
Senyum pun terukir di wajah Erlangga, dia menyuruh sang istri untuk memejamkan matanya, lalu mengecup bibir Grael dengan hasrat yang sudah sulit dia kendalikan. Bagaikan lubang hitam di luar angkasa, tubuh Erlangga terhisap sepenuhnya saat bibirnya bersentuhan dengan sang istri.
Erlangga mencoba untuk mengendalikan tubuhnya, tapi tetap saja nalurinya begitu bergejolak di dalam dirinya hingga air dingin yang membasahi tubuhnya tidak mampu memadamkan aura panas yang sudah melekat pada tubuhnya, ketika obat perangsang mulai bekerja dengan sangat efektif.
Begitupun juga dengan Grael, dia bagaikan terbang di atas awan, menari dengan gerakan selihai mungkin dengan tubuh yang meliuk-liuk, mengikuti arahan yang dituntun oleh sang pemandu, begitulah Grael dibuat oleh sang suami. Namun, pada saat dia ingin mencapai pada puncak awan teratas Erlangga menghalanginya.
"Kak!" panggil Grael yang kecewa saat dirinya hampir sampai pada titik tujuan tapi malah dihentikan begitu saja oleh sang suami.
"Memohonlah padaku dengan memanggil namaku, El!" ucap Erlangga.
"Erlangga please ... don't stop,!" ucap Grael yang memohon dengan iba.
"Permintaanmu aku kabulkan, Sayang! Tutup matamu, sebelum aku suruh kau untuk membukanya." Erlangga langsung mengangkat tubuh sang istri untuk berada di dalam gendongannya, dia menciumi bibir sang istri sembari membawa Grael ke tempat tidur.
Erlangga melangkahi tubuh Steven begitu saja dan menaruh istrinya ke atas tempat tidur yang kemudian dia menyuruh Grael membuka matanya saat sudah berada di tempat yang aman.
Erlangga pun memandu Grael kembali untuk melanjutkan petualangan baru ke dunia fantasi yang belum mereka kunjungi. Senyum Erlangga terbit begitu bersinar saat sang istri begitu patuh dan menurut dengan apa yang dilakukan oleh dirinya. Hingga kini, Erlangga mengijinkan sang istri untuk sampai lebih dulu ke atas awan yang lebih tinggi.
"Kak!" Suara Grael yang melegakan hati keluar begitu saja ketika dia menatap mata Erlangga dengan sayu.
"Sekarang giliranku, Honey! Bantu aku, aku sudah tidak bisa menahannya lagi!" Erlangga membalikan posisinya hingga dia berada di bawah Grael, sang istri pun tersenyum dan mulai membantu suaminya ke luar dari rasa zona tidak nyamannya.
Tanpa basa-basi, Grael menarik sang suami sekuat tenaga untuk bisa naik ke atas awan bersamannya, tapi Erlangga yang tidak tahan dan begitu frustasi atas ajakan Grael yang menggiurkan membuat Erlangga untuk mengambil jalan tempuh.
"Aaah, Yank!" Erlangga menggerecepkan matanya saat sang istri terus berusaha untuk membuatnya berada di satu awan yang sama.
__ADS_1
"Astaga, Honey!" Erlangga yang sudah berada di batas limitnya langsung mengambil jalur belakang agar bisa sampai pada awan itu, dia mendorong tubuhnya untuk bisa loncat lebih tinggi. Sampai Grael bisa merasakan dorongan yang begitu dalam seakan terasa sampai ke ulu hatinya.
Ya, kali ini Erlangga sedikit agresif, dia terus berusaha untuk sampai ke tempat awan tersebut, dia tidak perduli bila istrinya terus merancau karena lelah meski memohon untuk segera berhenti tapi dirinya berada di luar kendalinya.
Berbagai gaya telah Erlangga lakukan untuk memberikan sensasi yang berbeda dari biasanya. Suara yang keluar dari bibir keduanya dan suara kulit yang beradu saling bersahutan membuktikan permainan mereka sungguh luar biasa.
Hingga akhirnya Erlangga berhasil sampai pada titik puncak Awan tertinggi. Membuat dia melambung tinggi. Tangannya menggenggam erat tangan sang istri ketika kecebong premium milik Erlangga keluar dengan terburu-buru dan berebutan untuk bisa masuk ke dalam rahim Grael.
Pengalaman pertama mereka begitu berbeda dari biasanya, Erlangga membuka matanya melihat pilu kesah di wajah cantik istrinya akibat ulahnya. Ya, Erlangga menyukai wajah Grael yang kelelahan akibat ulahnya.
Keduanya saling pandang memandang seraya tersenyum, Erlangga mengusap wajah istrinya saat masih menikmati sisa-sisa denyutan pada juniornya.
"Eeehmmm!" Erlangga bersua ketika dia mencabut junior dari dalam sangkar.
"Terima kasih, suamiku!" Grael langsung memeluk tubuh suaminya seraya tersenyum.
"Ya, ini sungguh luar biasa, apa Kak Erlangga juga merasakan apa yang aku rasakan?" ucap Grael malu-malu yang menyembunyikan kepalanya di dada Erlangga.
"Ya, Sayang! Sungguh luar biasa!" ujar Erlangga yang tanpa malu.
"Iihh, Kakak ngomong-nya." Grael mencubit pinggang Erlangga.
"Loh kenapa? Biarin aja, sama istri sendiri nggak apa-apa, yang jelas ... hanya pada kamu seorang!" Erlangga menarik dagu Grael agar wajah sang istri melihat ke arahnya lantas mencium bibir mungil itu.
"Baik lah, asalkan hanya sama aku! Bukan sama Sherly!" pinta Grael dan langsung saja menutup mulutnya karena merasa keceplosan dalam bicara.
__ADS_1
Erlangga mengerutkan keningnya mendengar ucapan Grael, dia pun tahu bila sang istri masih tidak suka dengan sekertaris-nya itu. "Tenang, Sayang! Aku tidak akan tergoda olehnya, hanya kamu, kamu, kamu, dan punyamu yang membuat aku tergila-gila! Sampai aku tidak ada niatan untuk mencicipi yang lain, karena kamu yang sudah mengambil keperjakaan aku!"
"Benarkah?" tanya Grael yang masih kurang puas mendengar ucapan sang suami.
"Ya, tentu saja! Kamu bisa pegang ucapanku!" ujar Erlangga yang menyakinkan perasaan Grael.
"Kalau gitu, aku percaya bila kemarin Kak Erlangga nggak ngapa-ngapain sama Sherly!" sindir Grael yang mengingat Erlangga.
"Emang kapan aku ngapa-ngapain sama dia?" Erlangga berpikir sejenak sebelum dia menyadari sikap Grael yang marah-marah tidak jelas. "Oh, jadi kamu waktu itu marah-marah karena berpikir aku ngapa-ngapain sama dia? Ya Tuhan ... Sayang, segitunya kah kamu memandang rendah suamimu? Percayalah, aku tidak tertarik dengan perempuan di luaran sana termasuk Sherly, hanya kamu, El! Istriku, Grael Arabella!"
Erlangga menatap serius mata Grael seraya mencium bibir mungil istrinya dan berkata, "Lagi, ya?"
Grael langsung terkejut mendengar ucapan Erlangga, dia langsung mencubit pinggang suaminya agar tersadar dari sikap messum dan pedooopilnya.
"Iih ... Kak Erlangga!" Grael langsung mendorong tubuh suaminya agar menjauh, tubuhnya begitu lemas tapi tenaga suaminya masih aja berstamina.
"Ya, bercanda! Besok lagi!" Erlangga tertawa mengerjai istrinya, dia pun menarik tubuh istrinya agar masuk ke dalam pelukannya lagi.
...----------------...
Matahari telah bangun dari tidurnya, kini tugas ia yang menjaga bumi menggantikan bulan. Grael pun merenggangkan tubuhnya ketika dia tersadar dari tidurnya, tangannya meraba-raba sisi sampingnya untuk mencari keberadaan sang suami. Namun, nyatanya nihil.
Grael melihat suaminya sedang berbicara pada Beni dari balik pintu, dia pun melihat ke arah sekelilingnya yang ternyata seperti kapal pecah yang dihantam oleh karang.
Pipi merah merona pun terlihat jelas di wajah Grael, ketika mengingat kegiatan mereka tadi malam menuju satu awan tertinggi bersama-sama, tetapi dia masih belum sadar bila di luar sudah ada beberapa oknum untuk menyelidiki kasus dirinya dan sang suami yang menjadi korban atas tingkah Steven.
__ADS_1
To be continued...