Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
67. Grael vs Lydia


__ADS_3

Setelah selesai mandi sehabis pulang dari mall, Grael langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, jemarinya sibuk mengakses masuk alamat email pada ponsel barunya. Setelah log in ke akun email, dia pun melihat tabungannya yang sudah mencapai 56 juta dari hasil jerih payahnya hampir setahun.


Grael pun juga mencari perbedaan Gold card dan Black card saat dia mendapatkan kartu dari sang suami, alangkah terkejutnya dia ketika mengetahuinya. Hasil tabungannya memang tidak sebanding dengan kartu yang diberikan oleh Erlangga, tapi tetap dia akan menggunakan kartu pemberian dari sang suami sebaik-baiknya. Dia akan terus bekerja mencari tambahan sendiri agar tidak menjadi istri yang menghabiskan banyak uang suami.


"Aaah ... astaga! Kakak, bikin aku kaget aja." Grael langsung membalikan tubuhnya ke arah sang suami ketika Erlangga berada di atas tubuhnya.


"Katakanlah ... aku ingin mendengar langsung dari mulutmu!" Erlangga menciumi leher sang istri, menghirupnya dalam-dalam aroma tubuh sang istri ketika sehabis mandi.


"Baiklah, aku—"


Belum sempat, Grael ingin menjelaskan pada sang suami, tetapi suara ketukan pintu terdengar di telinga mereka. Erlangga pun bangun dari tubuh istrinya, kemudian berjalan untuk membuka kunci pintu.


Terlihat Lydia yang sedang melirik ke arah Grael saat berada di depan pintu, kemudian berbisik kepada Erlangga yang membuat Grael semakin tidak nyaman bila Lydia terlalu dekat dengan Erlangga.


Erlangga pun menutup pintunya kembali lalu menghampiri Grael, dia mengecup kening sang istri dan menyuruhnya untuk tidur lebih dahulu, karena dia akan menemui Josua yang berada di ruang kerja.


"Sama, dia?" tanya Grael yang belum mengetahui nama Lydia.


"Jangan berpikir yang macam-macam!" Erlangga menyentil kening Grael dan menutupinya dengan selimut.


"Mau ikut boleh?" pinta Grael dengan manja.


"Besok kamu kan harus masuk sekolah! Tidurlah lebih dulu, aku tidak akan lama." Erlangga mengecup bibir sang istri lalu mengusap kepalanya.


"Tunggu dulu ... aku mau bertanya," ucap Grael yang menahan tangan Erlangga.


"Apa?" Erlangga pun menaruh bokongnya tepat di samping sang istri untuk mendengarkan pertanyaan sebelum dia keluar dari kamar.


"Hmm ... apakah merah dan biru juga berlaku untuk Kak Erlangga?" tanya Grael.

__ADS_1


Erlangga tersenyum mendengar pertanyaan dari istri kecilnya, dia mengusap pipi Grael seraya berkata, "Jika, itu yang kamu inginkan!"


"Are you sure?" tanya Grael untuk memastikan kedua kalinya.


"Ya ... of course!" balas Erlangga yang menatap Grael dengan serius.


"Ok, go away!" ucap Grael, lalu dibalas oleh Erlangga dengan mengucapkan selamat malam.


...----------------...


Erlangga masuk ke dalam ruangan kerja sang ayah, dia melihat Josua menampar pipi Rani hingga wanita itu tersungkur ke bawah, kata makian terus keluar dari mulut Pria paru baya itu saat tahu bahwa Rani pelaku yang mendorong tubuh Grael.


Perlahan Erlangga mendekat ke arah sang ayah yang sudah tersulut emosi ketika menantu kesayangan dicelakai oleh orang rendahan seperti Rani.


Ada segurat bibir yang meniru bulan sabit di wajah Erlangga ketika sorot matanya melihat Kylie berada di samping Josua menikmati pertunjukkan tersebut.


"Tuan, Tuan ... saya mohon ampun, Tuan! Saya, mengaku salah! Tolong ampuni saya, Tuan!" Rani langsung memeluk kaki Erlangga dengan erat.


"Dengarkan baik-baik ... aku tidak akan pernah mengampuni siapapun yang berani mengusik hidupku apalagi menggangu orang-orang yang aku sayangi! Siapapun itu, jangan harap bisa bernafas lega!" Erlangga berbisik kepada Rani tetapi arah pandangnya tertuju pada Kylie.


"Ampun, Tuan! Saya mohon, ampuni saya! Saya janji tidak akan menyakiti Nyonya Grael lagi! Maafkan atas kesalahan saya, karena begitu mencintai, Tuan," tutur Rani yang berdusta.


"Carly! Seret dia ke keluar dan masukan kepenjara!" bentak Josua yang bertelak pinggang menghadap jendela.


"Jangan, Tuan besar! Saya, mohon ... Nyonya besar, saya mohon, bantu saya!" Rani berlutut mencium kaki Kylie agar dia mendapat pertolongan sesuai perjanjian yang sudah disepakati sebelum menjalankan aksi kejahatan itu.


"Cepat, bawa dia keluar!" Kylie menendang Rani begitu saja, yang kemudian dia pun juga ikut keluar dari ruangan tersebut.


Erlangga menatap sinis ke arah Kylie saat wanita ular itu pergi keluar melewati dirinya terlebih dahulu. Dendam yang belum terbalas atas kematian ibunda tercintanya, perlahan akan dia mainkan.

__ADS_1


Di lain sisi, Grael yang sudah tengah tertidur pulas, tiba-tiba mendapatkan sebuah tamu yang tidak di undang masuk ke dalam kamarnya begitu saja.


"Ck! Dasar pellacur kecil, kamu pikir akan menjadi ratu yang paling bahagia? Setelah menikah dengan Erlangga? Jangan harap, selama ada aku!" Lydia melipat kedua tanganya berada di depan dada seraya menatap sinis Grael yang tertidur pulas.


Lydia menyunggingkan senyumannya lalu masuk ke dalam ruangan pakaian, tangannya pun mengobrak-abrik lemari pakaian Grael, lalu memasukan sebuah berlian ke dalam lemari Grael.


"Mampus kau!" umpat Lydia yang tersenyum akan kelicikannya yang ingin memfitnah Grael agar keluar dari rumah utama sebelum sang empu melaporkan kejahatannya bahwa dia yang menyuruh Rani untuk mendorong Grael.


Lydia pun hendak keluar, tetapi tertangkap basah oleh Grael. Ternyata Grael terbangun saat Lydia sudah memberikan kata hinaan untuk dirinya.


"Ngapain? Belum nyerah juga, buat nyingkirin gue?" Grael melipat kedua tangannya saat tubuhnya berdiri di ambang pintu ruangan walk on closed.


"Ck! Dasar, nggak tahu diri! Kamu pikir aku bakalan takut sama kamu? Minggir!" Lydia mendorong tubuh Grael begitu saja.


Grael pun tidak percaya dengan apa yang barusan maid itu lakukan, dia pun membalas mendorong tubuh Lyda sampai maid itu terjatuh.


"An ... Jing!" maki Lydia yang kemudian menjambak rambut Grael.


"Aaakhhh! Bang_sat ... Lo, yang anjiing!" Grael menarik rambut Lydia dengan kencang sehingga mereka berdua saling tarik menarik rambut lawan masing-masing.


Lydia yang tidak mau kalah dari wanita yang sudah berhasil merebut Erlangga langsung menendang perut Grael hingga tubuh itu terpental mengenai meja hias, kemudian dia berlari dari kamar tersebut sebelum Erlangga datang masuk ke dalam kamar.


Grael dengan cepat melempar vas bunga dari beling yang ada di atas meja tersebut yang dia lempar tepat di kaki Lydia hingga vas itu pecah, dia pun berhasil membuat kaki Lydia terluka.


Tidak mau membuang-buang kesempatan, Grael pun menendang tubuh Lydia hingga terjatuh lalu naik ke atas tubuh maid itu sembari melayangkan pukulannya tepat di sudut bibir Lydia.


"Itu DP buat Lo yang berani menyuruh Rani untuk dorong gue ke kolam, selebihnya gue bakalan nyeret Lo, ke kantor polisi!" tegas Grael tanpa takut atas tindakannya.


"Dan ini, untuk Lo, yang ud—"

__ADS_1


"Astaga! Grael?" Erlangga datang di saat sang istri ingin memukul Lydia.


To be continued...


__ADS_2