
...Warning!!...
...Dalam bab ini mengandung adegan yang tidak pantas untuk ditiru!! Ini hanyalah cerita fiksi belaka, dan halu semata harap bijaklah membaca, ambil sisi positif dan buang sisi negatif!...
...°Happy Reading°...
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas aku sudah tidak mencintainya! Aku melakukannya karena terpaksa! Sekarang kalau kamu mau menceraikan aku silahkan! Pergilah dengan kekasihmu itu, tidak usah pedulikan aku!" Grael menangis mengeluarkan segala keluh kesahnya.
"Kekasih?" Erlangga menyunggingkan senyuman mendengar ucapan dari istrinya, dia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat lalu mengelus pipi Grael dengan lembut seraya berkata, "Sia—"
"Jangan sentuh! Bukannya kamu jijik dengan aku? Kamu kasih kesempatan kan untuk pernikahan kita? Ok, aku akan mengabulkan keinginan kamu, pergilah!" Grael mengusap air matanya lalu masuk ke dalam selimut.
Begitu pun juga Erlangga, dia mulai masuk ke dalam selimut yang sama dengan sang istri seraya memeluknya dari belakang dengan erat. Tak lupa dia mengecup bahu putih Grael setelah jemarinya menurunkan sedikit baju tidur yang dikenakan oleh sang istri.
"Aku ingin memiliki anak darimu!" ucap Erlangga yang secara langsung tanpa basa-basi dan itu membuat Grael terdiam dengan ucapan sang suami.
Perlahan tangan Erlangga masuk ke dalam baju sang istri. Akan tetapi tangannya di cegah oleh Grael, walaupun begitu dia tetap saja terus memaksa agar tanganya masuk ke dalam baju lalu meremas dada Grael sembari mengecup ceruk leher sang istri.
Grael pun pasrah, tubuhnya begitu lemas untuk melawan dan menolak sentuhan dari Erlangga. Dia membiarkan sang suami memainkan benda kenyal itu sesuka hatinya.
"Maaf, aku masih belum bisa menyetujui itu!" Grael mencoba menghempaskan tangan Erlangga tetapi sang empu terus memerlukan lebih erat.
"Aku tidak peduli, kamu setuju atau tidak! Kamu masih cinta dia atau tidak, yang jelas—"
"Aku sudah bilang sama kamu! Aku sudah tidak cinta dengan dia! Yang aku cinta itu ... sudahlah! Kamu menginginkan anak dariku bukan?" Grael mengubah posisinya seraya menangis lalu dia membuka bajunya.
__ADS_1
Setelah itu, Grael membuka gesper resleting cellana Erlangga. Namun, tangannya dicegah oleh sang suami. Pipinya pun merasakan tangan Erlangga yang sedang mengusap air matanya.
"Kita makan dulu, biar ada tenaga untuk melakukannya! Aku akan memasak untuk kamu!" Erlangga bangun dari tempat duduknya lalu memakaikan baju kembali pada tubuh sang istri lantas menggendong istrinya.
"Apa kamu yakin tidak mau menemaniku di dapur?" tanya Erlangga ketika sang istri menolaknya untuk tetap berada di kamar, tetapi Grael terdiam.
"Oke, kalau tidak mau ikut! Aku tidak menjamin kalau Lyd—"
Belum sempat Erlangga menyebut nama adiknya Carly, Grael sudah berdiri dan merangkul leher Erlangga, sontak tingkahnya Grael membuat dia tersenyum lalu menggendongnya sampai ke dapur.
"Tunggu sebentar!" Erlangga mengusap rambut Grael lalu mengeluarkan obat dari sakunya kemudian mengoleskan obat oles pada pipi sang istri sebelum dia memulai untuk memasak.
"Apakah sakit?" tanya Erlangga yang kini jarak matanya begitu dekat dengan mata sang istri.
"Sakit ... sakit banget!" Grael pun mengeluarkan air matanya seraya mengucapkan dengan lirih.
Setengah jam mereka berada di dapur, sungguh lihai Erlangga memasak menu vegetarian lalu menyuapi sang istri dengan kesabaran. Begitu selesai, Erlangga pun menggerus obat lalu dia minum, kemudian dia berikan kepada sang istri.
Tegukan demi tegukan Grael minum dari dalam mulut sang suami, sepertinya dia mulai suka dengan cara minum obat seperti ini. Usai semua cairan obat habis dari dalam mulut Erlangga, kini mereka saling mellumat satu sama lain untuk menghilangkan rasa pahit yang ada di dalam mulut mereka.
"Cih!" Rangga berdecak kesal saat melihat Erlangga begitu menikmati bibir yang selama ini menjadi candunya, Rangga pun melangkah pergi dari sana mengambil kunci mobil lalu menjalankan mobilnya menuju tempat yang membuatnya bisa segera melupakan Grael.
Belum sampai Rangga pada tempat tujuannya dia justru bertemu dengan Emira yang berboncengan dengan seorang pria yang dikira Rangga adalah kekasih Emira.
Rangga tidak memperdulikan ketika dia tahu bahwa Emira sudah punya kekasih atau tidak, yang dia kesali adalah ketika semua pasangan terlihat bahagia dengan pasangannya tetapi hatinya justru sakit kehilangan pasangan yang direbut oleh kakaknya sendiri.
__ADS_1
"Aaakkk ... brengsek!" maki Rangga yang kesal ketika merasa hidupnya tidak begitu adil, dia memukul setir dan menekan tombol klason mobil dengan kencang sehingga semua orang yang naik kendaraan pada melihat ke arah mobil Rangga.
Suasana di dalam club malam begitu ramai ketika langkah kaki Rangga masuk ke dalam dan mulai memesan minuman yang dia pinta. Alunan musik begitu nyaring di telinga Rangga, dia mulai menelisik setiap sudut ruangan yang diterangi oleh gemerlap cahaya.
"Hai, sendirian aja? Mau di temani?" tanya wanita cantik yang diperkirakan usianya lebih tua dari Rangga.
"Boleh," ucap Rangga yang masih memasang wajah datar.
Wanita cantik itu menuang minuman ke dalam gelas Rangga ketika salah satu pelayan club malam sudah mengantarnya ke meja Rangga.
Rangga pun meminum dalam satu teguk dan berhasil membuat wanita cantik itu semakin suka dengan mangsa brondongnya, tangannya mulai meraba bagian paha Rangga hingga ke hampir ke area pangkal Rangga. Namun, Rangga menahannya sembari menatap sinis ke arah wanita itu.
"Apa kamu tidak menginginkannya?" tanya wanita itu.
Rangga tidak menjawab, justru dia menghempaskan tangan itu dari pahanya. Matanya kembali menelusuri setiap orang yang yang berjoget di lantai dansa sampai akhirnya dia menatap Emira yang sedang melikak likukan tubuh dengan lihai bersama kekasihnya.
Rangga tertawa sejenak ketika mengingat cara Emira terjatuh, sungguh lucu membuat dia terus tertawa sampai tidak bisa tidur ketika wajah gadis berambut pirang itu selalu terbayang di pikirannya.
"Apa dia kekasihmu?" tanya wanita yang ada di sampingnya.
"Hhm?" Rangga tersadar dari bayangan Emira ketika wanita itu bertanya padanya, dia pun menjawab, "Bukan, tapi sebentar lagi!"
Rangga pun menegak habis minuman yang kembali dituang oleh wanita itu, kemudian berjalan ke lantai dansa dan berpura-pura mengikuti alunan musik disko yang sedang diputar.
Emira sungguh cantik dan menggoda malam ini di mata Rangga, entah itu karena pengaruh alkohol yang dia minum atau memang gadis itu selalu terlihat cantik dan menarik. Tubuh mereka begitu dekat saat berjoget mengikuti lagu yang sedang di mainkan oleh DJ Rere.
__ADS_1
Sorot mata Rangga tidak berhenti untuk menatap wajah cantik Emira dengan senyuman yang menggoda, perlahan Rangga mulai mendekat ke arah Emira tapi sayang pria yang ada di belakangnya mengukung Emira begitu erat seakan tidak ada cela untuk orang lain mendekatinya termasuk Rangga.
To be continued...