Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
80. Menjemput Grael


__ADS_3

Selama rapat pertemuan, Erlangga terus memikirkan kata-kata Rio, dia pun kehilangan fokus saat semua menunggu kepastian dan persetujuan Erlangga tentang proyek yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat.


"Bos!" bisik Rio yang menyadarkan Erlangga.


Erlangga langsung tersadar dari berbagai hal yang mengusik batin dan pikirannya, dia pun menyuruh Rio untuk menanganinya dan segera mempercepat rapat sore hari ini.


Rapat pun berjalan sesuai yang di arahkan oleh Erlangga, begitu selesai rapat Erlangga langsung bergegas keluar dan menghubungi nomor Grael, tetapi nomornya tidak aktif.


"Yo, gimana Pak Ben?" tanya Erlangga dengan langkah yang begitu cepat menuju mobilnya.


"Pak Ben, kehilangan jejak Grael, Er!" ujar Rio, seketika dia menambrak tubuh Erlangga yang berhenti mendadak.


Erlangga meremas kuat-kuat benda pipi yang ada di tangannya saat mendengar ucapan dari manager-nya, dia menarik napas panjangnya untuk menetralisir sesak di dadanya, kemudian menyuruh Rio untuk pergi ke rumah Karina.


Sesampainya di rumah Karina, Erlangga sengaja membawa oleh-oleh untuk Karina hanya untuk sekedar basa-basi kalau Grael tidak pulang ke tempat sang ibu.


"Terima kasih ya, Nak Erlangga!" ucap Karina yang menerima paper bag begitu banyak dari menantunya.


"Sama-sama, Mah!" Erlangga tersenyum seraya melirik ke arah pintu kamar Grael.


"Oh iya, kenapa Grael tidak ikut?" tanya Karina.


Degup jantung Erlangga langsung berubah ketika mendengar pertanyaan dari mertuanya, Erlangga dan Rio saling pandang memandang yang kemudian di jawab oleh Erlangga. "Ah, emang El belum bilang sama Mama?"


"Belum? Kenapa?" tanya Karina untuk memastikan kembali pertanyaan dari Erlangga.


"Grael tadinya mau ke sini, ikut sama Er ... tapi karena Er bilang pulang kerja langsung ke sini, jadinya El nggak ikut," ujar Erlangga yang berdusta.


Karina sempat curiga dengan Erlangga dia pun menanyakan langsung perasaan yang mengganjal di hati. "Kalian lagi tidak bertengkar kan, Nak?"


"Nggak! Nggak, Mah ... Er sama Grael baik-baik saja, Mama tidak perlu khawatir!" ucap Erlangga yang kembali berdusta agar tidak membuat Karina khawatir.


"Syukur kalau begitu, Mama harap, apapun masalah dalam rumah tangga kalian, kalian bisa menghadapinya dengan kepala yang dingin. Mama minta sama kamu, bersabarlah menghadapi sikap Grael yang seperti anak kecil!" ucap Karina yang menasihati Erlangga.

__ADS_1


"Iya, Mah!" Erlangga pun langsung segera pamit ketika mengetahui Grael tidak pulang ke rumah.


Tarikan napas Erlangga terdengar berat di telinga Rio ketika mereka sudah berada di dalam mobil, Rio pun berinisiatif menyuruh Emira untuk mencaritahu keberadaan Grael.


...----------------...


"Thanks!" Grael memberikan satu gelas yang berisikan air minum kepada Ernata.


"Lo yakin nggak mau minum obat?" ucap Ernata yang menawari obat demam kepada Grael.


"Nggak apa-apa, istirahat sebentar juga gue sembuh kok!" ujar Grael yang kekeh dengan pendiriannya.


"Ya sudah ... kalau gitu, Lo istirahat aja!" Ernata bangun dari tempat duduknya dan menutup pintu kamarnya.


Setelah Ernata keluar, dia baru membalas pesan dari Emira bahwa Grael berada di rumahnya, Ernata pun menanyakan kenapa Emira menanyakan soal keberadaan Grael. Namun, pesannya tidak kunjung di balas.


Beberapa menit kemudian, Asisten rumah tangga Ernata yang bernama Bik Sumi datang menghampiri Ernata bahwa ada tamu yang mencari nona Grael.


"Anu, Non ... anu, itu ... anu—"


"Siapa sih, Bik? Anu, anu!" Ernata pun berdiri dari kursi duduknya dan kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi ke ruang tamu.


"Siapa ya?" tanya Ernata ketika melihat ke dua pria menunggu di ruang tamu.


Erlangga pun bangun dari tempat duduknya dan membuat pemilik rumah sekaligus asisten rumah tangga Ernata begitu terkejut dengan kedatangan artis papan atas.


"Non, si Anu, Non! Si anu!" ucap Bik Sumi yang syok melihat artis idolanya ada di depan mata.


"Di mana Grael?" tanya Erlangga langsung kepada Ernata, dia pun langsung melangkahkan kakinya menaiki anak tangga ketika mendapat arahan dari Ernata dengan jari telunjuknya.


"Eh, tu–tunggu dulu!" Ernata ingin mengejar Erlangga tapi sudah dicegah lebih dulu oleh Rio.


"Iihh ... apa sih! Eh, jangan sembarangan masuk!" Ernata menghindar dari Rio lantas mengikuti langkah kaki Erlangga yang membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Batinnya begitu kesal karena Erlangga masuk ke dalam kamar tanpa seizinnya, dia juga melihat Erlangga langsung memegang kening Grael seraya dengan memanggil ucapan kata sayang.


"Sayang ... bangun, ini aku!" Erlangga berjongkok lalu mengusap pipi Grael dengan lembut.


"Apa dia sudah minum obat?" tanya Erlangga yang melihat ke arah Ernata yang masih syok dengan adegan di depan matanya.


"Ta–ta–tadi, di–dia nggak mau minum obat," ucap Ernata yang terbatah. Rio pun menahan tawanya ketika Ernata begitu menggemaskan.


"Mana obatnya?" Erlangga bangun lalu mengambil gelas yang ada di nakas.


Ernata mengambilkan obat demam lalu menyerahkan obat itu kepada Erlangga, perasaanya terus curiga terhadap hubungan Grael dengan artis yang begitu terkenal.


Setelah Erlangga mengambil obat dari tangan Ernata, dia membaca obat itu terlebih dahulu kemudian menggerus dengan sendok yang sudah dia pinta saat Ernata mengambilkan obat.


"Loh, kenapa kamu yang minum! Eh ... lah!" Ernata begitu heran melihat Erlangga meminum obat yang dia berikan, kemudian matanya ditutup oleh Rio dan mengajaknya keluar saat Erlangga memberikan obat lewat mulutnya.


Perlahan tapi pasti Grael menelan obat yang diberikan oleh Erlangga, dia merasakan ada sesuatu yang pahit pada mulutnya, dia mencoba membuka matanya lalu memberontak menjauhkan bibir Erlangga dari bibirnya. Namun, Erlangga justru menggengam tangannya dengan erat serta mellumat lidahnya untuk menghilangkan rasa pahit yang tersisa.


Grael pun tidak bisa melawannya saat kondisi fisiknya begitu lemah, dia membiarkan Erlangga terus memainkan lidahnya di dalam mulutnya, lambat laun dia pun tertidur kembali saat tangan sang suami mencoba mengelus pucuk kepalanya seraya terus mellumat bibirnya.


Sementara di lain sisi, Ernata dengan berbagai pertanyaan di kepalanya masih belum menyangka bila Grael sudah menikah dengan Erlangga, semua yang dia dapat tentang Grael sudah Rio ceritakan.


Ernata pun melihat ke arah tangga ketika Erlangga menggendong Grael yang tertidur lelap, arah pandangnya tertuju pada cincin yang tersemat di jemari mereka berdua. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Rio, bahwa mereka sepasang suami istri.


"Thanks atas semuanya!" ucap Erlangga dengan raut datar. Dia pun membawa Grael ke dalam mobil.


"Oh iya, hati-hati! Sorry gue belum tahu kalau—"


Ucapan Ernata belum sempat selesai tapi Erlangga berlalu begitu saja yang hanya meninggalkan senyuman tipis di wajahnya. Ernata pun tampak kesal melihat tingkah Erlangga yang ternyata jauh berbeda dengan di layar kaca.


"Thanks ya, bye ... Cantik!" Rio tersenyum manis ke arah Ernata lalu mengedipkan satu matanya untuk menggoda Ernata.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2