
Pukul 02 : 25 am. Erlangga bergegas bersiap-siap untuk pergi ke kota X, dia keluar dari dalam kamar dan melihat Karina sedang menyiapkan air panas untuk dia mandi.
"Ya ampun, Bu ... gak usah repot-repot," ucap Erlangga yang tidak tidak enak dengan kebaikan Ibu Karina.
Karina yang sudah mengetahui bahwa Erlangga akan berangkat ke kotak x pukul tiga pagi untuk melakukan syuting, sudah menyiapkan segala keperluan mulai dari menyiapkan air panas, sarapan hingga baju semalam sudah kering dicuci dan digosok oleh Karina.
Erlangga yang melihat ketulusan dari hati seorang ibu, air matanya menetes, seperti waktu almarhumah ibunya begitu perduli menyiapkan segala keperluannya waktu sekolah.
Usai selesai mandi dan memakai baju yang sudah rapih disiapkan oleh Karina, dia melihat Karina membangunkan Grael yang masih tertidur pulas.
"Gak usah dibangunin, Bu. Gak apa-apa, kasian masih malam juga," pinta Erlangga yang melarang Karina membangunkan Grael.
Erlangga langsung duduk manis di depan televisi sembari menikmati nasi goreng buatan Karina, yang di temani Karina untuk menyantap Nasi goreng buatan Karina sampai habis tidak tersisa.
Rindu suasana saat ini tidak pernah dia rasakan lagi semenjak dia memutuskan pergi dari rumah Nadin yang merawatnya sejak ibunya meninggal sampai dia lulus SMK.
"Bu, aku pamit dulu ... terima kasih sudah diperbolehkan untuk menginap. Maaf kalau saya di sini banyak merepotkan ibu," ucap Erlangga.
"Gak apa-apa ... ibu seneng banget malah, nak Erlangga mau berkunjung menengok Grael anak ibu." Karina mengantar Erlangga sampai di depan pintu.
"Boleh Erlangga manggil mamah? Seperti Grael?" tanya Erlangga.
Karina meneteskan air matanya, dia mengangguk, dan mendapat pelukan dari Erlangga. Sungguh baik hati Erlangga, seorang artis yang terkenal mau memanggil dia dengan sebutan Mama.
"Er akan sering kesini, terima kasih sudah mau memberikan Er kasih sayang seorang ibu yang tulus." Erlangga memeluk Karina dengan tubuh yang begitu rapuh di usia semakin senja.
"Ya sudah, hati-hati dijalan." Karina merapihkan baju Erlangga ketika Rio sudah siap di depan mobilnya.
"Salam buat El, ya Mah." Erlangga mencium tangan Karina.
"Ya, nanti disampaikan salammu," ucap Karina.
Mobil Erlangga langsung menjauh dari rumahnya, Grael yang baru keluar dari dalam kamar Gracia langsung mendekat ke arah sang ibu dan menanyakan soal sikap Karina yang begitu perhatian terhadap Erlangga.
Semua Karina lakukan semata-mata karena bentuk balas budi kepada Erlangga yang sudah berbaik hati untuk menjenguk anaknya, dan memberikan semua barang-barang branded serta makanan begitu banyak.
"Erlangga orangnya baik, El ... kamu harus bersyukur memiliki atasan yang begitu baik. Harus bisa menjaga kepercayaannya, karena kepercayaan itu sulit didapat. Buktinya sampai dia mau datang ke rumah kita," ucap sang ibu.
__ADS_1
'Baik? Apanya yang baik? Lagian juga gue baru kerja sehari ... kang kibul mang tuh artis,' batin Grael yang begitu kesal melihat sikap ibunya begitu perduli dengan artis sombong tersebut.
"Udah ahh! Jangan bahas dia, Grael ngantuk mau tidur lagi." Grael langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri dan langsung tidur di atas kasur yang bekas ditiduri oleh Erlangga.
***
Semenjak Grael meminta izin tiga hari, Erlangga memutuskan untuk memperpanjang kontraknya, dia juga sudah menyelidiki latar belakang keluarga Marvin Alvino, seorang pengusaha yang memiliki hotel bintang sepuluh.
"Yo, gimana kabar rumah!" tanya Erlangga yang berada di dalam apartemennya, saat dia juga ingin mengetahui kabar rumah.
Mengetahui maksud pertanyaan dari Erlangga, Rio selaku managernya berterus terang tentang suasana rumah yang kini tengah mempersiapkan acara tunangan Rangga dengan pilihan sang ayah.
'Ck! Berusaha banget sih buat dapetin harta, sampai maksa anak yang masih sekolah untuk menjadi umpan,' batin Erlangga yang memakai kemejanya.
"Terus?" tanya Erlangga kembali.
Rio menjelaskan rincian satu persatu, bahwa Josua Louis mengundang dirinya untuk makan malam bersama dengan keluarga calon tunangan Rangga nanti malam, Josua juga mempersiapkan jabatan untuk Rangga di kota M.
"Beliau juga meminta anda, untuk menandatangani surat persetujuan calon pemegang saham yang baru, di kota M saat makan malam bersama." Rio menjelaskan kepada Erlangga.
"Bangssat!" Erlangga sangat kesal karena sang ayah semakin lama dibiarkan, semakin sesuka hatinya untuk menguasahi seluruh harta almarhumah ibunya.
"Bagaimana kabar Grup Jaya?" Erlangga sudah memikirkan matang-matang, langkah selanjutnya.
"Gue sudah mengumpulkan beberapa bukti orang kepercayaan Josua, yang telah korupsi hampir menelan miliaran hanya satu orang. Total keseluruhan yang sudah terbukti sekitar 10 orang." Rio memberikan laporan kepada Erlangga melalui benda pipinya yang besar.
"Jadi bagaimana menurut kamu?" tanya Erlangga.
Rio menyampaikan bahwa sebaiknya, Erlangga menyelesaikan syuting di kota x, setelah itu baru pergi ke perusahaan Grup Jaya untuk membereskan masalah tikus-tikus koruptor yang merajalela, kemudian baru pulang ke rumah utama.
"Oke! Kalau gitu kita siapkan rencana kita, jangan lupa siapkan kado istimewa untuk adik tersayang!" Erlangga tersenyum smirk di depan kaca.
Erlangga Louis, seorang artis papan atas yang sangat terkenal. Dia anak dari pasangan Josua Louis dan Callista Leona, Josua sangat mencintai Callista ibu dari Erlangga, Callista sangat cantik, anggun dan terkenal keramahannya, begitu juga dengan statusnya Callista lebih tinggi dari Josua.
Biarpun Callista lebih terpandang tapi dia sangat dermawan kepada siapapun bahkan dia selalu memberikan apa yang dibutuhkan suaminya, sungguh sempurna kehidupan Erlangga Louis waktu kecil.
Namun, semua sirna begitu saja, saat malam petaka membuat sang Ibu tewas didepan matanya sendiri ketika Erlangga menginjak usia tujuh tahun. Pak Beni yang melihat Erlangga menangis histeris langsung mendekapnya dalam pelukan dan ikut menangis apa yang dirasakan anak itu.
__ADS_1
Sampai saat itu dunia Erlangga berubah drastis, dia kekurangan kasih sayang seorang ayah, semenjak Kylie masuk dalam rumah megah itu untuk menjadi ibu sambung Erlangga, sampai akhirnya terlahirlah Rangga Louis penerus kedua Group Jaya. Erlangga memilih untuk tinggal bersama Nadin adik kandung ibunya, walaupun kadang Erlangga suka pulang ke kediaman rumah Louis.
Hingga akhirnya, Erlangga memutuskan untuk menjadi artis yang merangkak dari bawa sampai sukses, dia tidak mau mempermasalahkan harta pewaris yang jatuh ke tangan Rangga. Asalkan sang ayah tidak mengusik kehidupannya, tidak melarang apa yang ingin dia cari selama ini, karena dia ingin meraih kesuksesan dari tangannya sendiri.
***
Sore hari, Erlangga sudah sampai di depan rumah utama, dia turun dari mobilnya dan disambut oleh para maid yang menundukkan kepalanya sembari mengucapkan selamat datang Tuan Muda Erlangga.
Erlangga terus melangkahkan kakinya hingga masuk ke dalam rumah megah itu dengan design yang sangat memukau, dia disambut hangat oleh pria paru baya yang bernama Beni, yang ditugaskan untuk berada di rumah utama selagi Grael masih menjadi asisten pribadinya.
"Siapin air hangat, saya mau mandi!" perintah dari Erlangga kepada Pak Beni, pria paru baya itu hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
"Oiiy, Kak! Udah pulang?" tanya Rangga dengan ramah saat dia baru keluar dari ruang studio musik, melihat Erlangga berjalan menuju kamarnya.
"Lo gak liat? Gue udah di sini!" sahut Erlangga dengan ketus.
"Galak amat sih, Oh ya, gue punya kado buat Lo! Bentar ya, gue ambil dulu." Rangga tersenyum ke arah Erlangga sembari menepuk bahu kakaknya.
Erlangga yang tidak perduli seberapa baiknya adik tirinya, dia tetap tidak suka dengan Rangga. Baginya, Rangga bukanlah adiknya, sampai kapanpun dia akan ingat perlakuan Kylie kepada dirinya dan perlakuan sang ayah yang lebih dominan kepada Rangga.
"Kak! Nih, kado buat Lo. Gue kasih duluan sebelum ultah, karena gue tahu, bakalan susah ketemu sama Lo, kalau Lo udah gak di rumah!" Rangga dengan senang langsung masuk ke dalam kamar Erlangga tanpa permisi.
"Lo bisa gak, ketuk pintu dulu!” Erlangga menatap sinis ke arah Rangga yang masih memasang wajah senyumnya.
"Sorry, ya udah ... gue taro di sini ya! Gue yakin Lo pasti suka." Rangga menaruh kado tersebut di atas tempat tidurnya dan langsung keluar dari kamar kakaknya.
Erlangga menatap benci pada kado yang selalu Rangga kasih untuknya, mungkin karena merasa Rangga kesian kepada dia yang tidak mendapatkan kado ulang tahun dari ke dua orang tuanya.
"Tunggu dulu!" teriak Erlangga saat Rangga belum jauh dari kamarnya.
Rangga pun terdiam mendengar ucapan Kakaknya, ada sedikit terharu karena ini pertama kalinya Erlangga menahannya untuk pergi.
"Ini jaket siapa?" tanya Erlangga yang curiga pada jaket Rangga.
"Punya gue, kenapa?" Rangga bingung ketika Erlangga menggerakan tubuhnya untuk melihat jaketnya lebih detail.
Erlangga yang melihat jaket yang dipake oleh sang adik sama persis saat Grael datang ke kamar hotelnya untuk menutupi paha, dan juga dia mengingat saat menginap di rumah Grael, dia sempat memberikan tanda tanganya di bagian dalam kera jaket tersebut sebelum dia pergi dari rumah Grael.
__ADS_1
Erlangga pun menarik kera Rangga dan melihat tanda tangannya di sana, terlihat jelas oleh dia bahwa dia menggunakan spidol khusus permanen yang tidak bisa hilang. Perasaan Erlangga sangat sakit saat pikirannya menebak bahwa Grael dan Rangga memiliki hubungan, dan kemungkinan yang nanti malam datang adalah Grael Arabella.
To be continued...