
"Tunggu dulu, maksudnya apa, Pih?" tanya Erlangga dengan nada ketus.
Kylie menatap ke arah Josua meminta keadilan untuk menggeledah seluruh kamar di rumah utama sekaligus di paviliun. Baik itu kamar maid ataupun kamar Erlangga dan juga Rangga.
Perlahan Josua menjelaskan kepada Erlangga bahwa Kylie sedang mencari kalung yang hilang, agar sang anak tidak keberangkatan bila para maid menggeledah kamarnya. Namun, seberapa halus Josua menjelaskan kepada sang anak tetap saja Erlangga sangat tidak suka bila orang lain masuk ke dalam kamarnya dan paviliun milik ya.
Usai mendengarkan sang suami menjelaskan kepada Erlangga, Kylie memerintah kembali sebagian maid untuk menggeledah kamar Erlangga.
"Selangkah lagi kalian maju, kalian sendiri yang menanggung akibatnya!" bentak Erlangga yang menatap sinis ke arah semua maid.
Josua sudah bisa memahaminya, semenjak ibu kandung Erlangga meninggal, dia lebih sensitif ketika orang lain masuk tanpa seijinnya. Helaan napas pelan keluar dari mulut Josua, dia memutuskan untuk Beni dan juga para maid kepercayaan Beni menggeledah kamar Erlangga, sedangkan Carly dan maid-nya menggeledah kamar Rangga.
Semua orang menunggu hasil di ruang tengah ketika para maid masuk ke dalam kamar masing-masing untuk penggeledahan. Selagi mereka menunggu, Kylie memerhatikan wajah Rangga dan Erlangga yang sama-sama terluka.
"Ada apa dengan wajah kamu? Apa kamu dipukuli oleh dia?" Kylie menarik dagu Rangga dan menunjuk ke arah Erlangga.
Rangga sempat melihat ke arah sang kakak dan juga Grael lalu menangkis tangan sang ibu dari wajahnya sembari berkat, "Nggak ada kaitannya sama dia! Dah lah, Mi ... ini masalah cowok!"
"Bohong! Kamu pasti yang telah memukul anak saya, iyakan?" bentak Kylie yang menghampiri Erlangga.
"Mih, udah! Rangga kan bilang sendiri kalau bukan Erlangga yang mukul!" tegur Josua yang duduk di samping Grael, dia tidak mau menambah masalah di pagi hari yang sudah menyita waktunya.
__ADS_1
"Awas kamu, kalau benar kamu yang sudah pukuli anak saya, saya tidak akan segang-segang membuat perhitungan sama kamu!" ancam Kylie yang hanya di balas tatapan menakutkan dari sorot mata Erlangga.
Tidak lama kemudian Carly dan Beni beserta para maid kepercayaan mereka masing-masing menuruni anak tangga dan melapor kepada Josua.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Josua.
Carly pun maju terlebih dahulu dan memberikan keterangan bahwa barang yang dicari tidak ditemukan, tetapi Carly menemukan anting wanita yang hanya sebelah di kamar Rangga, dia pun menyerahkan kepada Josua sebagai barang bukti.
"Rangga?" Josua melirik ke arah anaknya yang ternyata sudah memasang senyum lebar yang menampakkan gigi putihnya.
Tanpa ada rasa berdosa sedikitpun dan memasang senyum sumringah, Rangga pun berkata, "Itu, punya cewek Rangga, Pih!"
Sontak saja mendengar pengakuan dari Rangga, Erlangga langsung melihat ke arah sang istri yang duduk di sampingnya, dan jelas itu membuat Grael membuka suaranya.
"Eh, tunggu sebentar! Emang ... Lo, cewek gue?" Rangga melihat ke arah Grael dengan senyum mengejek ke arah Erlangga.
Sungguh malu Grael saat itu juga, dia mengumpat di lengan sang suami menyembunyikan wajah merahnya yang seperti udang rebus karena menahan malu.
"Bukan gitu, aku cuma mau kasih tahu!" ujar Grael yang mencoba meluruskan kesalahpahaman.
"Eh, sudah, sudah! Nggak penting! Beni, mana hasilnya?" tanya Kylie dengan tegas.
__ADS_1
Sebelum Beni memberi laporan kepada Josua, dia melirik ke arah Erlangga sekilas dan akhirnya menyerahkan kepada Josua setelah Erlangga memejamkan matanya sembari menganggukkan kepala sebagai tanda mengizinkan dia untuk berkata jujur.
"Saya menemukan ini, di dalam lemari baju, Nyonya Grael!" Beni menyerahkan barang bukti sebuah kalung yang dicari oleh Kylie.
Semua terkejut mendengar penuturan dari Beni, begitu stoknya Grael sampai dia membulatkan matanya dan menutup mulutnya, dia tidak percaya bila barang bukti mengarah pada dirinya.
"Dasar menantu tidak tahu diri!" Kylie mendekat ke arah Grael dan hendak menampar menantunya itu, tetapi Erlangga langsung menahan tangan Kylie.
Erlangga menatap Kylie dengan tatapan yang tajam, tangannya mencengkram kuat pergelangan tangan ibu tirinya hingga wanita paru baya itu berteriak meminta lepaskan. Josua pun memegang tangan Erlangga agar sang anak melepaskan cengkeramannya dari tangan Kylie.
"Bu–bukan aku, aku tidak tahu, kenapa barang itu bisa ada di sana! Demi Tuhan, bukan aku yang mengambilnya!" ujar Grael yang berkata jujur.
"Kalau bukan kamu terus siapa lagi? Hah! Kamu pikir kalung itu bisa jalan sendiri?" bentak Kylie yang begitu emosi kepada menantunya dengan intonasi suara yang meninggi.
"Tapi memang bukan aku yang mengambilnya, Mih!" tegas Grael yang terus membela dirinya sendiri.
"Dasar anak miskin, tidak tahu diri! Masih terus mengelak, rasakan ini!" Kylie langsung menjebak rambut Grael dengan kencang.
Keributan di pagi hari pun terjadi, suara Kylie yang terus memaki Grael hingga menantunya itu berteriak kesakitan, sedangkan Erlangga, Josua dan Rangga mencoba untuk memisahkan mereka berdua.
Para maid yang menyaksikan tidak berani ikut campur masalah tuan mereka, mereka hanya bisa terdiam sembari menundukkan matanya. Berbeda dengan Lydia, dia menyaksikan adegan drama pagi dengan segurat senyuman yang mengembangkan di wajahnya.
__ADS_1
"Mampus Lo, rasain! Emang enak?" tawa Lydia dalam hati.
To be continued...