
Alexander mencoba ingin menjawabnya tapi dengan cepat Erlangga mengangkat mikrofon dan menjawab langsung pertanyaan yang dilontarkan oleh reporter tersebut.
"Kita tidak menunda momongan, dan untuk adik saya ... saya rasa mereka yang akan menunda momongan mengingat calon istrinya masih sekolah! Cukup sekian dari saya, terima kasih!" Jawab Erlangga dengan tingkat padat dan jelas.
Mereka semua berdiri untuk meninggalkan aula tersebut ketika suara riuh pun masih terdengar di telinga mereka akan lontaran pertanyaan-pertanyaan yang kian banyak, langkahnya memasuki ruangan untuk melakukan sesi foto sebagai dokumenter tentang grup jaya.
Di balik meriahnya acara televisi tersebut yang seluruh siaran menayangkan tentang jumpa pers yang dilakukan grup jaya, ada sorot mata yang membenci menantu keluarga Louis. Dia adalah Veby—sahabat Grael yang kini menyaksikan siaran langsung tersebut.
Tidak hanya Veby, tapi juga terdapat Angelina, Sherly dan juga Lee jangan begitu marah pada pasangan suami istri tersebut, mereka masing-masing memecahkan sesuatu yang ada di hadapan mereka ketika dengan bangganya Erlangga memperkenalkan sang istri di depan awak media.
"El, Lo tahu? Gara-gara Lo! Gua harus merasakan sakit berulang kali saat berada di ruang operasi! Hanya demi membalaskan dendam gua ke lo! Tetapi tenang aja kali ini gua tidak akan menyakiti lo, tunggu surprise dari gua!" Ucap Veby ketika dia berada di ruang tv.
"Loh, kamu belum tidur?" tanya Joe pada sang anak tirinya.
"Belum, Yah!" Veby tersenyum ke arah ayah tirinya dan melihat bila ibunya bahwa sebuah susu untuknya.
"Kamu harus segera cepat tidur, Sayang! Biar besok pagi kita langsung terbang ke tanah air! Katanya kamu sudah tidak sabar untuk bertemu adikmu, Emira!" Sang ibu mendekat ke arah anaknya lalu mengecup keningnya.
"Iya, mam! Makasih," ucap Veby yang senyum ke arah sang ibu.
***
"Dasar pelacur kecil bilangnya adiknya tahu-tahunya istrinya!" kesal Angelina yang melempar gelas anggur ke televisi layar dengan lebar 98, ins.
__ADS_1
"Whats strong, Honney?" tanya pria bule yang mendekat ke arah Angelina seraya mengecup bibir seksi tersebut.
"Tidak ada! Aku merindukanmu, Jack!" Angelina membalas kecupan itu dengan kecupan panas, hingga membuat mereka bergulat panas di sofa tersebut.
***
"Erlangga Louis ... dasar munafik! Ternyata wanita itu adalah istrinya? Ck! Belum hamil? Lo laki? Kalau Lo nggak bisa buat dia hamil, biar gua yang bantu agar istri Lo cepat hamil!" umpat Lee yang kini tengah berada di hotel untuk syuting pembuatan film layar lebar yang dibintangi oleh Diego saingan pemain film Erlangga.
Sementara Sherly dengan tersenyum liciknya mematikan saluran televisi tersebut lalu berjalan ke arah bathub seraya membuka baju yang dikenakan lantas masuk ke dalam air yang penuh dengan bunga.
"Sayang! Sebentar lagi kamu akan bertemu Daddy!" ucap Sherly yang mengusap perut dengan usia kandungan memasuki enam bulan.
***
"RI, aku bisa jelasin sama kamu! Please dengerin dulu penjelasan aku!" Cherry yang masih tertutup di balut selimut membuat Rio muak akan penampilan wanita itu.
"Percaya apa lagi, ha! Percaya kalau kamu diberi obat sama dia? Atau di paksa sama dia?" Rio menyingkirkan tangan Cherry yang memegang tangannya seraya berucap, "Oh, aku lupa ... atau percaya bila kamu bukan cuma sama dia saja yang menjadi partner ranjang kamu?"
Rio menepis dengan kasar hingga wanita itu terjerembab ke bawah, dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel tersebut, kemudian masuk ke dalam pintu lift untuk turun ke bawah. Baru saja Rio menekan tombol pada dinding lift tetapi tiba-tiba ada tangan seorang wanita yang menghalangi pintu lift tersebut untuk tutup.
Wanita itu dengan rambut panjang berwarna hitam, memakai baju kemeja putih dan rok hitam serta membawa map yang diduga itu adalah map lamaran pekerjaan. Rio hanya meliriknya sekilas dia tidak peduli dengan wanita yang ada di sampingnya, iya terus menahan rasa emosinya ketika kembali mengingat bila dirinya baru saja menangkap basah tunangannya.
"Om, mau tanya dong! Kalau ruangan HRD hotel di lantai nomor berapa sih?" tanya wanita itu yang mengibaskan tangannya ke arah leher seraya kegerahan akibat berlari mengejar pintu lift.
__ADS_1
"Anjriet, Om! Dia kira, gua setua apa?" batin Rio yang kesal dengan sebutan wanita itu.
"Hallo? Om, om dengar saya kan? Saya sudah mencari di setiap lantai tapi tepat saja tidak menemukan ruang HRD.
"Wah, gila nih orang! Udah manggil gua, Om. Terus maksudnya apa? Ngatain gua budek? Bagian ini cewek, aduh! Otaknya konslet apa ya? Ruangan HRD hotel pasti di bawah lah! Mana ada di tengah-tengah kamar hotel?" umpat Rio dalam hati.
Rio pun melangkahkan kakinya keluar tanpa menjawab pertanyaan dari wanita itu saat pintu lift sudah terbuka, dia meninggalkan wanita itu yang ternyata kesal akibat ulahnya yang tidak menjawab pertanyaannya.
"Iisshh, sombong banget! Ditanya dari tadi baik-baik malah diem aja bisu apa? Awas Lo, gua sumpain ceweknya selingkuh! Biar Lo tahu rasa!" Ucap wanita itu yang masih terdengar oleh Rio ketika jarak di antara mereka tidak terlalu dekat.
Dengan perasaan kesal, Rio langsung membalikkan tubuhnya kembali mendekat ke arah wanita yang sudah menyumpahinya itu. "Maksud lo apa ngatain gua? Suka-suka gua lah! Mau gue ngomong kek, mau gue jawab kek, mau nggak kek! Seenak jidat lu aja ngatain gua! Terus barusan apa tadi lu nyumpahin gua? Cewek gue selingkuh? Iya? Telat Lo nyumpahinnya!"
Wanita itu ketakutan saat dirinya terus dipepet oleh Rio sembari marah-marah memakinya di depan muka umum, dia menutup wajahnya dengan map lamaran tersebut untuk menutupi rasa malunya.
"Diem lu di gini!" Rio membentak dengan keras tepat di wajah itu, lalu berkata, "Gua rasa, lu belum naruh surat lamaran aja udah di tolak duluan sama HRD hotel ini! Nyari HRD aja sampai ke tengah-tengah kamar, Lo mau ngelamar jadi apaan? Sampai nyari di setiap kamar hotel!"
"Suka-suka aku, kaki-kaki aku, apa urusannya sama kamu? Kasian di selingkuhin sama ceweknya! Mangkanya jadi cowok tuh jangan sombong! Emang enak!" wanita berambut panjang itu tidak kalah sinisnya melempar ucapan ke arah Rio.
"Serah loh!" Iya lebih memilih untuk meninggalkan perempuan itu yang masih terus memakainya dari arah belakang. Tidak menggubris sama sekali, bahkan teriakan wanita itu pun masih bisa terdengar di jarak 100 meter dari posisinya.
To be continued...
wah, kira-kira ... siapa ya, wanita itu? Ada yang kenal? 😂 Ayo siapa yang bisa tebak?
__ADS_1