
Setelah Josua dan Rangga tertidur di dalam tenda, Erlangga masih menikmati udara malam hari seraya menggoyangkan wine yang ada di dalam gelasnya, pikirannya terus melayang menebak-nebak dalang di balik kematian sang ibu.
Di keheningan malam yang Erlangga nikmati sendiri, terdengar suara lembut dari istrinya yang memanggil dia, meskipun bukan panggilan sayang tapi itu mampu membuat bibir Erlangga tersenyum ketika Grael mencari dirinya saat bangun tidur.
"Kak?" panggil Grael sekali lagi ketika dia keluar dari tenda.
"Hai," sahut Erlangga. Tangannya menyambut hangat tubuh sang istri ketika istrinya duduk di pangkuan seraya mengecup bibirnya.
"Kenapa sendirian? Kamu mabuk? Papi sama Rangga sudah tidur?" Grael menyandarkan kepalanya di leher sang suami.
"Mau coba di alam terbuka?" pancing Erlangga dengan suara yang sudah berat, tangannya mengelus lembut pipi Grael yang secara perlahan turun ke leher dan turun ke bagian dada istrinya.
"Aahmm," rintihan suara Grael terdengar merdu di telinga Erlangga, membuat dagu nya terangkat ke atas lalu di kecup lembut oleh suaminnya.
Erlangga membuka baju piyama sang istri lalu mulai mengecup leher putih itu dengan lembut, tangannya sudah bergerak sesuai keinginan yang diperintahkan oleh otaknya.
Tangan Grael meremas kuat rambut suaminya, ketika bagian dadanya dihisap, di pliintir dan di remas kuat oleh Erlangga sampai suara rintihan itu terus keluar.
Erlangga membaringkan tubuh istrinya yang beralas tikar premium, lalu menyiram tubuh sang istri dengan wine dari atas hingga ke pusar. Erlangga melihat Grael menggeliat saat tetesan air wine jatuh mengenai tubuhnya.
__ADS_1
"Your body is so beautiful, Honey!" Erlangga memandanginya penuh kekaguman lalu meminum wine dan dia berikan kepada mulut istrinya untuk meminum wine dari mulutnya.
Setelah meminum wine dari mulut suaminya, dia merasakan lidah Erlangga menjillat wine yang bercecer di atas tubuhnya dengan lembut. Sehingga, lagi dan lagi Grael mengeluar suara rintihan di alam terbuka.
Namun, di sela-sela aktifitas mereka di alam terbuka, tiba-tiba Rangga keluar dari dalam tenda dengan terburu-buru dan sontak membuat Grael langsung memeluk tubuh suaminya untuk menutupi tubuhnya yang setengah polos.
Suara muntahan Rangga pun terdengar cukup keras di telinga Erlangga dan juga Grael, hingga membuat keduanya yang berada di puncak asmara langsung hilang menurun.
Erlangga pun mengusap wajahnya dengan kasar kemudian memakaikan baju Grael kembali sebelum sang adik sadar dan melihatnya.
"Mangkanya, jangan sok-sok'an minum kalau nggak kuat!" Erlangga memberi minum kepada adiknya usai berhenti mengeluarkan segala isi perut yang Rangga makan.
"Makasih, Emira sayang!" Rangga memeluk Erlangga yang di sangka oleh Rangga adalah Emira.
"Nggak mau, maunya bobo bareng!" ucap Rangga dengan manja, tapi belum sempat sang Kakak membalas ucapan dia. Rangga sudah mendekat ke arah Grael yang masih duduk di depan api unggun.
"Eh, mantan! Belum tidur? Kenalin nih, Emira! Cewek gue!" ucap Rangga yang hampir setengah sadar.
"Gila lo!" Erlangga membawa masuk tubuh Rangga dan menyelimutinya lalu meninggalkan Rangga setelah sang adik kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
Erlangga pun keluar dari dalam tenda dan menghampiri Grael yang setia menunggunya, dia pun langsung menggendong sang istri dan membawanya masuk ke dalam tenda, begitu sampai di dalam tenda Erlangga pun kembali menjemput istrinya.
"Katakan apakah tubuhnya lebih menggoda daripada tubuhku?" tanya Erlangga yang sudah berada di atas tubuh istrinya.
"Tidak, setiap lekuk tubuh Kak Erlangga, Grael suka!" ucap Grael, perlahan tanganya mengusap perut sispack suaminya.
Dari sentuhan situlah kini mereka melakukan serangkaian pergulatan panas di dalam tenda, Erlangga selalu membawanya terbang ke nirwana. Sampai tubuhnya lelah dan merasakan ngilu di area pangkal pahanya.
...----------------...
"Steven tidak setuju, Pah! Emira itu selamanya punya Stev!" amuk Steven setelah pulang dari rumah sakit.
Kedua orang tuanya menenangkan sang anak, bila keluarga Mahendra telah membayar uang kompensasi sebagai pembatalan perjodohan mereka.
"Kalian egois! Demi reportasi kalian, kalian tega sesuka hati menyatukan dan memisahkan aku sama Emira! Ck! Pokoknya Steven tidak mau bila perjodohan ini batal," ucap Steven yang emosi kepada orang taunya.
Setven memang cinta sama Emira tapi bodohnya dia, dia selalu mementingkan orang tuanya tanpa perduli bila dia ikut andil dalam mengatur kehidupan Emira yang begitu banyak tuntutan.
Steven pun menjalankan laju mobilnya ke arah rumah Emira, dia mencoba untuk membicarakan baik-baik pada gadis belia tersebut.
__ADS_1
Begitu sampai di rumah Emira, Steven tidak bertemu dengan sang gadis. Hatinya begitu sakit ketika security bilang bahwa Emira tidak ada di dalam tapi nyatanya dia melihat kekasihnya sedang berteleponan dengan seseorang dan berhasil membuat dia cemburu buta.
To be continued...