
"Oliv! Apa yang Lo lakuin? Hah!" teriak Diego yang langsung mendorong semua ketiga wanita.
"Di–Diego! Ini ... bukan seperti yang lo liat. Ki–kita, cuma mau bercanda kok! I–iya, kan?" ucap Olivia.
"Ya Tuhan, El... tahan ya!" Diego langsung mengangkat tubuh Grael lalu menatap sinis ke arah Oliva dan juga teman-temannya. "Saiko!"
"Perutku, Kak!" rintih Grael, dia mencekram kuat baju yang berada di bagian perutnya.
"Sabar, El!" Diego terus berlari menuju ruang Unit Kesehatan Kampus.
Sementara Olivia dan teman-temannya memilih untuk kabur dari sana, sedangkan Diego memanggil dokter yang bertugas di ruang tersebut. Segera Grael diperiksa dan mendapatkan pertolongan pertama dari pihak kampus.
Diego terus menunggu sampai hasil pemeriksaan selesai, debaran jantungnya terus berdetak dengan kencang ketika mengkhawatirkan wanita yang sudah mengusik hidupnya merintih kesakitan.
Beberapa menit kemudian pintu ruangan telah dibuka dan Diego dipersilakan untuk masuk. Bergegaslah Diego untuk masuk ke dalam ruangan kesehatan, dia melihat Grael yang tengah terbaring tidak sadarkan diri.
"Bagaimana keadaan?" tanya Diego yang sangat mengkhawatirkan Grael.
"Kamu siapanya?" tanya Dokter Fero yang bertugas menjaga ruangan kesehatan.
"Saya ... saya temannya!" Jawab Diego dengan jujur.
"Lebih baik kita tunggu pihak kampus lebih dulu!" ucap sang Dokter.
"Memangnya kenapa? Apakah lukanya serius?" tanya Diego yang semakin khawatir terhadap Grael saat dokter itu tidak mau berterus terang tentang kondisi sang wanita.
Baru saja dokter itu mau menjawab ucapan Diego tetapi pihak kampus sudah lebih dulu datang, hingga dokter itu pun langsung menjelaskan tentang kondisi Grael. Dia menceritakan bahwa kondisi janin yang ada di dalam rahim keadaannya lemah dan harus segera dibawa ke rumah sakit.
Sementara dari pihak ke kampus langsung menghubungi keluarga Grael yaitu Erlangga, di sana dia juga langsung tercengang mendengar penuturan yang dokter itu jelaskan, bahwa kondisi wanita yang dia sukai tengah mengandung.
Usai memberitahu kepada Erlangga pihak kampus langsung membawa Grael ke rumah sakit terdekat, sebagian pihak kampus pun mencoba menangani tentang kejadian yang membuat nama buruk kampus tercemar. Diego yang menjadi saksi atas apa yang dilakukan oleh Olivia ditahan oleh pihak kampus agar tidak ikut mengantar Grael ke rumah sakit.
__ADS_1
***
"Bagaimana keadaan kondisi istri saya, Dok?" tanya Erlangga ketika dia baru saja tiba di rumah sakit.
"Kondisi Ibu Grael mengalami luka lebam di area kepala dan juga sekitar tubuh, bagian tangan, punggung dan kakinya. Untuk kondisi janinnya, Ibu Grael harus bed rest selama beberapa hari, karena kandungannya sangat lemah," ucap sang Dokter yang menjelaskan pada Erlangga.
Erlangga memejamkan matanya, menelan saliva dengan susah payah ketika perasan amarahnya dia tahan. Telinganya pun kembali mendengar ucapan dokter bahwa dia akan meresapkan obat penguat janin dan juga vitamin untuk Grael.
"Untuk saat ini, biarkan Ibu Grael rawat inap selama beberapa hari ke depan! Biar kita terus memantau kondisi beliau." Dokter itu memegang bahu Erlangga agar berupaya bersabar.
Setelah dokter bicara seperti itu, beberapa pihak medis yang berprofesi sebagai suster langsung memindahkan Grael ke ruang rawat inap VVIP. Sementara pihak kampus membicarakan soal terkait insiden yang terjadi oleh istri pewaris tersebut, mereka mengucapkan kata maaf berkali-kali kepada Erlangga sebagai bentuk rasa prihatin atau merasa bersalahnya atas apa yang sudah terjadi.
Mereka akan menindak tegaskan apapun yang sudah menjadi tindakan kejahatan, membawa kerana hukum bagi siapapun yang terlibat atas pengeroyokan yang dialami oleh Grael.
"Saya tidak mau tahu, saya akan menuntut pihak kampus bahkan memblokir bila perlu, kalau pelaku tidak segera ditangkap secepat mungkin!" tegas Erlangga yang begitu emosi atas keamanan lingkungan kampus.
"Sekali lagi kita meminta maaf dan akan menindak tegaskan masalah ini!" ucap salah satu yang ikut bertanggung jawab.
"Sayang! Maafin aku ya," ucap Erlangga yang merasakan sakit luar biasa saat tubuh sang istri terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.
Tangan kekar itu mengusap lembut rambut sang istri, kemudian mengusap perut yang masih rata dengan penuh kasih sayang sembari meneteskan air mata.
"Halo anak Daddy! Yang kuat ya di dalam sana! Daddy sama Mommy, sayang kamu ... baik-baik ya, Nak!" ucap Erlangga sembari meneteskan air mata.
Beberapa jam kemudian, Grael terbangun dari tidurnya, walaupun dia sudah tertidur berjam-jam. Namun, tubuhnya masih saja merasakan lemas dan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya.
Grael membuka matanya dengan sempurna, melihat bagaimana Erlangga tengah tertidur di sampingnya seraya memegang tangganyaa dengan erat. Tangan itu juga mengelus kepala sang suami dengan lembut, tanpa terasa air matanya menetes.
"Sayang, kamu sudah bangun? Maaf aku ketiduran." Erlangga mulai menegakkan tubuhnya.
"Nggak apa-apa, maaf ya, sudah buat kamu khawatir!" ucap Grael yang mengusap air matanya.
__ADS_1
"Kamu nangis?" Erlangga mengusap air mata istrinya. "Apa yang kamu rasakan? Di mana yang sakit?"
Grael justru tambah menangis mendapatkan perlakuan romantis dari suaminya, dia semakin bersalah karena tidak bisa menjaga dirinya dengan benar.
"Maaf, aku sudah buat anak kita dalam bahaya!" rintih Grael yang terus mengeluarkan air mata.
"Hai, jangan menangis! Sudah, nggak apa-apa ... bukan salah kamu! Kamu tenang aja ya, biar semua itu urusan aku!" Erlangga memeluk tubuh istrinya.
"Aku takut, Kak!" Grael semakin terisak saat Erlangga mengusap kepalanya.
"Jangan takut! Ada aku di sini, kamu tenang saja!" Erlangga terus memberikan rasa nyaman pada sang istri, agar Grael merasa lebih tenang. "Kamu tidak usah terlalu banyak pikirannya, biar anak kita kuat! kalau Mommy nya nangis pasti bayinya juga ikut nangis."
Grael mengangguk dan menghentikan tangisannya, dia pun tersenyum di kala Erlangga menyuruhnya agar tidak sedih.
Tiba-tiba suara ponsel Erlangga pun berdering, tertera nama Joshua yang menghubunginya. Dia pun meminta izin kepada Grael untuk mengangkatnya lebih dulu.
"Dasar anak kurang ajar! Ala yang telah terjadi di sana? Kenapa kamu tidak mengabari Papi kalau Grael masuk rumah sakit?" bentak Joshua ketika dia mengetahui kondisi menantu kesayangan.
"Kok Papi tahu? Tahu dari mana?" tanya Erlangga dengan panik ketika dia melarang Yogi untuk memberitahu sang ayah.
Telinga Erlangga mendengarkan apa yang diucapkan oleh Joshua, lelaki paruh baya itu mengatakan bila dia mengetahui melalui berita situs online breaking news ternama di kota tersebut.
"Iya, iya, iya ... Pih!" Erlangga hanya menganggukkan apa yang dikatakan oleh Joshua lalu mematikan nomor teleponnya.
"Papi?" tanya Grael yang mendapati anggukan dari Erlangga. "Apa papi tahu, kalau El hamil?"
"Sepertinya tidak!" Erlangga melihat ke arah luar jendela yang terdapat begitu banyak wartawan yang ingin meliput rumah sakit tersebut mengatasnamakan Erlangga dan juga istri.
"Tahu dari mana mereka?" batin Erlangga yang membuka jendela.
to be continued
__ADS_1