Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
86. Lukisan


__ADS_3

“Steven?” tanya Rangga dengan dingin dan mendapat anggukan serta jawaban dari Emira yang begitu senang.


Rangga tertawa terbahak-bahak ketika mendengar penuturan dari Emira, dan membuat gadis berambut pirang itu tercengang karena bingung dengan sikap Rangga yang tiba-tiba tertawa.


“Kenapa?” tanya Emira yang heran dengan sikap Rangga.


“Kenapa? Dengar ya, pepatah bilang, selagi janur kuning belum melengkung masih ada kesempatan untuk orang lain menikung! Jangankan hanya tunangan. Bahkan orang yang sudah memiliki status menikah bisa bubar gara-gara pihak ke tiga!” ucap Rangga dengan tegas melihat sorot mata Emira.


Emira terdiam sejenak menangkap maksud kata-kata Rangga, seakan memberikan isyarat bahwa Rangga akan merebut dirinya dari tangan Steven.


Sangat sulit untuk Emira menelan saliva-nya, keteka jarak wajah Rangga sangat dekat, dia menangkap bila pria yang menjadi kakak kelasnya itu tidak main-main dengan ucapannya.


“Aakh, aww!” keluh Emira berdusta untuk memecahkan rasa canggungnya. Dia memegang luka pada lututnya dan berhasil mengalihkan pandangan Rangga.


“Tunggu sebentar, kita mampir ke apotik!” Rangga langsung kembali melajukan mobilnya.


***


Suasana menjelang sore hari begitu cerah, saat Grael berada di taman paviliun milik Erlangga. Seharian ini sang suami menemani, manjakan serta menghiburnya, entah karena Erlangga menginginkan anak dari dirinya atau karena memang bentuk rasa bersalah.


“Masuklah, aku akan menunjukkan sesuatu untukmu!” Erlangga menggandeng tangan sang istri lalu mengajaknya untuk melihat-lihat isi paviliun miliknya.


Tempatnya begitu luas, bangunannya berbeda dengan paviliun milik Rangga yang pernah dia masuki. Begitu moderen dan sangat sesuai dengan karakter Erlangga.


Erlangga terus memperhatikan raut wajah sang istri ketika masuk ke dalam paviliunnya, langkahnya yang pelan serta mata yang menelusuri setiap desain bangunan dan tata letak barang, membuat Erlangga tersenyum.


Tidak banyak barang pajangan seperti milik Rangga, hanya kebanyakan piala award yang selalu di bawa pulang oleh aktor tampan dan terkenal yang sekarang menjadi suaminya.


“Boleh aku bertanya?” Erlangga memeluk sang istri dari belakang ketika Grael melihat satu lemari besar dengan pintu dari kaca yang memperlihatkan begitu banyak piala.


“Apa?” sahut Grael, tangannya mencoba untuk membuka pintu lemari tersebut.


“Sejak kapan kamu mengidolakan suamimu?” Erlangga membantu membuka pintu itu dengan sidik jemarinya.


“Sejak ... aku melihatmu, memenangkan kategori artis peduli kasih!” Grael mengambil piala award sang suami yang saat itu adalah piala pertama Erlangga dalam bentuk cinta terhadap fakir miskin, sesama, anak-anak yatim piatu dan lingkungan.


“Oh, ya? Kalau gitu ... piala ini untuk kamu!” Erlangga memeluk pinggang ramping sang istri lalu mengecup pipinya saat Grael berhasil memegang piala tersebut.

__ADS_1


Grael tertawa lalu menaruh piala itu kembali, dia pun membalikkan tubuhnya dan melihat berbagai macam lukisan.


“Apa kamu suka melukis?” tanya Grael yang menatap Erlangga.


“Sangat, sangat suka melukis, apalagi melukis di sini!” Erlangga mendaratkan wajahnya di bagian dada sang istri.


“Ah ... mesum!” Grael terkejut dengan gigitan kecil yang diberikan oleh Erlangga.


“Kamu yang selalu membuatku terus mesum bila berada didekatmu,” ujar Erlangga yang mengecup pipi sang istri dengan mesra lalu mengucap, “BIRU!”


Erlangga menarik tangan sang istri usai menyuruh untuk menutup matanya, kemudian menuntunnya ke lantai atas untuk memberikan kejutan pada Grael.


“Bukalah matamu!” pinta Erlangga ketika mereka sudah sampai di ruangan atas.


Tidak bisa di kata-kata, Grael mengeluarkan buliran bening dari sudut matanya, sungguh takjub melihat yang ada di hadapannya, sebuah lukisan sebesar dinding yang begitu indah dan sangat berkelas.


“Surpise!” Erlangga merentangkan tangannya menunjukkan hasil maha karyanya sendiri.


“Ya Tuhan, Kak? Ini?” Grael menutup mulutnya karena syok mendapatkan kejutan dari sang suami.


“For you! Apa kamu menyukainya?” tanya Erlangga yang tersenyum.


Grael berlari memeluk Erlangga lalu mengecup bibir sang suami, dia tidak menyangka bila Erlangga membuatnya sendiri, hatinya tersentuh begitu senangnya sampai tidak berucap satu kata pun.


“Ini tidak gratis,” bisik Erlangga dengan lembut di telinga Grael.


“Kak, aku kan masih halangan!” tolak Grael secara halus saat Erlangga ingin mencium bibirnya.


“Jangan mencoba untuk mengelabuhiku!” Erlangga langsung membuka baju Grael, karena dia tahu sang istri sudah selesai masa halangannya.


“Kak, aku masih sakit! Nanti kamu ketularan!” Grael tersenyum seraya menutup ke dua buah dadanya karena malu.


“Jangan mencoba menolakku, aku sudah tidak tahan!” ujar Erlangga.


“Hah? Aaakh ... Kak Erlangga!” Grael tertawa kegelian saat Erlangga langsung mengangkat tubuhnya dan membawanya ke dalam kamar paviliun itu.


Grael tertawa begitu senang, matanya membalas tatapan sang suami yang juga menatap balik dirinya seraya membuka kancing baju yang dikenakannya satu persatu, tampaklah perut sixpack Erlangga yang begitu menggoda di mata Grael.

__ADS_1


Perlahan Erlangga mendekat ke arah sang istri dengan gerakan yang merangkak di atas tubuh Grael lalu mengecup bibir manis itu sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang kini sama-sama polos.


Pergulatan panas pun terjadi saat suara kedua sejoli saling bersahutan mengisi kehampaan pada ruangan itu, dinginnya mesin pendingin pada ruangan juga tidak mampu mendinginkan gelora asmara yang sedang merajut dalam kehangatan dibalik selimut itu.


Hingga pada puncaknya, mereka saling melepas aliran yang begitu syahdu membuat mereka melambung tinggi menikmati nikmatnya surga yang mereka ciptakan.


“Kak,” panggil Grael saat mereka masih berbalut selimut usai menuntaskan hasrat mereka masing-masing.


“Hmm?” sahut Erlangga ketika tangannya memainkan rambut sang istri.


“Maaf, kalau sampai saat ini, aku belum kasih apapun sama Kak Erlangga!” Grael mengubah posisinya agar bisa melihat wajah sang suami yang terkulai lemas.


“Bodoh! Kamu sudah memberikan hal yang sangat aku syukuri!” Erlangga menatap sang istri sembari mencubit pipi Grael dengan gemas.


“Hah, apa?” Grael memasang wajah polosnya karena masih belum mengerti dengan ucapan sang suami.


“Sudahlah, cukup aku yang tahu ... anak kecil nggak boleh tahu!” Erlangga memejamkan matanya setelah mengucapkan kata yang membuat sang istri tambah bingung.


“Kalau anak kecil, kenapa di anu mulu?” tanya Grael yang memajukan ujung bibirnya.


“Anu apa?” Erlangga langsung mengganjal kepalanya dengan telapak tangannya.


“Ya, pokonya Anu, ya Anu!” Grael mengulangi ucapannya dengan kesal.


Erlangga tertawa mendengar celotehan dari sang istri yang lagi kesal, dia pun menggelitiki perut Grael sampai mengeluarkan kata umpatan untuk dirinya.


“Ihh ... Kakak, ih! Pedooopil!” Grael tertawa sembari terus memberikan kata umpatan pada sang suami yang terus menggelitikinya.


“Pedoopil?” Erlangga mengerutkan keningnya.


“Dah, hanya anak kecil yang tahu, Om, Om, dilarang tahu!” balas Grael yang tertawa begitu senang.


"Oh, jadi aku Om, Om? Iya? Hah!" Erlangga terus menggelitik perut sang istri sampai puas, begitu senangnya dia melihat Grael tersenyum dan tertawa karena ulahnya.


To be continued ...


bonus visul

__ADS_1



Grael Arabella versus kecil.


__ADS_2