Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
73. Apa masih cinta?


__ADS_3

"Huufh .... gimana? Masih perih nggak?" Rangga meniup mata Grael seraya memicingkan mata agar ikut bermain sandiwara dengannya.


"Ah? Ah, hha ... adduuh, udah nggak apa-apa! Thanks ya!" Grael mengucek matanya seraya kelilipan dan menghampiri sang suami.


"Kak? Udah, pulang?" Grael tersenyum manis sembari mengelap sudut matanya


"Kamu, kenapa?" Erlangga langsung melihat mata sang istri.


"Tadi, dia bilang matanya kelilipan. Sorry, gue cuma niatan bantu, gue duluan!" ucap Rangga, dia tersenyum ke arah Erlangga sembari menepuk bahu sang kakak lantas segera pergi dari sana.


"Kamu, beneran nggak apa-apa?" tanya Erlangga.


"Masih perih!" Grael pun mengeluarkan buliran air bening dari sudut matanya dengan manja.


Perasaan Grael sedih bukan karena kelilipan, tapi karena merindukan Erlangga yang terlalu lama pulang ke rumah. Terutama karena sudah berbohong kepada sang suami demi kebaikan.


"Sini, aku lihat!" Erlangga langsung mengangkat tubuh sang istri untuk duduk di atas kursi, kemudian meniupnya secara perlahan.


Sungguh manis dan terharu atas apa yang dilakukan oleh Erlangga, dia sama sekali tidak marah atas kejadian barusan, entah dia percaya atau tidak, Grael melihat wajah Erlangga tidak lagi menakutkan.


"Apakah sudah mendingan?" tanya Erlangga dengan lembut.


"Hmm," jawab Grael, dia pun memeluk sang suami lantas mengucapkan, "Apakah kita akan tinggal di sini selamanya?"


"Why?" Erlangga membalas pelukan Grael.


"Tidak apa-apa, hanya saja aku—"


Grael terdiam sejenak dia ragu mengatakan pada sang suami, dan hanya berbicara dalam hatinya, "Aku tidak mau jauh dari kamu, aku ingin kamu selalu ada di sampingku, Erlangga!"


"Aku?" tanya Erlangga.


"Tidak apa-apa," ucap Grael, dia perlahan menarik dasi sang suami lalu mengecup bibir Erlangga secara perlahan sembari memejamkan matanya.

__ADS_1


Erlangga tahu bahwa Grael ketakutan berada di rumah utama, dia pun sudah menyiapkan kejutan untuk sang istri. Dia tidak mau kehilangan orang yang dia sayang untuk ke dua kalinya, karena bagi Erlangga, Grael adalah segala-galanya.


Di sela-sela ciuman mereka, Grael membuka sedikit matanya dan melihat Lydia sedang berdiri memperhatikan mereka berdua dengan tatapan kesal, Grael pun menahan tengkuk leher Erlangga guna memperdalam ciumannya.


"Gendong aku, jangan lepaskan aku!" bisik Grael dengan lembut memperintahkan Erlangga untuk menggendong dia membawanya ke dalam kamar.


Erlangga pun langsung menggendong sang istri dengan melingkarkan kaki Grael di atas pinggangnya dan mellumat kembali bibir ranum sang istri seraya berjalan ke arah kamar.


Sesampainya di kamar, Erlangga masih melummat bibir ranum sang istri hingga akhirnya dia mendapat dorongan dari Grael saat tangannya membuka kancing baju sang istri.


"Kak, aku kan lagi—"


"Hanya mau ini, apa tidak boleh?" tanya Erlangga tanpa ada rasa malu mengucapkannya. Lantas kembali membuka baju sang istri seraya melahap benda kenyal itu, tetapi Grael mendorongnya kembali dan menyuruhnya untuk mandi terlebih dahulu.


"Aah ... kak," dessah Grael saat Erlangga tidak mau mendengarkan perintahnya dan justru menghisap dadanya dengan kencang.


Suara gebrakan pintu pun terdengar oleh Grael dan Erlangga di sela-sela aktifitas mereka, ternyata Rangga masuk bersama Josua ke dalam kamar mereka.


"Ampun, Pih! Ampun ... Kak Erlangga, Pih! Bukan Rangga! Aaakh ... sakit, Pih!" Rangga naik ke atas tempat tidur sang kakak saat Josua mengejar dan memukulnya dengan tongkat kesayangannya.


"Erlangga ... awas, Papi mau cincang dia!" Josua begitu emosi ketika mengetahui bahwa motornya lecet akibat Rangga.


"Kak Erlangga, Pih! Bukan sama Rangga!" Rangga berdiri di atas ranjang sang kakak dan menunjuk ke arah Erlangga.


Erlangga pun membuang napasnya dengan kasar, dia menutupi tubuh Grael dengan selimut lalu menyuruhnya untuk pergi ke ruang ganti baju.


"Turun!" pinta Erlangga yang berdacak pinggang.


"Wah, abis ngapain lo, berdua?" Rangga melihat Grael yang menutupi tubuhnya dengan selimut lalu berlari masuk ke dalam ruang ganti baju.


Erlangga pun tidak tinggal diam saat Rangga melihat terus ke arah istrinya yang berlari, dia menarik kaki Rangga hingga terjatuh kekasur kemudian menyeret hingga jatuh ke lantai.


"Aaakhh, anjrit Lo, kak! Sakit!" keluh Rangga yang kemudian mendapat pukulan ringan dari sang ayah.

__ADS_1


"Pokoknya, kalian berdua tanggung jawab sama apa yang sudah kalian lakukan sama, motor kesayangan Papi!" bentak Josua yang kesal dengan kedua anaknya.


"Astaga, kalian masuk begitu saja, cuma gara-gara motor? Keluar!" Erlangga mendorong tubuh Rangga dan Josua untuk keluar dari dalam kamarnya.


"Papi bisa keluar sendiri!" kesal Josua.


...----------------...


"Istri, Kak Erlangga tuh terlalu bodoh, Kak! Aku nggak suka, masa dia diem aja!" Emira menaikan satu kakinya di atas tempat tidur saat berada di kamar Rio seraya mengunyah Chiki yang ada di tanganya.


"Jangan bicara seperti itu! Dah, cepat balik ke kamar!" Rio menarik tangan sang adik agar keluar dari kamarnya.


"Kakak masih cinta ya, sama cewek bodoh itu?" tanya Emira begitu polos.


"Astaga!" Rio menyumpal mulut adiknya dengan segengam ciki, lalu mendorongnya dengan kuat kemudian mengunci pintu kamarnya.


"Kak, apa perlu gue bantu loe, buat ngerebut cewek bodoh itu dari teman, Lo?" Emira mengencangkan suaranya, tetapi dia mendapat lemparan bantal dari Rio.


"Tutup nggak, mulut lo!" ancam Rio yang kesal bila sang adik menyebut Grael bodoh, bukan karena ingin merebut Grael dari Erlangga.


Emira pun hanya menampakan gigi putihnya, kemudian kembali ke kamar. Emira adalah adik kandung dari Rio, dia sangat tahu bila sang kakak menyukai Grael. Semua catatan yang di tugaskan oleh Erlangga pasti terselip nama Grael.


Bahkan Emira sempat melihat foto di dalam dompet Rio terdapat foto Grael yang sedang tertidur saat menunggu Erlangga di rumah sakit, Emira pun penasaran seperti apa sosok Grael yang sudah berhasil membuat kakak tersayangnya mencintai wanita itu dalam diam.


Emira juga menceritakan bahwa Grael mendapat Bullyan dari Veby kepada Rio, sehingga Rio bisa menceritakan kepada Erlangga.


Itulah kenapa Erlangga datang terlambat pulang ke rumah dengan alesan masih berada di kantor, karena Erlangga serta Rio mendatangi rumah Veby, bahkan mereka menculik Veby lalu di bawa ke sebuah gudang untuk memperingati Veby agar sadar posisinya yang hanya sebagai kacung Erlangga.


Masih teringat oleh Emira saat Rio menyuruh Veby untuk bekerja sama menjauhkan Rangga dan Grael saat berada di villa Irfan itu semua demi Erlangga agar Grael bisa menjadi milik sahabat lamanya yang bernama Erlangga.


Emira mengetahui kerja sama yang dibuat oleh Rio agar Grael putus dengan Rangga demi Erlangga, walaupun dirinya juga ingin memiliki wanita itu.


"Bodoh, kalian berdua cocok, sama-sama bego!" umpat Emira untuk Rio dan Grael, seraya menangis saat mengetahui kakaknya berusaha untuk membantu memperjuangkan cinta sahabatnya, walaupun diri kakaknya terluka.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2