelum sang empu membuka pintu mobil, dia membuka jaketnya dan memakaikan jaket pada tubuh gadis itu.


"Anginnya cukup gede, jangan sampai sakit!" Rangga mengacak poni Grael sembari tersenyum.


Grael terkesimak saat mendapat perlakuan lembut dari Rangga, dia pun mencubit pipinya sendiri untuk meyakinkan bahwa dia tidak sedang bermimpi.


"Aaww!" keluh Grael kesakitan ketika mencubit pipinya sendiri.


Suara tawa Rangga keluar dari bibirnya saat melihat tingkah konyol yang dilakukan oleh Grael, dia mengelus pipi sang gadis sembari meniupnya dengan lembut.


Lagi dan lagi, Grael dibuat meleleh dengan sikap Rangga terhadapnya. Jika ini hanya mimpi, dia memilih untuk tidak mau bangun dari tidurnya, tapi Grael tersadar. Rasa sakit saat dia mencubit pipinya sendiri menandakan bahwa ini bukanlah mimpi.


"Kamu masih gak percaya? Ya ... emang sih, aku aja gak percaya, bisa dijodohin sama kamu dan nekat pidah sekolah, cuma mau kenal kamu lebih dalam lagi," ucap Rangga dengan jujur.


"Ah, a-aku—”


Suara ponsel yang berbunyi menghentikan Grael untuk melanjutkan bicaranya, gadis itu langsung mengambil ponselnya dan melihat nomor yang tidak dikenal. Dia pun memutuskan untuk menjawab panggilan nomor asing tersebut.


"Dalam waktu lima menit, kalau belum sampai juga. Lo tanggung sendiri akibatnya!" ancam suara Pria dari seberang telepon yang sudah emosi


Grael langsung tersadar mendengar ucapan dari pria tersebut, dia memasukan ponselnya kembali ke dalam sakunya dan meminta maaf karena sudah merepotkan Rangga.


"Sekali lagi, thanks ya ... Ngga!" Grael berlari kecil memasuki hotel.


Belum sempat Rangga menanyakan siapa yang menelepon gadisnya itu, Grael sudah lebih dulu turun dari mobil dan menutup pintu. Rangga hanya tersenyum melihat tingkah Grael, dia pun melajukan mobilnya kembali.


***


Deru napas yang tersengal-sengal, rambut yang sedikit acak-acakan akibat berlari kencang, membuat Erlangga terpesona. Begitu cantik Grael saat ini, hingga pikiran Erlangga menjadi berkelana membayangkan sesuatu yang membuatnya merasakan aura panas di tubuhnya.


Grael mengatur deru napasnya sembari duduk dan menyandarkan punggungnya, dia tidak perduli dengan Erlangga yang melihatnya tidak punya etika etika saat dirinya lelah berlari mengejar waktu.


"Lima menit pas! Tar dulu ... kasih gue napas!" Grael melihat ke arah jam tanganya sembari merasakan nikmat di pinggulnya yang bersandar di sofa dan merentangkan kakinya yang terasa berdenyut.


Tangan Erlangga langsung menyuruh Rio untuk memutarkan badannya agar tidak melihat ke arah Grael dengan posisi yang sungguh menggoda iman, Erlangga menikmati pemandangan yang luar biasa memancing adrenalin jantungnya sembari menyesap secangkir kopi.


Jakun pria itu naik turun menelan minuman kopi yang dia minum, ada rasa senang melihat gadis itu ada di depan matanya sembari membuka jaket untuk menutupi pahanya yang terekspos.


"Rio!" panggil Erlangga untuk menjelaskan apa saja yang harus dikerjakan oleh Grael.


Mulai dari jam lima sore sampai jam sembilan malam, Grael harus mematuhi perintah Erlangga selama itu masih dalam batas normal. Setelah jam sembilan malam dia akan di antar oleh supir pribadi Erlangga.


Tugas pertama Grael hari ini, harus menemani Erlangga untuk syuting iklan, pemotretan dan mempersiapkan acara Meet and Greet disalah satu sebuah mall ternama dan seterusnya untuk sepekan.


Grael pun mencatat setiap agenda Erlangga melalui ponselnya, selama sepekan penuh. Tidak lupa dia mencatat nama dan alamat apartemen milik Erlangga.

__ADS_1


"Oke, sekarang kita langsung ke lokasi syuting." Rio menunjukan jam di tangannya karena waktu semakin bergulir.


Grael pun menyiapkan segala keperluan Erlangga atas perintah Rio, dia mengambil sebuah mantel lalu memakaikannya kepada sang empu.


Langkah Erlangga begitu cepat, hingga Grael kesusahan untuk mengimbangi langkahnya, mengetahui gadis itu belum terbiasa dengan langkahnya. Erlangga sengaja memperlambat jalannya.


Rio yang menyadari itu tidak bisa menahan emosinya, dia pun membentak Erlangga untuk mempercepat langkahnya agar sampai pada titik lokasi tepat waktu.


"Aduh Ngga ... bisa gak sih jalannya di percepat? Mau telat nih!" keluh Rio yang melihat Erlangga begitu lambat jalannya.


"Batal!" ancam Erlangga dengan tegas, karena tidak suka bila dirinya dipanggil nama singkatan dari belakang.


"Eehhh, jangan ngambek dong zheyeng!" Rio hanya tersenyum dan menyuruh Grael membukakan pintu mobil.


Grael yang tertinggal jauh di belakang Erlangga mencoba untuk berlari dan pada akhirnya dia tidak sengaja tersandung oleh tali sepatunya, sehingga dia menambrak dada bidang Erlangga dengan sangat keras.


"Ma-maaf, gak sengaja!" Grael langsung bangun dari pelukan Erlangga dan mengusap bahu pria tersebut sembari tersenyum.


Rio menarik lengan Grael agar sedikit menjauh dari Erlangga, tapi sang empu menahan tubuh gadis itu. Dia membungkukkan tubuhnya membuat sang gadis menjadi terharu.


Namun sayang, Erlangga membungkukkan badannya untuk mengelap sepatunya yang terijak oleh Grael, menyadari dirinya terlalu baper dengan sikap Erlangga, dia menjadi kesal.


'Gila ... begoo banget gue, masih aja kena kibul sama kang sombong ini.' Grael memasang wajah kesalnya sembari membukakan pintu mobil untuk Erlangga.


Erlangga tersenyum saat dia berhasil menggoda gadis yang masih belia tersebut, dia pun masuk kedalam mobil sembari menarik tangan Grael untuk tidak duduk di depan bersama Rio.


"Mana hp lo?" pinta Erlangga.


"Mana?"


Grael hanya berdengus kesal, dia memberikan ponselnya dan melihat Erlangga sedang mengutak-atik ponsel tersebut.


"Sekali lagi blok, tanggung sendiri akibatnya." Erlangga menyentil kening Grael dengan sangat keras.


Kening Grael terasa sakit saat disentil oleh Erlangga, dia mengusap kening untuk mengurangi rasa sakit, sembari memasang wajah yang masam. Kesal dan benci yang tersirat dari sorot mata Grael saat melihat Erlangga langsung memejamkan mata usai menyentil keningnya.


'Dasar monster! Rasanya ... pengen—’


"Jangan katain saya, hati-hati bisa jatuh cinta!" ucap Erlangga sembari memejamkan matanya.


'Astaga! Kok dia tahu kalau gue—’


"Ya tahulah!" ucap Erlngga yang masih memejamkan matanya.


Grael memilih untuk menghubungi kedua sahabatnya agar sang ibu tidak terlalu khawatir. Usai mengabari kedua sahabatnya, dia memilih untuk melihat ke arah luar jendela, melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi. Sebagian gedung terdapat layar lebar yang menggambarkan sosok Erlangga dengan penampilan yang membuat kaum wanita menjadi penggemar beratnya.


Grael yang dulu sebelum mengenal sifat asli Erlangga pasti akan berteriak histeris saat dia duduk satu mobil dengan artis idolanya. Namun, sekarang hatinya justru merasa kesal dan ingin menjauh dari artis sombong itu.

__ADS_1


Perjalanan pun sampai pada titik lokasi, Rio menyuruh Grael untuk membukakan pintu untuk Erlangga, tapi pada saat Grael turun. Dia melihat tali sepatunya sudah terikat dengan sampul pita yang manis.


Senyum manis terukir disudut bibir Grael saat dia menyangka bahwa Rio yang sudah mengikat tali sepatunya, dia pun membukakan pintu untuk Erlangga dan mengucapkan terima kasih kepada Rio.


"Thanks, ya." Grael tersenyum manis kepada Rio, tapi yang mendapat ucapan terima kasih justru bingung dengan Grael.


"Thanks, ya!" sindir Erlangga kepada Rio, ternyata sang empu melihat Grael tersenyum ke arah Rio.


Rio yang bingung dengan sikap Grael dan Erlangga, hanya mengerutkan keningnya dan berjalan menyusul mereka. Langkah demi langkah Grael imbangi saat Erlangga berjalan menuju ruangan privasinya.


Grael langsung menyiapkan tempat duduk Erlangga sebelum sang empu tampil untuk melakukan syuting, dia memberikan minuman vitamin untuk artis tersebut.


"Sayang ... kangen!" ucap seorang perancang busana yang akan dipakai oleh Erlangga dalam syuting iklan.


"Hai, kenapa gak telepon kalau kangen." Erlangga membalas pelukan dari wanita cantik itu.


Grael yang duduk di samping Erlangga, langsung tercengang melihat Erlangga begitu akrab membalas ciuman pipi serta pelukan dari wanita cantik tersebut, perempuan itu melihat ke arah Grael yang masih mengenakan seragam sekolah.


Erlangga yang melihat sorot mata sang perancang busana ke arah Grael, langsung menyuruh Rio untuk mengajaknya keluar terlebih dahulu. Sang manager hanya memberi isyarat lewat matanya agar Grael mengikutinya keluar, tapi dengan lugunya, dia mengangguk sembari memegang lengan Rio yang masih asik dengan ponselnya.


Sontak membuat Erlangga menjadi kesal melihat pemandangan yang ada di matanya, dia menggeser posisi wanita desainer itu dengan kasar.


"Dia siapa? Oh ... dia itu cewek yang Mama bilang ya?" tanya Farah kepada Erlangga.


"Bukan siapa-siapa! Mana bajunya?" tanya Erlangga dengan ketus saat melihat beberapa style yang akan dia pakai untuk syuting iklan


"Iissh, jutek banget sih, Oh ... iya gue baru inget, loe cemburu ya?" goda Farah yang mencolek pinggang Erlangga.


Farah Syie adalah desainer ternama diberbagi negara, dia dan Erlangga sangat dekat seperti layaknya sepasang kekasih. Namun sayang, desainer cantik itu adalah anak pertama dari Dokter Nadin.


"Cantik sih, Gak nyangka gue, lo ke cantol sama anak sekolah ... dah, buruan bawa ke rumah" rayu Farah saat dia mengambil salah satu style untuk digunakan.


"Apaan sih, gak lucu!" Erlangga pun mengambil baju dan bersiap untuk memakaikannya, kemudian di keluar bersama Farah.


Mata Erlangga langsung tertuju pada dua orang yang sedang asik melempar tawanya, begitu akrab Rio dengan Grael, gadis yang baru saja dia kenal kemarin sore.


Perasaan Erlangga menjadi terbakar oleh rasa cemburu, karena selama ini Rio tidak pernah seakrab ini dengan lawan jenisnya yang baru dikenal. Erlangga langsung melewati kedua orang tersebut yang kini mulai mematung melihat dia berjalan melewati mereka.


"Er ... kok jalan duluan si?" panggil Rio yang mengejar Erlangga. Begitu juga dengan Grael yang berlari mengejar artis itu.


Syuting iklan pun dimulai, Erlangga tampak terlihat keren dan mempesona dengan penampilan yang cukup memukau, hati Grael tidak dapat dipungkiri bahwa kini perasaannya begitu sedikit berbeda. Dia terpesona melihat pria yang lebih dewasa enam tahun dari usianya begitu tampan.


"Oke, bagus!" ucap sutradara.


Grael berlari untuk mengelap wajah Erlangga dengan tisu, ketika syuting telah berakhir dengan sekali take. Jantungnya berdebar kencang melihat wajah Erlangga dari dekat, tanganya mulai gemetar akibat gugup.


"Jangan pernah tersenyum apalagi tertawa dengan pria manapun!" Erlangga memegang tangan Grael dan menatap lekat kedua mata.

__ADS_1


Grael menelan saliva-nya ketika Erlangga menatapnya dengan sangat dekat lalu memejamkan mata dan perlahan bibirnya mulai mendekat ke arah Grael. Tanpa sadar Grael pun ikut memejamkan matanya.


To be continued...


__ADS_2