Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
kabar bahgia


__ADS_3

Berbagai tes sudah Grael lalui, mulai dari tes urine sampai kini melakukan USG—Ultrasonografi. Terlihat jelas bagaimana bentuk kantung bulat seperti bola dengan ukuran yang sangat kecil berada di dalam perut Grael.


"Iya, ini dia ya, Tuan! Usianya masih dua Minggu, sudah terbentuk embrio yang berukuran sekitar 0,01–0,02 sentimeter yang terdiri dari dua lapisan sel, yaitu ektoderm dan endoterm yang akan menjadi cikal bakal organ tubuh!" ujar dokter yang menjelaskan. Tangannya bergerak maju-mundur bergerak menekan pada perut Grael.


Terlihat jelas di mata Grael, wajah tampan nan rupawan suaminya. Senyum melebar di sudut bibir yang melengkung sempurna, buliran bening keluar dari kelopak mata berwarna biru safir. Sorot mata yang terfokus pada layar monitor, sedangkan tangan kekar itu menggenggam erat tangan dirinya.


Terpancar kebahagiaan yang selama ini sudah dinanti-nanti oleh Erlangga Louis, seketika calon ayah itu lupa akan penyakitnya yang diderita sejak dua hari terakhir. Tergantikan oleh rasa senang ketika melihat calon buah hati berada di layar monitor.


Begitu kecil yang terlihat oleh mata Erlangga tetapi mampu membawa sejuta kabar bahagia, berulang kali dia mengusap air matanya saat dokter terus memberikan penjelasan pada sang istri.


"Sayang, itu anak kita!" ucap Erlangga dengan bangga dengan derai air mata.


"Iya, anak kita ... Sayang!" sahut Grael penuh haru, akhirnya dia mampu memberikan apa yang suaminya inginkan. Selama dua tahun kini penantian mereka sudah terbayar doa mereka terkabulkan dengan kehadiran calon buah hati di dalam rahim Grael.


"Terima kasih, Sayang! Terima kasih atas segalanya!" Erlangga mengecup kening Grael penuh penghayatan.


"Di jaga ya, Nyonya, kandungannya! Karena masih sangat rentan, minum air putih yang banyak dan juga jaga kondisi kesehatan tubuh, istirahat yang cukup!" ujar Dokter usai melakukan pemeriksaan pada perut Grael.


Erlangga membantu sang istri untuk bangun lalu duduk di kursi yang berada di depan dokter, telinganya terus mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh dokter kandungan tersebut, hingga tidak ada sedikitpun yang terlewatkan oleh Erlangga.


"Ini saya kasih, vitamin penambah darah satu kali sehari, ini vitamin lainnya, jangan lupa di minum susunya ya, Bu!" ujar sang dokter yang memberikan beberap obat pada Grael.


"Terima kasih, ya, Dok!" ucap Erlangga.


"Sama-sama, Tuan! Bulan besok jangan lupa untuk datang cek kembali usia kandungannya!" ucap Dokter Dania pada Erlangga dan juga Grael.

__ADS_1


Erlangga dan Grael berpamitan pada dokter tersebut lantaa bergegas keluar, mereka pun berjalan bergandengan tangan menelusuri koridor rumah sakit ibu dan anak tersebut. Setiap ada hal yang ingin mengenai perut Grael Erlangga selalu memasang badan siap siaga melindunginya, entah itu dari anak kecil yang berlari ataupun orang lain yang tengah terburu-buru berjalan melewati mereka.


"Awas, Saya!" ucap Erlangga penuh khawatir.


Grael terkekeh melihat sikap suaminya yang begitu khawatir terhadap dia dan janinnya, mungkin karena rasa senang hingga membuat sang suami menjadi over posesif. Sehingga tingkat kewaspadaannya begitu tinggi.


"Awas, Yank, licin lantainya!" ujar Erlangga yang menggenggam jemari istrinya dengan kuat.


"Terima kasih, Sayang!" Grael tersenyum ke arah Erlangga.


"Kita makan dulu, ya! Mau makan apa kamu?" tanya Erlangga ketika mereka baru saja tiba di halaman parkir rumah sakit.


"Hmmm, mau steak?" Grael menunjukkan wajah polosnya seperti anak kecil.


"Nggak boleh, itu nggak bagus buat janin! Bolehnya yang matang, steakkan setengah mentah, Yank!" Erlangga membukakan pintu mobil lalu memasangkan sabuk pengaman pada istrinya.


"Ok, kalau begitu, kita let's go!" Erlangga mengecup bibir Grael terlebih dahulu sebelum dia menjalankan mobilnya.


Mobil pun mulai berjalan memasuki area ruas jalan raya yang mulai begitu banyak oleh kendaraan lalu lalang, Erlangga mengemudi dengan penuh hati-hati dan tidak terlalu kencang. Dia juga memberikan tempat ternyaman untuk sang istri duduk.


Semua apapun benda-benda elektronik termasuk ponsel Erlangga mulai melarangnya, tingkat kewaspadaannya begitu tinggi ketika mengetahui bahwa ada calon masa depan pewarisnya yang tumbuh di rahim istri tercinta.


Dikala lampu merah tangan Erlangga mengusap lembut perut sang istri yang masih rata, senyumnya pun mengembang saat Grael membalas senyumannya. Ini adalah hadiah Tuhan yang paling indah dalam hidupnya, dia harus benar-benar menjaga kado indah tersebut.


Niat Erlangga akan merahasiakan kehamilan sang istri dari keluarganya terutama Joshua dan juga Kylie, dia sudah bertekad bahwa akan mulai hidup bersama keluarga kecilnya di Negara tersebut. Tidak peduli harta miliknya yang bergelimang di mana-mana jatuh ke tangan adik tirinya yaitu Rangga.

__ADS_1


Erlangga hanya ingin hidup tentram bahagia bersama istri dan juga anak-anaknya, dia memilih untuk mengikhlaskan semua harta warisan jatuh ke tangan Rangga karena bagi dia buah hati yang dikandung oleh istrinya tersebut adalah harta yang paling berharga bagi dirinya.


"Oh, iya kak ... aku boleh mengabari Mama dan Kak Cia?" tanya Grael.


"Of course!" sahut Erlangga dengan penuh semangat.


"Tapi tidak sekarang, aku ingin merahasiakannya, setelah sebulan baru aku akan mengabari mereka!" ucap Grael yang tidak sabar menunggu hari hanya untuk memberikan kabar terindah untuk Karina dan Gracia.


Grael ingin memberikan kejutan di saat waktu yang tepat karena dia tahu pepatah pernah bilang bahwa memberi kabar sedini mungkin akan mengakibatkan hal-hal yang tidak terduga yang tidak dia inginkan itu terjadi, karena itulah Grael memilih untuk merahasiakan dan menundanya sampai janin yang dia kandung benar-benar kuat.


"Apakah, kita akan mengabari Papi dan Mami?" tanya Grael.


"No!" sahut Erlangga dengan cepat.


"Why?" tanya Grael, dia kecewa padahal ingin sekali memberikan kabar tersebut kepada Joshua agar harta warisan yang selama ini milik suaminya yaitu Erlangga jatuh ke tangan sang pewaris sesungguhnya.


Grael tidak mau bila harta itu jatuh ke tangan Rangga, karena dia sudah mengetahui sesuatu hal yang membuat dia terus bertekad untuk membantu sang suami merebut hak miliknya selama ini yang direnggut oleh adik tirinya tersebut.


"Aku tidak mau mereka tahu karena ... aku, ingin hidup bahagia bersamamu di sini, di negara ini, bersama anak-anak kita!" Langkah mencoba menjelaskan kepada sang istrinya bila dia sudah tidak memperdulikan harta yang dikelola oleh Joshua.


"Tapi, Kak—”


Grael tidak mengerti apa yang sedang diucapkan oleh Erlangga, suaminya justru ingin merahasiakan anak yang dia kan sebagai bukti bahwa sesungguhnya Erlangga yang berhak atas warisan tersebut bukan Rangga, karena dia tidak ingin Kylie terus berkuasa atas hak yang tidak sesungguhnya bukan milik wanita itu.


Erlangga menepikan mobilnya lalu berbicara kepada sang istri agar dia mau mengerti. "El, aku ingin kita hidup bahagia di sini bersama anak-anak kita! Hanya itu keinginanku sekarang!"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2