Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
141. jealous


__ADS_3

Setelah selesai menelepon sang ayah mengenai perihal pekerjaan, Erlangga menuruni anak tangga, dia melihat Sherly yang tengah duduk di ruang tamu dengan penampilan yang cukup menarik. Namun, bagi Erlangga tetap saja dia tidak begitu tertarik melihatnya.


"Bagaimana kamu bisa tahu rumah ini?" tanya Erlangga.


"Er, aku ke sini membawakan makanan kesukaanmu," ucap Sherly tanpa menjawab pertanyaan Erlangga. Dia pun berdiri dan berniat menghampiri Erlangga tapi pewaris itu memberikan isyarat untuk tidak mendekat.


"Jika tidak ada yang begitu penting, silahkan keluar!" Erlangga menyuruh Anne untuk membukakan pintu hanya dengan satu jari.


"Astaga, Er ... kamu tega banget, aku tuh datang khawatirin kamu, tapi kamu malah ngusir aku! Kenapa? Takut istrimu cemburu? Masa gitu aja cemburu, emang kamu nggak kasih tahu kalau kita itu tidak ada hubungan apa-apa!" ujar Sherly yang sedikit merajuk dengan sikap Erlangga.


Sherly memang kerap memanggil sebutan nama untuk Erlangga di saat luar jam kantor, dia bahkan bisa lebih akrab dengan Erlangga sebelum mengetahui bahwa Erlangga sudah mempunyai istri yang masih belia.


"Sher, aku hanya ingin tidak mau ada kesalahpahaman antara aku dan istriku, terutama kita, aku harap kamu mengerti batas-batas di antara kita!" ucap Erlangga yang enggan untuk duduk dan menatap lukisan seraya membelakangi tubuh Sherly.


"Aku tahu, aku hanya ingin lebih akrab dan mengenal istrimu lebih dalam lagi agar tidak ada salah paham di antara kita bertiga, aku nggak mau menjaga jarak sama kamu hanya karena istri kamu yang pencemburuan!" Sherly mengelus punggung Erlangga.


Erlangga melihat tangan Sherly yang berada di pundaknya, dia juga melihat Sherly tersenyum manis saat menatapnya, tentu saja saat itu juga Erlangga menjauh.


"Just, friend!" ujar Sherly tapi Erlangga masih terdiam.


"Apa kamu tidak percaya padaku? Kamu lihat, aku sudah tidak berpakaian terbuka lagi, dan aku juga menutup rasa padamu Erlangga, maaf soal yang lalu sudah mengambil kesempatan untuk mencium bib—"


Sebelum Sherly lanjutkan ucapannya, Erlangga sudah membekap mulut sekretaris itu lebih dulu, dia tidak mau bila Grael sampai mendengarnya dan salah paham.


"Sekali lagi kamu ucap, jangan salahkan aku bila aku tidak akan mentoleransi terhadapmu!" ancam Erlangga yang masih membekap mulut Sherly dan mendapat anggukan dari sekertaris-nya itu.


"Thanks makanannya, jadi lebih baik kamu pulang, ini sudah malam. Apa tugas yang aku kasih sudah kamu selesaikan?" Erlangga duduk di kursi saat itu juga.


"Sudah, tentu beres semua ... apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh Sherly?" Sherly menyombongkan dirinya sendiri seraya duduk di samping Erlangga. Bukannya pergi karena sudah di usir oleh Erlangga, Sherly malah bersandar di sofa dengan tertawa.

__ADS_1


"Ck, sombongnya!" ucap Erlangga yang mulai terlihat rileks bicara pada Sherly.


"Tentu dong! Sherly gitu loh ... Oh iya, istri kamu ke mana? Kok aku belum lihat?" tanya Sherly yang basa-basi.


"Dia—”


Baru saja Erlangga ingin menjawab tapi Grael sudah membawakan nampan dan juga kue yang dia buat dan menaruhnya di hadapan Erlangga dan Sherly yang duduk bersampingan.


"Di minum Mbak tehnya!" ujar Grael saat mendessah kasar melihat Erlangga duduk begitu dekat dengan sekertaris-nya.


"Astaga, jangan panggil Mbak! Panggil aja Sherly, karena usia aku dua tahu lebih muda dari pada Er, ya nggak, Er!" Sherly tertawa seraya memukul lengan Erlangga tanpa ada rasa malu.


Erlangga hanya terdiam seraya menggaruk keningnya yang tidak terasa gatal, dia melihat sang istri ternyata tersenyum ke arah Sherly seakan menunjukkan bila dia tidak mempermasalahkan kedekatannya dengan Sherly dan mulai percaya padanya.


"Mbak Sherly jauh lebih tua dari pada saya, jelas saya harus punya etika terhadap yang lebih TUA, bukan begitu, Sayang?" Grael duduk di samping suaminya seraya menatap Erlangga sambil meminta pembelaan dari suaminya.


"Aah, hmm—”


"Ternyata benar ya, istrimu sangat lucu!" Tawa Seherly yang menutup mulutnya sembari memukul lembut lengan Erlangga dan berkata, "Oh ya, ini aku ada makanan ke sukaan Erlangga. Satu lagi untuk kamu, siapa tahu kamu juga suka makanan seafood!" Sherly menyerahkan dua bungkus paper bag di hadapan Grael dan juga Erlangga.


Ingin sekali Grael menolaknya tapi karena dia tahu bahwa tidak mungkin menolak pemberian Sherli di depan suaminya, maka Grael dengan berat hati menerima pemberian dari Sherly.


"Thanks sudah mau repot-repot membawakan makanan untuk kita!" ucap Grael yang menekan kata kita agar Sherly tahu bila Erlangga adalah suaminya.


"Its ok, karena aku tahu kalau Erlangga suka sekali makan seafood, ya kan Er?" Sherly sengaja menatap Erlangga seraya menepuk lengan suami Grael lagi dan lagi.


Grael hanya tersenyum kecut saat melihat suaminya diam aja bila di sentuh oleh wanita lain di hadapannya, entah sudah seakrab apa mereka berdua seakan tidak terlihat canggung menunjukkan hal tersebut di depan matanya, mungkin karena dirinya hanya remaja yang bisa dipermainkan atau di bodohi, hingga Erlangga hanya membiarkan Sherly sesuka hati menyentuh lengan kokohnya.


"Permisi, Nyah ada telepon dari—"

__ADS_1


"Oh iya, terima kasih, Ra." Grael langsung memotong ucapan Rara sebelum dia menyebutkan nama si penelepon agar suaminya tidak mengetahui siapa yang menelepon walaupun dia sendiri juga tidak tahu siapa yang menelepon.


"Aku tinggal dulu, ya!" ucap Grael seraya bangun dari duduknya dan di anggukan oleh Erlangga.


"Oh, ya ... silahkan!" sahut Sherly yang kemudian langsung berbisik pada Erlangga sambil tertawa saat Grael sudah berada menaiki tangga yang menatap ke arah mereka berdua.


"Gila kamu, Kak! Begitu kah caramu memancing cemburu aku? Kita lihat, siapa yang terpancing cemburu!" gumma Grael seraya melihat dari atas tangga dan menggenggam erat pegangan tangga dengan kencang. Dia memang sengaja tidak naik lift agar bisa melihat suaminya saat dirinya pergi.


Betul saja, begitu terdengar suara bantingan pintu kamar, Erlangga langsung tersenyum gemas dan menundukkan kepalanya, mungkin Sherly pikir Erlangga tertawa karena bisikkan dari bibir wanita itu tapi nyatanya, tidak.


Begitu puas membuat istrinya cemburu, Erlangga langsung menyingkirkan tangan Sherly dari lengannya dan bangun dari tempat duduknya, membuat Sherly bingung saat menatap Erlangga yang menyudahi obrolan mereka.


"Ok, aku rasa hari semakin malam nona Sherly, aku takut kamu tidak mendapatkan taksi online bila terlalu lama di sini, dan kebetulan juga aku pun ingin melanjutkan hal panas bersama istri tercintaku karena sempat tertunda dengan kedatanganmu!" Erlangga membukakan pintu utama khusus untuk mengusir sekertarisnya itu.


"Er, ini masih sore, baru jam tujuh! Come one ... kita jarang sekali meluangkan waktu kita berdua, toh juga istrimu kasih kita luang untuk berdua kan? Jadi, hayolah ... aku udah kangen banget sama kamu, bercanda seperti dulu di kantor sebelum aku tahu kamu sudah merrid!" Sherly mendekat ke arah Erlangga seraya menggoyangkan tangan pewaris itu dengan manja yang dia tempelkan dekat dadanya.


"Kalau kamu takut candaan kita buat istrimu tidak enak, kita bisa pergi keluar, bagaimana? Kita ke cafe yang sering kita kunjungi saat makan siang bersama di kantor? Lagian penat tahu, bahas masalah kantor melulu sama kamu, nggak kasian apa sam—”


"Sherly, STOP! Aku cape, butuh waktu istirahat, kalau kamu wanita terhormat, setidaknya kamu bisa jaga batasan kamu sama lelaki yang sudah beristri! Paham?" ucap Erlangga kesal mendengargar celotehan sekertarisnya, kalau aja kinerjanya buruk dan bukan anak dari teman Josua, sudah dipastikan Sherly dipecat sebelum Grael dan Rio pinta.


Sherly terdiam ketika dia mendapat bentakan cukup keras dari Erlangga, kata-kata Erlangga langsung menusuk hatinya hingga dia meneteskan air mata sambil berlari keluar.


Sementara di dalam kamar, Grael tengah berbicara pada Irfan melalui video call sembari membahas soal pelajaran besok. Di meja belajar pula Grael sedang melakukan belajar bersama dengan teman-temannya melalui video call, tidak hanya dengan Irfan, tapi juga ada Ernata, Gea dan juga Anjas. Grael memang sengaja menyuruh Ernata meng-closeup ke arah wajah Irfan agar mudah memberikan arahan menghitung. Namun, itu membuat Erlangga yang baru masuk langsung salah paham.


"Video call-an sama siapa?" Erlangga berdiri tegap di belakang Grael yang tengah mengajari Irfan.


To be continued..


Hai sobat readers tersayang, author mau menyampai kan untuk pemenang GA pulsa, adalah ....

__ADS_1


kak Tia...


Selamat untuk kak @Tia rayanza, yeyey... 🎉🎉🎉🎉🎉🎉selamat ya, dapat pulsa akhir bulan 25k.... semoga bermanfaat pulsanya meskipun tidak besar hadiah pulsanya, in sya Allah bulan bulan berikutnya jumlah pulsa tambah besar ya, aamiin dan yang lain juga mendapat kan hadiahnya juga...aamiin.


__ADS_2