Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
192. kekesalan Rangga terhadap josua


__ADS_3

Sudah, Yank ... eneg!" ucap Erlangga.


"Ya sudah, minum obat dulu ya ... Bentar aku ambilin obatnya!" Grael melangkah mengambil obat lantas memberikannya kepada Erlangga.


Penuh perhatian dan kasih sayang Grael merawat Erlangga sampai dia rela untuk bolos mata kuliah hari ini, dia juga meminta kepada teman-temannya untuk memberikan informasi mengenai tugas yang diberi oleh dosennya.


"Kamu, sakit apa?" tanya Dona di grup chat Pertemanan dengan Grael.


"Bukan aku yang sakit!" balas Grael.


"Loh, terus siapa yang sakit?" tanya Jack.


Lama Grael tidak membalas pesan dari teman-temannya, hingga membuat semua teman semakin penasaran oleh Grael. Mereka pun terus mengirim pesan agar dia membalasnya.


"Apa aku harus jujur saja, bahwa aku sudah menikah? Terus nanti pengaruh nggak ya, sama status Kak Erlangga di sini?" Batin Grael. Dia melihat ke arah suaminya yang masih terbaring memejamkan mata usai meminum obat.


Tangan lembut itu mengelus kepala Erlangga dengan penuh kasih sayang kemudian dia mengecup kening itu sembari berdoa untuk kesembuhan sang suami dan dia mencoba untuk membalas pesan dari teman-temannya grup chat.


Grael membaca semua pesan dari teman-temannya yang kurang lebih mencapai 20 chat hanya untuk sekedar menanyakan siapa yang sakit, jemari lentiknya mengetik dan mengirimnya.


"Hah! Serius, kamu sudah menikah?" tanya Dona yang heboh.


"Kamu beneran sudah merid?" Chat Jack pun langsung muncul.


"Congrestulation untuk pernikahannya!" Tiba-tiba Edward langsung muncul di grup chat memberikan ucapan selamat kepada Grael.


Grael membalas satu persatu pertanyaan dari temannya bahwa, dia mengiyakan bila sudah menikah, dia juga mengucapkan terima kasih kepada Edward dan teman-teman lainnya yang memberikan ucapan selamat untuknya.


"El, nanti pulang dari kampus kita main ke rumah lo ya, boleh kan? Sharelok aja lokasinya, ya?" ucap Dona.


Grael ragu-ragu membalas pesan dari Dona, dia pun meminta maaf mungkin hari ini belum bisa memberikan izin kepada teman-temannya untuk main ke rumah walaupun niat mereka menjenguk memberikan semangat untuk dia.

__ADS_1


Semua teman-teman Grael pun memberikan doa untuk kesembuhan suaminya, kemudian meletakkan ponselnya kembali dan memeluk tubuh suaminya.


***


Penerimaan sekertaris baru Rangga sudah ditentukan, Niko adalah asisten pribadi Rangga yang membantu untuk mengurus perusahaan selama Erlangga berada di luar negeri.


Usia Nico dua tahun lebih tua dari Rangga, pengalamannya pun cukup banyak dan dia juga dipercaya oleh Joshua untuk membimbing Rangga menjadi pewaris grup Jaya yang bisa diandalkan.


Niko juga disuruh oleh Joshua untuk memberikan laporan hal apa saja yang dilakukan oleh Rangga kepada dirinya, karena Joshua masih belum yakin dan percaya 100% pada anak keduanya itu untuk bisa memajukan nama grup Jaya dengan baik.


Rangga yang sehari-hari begitu sibuk dan padat mencoba untuk menyempatkan dirinya mengabari sang istri yang berada di apartemen usai pulang sekolah, itupun membuat dia merasa refresh dari kerjaan yang sangat menumpuk.


Joshua memang sengaja memberikan tugas pada anak keduanya itu begitu banyak agar-agar mampu menguasai setidaknya 60% lebih baik daripada Erlangga karena tentu saja Joshua berpikir bahwa Rangga yang akan memegang kekuasaan pewaris grup Jaya.


Pria tua itu meyakinkan dirinya sendiri bila Emira hamil lebih dulu daripada Grael maka dia akan memberikan fasilitas pendidikan kepada Emira selama masa kehamilan, dia juga tidak membatasi bila kelak Emira melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.


"Bos, ini juga tugasnya yang mesti dikerjakan sebelum jam 02.00 siang!" Niko menyerahkan setumpuk dokumen di atas meja kerja Rangga.


"Maaf, Bos ini sesuai perintah dari tuan besar! kalau ada yang tidak dimengerti oleh bos Rangga silakan bertanya pada saya!" Ujar Niko yang membungkukkan tubuhnya.


"Aaaakkk! Tega banget Papi!" Teriak Rangga seakan frustasi.


Rangga kecewa pada Joshua dia pun membanding-bandingkan dirinya kepada sang kakak ketika saat Erlngga menikah dulu, sangat jauh berbeda sehingga dia pun tahu bila sang kakak bisa merasakan bulan madu usai menikah, sedangkan dia harus mengerjakan tumpukan pekerjaan kantor yang begitu banyak.


Terasa tidak adil bagi Rangga, karena dia pun ingin merasakan pergi bulan madu bersama sang istri. Tidak terima dengan keputusan Josua dia pun menghubungi ayahnya.


Suara sambungan telepon pun terhubung, Rangga terus menunggu panggilan terjawab dari sang ayah tetapi sampai tiga kali dia menghubungi Joshua. Lelaki paruh baya itu sama sekali tidak mengangkat panggilan telepon darinya dan itu membuat Rangga semakin kesal.


Mau tidak mau Rangga pun mengerjakan semua tugas-tugas kantor, dia mulai bersabar menantikan buah manis dari hasil jerih payah saat ini, dengan begitu dia bisa membalaskan dendam melampiaskannya untuk bersenang-senang bersama Emira.


"Permisi, Pak Rangga. Ada yang mencari Bapak, saya sudah melarangnya tetapi wanita ini terus memaksa untuk masuk ke dalam!" Ucap sekretaris Rangga.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Rangga dengan ketus di saat dia sedang sibuk-sibuknya, justru ada yang mengganggunya.


"Dia berambut pirang tapi tidak menyebutkan namanya!" Ucap sekretaris yang menjelaskan kepada Rangga mengenai ciri-ciri wanita yang sudah berdiri tepat di depan pintu ruangannya.


Rangga berpikir bila itu adalah istrinya, sehingga dia pun menyuruh sekretaris itu untuk mempersilahkan wanita yang berdiri di depan pintu ruangannya agar segera masuk ke dalam dan ternyata dugaan Rangga benar.


"Permisi, Pak! Boleh melamar kerja?" Emira menongolkan kepalanya usai diperintahkan masuk ke dalam.


"Ya ampun, Sayang! Kok, kamu bisa ke sini?" tanya Rangga pada Emira. dia bangun dari tempat duduknya lalu menghampiri istrinya.


"Surprise!" Emira merentangkan tangannya lalu disambut hangat oleh Rangga yang memeluknya.


"Thanks, Honey!" Rangga mengecup bibir manis itu lantas mengajak istrinya untuk duduk.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Emira yang melihat begitu banyak pekerjaan pada meja kerja suaminya.


Rangga pun hanya mengeluh dengan bersandar di bawah sang istri, kepalanya mendapatkan usapan lembut dari tangan Emira. Kemudian memeluk tubuh ramping itu saat Nico masih ada dalam ruangan tersebut.


"Maaf, belum bisa mengajakmu bulan madu!" ucap Rangga yang merasa bersalah pada istrinya tersebut.


Emira tersenyum seraya memberikan semangat untuk sang suami agar lebih bersabar dan mau berusaha lebih giat untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada di kantor, jangan lupa juga dia memberikan keputusan di kepala ga agar semakin semangat.


"Makan dulu, yuk! Kamu pasti capai!" Emira membuka bekal kotaknya lalu memperlihatkan isi makanan yang begitu menggugah selera.


"Ini kamu yang masak?" tanya Rangga.


Emira tersenyum menghadap Rangga kemudian berkata, "Hehehe, nggak! Aku beli, maaf ya ... belum sempat belajar masak."


"Nggak apa-apa, pelan-pelan saja, nanti juga kamu pasti bisa!" Rangga juga mencubit pipi istrinya dengan gemas.


Mereka berdua pun menikmati makan siang bersama di kantor Rangga, tanpa mengajak Niko yang masih berdiri di depan mereka. Raut wajah Niko yang tersenyum romantisan mereka hanya bisa menunduk dan memilih untuk keluar membiarkan mereka berdua makan siang bersama.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2