Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
190. Sikap aneh Grael


__ADS_3

Setelah mereka selesai makan, Erlangga mengangkat tangan memanggil salah satu pelayan untuk meminta bill pesanan mereka, lalu mengeluarkan uang lima lebar kertas mata uang negara tersebut yang dia kasih kepada pelayan itu.


"Terima kasih," ucap pelayan itu yang diduga sebagai sebagai temannya Diego.


Erlangga pun mengulurkan tangannya ke depan sang istri untuk mengandeng tangan Grael, lantas berjalan ke arah luar toko.


"Terima kasih, Sayang!" ucap Grael yang tahu dari sorot mata Abidzar masih terlihat jelas rasa cemburu itu ada.


"Kamu sedang membujukku?" Erlangga melihat ke arah istrinya sembari mencubit hidung mancung Grael.


"Nggak kok," elak Grael tertawa ternyata suaminya bisa menebak gerak-geriknya.


Langkah kaki mereka pun masuk ke dalam sebuah bioskop, tiga puluh menit sebelum film yang akan mereka tonton dimulai. Erlangga mengajak istrinya itu untuk bermain game terlebih dahulu.


Erlangga memainkan sebuah tembakkan dalam layar besar, di mana Grael melihat sang suami begitu tampan dan gagah saat kembali para musuh yang ada di depan layar.


Suara tembakan pun terdengar begitu jelas seperti bermain masuk ke dalam layar monitor. Sorot mata Erlangga menatap tajam ke arah target yang akan dia bidik lalu tangan itu pun bergerak sesuai instruksi apa yang dia lihat.


Dalam hitungan beberapa detik semua musuh yang ada di depan layar tumbang. Suara tepukan tangan dari sang istri membuatnya menjadi semangat membasmi para musuh melebihi target dan ditentukan.


"Wwwoow, keren!" Grael langsung bertepuk tangan atas kemenangan sang suami.


Rasa bahagia muncul dalam diri Erlangga ketika Grael menyanjungnya walaupun itu hanya sebuah permainan kecil bagi siapapun pasti bisa melakukannya, tetapi hal sepele seperti itu pun membuat dia begitu senang.


Lima menit lagi bioskop akan segera dimulai, Erlangga langsung mengajak sang istri masuk ke dalam ruangan bioskop. Dia sengaja memilih bangku paling tengah untuk menonton film yang telah Grael ingin inginkan sejak lama.


Ruangan bioskop itu tidak terlalu ramai oleh pengunjung yang menonton nya, itulah yang membuat Grael menjadi bingung ketika di depan begitu ramai oleh pengunjung yang akan menonton film tetapi anehnya hanya beberapa orang saja yang ikut masuk ke dalam ruangan bioskop tersebut bersama mereka.

__ADS_1


"Sayang, kamu lagi nggak nyewa bioskop kan?" Tanya Grael ketika dia baru saja mendaratkan bokongnya tepat di kursi d(+_+)duknya.


"Nggak, mungkin emang karena sepi aja kali, Yank!" Ucap Erlangga yang menjelaskan kepada Grael.


"Ohh, ya." Grael duduk sebelah kiri Erlangga, ketika mereka mengambil bangku penonton sebelah kiri dari pintu. Www


Lampu bioskop pun telah dimatikan, film telah dimulai. Mereka berdua menyimak alur film yang bergenre horor, di mana awal mula film tersebut berjalan dengan normal. Erlangga dan Grael menikmati film tersebut sembari makan popcorn yang mereka beli.


Grael yang terkadang menyuapi popcorn ke Erlangga, sedangkan Erlangga memberinya minuman pada sang istri. Begitu romantisnya mereka saat menonton film horor, sampai mereka tidak menyadari bila ada sepasang kekasih sedang saling berpelukan karena takut melihat adegan di mana hantu utama dalam film tersebut menampakkan dirinya.


Berbeda halnya dengan pasangan suami istri Erlangga dan juga Grael, mereka justru begitu serius menikmati alur film yang tengah diputar di depan mata mereka. Grael bersandar di bahu Erlangga sedangkan tangan Erlangga terus menyuapi popcorn ke arah istrinya.


Tiba di mana alur film tersebut berubah menjadi adegan panas perselingkuhan, membuat keduanya semakin menegang. Sorot mata mereka pun tidak lepas dari penglihatan pemandangan yang ada di depan matanya, sepasang kekasih tengah beradu bibir saling ******* satu sama lain. Memberikan kecupan satu sama lain dan saling membalas.


Membuat Grael kurang nyaman tapi berbeda dari Erlangga justru dia bersikap biasa saja ketika adegan nyata berada di depan matanya, sampai tiba Erlangga ikut terpancing saat adegan di layar depan memperlihatkan dengan intens bagaimana perselingkuhan itu semakin panas.


Grael sedikit mendorong tubuh Erlangga agar dia mau menghentikan ciumannya, lantas dia mengambil dalam-dalam udara untuk masuk ke dalam paru-parunya.


"Aku kangen, El!" ucap Erlangga dengan suara paraunya.


"Sayang, kita sedang di luar!" ucap Grael dengan suara pelan.


"Ok! Kita lanjut di rumah kalau begitu!" Erlangga mencium pipi Grael lantas kembali fokus ke arah depan.


Grael pun tersenyum melihat sikap Erlangga yang sedikit kecewa, dia mengecup pipi itu agar tidak membuat suaminya menjadi badmood gara-gara dia tolak. Tentunya hal itu membuat suaminya melihat ke arahnya dan kembali mencium bibir dan melepaskannya.


Usai mereka menonton bersama tanpa terasa hari pun semakin sore, puas berbelanja sembari menonton mereka langsung ke tempat halaman parkir mobil. Akan tetapi, pada saat mereka masuk ke dalam mobil, Grael merasakan hawa angin yang kurang enak sehingga dia menjadi sedikit mual.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Erlangga saat dia mesangkan sabuk pengaman pada istrinya.


"Iya, mungkin karena kelelahan!" sahut Grael.


"Kamu yakin?" tanya Erlangga sekali lagi yang mendapatkan anggukan dari Grael. "Baiklah kalau gitu, kita ke mana lagi? Apa langsung pulang?"


"Langsung pulang saja!" pinta Grael pada suaminya.


"Ok, kalau begitu kita langsung pulang!" Erlangga langsung menancapkan pedal gasnya.


Selama perjalanan Grael tiba-tiba saja tertidur pulas dalam mobil, mungkin memang benar bila dia kelelahan. Sampai di depan rumah pun Grael masih tertidur lelap.


Sehingga Erlangga niat membawanya masuk ke dalam rumah tanpa membangunkan Grael akan tetapi, sang istri justru menariknya agar tidak bisa pergi dari sana.


"Aku menginginkannya di sini, Er!" ucap Grael yang mencoba menggoda suaminya sembari menahan tengkuk leher Erlangga.


Erlangga langsung tidak percaya dengan tindakan sang istri yang sulit dia mengerti, pasalnya Grael bilang dia lelah dan tidak enak badan tetapi sekarang justru menginginkan melakukanya di dalam mobil.


Erlangga pun hanya bisa membalas pangutan ciuman dari sang istri, lalu berniat untuk mengangkatnya agar memereka pindah ke dalam rumah. Akan tetapi, sang istri tetap menginginkan untuk tetap berada di dalam mobil.


Sehingga mau tidak mau Erlangga pun melayani permintaan sang istri yang begitu agresif hari ini. Dia melepas semua baju Grael dan juga bajunya, lantas bergelut dalam kehangat dalam mobil yang membanjiri keringat yang penuh dengan kelabu.


"Kak," panggil Grael ketika sang suami terus memberikan kasih sayangnya dengan mengecup lehernya.


"El," panggil Erlangga saat dia benar-benar kualahan menghadapi sikap agresif dari istrinya.


Mobil berwarna hitam itu bergoyang dalam bagasi mobil, seirama dengan hentakan yang diberikan oleh Grael.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2