Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
54. Kejahilan Dokter Nadin


__ADS_3

"Hai ... ini aku, Erlangga. Maaf ... aku, telat datang menemuimu!" Erlangga duduk, usai mengelap tubuh sang istri setiap sentuhan yang Rangga lakukan.


"Yank ... bangun! Jangan buat aku khawatir, aku janji ... aku, akan bersabar menunggu cinta itu hadir untukku, aku tidak akan memaksamu lagi." Erlangga meneteskan air matanya dan terus berdoa agar sang istri cepat sadar.


"Yank ... aku, sangat membutuhkan kamu agar terus berada di samping, aku! Aku nggak bisa hidup tanpa kamu! Aku sangat mencintai kamu ... bangun lah, Sayang! Aku akan mengabulkan ke inginan kamu, kita akan pergi honeymoon ke Paris sesuai yang kamu mau!" Suara rintihan Erlangga bisa membawa Grael ke dunia nyatanya, tetapi istrinya itu masih lemah untuk sadar.


Erlangga terus menanti kesadaran sang Istri, dia mau saat Grael membuka matanya yang pertamakali istrinya lihat adalah dia. Namun, sampai Erlangga tertidur menelungkupkan wajahnya yang berada di lengan Grael dan terbangun oleh suara ponsel. Sang istri tak kunjung jua sadar.


Terpaksa Erlangga keluar dari ruang itu untuk menjawab panggilan dari sutradara Lee dan meninggalkan Grael yang masih memejamkan mata.


Setelah suara pintu tertutup air mata Grael menetes, jemarinya pun bergerak. Namun, pada saat Grael membuka matanya, Rangga berada di sampingnya sedang bersandar di bangku sembari memejamkan matanya.


Grael tersenyum ketika dia melihat Rangga di dalam alam bawah sadarnya, air matanya menetes saat rindu itu terobati dengan kehadiran Rangga. Suara yang dia dengar ketika Rangga berkata akan memenuhi kengininannya untuk bulan madu bersama membuat dia tertawa kecil yang masih lemas.


Suara Grael membangunkan Rangga, lelaki itu membuka matanya dan melihat tangan Grael sudah berada di wajahnya sembari tertawa pelan. Sontak membuat Rangga terkejut sekaligus senang karena wanita yang dia cintai sudah sadar.


"Ya Tuhan, kamu sudah sadar, ay? Ah ... maksud aku ... El," ucap Rangga yang mengingat tentang status mereka yang sudah berubah menjadi ipar.


Perkataan Rangga tentu membuat Grael tersadar bahwa dia sedang tidak bermimpi, dan juga mengingatkan dia, bahwa mereka sudah bukan sepasang kekasih lagi.


Di balik pintu, Erlangga yang ingin masuk ternyata harus melihat kembali adegan yang membuatnya marah dan sakit hati, ternyata sang istri tersadar karena adanya Rangga di sampingnya.


Sangat terlihat jelas di wajah sang istri ketika melihat tawa dan sentuhan tangan Grael kepada Rangga, bahwa cinta Grael begitu besar pada sang adik tiri. Tangan Erlangga menggenggam erat pada gagang pintu untuk melampiaskan rasa kecewanya, hingga dia membuka pintu dan menghampiri mereka yang saling pandang memandang.


"Kak Erlangga!" Grael langsung sadar sepenuhnya kalau tenyata dia bukan berada di alur mimpi, tangannya pun refleks melepas raut wajah Rangga.


"Hai, kamu sudah sadar? Apa yang kamu rasakan? Mana yang sakit?" Erlangga berjalan mendekat ke arah mereka.


Suasana menjadi canggung, saat mereka bertiga dalam satu ruangan yang sama. Rangga yang berada di sebelah kiri Grael, sedangkan Erlangga berada di sebelah kanan sang istri. Grael memandang kedua saudara itu saling melempar tatapan sinis sehingga membuat suasana tambah menegang dan terasa menyeramkan bagi Grael.

__ADS_1


"Kalau gini ... mending, nanti aja aku bangunnya," ucap Grael dalam hati.


Di sela-sela aura yang menegangkan, Josua datang bersama Dokter Raditya dan Nadin. Kedua dokter tersebut menyapa Grael dengan ramah, begitu juga dengan Josua. Dia tidak memperdulikan ke dua anak laki-lakinya yang bersitegang melempar tatapan sinis, yang dia perduli kan hanyalah kondisi mantu kesayangannya.


"Bagaimana keadaanya, dok?" tanya Josua yang begitu khawatir terhadap menantunya.


"Semua bagus, tinggal pemulihan pada tubuhnya yang masih lemas. Nanti saya kasih resep vitamin, selebihnya biar Nadin yang memberikan beberapa saran dan pola makan," ujar Raditya.


Nadin pun mengecek tubuh Grael secara telaten dan semua hasilnya bagus, tetapi dia melihat aura cinta segitiga yang begitu panas yang Nadin rasakan, dia pun melontarkan candaan, "Semuanya bagus, juga calon cucu saya!"


Nadin tersenyum saat memberikan ulasan tentang apa yang dia pegang, semua orang terkejut termasuk Grael. Pasalnya Nadin mengecek bagian perut Grael.


"Hah, serius dok? Saya hamil?" Grael langsung panik menatap ke arah Dokter Nadin seraya memegang perutnya.


Semua mata langsung melihat ke arah Nadin untuk menunggu jawaban dari dokter tersebut, Nadin pun melirik satu persatu lemparan tatapan yang menunggu jawabannya.


"Nggak! Ya, kan, Kak?" tanya Grael dengan panik ke arah Erlangga, dan itu membuat semua orang tertawa dengan tingkah polos Grael yang secara terbuka, kecuali Rangga.


Menyadari ucapannya yang tanpa sengaja memberitahu bahwa mereka sudah melakukan hubungan sekssual, membuat Grael membulatkan matanya lalu memeluk Erlangga dengan cepat. Dia membenamkan kepalanya di perut sixpack sang suami yang dilapisi oleh kemeja dan jaket.


Erlangga pun membalas pelukan sang istri dengan raut wajah yang senang, ketika Tantenya secara tidak langsung membantu membidik Rangga tepat sasaran.


Rangga hanya tersenyum getir saat mendengar ucapan dari wanita yang dia cinta, hatinya begitu sakit dan pedih mengetahui bahwa ternyata Grael dan kakaknya sudah menjalankan hubungan layaknya sepasang suami isteri, itu menunjukkan bahwa dia tidak mempunyai kesempatan untuk bisa kembali lagi bersama Grael.


Rangga membalikan tubuhnya, beriringan dengan air mata yang keluar dari sudut matanya, lantas meninggalkan ruangan itu saat yang lain masih tertawa puas mendengar ucapan Grael yang begitu polos.


"Saya cuman bercanda! Lagian, wajar kan? Kalau kalian sudah melakukannya?" tanya Nadin saat Rangga sudah keluar dari ruangan tersebut.


"Wajar, tapi Papi pinta ... agar kalian menunda momongan dulu!" Josua ikut tertawa melihat tingkah polos menantunya yang menggemaskan.

__ADS_1


"Iya, Pih," sahut Grael yang masih menahan malu dengan wajah yang bersemu.


Kedua dokter itu pamit, begitu juga dengan Josua yang menitipkan Grael pada Erlangga, suasana kembali sunyi ketika hanya tinggal mereka berdua.


"Mau makan?" tanya Erlangga yang mencoba mencairkan suasana. Dia tahu bahwa istrinya masih malu atas ucapannya sendiri, terlebih lagi saat tinggal mereka berdua yang berada di ruangan itu.


"Kak," ucap Grael dengan lembut.


"Iya?" jawab Erlangga, dia mengambil semangkuk bubur yang sudah disiapkan oleh Nadin.


"Maaf ya," ucap Grael dengan suara yang pelan. Namun, masih terdengar oleh Erlangga.


"Makan dulu ... nanti kita bahas!" Erlangga menyodorkan satu sendok berisi bubur, dia menyuruh sang istri untuk membuka mulutnya.


Grael pun menatap mata Erlangga dengan malu sembari membuka mulutnya, perlahan dia mengunyah bubur itu lalu menelannya, begitu terus sampai bubur itu tinggal setengah dan Grael meminta Erlangga untuk berhenti menyuapinya.


Erlangga langsung mengambil obat dari nakas, lalu memberikannya kepada Grael, tetapi dia melihat bahwa sang istri sudah menutup tubuhnya dengan selimut hingga ke kepala.


Erlangga tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil ketika ingin minum obat dengan berbagai macam alasan. Dia pun membuka selimut sang istri lalu melihat mata Grael sudah terpejam.


"Minum obatnya dulu!" tegur Erlangga. Namun, tidak ada jawaban dari Grael.


"Halo, Dokter Nadin, saya minta ganti obatnya dengan obat yang disuntik aj—"


"Aaah ... mana obat nya sini!" Grael langsung bangun dari tidurnya dengan tampang yang menahan nangis.


Erlangga pun tertawa melihat ekspresi wajah Grael yang menangis saat dipaksa untuk meminum obat, ada segurat senyuman saat dia baru mengetahui bahwa Grael tidak suka minum obat.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2