Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
81. Ingin anak


__ADS_3

Guci besar kesayangan Kylie hancur berkeping-keping ketika dirinya tidak sengaja menyenggol guci mahal tersebut, wajahnya pucat pasi serta ucapanya menjadi tersendat ketika Erlangga mencengkram kuat kuat leher Kylie karena begitu emosinya mengetahui dia yang sudah menampar Grael.


"Tuan, saya mohon lepaskan Nyonya besar!" pinta Lydia yang berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Erlangga dari Kylie.


Ucapan Lydia hanya angin lalu bagi Erlangga, tanganya masih menekan kuat-kuat batang leher Kylie dengan sorot mata yang begitu menakutkan. Amarahnya sudah tidak bisa ditahan ketika melihat rekaman cctv saat sang istri mendapat kekerasan fisik dari Kylie dan juga Lydia.


"Erlangga aku mohon hentikan! Aku akan melaporkan kamu kepada Tuan besar bila kamu tidak mau melepaskannya!" ancam Lydia yang menyebut nama Erlangga.


Sungguh berani Lydia ketika menyembut nama Erlangga dengan sebutan tanpa tuan, hingga Erlangga langsung menatap sini ke arah Lydia, dia juga menghempaskan Juli begitu saja ke lantai dan menekan leher Lydia dengan mudah.


"Dasar tidak tahu diri! Kalau saja ibumu tidak berjasa, sudah kupastikan kamu hidup di jalanan!" Erlangga menghempaskan Kylie ke lantai.


Sorot mata Erlangga begitu menakutkan hingga Kylie hanya bisa terdiam dalam ketakutannya, dia melihat Lydia menangis lalu memeluk kaki Erlangga seraya mengungkapkan rasa sukanya terhadap pria yang begitu menakutkan.


"Apa kamu bilang? Cinta? Kamu pikir kamu itu siapa? Bisa-bisanya mandingkan istri saya dengan pembantu rendahan seperti kamu!" Erlangga berjongkok menyeimbangi Lydia yang kemudian menjambak kuat-kuat rambut Lydia seperti Kylie menjambak rambut istrinya.


"Er ... aku yang lebih dulu mengenal kamu! Aku yang selalu menemani kamu! Bukan dia!" Lydia menangis seraya menahan sakit pada kulit kepalanya.


"Dengar ya, saya hanya menganggap kamu tidak lebih dari seonggok sampah, jadi jangan coba-coba menyentuh istri saya, kalau kamu tidak mau mati di tangan saya!" ancam Erlangga yang memperingati Lydia. Namun, arah pandangnya menatap tajam ke arah Kylie.


Lydia menangis sejadi-jadinya ketika dia mendapat hinaan yang begitu menyakitkan di relung hatinya, tangannya mengepal seraya menahan amarah yang tidak terima dengan apa yang Erlangga katakan.


Erlangga pun berlalu begitu saja keluar dari paviliun ibu tiri ketika dirinya sudah memberikan pelajaran kepada kedua ular berbisa, dia pun melangkahkan kakinya kembali masuk ke rumah utama.


"Dari mana kamu!" tegur Josua ketika dia baru pulang dari pertemuan kolega di Singapura.


"Bunuh ular!" Erlangga terus berjalan menuju kamar. Langkahnya sempat terhenti ketika Rangga baru saja keluar dari dalam kamarnya.

__ADS_1


Terlihat jelas di mata Erlangga saat melihat bibir Rangga yang seperti luka gigitan, ingatannya pun kembali saat mengingat foto ciuman sang istri dengan adik tirinya. Itu membuat Erlangga geram karena sudah lengah oleh kepolosan sang adik.


"Kak," panggil Rangga kepada Erlangga ketika sang kakak hanya terdiam sembari melempar tatapan sinis.


"Aakkh! Bang sat ... sakit!" keluh Rangga ketika Erlangga menabrak bahunya begitu kencang.


Erlangga pun terus berjalan hingga dia sampai di dalam kamarnya dan melihat sang istri sedang tertidur pulas di atas kasur yang berbalutkan selimut yang dilapisi emas.


Suhu tubuh sang istri sudah tidak terlalu panas ketika Erlangga mengecek demam Grael, ada sedikit perasaan lega di hatinya ketika melihat istri yang dia cinta ada di depan matanya. Namun, amarahnya masih memuncak ketika mengingat Grael pernah berciuman di belakangnya.


Untuk menetralkan rasa emosi Erlangga, dia pun membuka kaosnya lalu melakukan olahraga sebelum tidur dengan melakukan push up, terlihat jelas bentuk tubuhnya dengan otot yang kekar, perutnya yang sixpack.


Pandangan yang begitu tajam ketika melihat lawan, menambah kesan yang menjadi ciri khas seorang Erlangga Louis, hanya hitungan berapa menit dia pun mengganti posisinya melakukan sit up, pada saat itu juga ponselnya berdering dan mendapat tawaran melakukan sesi foto sebagai Sugar Daddy.


"Nat?" panggil Grael ketika berpikir dia masih berada di rumah sahabatnya. Matanya pun perlahan membuka dengan jelas ketika dia melihat sosok suaminya yang berdiri sembari memegang ponselnya.


"Hai, sudah bangun?" tanya Erlangga. Dia menaruh ponselnya di atas nakas.


"Mau makan?" Erlangga menghampiri Grael yang terus mengalihkan pandangannya. Entah itu mengalihkan karena tergoda dengan tubuhnya yang seksi atau memang dia sengaja menghindar karena marah.


"Nggak, aku mau tidur lagi aja," sahut Grael dengan intonasi suara yang masih lemah.


"Makan dulu, biar ada tenaga untuk menjawab pertanyaan aku kemarin!" Erlangga membuka selimut Grael lalu membantu sang empu untuk bersandar di divan.


"Buka mulutnya!" pinta Erlangga ketika dia sudah menyuapi Grael.


Grael pun membuka mulutnya secara perlahan, walaupun gengsi tapi perutnya berkata bahwa dia sedang lapar dan membutuhkan asupan untuk tenaganya.

__ADS_1


Begitu selesai makan, Grael pun diminta untuk meminum obatnya. Namun, Grael selalu menolaknya ketika disuruh untuk meminum obat. dia lebih memilih tidur sejenak untuk memulihkan kesehatannya kembali.


"Apa ini cara kamu agar mendapat empati dari aku?" tegur Erlangga


"Maksudnya?" Grael bertanya kembali untuk memastikan ucapan Erlangga. Dia pun langsung mengerti dan mengambil obat yang ada di tangan Erlangga kemudian meminumnya.


"Puas?" Grael menatap sinis ke arah Erlangga lalu menutup tubuhnya dengan selimut yang sebelum akhirnya ada sesuatu yang mengganjal di ulu hatinya.


Kibasan tangan untuk membuka selimut langsung begitu saja, Grael turun dari tempat tidur kemudian berlari ke arah kamar mandi, dia memuntahkan semua isi yang ada di perutnya.


Mendengar Grael muntah-muntah di dalam kamar mandi, Erlangga pun langsung menghampiri sang istri. Dia memijat bahu Grael seraya memberikan kenyamanan, tanpa ada rasa jijik Erlangga terus menemaninya sampai sang istri mengeluarkan isi cairan yang ada di perutnya.


Tubuh Grael langsung lemas ketika sudah mengeluarkan isi yang baru saja dia masukan ke dalam perutnya, kemudian tubuhnya terasa melayang ketika sang suami membopongnya ke atas tempat tidur lagi.


"Tidak usah terlalu peduli sama penggemarmu! Aku bisa jalan sendiri!" ujar Grael.


"Diamlah!" sahut Erlangga, dia menaruh Grael di atas tepat tidur kemudian memberikan segelas air hangat.


"Tidak usah panggil Dokter Nadin, aku baik-baik saja." Grael mengambil ponsel Erlangga ketika dia mengetahui bahwa sang suami mau menghubungi dokter.


"Kenapa?" tanya Erlangga.


"Karena aku cuma terkena demam biasa, sebentar lagi sembuh!" bentak Grael kearah Erlangga.


"Kenapa kamu menciumnya? Kasih aku satu alasan!" Erlangga mulai kehilangan batas kesabarannya, ketika dia ingin menanyakan kebenaran dari foto itu sedari tadi.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas aku sudah tidak mencintainya! Aku melakukannya karena terpaksa! Sekarang kalau kamu mau menceraikan aku silahkan! Pergilah dengan kekasihmu itu, tidak usah pedulikan aku!" Grael menangis mengeluarkan segala keluh kesahnya.

__ADS_1


"Aku ingin memiliki anak darimu!" ucap Erlangga yang secara langsung tanpa basa-basi dan itu membuat Grael terdiam dengan ucapan sang suami.


To be continued...


__ADS_2