Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
176. Atas atap gedung


__ADS_3

Pagi hari suasana di ruang makan terasa hening hanya denting pada sendok yang beradu dengan piring. Rasanya pun terasa hambar saat kedua pasangan suami istri tersebut menikmati sarapan pagi dengan saling mendiami satu sama lain.


Bisa Grael rasakan saat dia melirik ke arah suaminya yang menaruh sendok lalu menghabiskan satu air minum menandakan bila Erlangga telah selesai makan sarapan paginya.


"Aku berangkat dulu!" Erlangga bangun dari tempat duduknya dan menghampiri sang istri yang kemudian dia kecup kening sekilas lantas pergi begitu saja.


"Kak?" panggil Grael kepada suaminya, dia berdiri dan menggeser bangku.


"Jangan sekarang! Aku sudah telat," ucap Erlangga dengan tergesa-gesa, dia langsung meninggalkan sang istri tanpa menengoknya kembali.


"Apa aku benar-benar salah?" ucap Grael yang tanpa sadar meneteskan air mata.


"Nyah, mungkin Tuan memang benar-benar telat! Sudah jangan terlalu di ambil hati, lebih baik Nyonya habiskan sarapannya!" Anne menyuruh Grael untuk kembali duduk dan menghabiskan sarapannya.


"Aku sudah kenyang, Bik!" Grael menghapus air matanya dari pipi. Dia pun pergi melangkah menuju ke arah lift.


***


Jam makan siang telah tiba, siang ini Grael sudah berada di depan kantor sang suami. Dia membawakan bekal makan siang untuk Erlangga seraya ingin berbicara baik-baik mengenai keberangkatannya besok pagi.


Penampilan yang sederhana tapi terkesan elegan itulah menjadi ciri khas bagi seorang Grael Arabella—seorang istri dari pemilik grup jaya, membuat sorot mata semua karyawan terpaku melihat penampilan cantik dari wanita muda yang berjalan menelusuri lobby utama.


Kali ini Grael akan berusaha membujuk sebaik mungkin agar sang suami mau mengerti posisinya, bukan tidak ingin menjadi istri penurut. Akan tetapi, Grael hanya ingin bila statusnya setara dengan sang suami agar semua masyarakat memandangnya pantas untuk bersanding dengan seorang pewaris grup jaya.


Gerak langkah kakinya semakin mantap ketika sampai di depan pintu lift, tangannya memencet tombol agar pintu itu terbuka. Namun, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka seorang wanita pun masuk yang tak asing bagi Grael.


Wanita tersebut adalah Sherly dengan perut yang sedikit membuncit, dia tersenyum ke arah istri dari pemilik grup jaya sembari tangannya memegang ke arah perutnya.

__ADS_1


"Sherly? Kamu ... ngapain ke sini?" tanya Grael dengan tatapan curiga.


"Oh, hai!" Sherly tersenyum kaku ke ara wanita muda yang ada di hadapannya, lantas berucap, "Gua mau kasih rekapan enam bulan ke belakang, soalnya Erlangga minta tolong sama gua, kenapa? Salah?"


"Loh? Bukannya udah ada tanggung jawab sekretaris baru ya? Kenapa mesti Lo? Kan udah nggak kerja di sini!" Grael menatap curiga ke ada Sherly.


"Kalau gue boleh jujur sih, Erlangga emang mecat gua karena lo, tapi ... Dia masih butuhin gue tuh, emangnya suami tercinta lu nggak bilang ya selama enam bulan ini dia masih minta bantuan sama gue!" sindir Sherly kepada Grael.


"Bantuan?" Grael masih tidak percaya dengan ucapan wanita yang ada di hadapannya. "Lo hamil?"


"Gua gak mau ngomong panjang lebar sama Lo, kalau Lo mau tahu, ya ... tanya aja sendiri sama suami Lo, kenapa masih mau minta tolong sama gua!" ucap Sherly yang sombong. "Dan satu lagi, asal lagu hamil itu bukan urusan lo, nanti kalau gua bilangin anak siapa elu kaget lagi! Bisa-bisa nanti, koit muda!"


Sherly tertawa lantas pergi meninggalkan wanita muda itu yang masih terkejut dengan ucapannya saat pintu lift sudah terbuka, dia merasa puas sudah berhasil membuat Grael kesal dengan ucapannya.


Grael langsung menyusul langkah Sherly menuju ruangan Erlangga yang ternyata Erlangga menyambut kedatangan Sherly dengan menerima berkas tersebut.


Grael mengetuk pintu ruangan tersebut saat dirinya bersiap untuk melihat reaksi Erlangga ketika dia datang, kakinya melangka masuk ke dalam ruangan tersebut dengan seuntai senyuman.


Grael kembali melangkahkan kakinya keluar ruangan dan menutup pintunya kembali, tidak ada air mata yang terjatuh di pipinya karena pertama dia percaya dengan Erlangga dan kedua dia malas dengan namanya pertengkaran. Oleh sebab itu, dia memilih untuk tidak mengganggu suaminya.


Grael melangkah ke arah pintu lift tapi pada saat dia ingin masuk ke dalamnya tangannya sudah ditarik lebih dulu oleh Erlangga. Tangan kekar itu terus menuntunnya hingga sampai ke atas gedung.


"Ada apa?" tanya Grael yang menunjukkan ekspresi datar.


"Sherly ke sini hanya memberi—"


"Dokumen kan? Terus apa masalahnya? Kan aku nggak tanya," ucap Grael.

__ADS_1


"Jangan salah paham, anak yang di kandungnya bukan—"


"Bukan anak kamu kan? Percaya kok! Tenang saja, gak usah dijelasin." Grael tersenyum sambil terus menatap manik mata Erlangga.


Erlangga menelan salivanya seraya membalas tatapan sang istri, dia bingung karena ini bukan sifat istrinya. Dia pun menarik napas panjang lalu dia buang secara perlahan melalui mulutnya seakan menunjukkan bahwa ada beban berat yang saat ini dia rasa.


"Sayang, serius kamu percaya sama aku?" tanya Erlangga yang menatap khawatir pada istrinya.


"Sudahlah tidak perlu cemas! Aku percaya sama kamu, meskipun dia sendiri yang bilang kalau anak itu adalah anak kamu!" ucap Grael dengan sekali tusuk.


"El!" ucap Erlangga dengan pelan tapi penuh dengan penekanan saat memanggil nama istrinya.


"Sudahlah jangan dibahas, mending kamu balik lagi! Aku tahu kamu sibuk." Grael melangkahkan kakinya seraya mengucap, "Aku pamit pulang!"


"Tunggu!" Erlangga menahan tangan sang istri, dia pun kembali berkata, "Temani aku makan siang!"


Erlangga langsung menelepon Yogi untuk membawa bekal makanan yang Grael bawa untuknya ke atap gedung, tak lupa juga menyuruh agar Yogi mengajak Sherly makan siang bersama di sebuah restoran agar makan siangnya dengan sang istri tidak terganggu.


Yogi pun datang membawa alat yang diperintahkan oleh Erlangga, dia menggelar tikar dan menaruh tempat bekal makanan yang dibawa oleh Grael. Setelah itu, dia pun pergi dari sana dan membiarkan mereka berdua berada di atas atap gedung.


Erlangga tersenyum lalu menarik istrinya untuk duduk di atas tikar, kemudian dia membuka jasnya dan kacing pergelangan tangan lalu membuka kudapan yang sudah dibawakan oleh Grael.


"Kenapa diam? Tidak suka ya, aku ajak makan siang seperti ini? Hhm?" Erlangga melihat ke arah sang istri yang masih terdiam enggan membuka suara.


"Tidak, hanya terkejut saja ... seorang pewaris Grup Jaya makan siang seperti ini," ucap Grael.


Erlangga tertawa dia mencubit hidung mancung sang istri. "Kamu tahu, Sayang? Dulu, aku sempat makan di pinggir jalan bersama Rio saat menunggu giliran untuk take adegan."

__ADS_1


"Oh, ya?" tanya Grael terkejut tidak percaya, dia membuka mulutnya saat tangan Erlangga menyodorkan sesuap nasi beserta lauknya.


To be continued...


__ADS_2