
...Warning!!...
...Memasuki area berbau unsur dewasa!! Harap bijak dalam membaca!!...
Dalam perjalan menuju rumah Ernata, semua orang terdiam, hanya sorot mata Ernata yang yang sesekali melihat ke arah belakang melihat posisi Erlangga yang memilih untuk memejamkan matanya, sedangkan Grael sibuk dengan pikirannya sendiri melihat ke arah luar jendela.
Terbesit rasa sakit itu muncul lagi ketika dia mengingat adegan Rangga yang mencium bibir Veby di depan matanya, dia mencoba untuk menampik pikiran yang membuatnya sakit. Namun, air matanya tidak mau berhenti untuk keluar.
Suara ponsel milik Ernata berbunyi, tertera nama Rangga yang menghubunginya. Refleks Ernata mematikan ponselnya karena terbawa kesal dengan tunangannya Grael. Sekali, dua kali, ponsel itu terus berbunyi dan terus di-reject oleh Ernata.
Sampai akhirnya, Ernata menjawab panggilan Rangga dengan intonasi suara yang meninggi, suara sahabat Grael itu membuat Erlangga terganggu dengan ucapan yang sedang membentak seseorang. Sontak Grael menghapus air mata dengan cepat saat Erlangga membuka matanya.
"Gue gak sama Grael! Lo cari aja sendiri tunangan Lo! Mungkin udah direbut sama cowok lain!" bentak Ernata yang spontan melontarkan dengan suara keras.
Erlangga yang mengetahui maksud dari ucapan temannya Grael langsung melirik ke arah sang empu yang sedang memijat keningnya. Terlihat jelas sembab pada mata gadis itu yang berusaha disembunyikan oleh tanganya.
"Kok, lo marah-marah si, sama gue! Gue tanya baik-baik sama lo, lo sama Grael gak? Kenapa jawabnya malah gitu? Emang gue salah apa sama lo? Tinggal jawab gak, apa susahnya!" sewot Rangga.
"Lo tanya aja sendiri sama diri lo, gak sadar emang? Abis ci—"
"Eehhemm!" Grael berdeham begitu keras diiringi oleh batuk agar Ernata tersadar dari ucapannya.
Semua orang yang berada di dalam mobil pun melihat ke arah Grael, begitu juga dengan Ernata yang langsung tersadar dari kecerobohannya.
"Upss, sorry!" Ernata langsung mematikan ponselnya dan menutup wajahnya yang merasa malu. Rio yang melihat tingkah Ernata hanya tertawa, sedangkan Erlangga langsung memberikan satu botol minum kepada Grael.
Mata Grael tertuju pada minuman Erlangga, dengan ragu dia mengambil botol minum itu dari tangan Erlangga, tangannya pun mencoba agar tidak menyentuh tangan pria itu, tapi Erlangga yang begitu rindu pada sosok gadis itu hanya mengelus jempol Grael dengan jarinya.
__ADS_1
Perjalanan pun sampai pada rumah Ernata, begitu mewah dengan instruktur model Prancis, Rio yang melihat begitu kagum ternyata temannya Grael bukan orang sembarangan.
"Terima kasih, ya." Ernata hendak membuka pintunya tapi sudah lebih dulu dibuka oleh Rio.
"El, maaf ya, soal tadi."
"It's okey!" ucap Grael yang tersenyum.
"Kabarin gue, ya!" pinta Ernata dan dianggukan oleh Grael.
Mobil pun kembali berjalan, usai Ernata mengucapkan terima kasih pada Erlangga. Kini tinggal Grael yang masih fokus melihat ke arah kaca mobil.
Cukup lama mereka bertiga terdiam, sampai akhirnya Rio memberhentikan mobil di sebuah mini market. Manager-nya itu turun begitu juga dengan Grael yang ingin membuka pintu mobil tapi tangan gadis itu langsung ditahan oleh Erlangga dengan cepat.
Kedua mata mereka saling melihat satu sama lain untuk sesaat, sebelum Grael menyadari bahwa matanya terlihat sembab sehabis menangis. Tangan Erlangga pun terus menahan tangan Grael yang berada di atas kepala sandaran jok, agar dia bisa melihat wajah yang selama ini dia rindukan.
"Look at me!" pinta Erlangga dengan suara lembutnya.
Erlangga pun melepaskan cekalan tangannya dan menarik tuas bangku yang Grael duduki hingga sang gadis terkejut saat tubuhnya ikut kebawah, dengan refles tangan Grael menarik kerah baju Erlangga sampai jarak di antara mereka hanya begitu sangat dekat.
Erlangga tersenyum, dia langsung mencium kening gadis itu, tetapi mendapat penolakan dari Grael. "Kak, Er!"
"Sebentar aja, El." Erlangga menuntun tangan Grael agar memeluknya, dia pun menaruh wajahnya di ceruk leher sang gadis. Menghirup wangi tubuh Grael dalam-dalam sembari mengeratkan pelukannya.
Ingatan Grael yang sedikit trauma membuat dirinya merasa tidak nyaman dipeluk oleh Erlangga, rasa takutnya masih ada dalam benaknya ketika Erlangga memaksa menjamak tubuhnya dengan semaunya.
"Kak!" Grael berusaha mendorong tubuh Erlangga, tetapi tetap saja Erlangga semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Please, sebentar ... aja. Percaya sama aku! Aku janji tidak akan berbuat macam-macam," ucap Erlangga yang begitu rindu pada gadis itu.
Setelah beberapa menit, Grael pun membiarkan Erlangga berada di atas tubuhnya, napas hangat Erlangga sangat terasa di lehernya. Wangi tubuh pria itu pun tercium oleh indra pencium Grael sehingga membuat Grael hilang akal untuk sesaat.
Tangan Grael perlahan membalas pelukan Erlangga dengan ragu-ragu, membuat sang empu semakin mengeratkan pelukan pada tubuh gadis itu. Mata Erlangga yang terpejam sembari menikmati aroma tubuh gadis itu, sesekali bibirnya mencuri kesempatan untuk mengecup pelan pada area leher Grael agar tidak membuat sang gadis marah.
Kecupan pelan Erlangga membuat gadis itu tanpa sadar mengeluarkan ******* ringan, dan meremas lembut kepala Erlangga. Mendapat lampu hijau dari lawan mainnya, Erlangga semakin berani untuk mengecup sekali lagi leher sang empu sampai sang empu merasa hilang kendali atas sentuhan bibir Erlangga.
"Aahh," dessahan Grael lolos sekali lagi membuat rasa rindu Erlangga semakin memuncak.
Sesuatu yang belum pernah Grael rasakan lagi-lagi dia dapatkan dari Erlangga. Desiran yang begitu aneh menjalar di seluruh tubuhnya ketika nalurinya menginginkan terus menerus, sampai Grael merasakan sesuatu yang begitu besar dia rasakan di bawah sana.
Akal sehat Grael berusaha untuk menolaknya, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong bila dia menikmati sentuhan dari orang yang dia rindukan.
"Sorry la—"
"Aaakkkhh!" Grael yang panik karena ketahuan oleh Rio langsung menendang aset berharga milik Erlangga dengan lututnya, kemudian mendorong tubuh pria itu dengan kencang.
"Aakkhh ... njriitt! Sa ... kiit ... aaarrgghh!" Erlangga bangun dari atas tubuh Grael dan duduk ke tempat semula sembari memukul kaca yang berada di sampingnya.
"Ma–maaf, ma–maaf kak!" Grael menutup mulutnya melihat Erlangga yang kesakitan akibat perbuatannya.
"Astaga! Baru, ditinggal sebentar!" Rio menggelengkan kepalanya, kemudian menjalankan mesin mobilnya.
Begitu sampai di rumah. Grael merebahkan tubuhnya, sembari melihat ke arah tanganya yang sudah terdapat gelang pemberian Erlangga sebelum dia turun dari mobil.
"Please, sabar, tunggu aku! Sebentar lagi," bisik Erlangga saat sang empu memakaikan gelang pada tangannya.
__ADS_1
Kata-kata itu masih teringat jelas dipikiran Grael, entah apa maksud dari ucapan Erlangga yang jelas hatinya semakin bingung tidak menentu ketika dia mencintai Rangga dan sudah menjadi miliknya tapi terdapat pula getaran aneh yang dia rasakan saat dirinya berada jauh atau dekat dengan Erlangga.
To be continued...