Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
125. Amarah Erlangga


__ADS_3

...Warning!!!...


...Adegan dalam bab ini mengandung unsur dewasa, jadi bijaklah dalam membaca! Bila tidak berkenan silahkan di skip tanpa lupa untuk meninggalkan jejak likenya!...


...°Happy Reading°...


Erlangga bangun dari tempat duduknya, tapi dengan cepat Milian dan Max langsung menghadang artis itu agar tidak menggagalkan Steven yang sedang mencicipi tubuh Grael.


"Ck! Trik murahan! Kalian pikir rencana kalian berhasil? Sama sekali nggak mempan buat gua, Bang sat!" Erlangga langsung memukul Max tapi dengan cepat Milian sudah menendang Erlangga hingga artis tersebut mundur kebelakang dan memegang dadanya yang terkena tendangan.


"Main keroyokan? Cih! Banci kalian!" Erlangga begitu emosi, dia langsung melompat ke atas meja dengan gerakan cepat dia menendang dada Milian dan wajah Max sekaligus dalam satu gerakan.


Milian jatuh kebelakang sembari memegang dadanya yang kesakitan, sedangkan Max mengeluarkan darah dari sudut bibirnya saat mendapat tendangan yang cukup mematikan.


"Sial! Kenapa obat itu tidak bereaksi sama sekali pada tubuh Pria itu? Apa gue kurang banyak nuangnnya?" batin Milian yang masih memegang dadanya.


"Segitu doang? Cih!" Erlangga melompat dari atas meja dan berjalan menuju ruangan yang terdapat Grael, tapi langkahnya dihentikan oleh Max yang mengeluarkan sebuah belati untuk menikam punggung Erlangga.


Mengetahui gerakan Max, Erlangga langsung menghindar dan menahan tangan Max yang memegang sebuah belati untuk menussuknya, sorot mata Erlangga berubah menyeramkan di mata pria yang masih mengarahkan benda tajam ke arahnya.


Melihat Max sedang berjuang untuk melawan Erlangga, Milian kini mengarahkan senjata apii ke arah Erlangga sembari berkata, "Lepasin dia, atau aku akan menembakmu sekarang juga!"


Ancaman Milian sangat menggelitik pendengaran Erlangga hingga artis tersebut tertawa. "Kamu sedang melawak? Coba saja kalau bisa!"


Erlangga meledek kedua pemuda yang menurutnya bukanlah tandingannya, dia mencengkram kuat tangan Max saat pemuda itu berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan darinya yang begitu kuat, terlihat jelas di mata Erlangga bila Max takut tembakan temannya itu meleset ke arah Max.

__ADS_1


Ternyata Milian mudah terpancing emosi dengan ucapan Erlangga, dia menarik pelatuknya dan langsung menembak tepat ke arah Erlangga. Namun sayangnya, tembakan itu meleset ke arah dinding kapal, tanpa satu gerakan sedikitpun posisi Erlangga berubah dari posisinya. Hanya ada senyuman mengejek dari Erlangga ketika melihat tembakan itu meleset.


Milian merasa emosi dan langsung melepaskan tembakan secara bertubi-tubi ke arah Erlangga yang terus tersenyum meledek, hingga tembakan itu mengenai punggung Max yang berdiri di hadapan Erlangga.


Darah segar muncrat keluar dari mulut Max mengenai wajah Erlangga yang sedang menatap Milian tanpa rasa takut, sedangkan ketiga wanita bule yang tidak jauh dari mereka hanya menjerit ketakutan seraya menutup telinganya dan berjongkok di bawah kolong meja.


"Li–Lian, ka–kau ... brengsek!" Max melihat ke arah sahabatnya, dia memperlihatkan mulut yang sudah banyak mengeluarkan darah segar dan langsung terjatuh ketika Erlangga melepaskan tubuh Max sembari tersenyum licik.


"Max!" jerit Milian yang baru sadar melihat temannya sudah tewas akibat kecerobohannya.


"Kau penembak yang payah, Bung!" ejek Erlangga yang menyunggingkan sudut bibirnya.


Milian mengarahkan kembali pistool ke arah Erlangga, tetapi dengan cepat Erlangga memutarkan badan seraya menendang pergelangan tangan Milian. Pistool itu terlempar cukup jauh, hingga Milian merasa geram dan langsung mengambil belati yang ada didekatnya dan mengarahkan tepat di jantung Erlangga.


Suara teriakan Milian begitu menggelar di telinga ketiga wanita bule yang masih ketakutan dengan aksi Erlangga, sedangkan tangan Milian yang satunya lagi dia ikat dengan gesper yang dikaitkan di tiang kapal.


"Jika ada yang berani menolongnya, maka jangan salahkan aku berbuat kasar tanpa memandang status wanita!" ancam Erlangga yang membelakangi ketiga wanita bule itu.


Setelah usai menyelesaikan tanpa menunggu lama, Erlangga mendobrak pintu kapal dengan kakinya, dia melihat bagaimana Steven mellumat bibir istrinya sementara tangan kotor itu menahan tangan Grael dan tangan satunya lagi meremas aset Grael.


"Bang sat!" Erlangga menendang tubuh Steven tapi pemuda itu langsung menghindar dengan cepat.


Kedua pria itu saling memberikan pukulan sama lain, sedangkan Grael terus menggeliat kepanasan. Terdengar jelas di telinga Erlangga saat sang istri menyebut namanya dengan lirih seraya meminta tolong, hatinya begitu sakit, dia pun mendorong tubuh Steven dan memukul wajah Steven.


Steven yang tidak dalam pengaruh obat, tenaganya lebih stabil hingga bisa terus menghindar dari amukan Erlangga, sedangkan Erlangga yang tubuhnya hampir batas kendali dirinya memukul kaca hingga kaca itu pecah karena pukulan yang melesat.

__ADS_1


"Bro, gua tahu Lo sudah nggak tahan, maka dari itu, mumpung gua sedang baik hati sama Lo, gua izin Lo, buat kita main bertiga, gimana? Kasian dia, butuh kita!" sindir Steven yang menyarankan ide gila. Dia tidak tahu bila sekarang dia mengubah rasa hasrat Erlangga menjadi amarah yang begitu luar biasa.


Tentu ucapan Steven membuat rasa amarah Erlangga mendidih sampai ke ubun-ubun ketika mendengar istrinya direndahkan seperti itu, tanpa banyak bicara Erlangga langsung menarik kerah baju Steven dan menjatuhkannya ke bawah, hingga posisi Erlangga berada di atas tubuh Steven.


"Lo harus bayar atas apa yang sudah Lo perbuat! Dan ini bayaran saat Lo berani menyentuh istri gua!" Erlangga mengambil pecahan beling yang dia tancapkan berulang kali ke telapak tangan Steven, sampai orang itu menjerit kesakitan sembari berupaya untuk menghentikan aksi Erlangga.


"Dan ini untuk Lo yang harus Lo, bayar!" Erlangga memukul wajah Steven dengan emosi yang meletup-letup sampai pada akhirnya pukulan Erlangga membuat Steven tidak sadarkan diri.


"Cih!" Erlangga bangun dari atas tubuh pemuda itu, lantas menghampiri Grael yang sudah meringis meminta tolong.


Erlangga membopong tubuh istrinya ke arah kamar mandi, dia memutar keran hingga air turun dari atas shower mengenai tubuh mereka, tangan Erlangga melucuti semua pakaian yang ada ditubuhnya dan juga yang ada ditubuh sang istri kemudian menggosok bibir dan tubuh Grael yang dijamak oleh Steven.


Berkali-kali Grael ingin memberontak memukul dada Erlangga agar berhenti menyentuh di sisa tenaganya. Sampai akhirnya ketika obat itu mulai beraksi lagi, Erlangga tidak dapat menahan lebih lama lagi. Dia melahap bibir Grael dengan buas di bawah pancuran shower meskipun sang istri terus menghindar.


"No, don't touch me! Kak Erlangga, please help me!" Grael yang sudah kehilangan kendali masih mengaggap bahwa yang menyentuhnya adalah pria lain.


"Hai, look at me! Its me, Erlangga! Suami kamu!" Erlangga menepuk pipi Grael agar tersadar dan melihat ke arahnya.


Grael pun berusaha untuk menatap mata Erlangga dan ketika dia meyakini bahwa orang yang di hadapannya itu suaminya, dia langsung menangis dan memeluk Erlangga dengan erat.


"Kak, please tolong aku! Aku nggak tahu aku kenapa, aku nggak tahan Kak, sakit!" keluh Grael yang merasa jiwanya terkoyak saat bersentuhan dengan Erlangga.


"Kalau begitu, dengarkan aku, menurutkan denganku!" ucap Erlangga yang sedikit mengerjai istrinya saat sang istri mengangguk pasrah dengan ucapan dia.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2