Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
88. Warna Merah untuk Erlangga


__ADS_3

“Hukuman? Seharusnya gua yang kasih pelajaran buat Lo, karena Lo udah ngerebut dia dari gue!” Rangga bangun lalu berlari mengejar sang kakak sebelum keluar dari kamarnya.


Rangga menendang punggung Erlangga hingga sang kakak terjatuh ke lantai, saat itu juga Rangga menginjak punggung Erlangga dengan kencang, saat sang kakak ingin membalikkan tubuhnya.


“Gue ngerebut? Lo yang selalu ngerebut apa pun yang gua punya termasuk istri gue!” Erlangga membalikkan tubuhnya hingga Rangga terjatuh.


“Sekali lagi Lo sentuh istri gue, gue pastiin Lo mati di tangan gue!” timpal Erlangga yang mengancam Rangga dengan menepuk kencang pipi adiknya. Lantas bangun segara pergi keluar dari kamar Rangga.


“Cih, istri Lo? Istri Lo yang cium gue duluan, njiing! Dia masih cinta ama gua! Aaakkh ... Bang sat!” umpat Rangga dengan kesal saat Erlangga sudah keluar dari kamarnya dan tidak mendengar ucapannya.


Rangga pun melihat wajahnya pada kaca besar yang ada di dalam kamarnya, terdapat luka di sudut bibirnya dan pelipisnya, dia pun mengumpat kata makian untuk Erlangga. “Bang ke!”


Sementara itu, usai puas memberi pelajaran terhadap Rangga tanpa diketahui oleh Josua dan Kylie, Erlangga mencuci wajahnya terlebih dahulu di wastafel dapur, agar sang istri tidak curiga dengannya.


Erlangga mengusap wajahnya dengan kasar, lalu membuka kulkas untuk mengambil minuman kaleng. Pada saat Erlangga membuka minuman kaleng untuk dia minum, tiba-tiba sebuah tangan meraba dada bidangnya dengan lembut seraya menggoda dirinya.


Jelas saja Erlangga berpikir kalau itu adalah istrinya yang terbangun karena tidak ada dia di sampingnya, Erlangga pun mengeratkan pelukan tangan itu sembari menenggak habis minuman kaleng yang ada di tangannya.


“Why?” tanya Erlangga yang ingin membalikkan tubuh dan melihat Grael, tetapi matanya langsung di tutup oleh tangan itu.


Satu kecupan mendarat di bibir Erlangga, sontak saja Erlangga langsung tahu bahwa itu bukanlah Grael, dia membuka paksa tangan yang menutup matanya dan melihat Lydia berpakaian seksi sedang menggodanya.


Terpampang jelas kedua aset milik Lydia dari balik kain tipis yang memang lebih besar dari Grael, tapi itu tetap saja tidak membuat Erlangga tergoda dengan maid itu.


“Mau apa kamu?” Erlangga mencengkeram kuat tangan Lydia hingga maid itu kesakitan.


“Aku tahu kamu selalu tidak puas mendapat pelayanan dari istri yang bau kencur itu, segala yang dia punya terlalu kecil untuk kamu mainkan, maka dari itu ... aku akan membuatmu puas di atas ranjang!”  Lydia tersenyum nakal pada Erlangga meski pria itu telah mencengkeram tanganya dengan kuat.


“Apa kamu tidak tahu malu?” Erlangga menatap sinis ke arah Lydia.


“Jangan seperti itu, pegang saja dulu!” Lydia mendekatkan asetnya ke dada bidang Erlangga. Namun, justru Erlangga mendorong tubuh Lydia dengan kencang hingga maid itu tersungkur ke lantai.

__ADS_1


“Apa kamu belum kapok? Hah!” Erlangga meremas kencang rambut Lydia sampai maid itu kesakitan.


“Er, sakit, Er!” keluh Lydia yang meringis kesakitan.


“Sakit? Dengar ya, kalau kamu masih bertingkah seperti pelacur di depan saya! Saya tidak akan segan-segan menyeret kamu keluar dari sini!” ancam Erlangga yang menghempaskan Lydia begitu saja, lalu segera pergi dari sana.


Begitu sampai di depan kamarnya, Erlangga membuka pintu lalu menutupnya kembali, tetapi dia terkejut ketika melihat sang istri memakan buah apel dari pisau yang dipegang.


“Ya Tuhan, Yank! Aku pikir siapa, ke–kenapa kamu makan apel malem-malem?” tanya Erlangga ketika dia gugup melihat sang istri begitu sinis menatapnya seraya memotong buah apel.


Grael tidak menanggapi ucapan Erlangga, dia masih menatap sinis ke arah sang suami sembari menancapkan pisau di atas nakas, suara gebrakan pisau yang menancap di meja pun membuat Erlangga terkejut seraya memegang dadanya.


“MERAH!” ujar Grael dengan dingin, dia  mengambil satu bantal dan selimut lalu dilemparkan ke atas sofa.


“Yank, kenapa bantal sama selimutnya? Kamu mau gangganti? Oke, aku akan bilang ke Carly untuk membawa bantal dan se—“


Grael langsung menyuruh Erlangga untuk menutup mulutnya dengan menjulurkan jari telunjuk ke bibir sang suami, kemudian berkata, “Tidur, di sini! Ok?”


“Yank, Honey ... kenapa aku tidur di sofa? Apa salah aku?” Erlangga maju satu langkah tapi Grael langsung membalikkan tubuhnya.


“Pikir sendiri!” ketus Grael, yang mendorong tubuh Erlangga agar tidak terlalu dekat dengannya.


Erlangga tahu bila sang istri marah karena melihat dia dan Lydia saat berada di dapur, dia pun langsung menarik tangan sang istri sebelum naik ke atas tempat tidur.


“Yank, demi Tuhan, aku nggak tergoda sama dia! Aku sama sekali nggak ngapa-ngapain sama dia di dapur!” ujar Erlangga yang menjelaskan.


“Nggak, bodo amat! Lepas!” Grael melepaskan tangannya dari tangan sang suami kemudian dia tinggal tidur.


Terpaksa malam ini Erlangga tidur di atas sofa karena setiap kali dia naik ke atas kasur, Grael selalu menendangnya untuk turun.


 

__ADS_1


***


 


Pagi hari, Kylie sudah berteriak histeris di dalam kamar, Josua yang baru keluar dari kamar mandi langsung panik mendengar teriakan dari sang istri.


“Ada apa, Mih?” tanya Josua yang menghampiri sang istri.


“Papi, di rumah kita ada maling!” Kylie menangis melihat salah satu perhiasannya hilang.


“Maling bagaimana maksud, Mami?” tanya Josua sekali lagi ketika dia masih belum mengerti ucapan sang istri.


Derai air mata yang keluar dari sang istri membuat hati Josua sakit, Josua pun mencoba mengumpulkan semua maid dari berbagai jenis bagian untuk menggeledah satu persatu kamar maid setelah mendengar ucapan Kylie ketika kalung kesayangannya hilang.


Carly sudah menggeledah seluruh kamar maid termasuk kamarnya dan juga kamar sang adik—Lydia, ternyata hasilnya nihil. Kylie masih tidak percaya bila tidak ada satu pun di antara maid yang mengambil kalungnya.


Pada saat itu juga, Rangga keluar dari kamar dan melihat keributan yang terjadi diruang tengah. Dia pun menuruni anak tangga dan berhenti di tangga terakhir sembari bertanya, “Ada apa, Pih? Kok, pada ngumpul?”


Belum mendapat jawaban dari orang tuanya, Rangga mendongakkan kepalanya kebelakang melihat Grael dan Erlangga menuruni anak tangga. Semua orang menatap ke arah Grael dengan tatapan curiga kecuali Josua dan Rangga.


Jelas saja Grael menjadi bingung ketika semua mata tertuju melihatnya dengan tatapan curiga, Grael pun memberanikan diri untuk menyapa ayah mertuanya. “Pagi, Pih!”


“Pagi, Sayang!” sahut Josua yang tersenyum ke arah menantu Kesayangannya.


“Ada apa, Pih?” tanya Grael yang heran.


“Geledah!” pinta Kylie kepada para maid untuk menggeledah kamar Erlangga dan Grael.


To be continued...


 

__ADS_1


__ADS_2