
"Dengar ya! Kamu pikir aku bakalan diem saja, setelah apa yang kau lakukan terhadap cucuku? Dulu aku memang bodoh, menutup mata dan telinga atas kematian kakakku! Sekarang aku tidak akan tinggal diam saja setelah kamu sudah membuat calon cucuku meninggal!" Nadin mencoba ingin memukul Josua tapi dicegah lebih dulu oleh Erlangga.
"Sudah, cukup Tante ini di rumah sakit!" Erlangga terus memeluk tubuh Nadin agar tetap terkontrol.
"Calon anak Erlangga adalah calon anakku juga! Jangan pernah kamu sangkut pautkan dengan kematian ibunya Erlangga! Dan kamu bisa aku tuntut dengan pencemaran nama baik!" ujar Josua.
"Oh, mau tuntut? Silahkan, aku tidak takut, asal kamu tahu aku kasian dengan kamu! Wanita yang selama ini kamu bangga-banggakan sudah selingkuh dengan sopir pribadinya sendiri!" Nadin dengan geram melempar boom pada Josua.
"Jangan asal tuduh kamu! Dasar wanita monster!" umpat Josua.
"Apa kamu bilang? Seenaknya saja! Kamu laki-laki tua, peot!" ujar Nadin.
"Pih, Tante ... cukup!" bentak Erlangga dengan keras. "Erlangga sudah menemukan pelakunya!"
"Siapa?" tanya serempak semua orang yang ada di sana.
"Mamanya Rangga!" jawab Erlangga dengan melirik ke arah sang adik. "Er sudah menyerahkan barang bukti dan sekarang polisi sedang menangkap Mami Kylie!"
"Tidak mungkin!" ucap Josua yang memegang dadanya sebelah kiri.
"Pih!" Rangga membantu agar Joshua duduk di kursinya.
__ADS_1
Setelah perdebatan panjang dan Erlangga menjelaskan kepada Joshua, bahwa istri yang dibanggakannya itu adalah dalang dibalik rencana yang mengakibatkan calon anaknya tiada.
Joshua yang berusaha untuk menerima kenyataan bahwa istri tercinta adalah tersangka langsung menenangkan dirinya, dia mulai mengatur seluruh nafasnya agar kembali normal.
Lantas Josua pun menanyakan dari mana Erlangga bisa mendapatkan bukti secepat itu kalau Kylie dalangnya, karena tidak mungkin polisi langsung menangani dengan cepat untuk menangkap istrinya.
"Erlangga dapetin itu dari seseorang yang mau membantu menangkap pelaku yang sangat keji!" Erlangga sepintas menatap ke arah Rangga.
"Sudah aku duga!" tutur Nadine saat itu juga dia pun mengeluarkan segala isi kekesalannya terhadap Joshua.
Sudah berapa kali Joshua mengatakan bila dia tidak tahu menahu soal kematian istri pertamanya, sampai akhirnya Evelyn yang berada di sana pun turut angkat bicara.
"Saya mempunyai bukti akurat agar kita mengetahui siapa dalang yang sudah menyebabkan sahabat saya menjadi korban pembunuhan!" Evelyn menjadi ikut kesal dengan cara bicara Joshua yang selalu membela istri keduanya.
"Saya menyimpan diary Calista, lebih tepatnya dua hari sebelum Calista ditemukan tewas dalam rumah tersebut." Evelyn melirik ke arah Joshua.
"Ok! Kita kesana sekarang!" ucap Nadin penuh semangat.
Di saat mereka tengah sibuk di ruang tunggu depan ruang rawat inap, kirana .keluar dan memberitahu tentang keadaan Grael yang sudah siuman.
Semua yang berada di ruang tunggu, awalnya berdebat sekarang lebih mementingkan kondisi Grael lebih dulu, mereka bersabar menunggu untuk bergantian menjenguk istri dari Erlangga.
__ADS_1
"Kak?" Grael memanggil sang suami dengan suara yang lemah.
Istri dari Erlangga itu masih belum tahu bahwa di dalam perutnya sudah tidak ada janin ataupun anak yang dia kandung, raut wajah yang tersenyum masih terukir dengan jelas seakan dunia baik-baik saja.
"Apakah semua pada datang karena tahu El di sini?" tanya Grael dengan intonasi suara yang masih lemah.
"Iya, begitu khawatir sama kamu, karena itu kamu harus cepat sembuh ya!" ucap Erlangga yang tersenyum membalas uluran tangan sang istri yang ingin menggapai wajahnya.
Grael mengangguk seraya menurut apa yang dikatakan oleh suaminya tetapi raut wajahnya menjadi berubah, ketika saat dia menahan rasa sakit pada perutnya yang teramat dalam.
Membuat Erlangga langsung panik dan menanyakan keadaan istrinya. "apa kamu baik-baik saja?"
"Iya," sahut sahut Grael yang kembali tersenyum melihat suaminya.
air mata pun menetes di pipi Erlangga ketika melihat senyum itu masih terus menampakan pada raut cantik wajah sang istri, hatinya masih tidak rela bila dia harus mengatakan yang sebenarnya.
Bahwa anak mereka sudah tiada, Erlangga pun semakin mencium tangan istrinya untuk menahan tangisannya agar tidak mengundang pertanyaan.
Namun, tetap saja sang istri melontarkan pertanyaan pada Erlangga. menanyakan apa penyebab dirinya menangis? Apa karena dia belum diperbolehkan pulang oleh Dokter?
"Kak, sudah jangan nangis! Grael cuma disuruh bed rest, lagian kandungan El juga nggak apa-apakan kata Dokter," ucap Grael yang masih polos.
__ADS_1
Justru itulah yang membuat Erlangga tambah menangis, bibirnya terasa keluh ketika ingin menyampaikan pada sang istri. ditambah kondisi Grael yang baru saja Siuman membuat Erlangga penuh perhatian menyuruh istrinya banyak-banyak istirahat.
To be continued