Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
95. Apakah Emira suka dengan Rangga?


__ADS_3

Sementara saat Rangga tengah berjalan berdua melalui koridor sekolahan menuju kelas mereka masing-masing, dia ingin sekali menyentuh tangan itu ketika Rangga berjalan disamping Emira.


Jari kelingking sudah Rangga coba untuk menyentuh jemari Emira tetapi dengan cepat Emira menjauhkan tanganya lalu memasang tatapan sinis. "Jangan pegang-pegang! Jauhan dikit bisa kali ... nggak usah pegangan, emangnya mau nyebrang!"


Jujur, mendengar ucapan Emira yang begitu pedas, membuat Rangga juga mengeluarkan kata-kata sinisnya. "Eh, nenek grandong! Siap juga yang mau pegangan! Lo, jadi cewek ke PD-an bangat!"


Rangga mengelak ucapan Emira walaupun niatnya ternyata bisa ketebak oleh gadis berambut pirang itu, dia pun tidak habis pikir begitu susah menaklukkan gadis yang satu ini, sudah banyak yang dia coba praktekkan untuk merabut hati Emira. Namun, gadis itu sulit untuk dijinakkan.


"Kalau, Lo mau dapetin Emira, Lo deketin dulu Kakaknya!" ucapan Erlangga langsung terngiang di pikirannya.


Setelah mengingat ucapan Erlangga, Rangga pun tersenyum. Kali ini dia akan mengikuti arahan dari kakaknya itu, Rangga pun kembali memelankan langkahnya dan membiarkan Emira untuk lebih dulu berjalan.


"Loh, kenapa?" Tengok Emira melihat ke arah Rangga yang memelankan jalannya untuk berjalan di arah belakang.

__ADS_1


"Katanya, jangan dekat-dekat ... tapi di tanya juga!" Rangga menarik napasnya dengan pelan karena bingung dengan sikap wanita.


"Ya ... gu–gue cuma ... tanya doang, kenapa? Emang nggak boleh?" Emira berjalan sembari melihat ke arah Rangga dan itu membuat dia ingin menambrak anak murid lainya yang ada di depan.


Segera Rangga langsung menangkap tubuh Emira agar tidak menumbruk orang lain, dan pada saat itu juga Rangga begitu dekat dengan Emira, kedua mata mereka saling pandang memandang membuat irama debaran jantung yang ternyata saling sahut menyahut.


"Astaga, Kak Rangga ... kenapa lo nggak nyerah sih? Gue jadi sulit buat nahan rasa kalau gue sebenernya—"


"Lo, nggak apa-apa kan?" tanya Rangga yang membuyarkan lamunan Emira dari bahasa kalbunya.


Rangga berdacak pinggang, melihat Emira tanpa mengucapkan rasa terima kasih dan langsung pergi begitu saja. Langkahnya langsung masuk ke dalam kelas ketika bel masuk telah berbunyi.


Jam terus bergulir, ketika mata pelajaran jam ke tiga telah usai. Rangga ditugaskan untuk membantu membawakan buku tugas ke ruangan guru, saat itu juga Rangga berpapasan dengan Emira yang ternyata baru keluar dari ruang guru.

__ADS_1


Rangga melihat Emira begitu aneh, seperti menghindar darinya, entah apa yang dirasakan Emira terhadap dia, tetapi selama seharian ini di sekolah ketika bertemu dengan dirinya. Emira langsung menundukkan kepalanya, enggan untuk menyapa walau hanya sekedar senyum ramah kepada kakak kelasnya dan langsung pergi begitu saja.


Sampai jam istirahat telah usai pun Emira masih menghindarinya tanpa sebab. Rangga yang memiliki rasa penasaran cukup tinggi, akhirnya menghadang Emira saat ingin masuk ke kelas lalu menarik tangan gadis itu agar mau ikut dengannya.


"Kak, lepasin ih ... mau ke mana?" Emira berusaha mencoba mengimbangi langkah Rangga dengan cepat.


Setiap Emira bertanya selama langkahnya terus berjalan, Rangga tidak menjawabnya. Dia terus menarik tangan Emira hingga ke suatu tempat di mana ruangan itu khusus untuk seni musik.


Suara pintu ditutup begitu nyaring mengisi ruangan hampa yang begitu sunyi, Rangga mengunci pintu ruangan itu begitu saja lalu melempar pelan tubuh Emira hingga berada di dinding samping pintu.


"Kenapa? Apa gue buat salah sama, Lo?" tanya Rangga yang sudah tidak tahan dengan sikap Emira yang selalu menghindar darinya.


Emira pun menatap mata Rangga dan menangkap bahwa laki-laki yang ada di depannya menahan emosi karena dia. Tidak dapat dipungkiri, mungkin Emira sudah jatuh cinta dengan Rangga yang selama enam bulan ini terus menguntit dan mengganggunya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2