Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
62. Grael vs Angelina


__ADS_3

Setelah kejadian perang dingin lalu berakhir menjadi perang panas di atas ranjang, membuat keduanya semakin terbuka satu sama lain. Di mana Grael mulai kembali mendambakan idolanya itu dengan memuji setiap adegan yang diperankan oleh suaminya, sedangkan Erlangga semakin mencintainya ketika dia tahu bahwa sang istri sudah mulai menyukainya.


Sangat terlihat jelas di raut wajah Erlangga ketika dia baru saja keluar dari dalam kamarnya, raut wajahnya tambak berseri serta aura yang begitu terang, seakan habis menang lotre yang tidak ada habis-habisnya.


"Yo ... artis Lo, kenapa?" tanya asisten sutradara Lee kepada Rio, dia begitu heran melihat sikap dingin Erlangga mulai mencair.


"Auu, dah ... gue puyeng!" ucap Rio yang tidak mau ikut campur dalam rumah tangga Erlangga.


Suasana di lokasi syuting begitu sibuk ketika pembuatan syuting film di kota tersebut adalah hari terakhir mereka di kota itu. Sutradara Lee pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk lebih dekat dengan adik Erlangga, dia pun menyuruh Grael untuk duduk di sebelahnya melihat proses pembuatan film Erlangga.


Adegan demi adegan pun Erlangga lakukan dengan baik, hingga di mana pada scene terakhir Erlangga berhasil memusnahkan para musuhnya bersama Angelina yang menjadi lawan jenis mainnya.


"Cut! Ok ... bagus!" teriak Lee dari kejauhan.


Semua para kru bersorak senang ketika adegan terakhir begitu sempurna, begitu juga dengan Angelina yang akhirnya bisa melakukan adegan panas dengan Erlangga walaupun hanya ciuman dan selebihnya hanyalah rekayasa.


"Bravo!" ucap Sutradara Lee.


Mereka pun melak?ukan sesi foto bersama sebagai kenang-kenangan, para kru dalam pembuatan film tersebut juga tidak mau kalah eksis ketika ingin masuk ke dalam rekaman dokumenter bersama Grael yang menjadi primadona selama dua hari.


...----------------...


Acara makan malam bersama kru dan para pemain film begitu meriah dan penuh keceriaan, masing-masing para kru dan pemain saling bertukar canda dan tawa. Namun, berbeda dengan Erlangga yang sibuk menjadi wasit antara sang istri dan juga Angelina.


"Er ... cobain, aaaa!" Angelina memberikan satu potong udang gala dengan saus asam manis yang menjadi favorite Erlangga.


"Nggak, udah makan aja!" Erlangga berusaha menolak secara halus. Namun, Angelina tetap berupaya untuk bisa mengambil kembali hati Erlangga yang sudah mulai memudar.

__ADS_1


"Kak Erlangga tuh ... nggak suka makanan seafood! Ya, kan, Kak? Tapi, sukanya sayuran, aaaa!" Grael menyodorkan satu sendok sayuran brokoli seraya menatap mata Erlangga dengan tajam.


Erlangga hanya tertawa canggung, ketika sang istri memberikannya sayuran yang paling dia tidak suka, mau tidak mau Erlangga melahap sayuran brokoli itu di depan Angelina. dia melihat tatapan sang istri begitu menakutkan seakan memberi isyarat bahwa dia tidak senang bila dia menerima makanan dari Angelina.


"Sejak kapan Erlangga suka sama brokoli?" tanya Angelina dengan emosi.


"Sejak ada aku, kenapa emangnya?" balas trail yang tidak mau kalah.


"Emang kamu pacarnya? Bukan kan? Cuman sepupu kok, posesif banget!" Angelina memandang sinis ke arah Grael.


Ucapan Angelina membuat Grael marah, dia tidak terima dengan ucapan wanita itu. Grael pun ingin berdiri dari duduknya, begitu juga dengan Angelina. Akan tetapi, Erlangga sudah menahan kedua lengan wanita yang berada di samping kiri dan kanannya agar tidak terjadi keributan.


Lee yang melihat keberanian pada diri Grael semakin menarik hatinya agar segera bisa dia miliki, niat hati ingin menjebak Grael, tetapi dia sadar siapa lawannya yang harus dia taklukkan terlebih dahulu. Lee pun lebih memilih untuk meminta pada Erlangga dengan cara yang benar.


Acara sesi makan pun telah usai, Grael meminta izin untuk pergi ke toilet. Tidak lama kemudian, Lee bangun dari duduknya, ketika semua tidak sadar akan kepergiannya termasuk Erlangga. Dia sibuk membalas pesan dari sang ayah yang menanyakan soal keadaan Grael.


Grael tidak tahu, bahwa dibalik pintu ternyata Lee sudah mendengar sederet kata makian untuk Angelina, dia hanya tertawa mendengar Grael begitu emosi terhadap Angelina, mungkin karena hanya Erlangga yang dapat dia percaya, sehingga wanita itu begitu posesif terhadap kakak nya.


"Astaga! Lee? ka–kamu, ngnapain berdiri di sini?" Grael terkejut saat melihat sutradara yang memiliki wajah blesteran itu berada di depan toilet wanita, ketika Grael baru saja keluar.


"Ah, hai ... tidak, aku tidak bermaksud niatan jelek kok! Tadi hanya kebetulan saja aku lewat, dan mendengar kata—"


"Haa ... serius, kamu mendengarnya?" tanya Grael yang sedikit ketakutan.


"Nggak terlalu banyak si ... cuma, bisa kok untuk penutup mulutnya, asal ... kamu mau temani aku jalan-jalan sebentar," ledek Lee dengan nada bercanda.


Grael mengerutkan keningnya, untuk mencerna kata dari Lee. Belum juga Grael menolaknya tapi Lee sudah menariknya terlebih dahulu ke sebuah taman samping Vila.

__ADS_1


Tempat yang begitu indah dan romantis, membuat suasana semakin mendukung Lee memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan cinta pada Grael.


"Lee, kita mau ngapain ya, ke sini?" Grael memeluk dirinya sendiri karena udara yang berhembus di malam hari begitu dingin.


Lee pun membuka jaketnya lalu memakaikannya kepada Grael, dan ingin menggengam tangan wanita itu. Akan tetapi, tangannya ditepis oleh Grael dengan cepat.


"Lee, aku nggak kuat dingin! Aku balik, ya?" Grael membalikkan badannya, tetapi Lee langsung menghalanginya.


"El ... tunggu, ada yang mau aku sampaikan ke kamu!" ucap Lee dengan nada yang serius.


"Apa? Buruan!" Grael mulai paham apa yang ingin sutradara itu sampaikan.


"El, aku—"


"El!" teriak Erlangga dari arah belakang Lee.


Perlahan Erlangga mendekati ke arah sang istri lalu merangkulnya, sembari menatap dingin ke arah sutradara itu. Erlangga hanya terdiam ketika Lee menyapanya dan menjelaskan, bahwa dia dan Grael hanya sekedar mencari udara segar.


"KIta pulang malam ini! Mohon maaf Sutradara Richard Lee Wicaksono, saya pamit terlebih dahulu, terima kasih atas kerja samanya! Saya harap kedepannya kita masih bisa untuk bekerjasama dan bukan saingan!" Erlangga melirik ke arah sang istri kemudian melihat ke arah Lee.


"Oh, iya! Sama-sama, Tuan Erlangga Louis. Semoga film ini bisa melejit seusai target pasaran yang diinginkan," ucap Lee yang masih tidak sadar dengan ucapan Erlangga.


Erlangga langsung pergi dari sana setelah Lee selesai bicara, langkahnya semakin cepat ketika dia ingin cepat-cepat membawa sang istri menghilang dari pandangan Lee. Ketika jarak mereka sudah menjauh dari arah pandang Lee, sorot mata Erlangga langsung berubah ketika matanya masih menangkap jaket yang masih melekat di tubuh sang istri.


Buru-buruv Erlangga melepaskan lalu membuangnya. " Sepertinya hukuman kemarin masih kurang untukmu, kelinci liar!" Erlangga langsung menggendong Grael seperti karung beras yang berada dipanggul tidak lupa juga dia menepuk bokong Grael dengan keras.


"Aakk ... ampun, Om! Maafkan, aku ... lain kali aku akan memakai topeng, agar Meraka tidak mengenaliku," ucap Grael

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2