
...Warning!!...
...Episode pada bab ini mulai masuk alur arus unsur adegan dewasa dalam beberapa bab kedepannya, harap maklum masih menikmati masa-masa aura pengantin baru. Bagi kurang yang berkenan membaca, silahkan di skip tetapi jangan lupa tinggalkan jejak like dan hadiahnya ya! Walaupun di skip😄...
..._Happy Reading_...
"Nah ... ini kamar kalian! Sudah Papi isi dengan baju-baju keluaran model terbaru di desain langsung oleh salah satu desainer terkenal." Josua hanya membuka lemari baju Grael dan mengabaikan Erlangga.
"Ini, lemari buku-buku pelajaran kamu, dan sebelah sini adalah lemari hias kamu!" Josua dengan semangat terus menunjukannya kepada Grael, seakan dia sudah menyiapkan untuk keperluan anak perempuannya.
Erlangga yang malas mendengar celotehan ayah kandungnya, hanya memutarkan bola mata, sedangkan Grael senang karena dia mendapat ayah mertua yang begitu sayang padanya.
"Oh ... iya, satu lagi —"
"Pih!" protes Erlangga yang begitu kesal dengan sikap Josua, tetapi Grael yang ingin menghargai Josua sebagai ayahnya sendiri mencubit pinggang Erlangga agar membiarkan Josua terus melakukan hal yang membuatnya senang.
"Ya, ya ... ya sudah, kalau gitu! Papi akan keluar, Papi harap kamu betah di sini! Kalau ada yang kamu mau atau tidak sesuai dengan kriteria kamu, tinggal bilang sama, Papi!" Josua memasang wajah murungnya.
"Pih, dia istri Erlangga sekarang! Bukan anak kecil Papi! Kalau dia mau sesuatu juga bilangnya ke Erlangga bukan ke Papi!" protes Erlangga yang merasa tersaingi oleh ayahnya sendiri.
"Terima kasih, Pih ... semua Grael suka kok! Papi jangan khawatir, nanti Grael pasti bilang ke Papi. Termasuk, kalau Kak Erlangga nakal sama Grael," ucap Grael yang merangkul lengan Josua agar tidak merasa murung.
"Ya ... betul itu, bilang ke Papi, biar Papi jewer kupingnya kalau buat kamu nangis!" Josua pun memasang wajah senangnya kembali saat mendengar ucapan Grael.
"Dah, senang? Sekarang bisa nggak, kasih waktu istirahat untuk kita!" usir Erlangga yang membuat Grael menatap sinis ke arah sang suami.
"Kak!" bentak Grael dengan lembut agar sang suami punya etika sopan santun terhadap ayahnya.
"Ya, ya ... Papi akan keluar, Papi akan menyuruh maid membawakan cemilan buah untuk kamu." Josua pun hendak keluar tetapi sebelum keluar dia berbisik kepada Erlangga.
"Dasar kutu kupret! Awas kalau kamu sampai membuat anak Papi hamil, Papi nggak akan segan-segan memotong si junior!" ucap pelan Josua dengan raut wajah kesalnya pada Erlangga.
"Erlangga, nggak janji ... Pih!" Erlangga menyunggingkan senyumannya.
"Iisshh ... anak ini—"
__ADS_1
Pintu langsung ditutup oleh Erlangga sebelum lelaki tua itu mengeluarkan kata umpatan untuknya. Erlangga pun menarik tangan sang istri ketika mereka hanya berdua di kamar yang akan di singgahi oleh mereka berdua untuk sementara waktu.
Josua dan Erlangga memang terlihat tidak akur bahkan tidak pernah sama sekali bekerja sama dengan baik. Namun, biar begitu Grael merasakan keduanya saling menyayangi satu sama lain.
"Apa kamu suka di sini?" Erlangga memeluk sang istri dari belakang saat mereka berdiri di balkon kamar seraya melihat pemandangan di siang hari yang begitu cerah.
"Aku suka," jawab Grael dengan intonasi suara yang pelan.
"Aku tidak mau berpikiran sempit, aku anggap kamu suka dengan kamar ini, karena ini adalah kamarku dan sekarang menjadi kamar kita! Bukan karena dia!" Erlangga mengigit bahu Grael seakan menunjukan bahwa dia tidak suka bila sang istri tinggal di sini dan berani bermain api di belakangnya.
"Aakh ... sakit!" Grael berupaya untuk menghindar, tapi Erlangga langsung mengeratkan kembali pelukannya.
"Ingatlah satu hal ... bahwa aku tidak suka di bohongi, aku akan bersikap baik sama kamu, kalau kamu menjadi istri yang penurut, tapi jangan salahkan aku, bila kamu mau aku berbuat kasar sama kamu!" bisik Erlangga di telinga Grael. Dia langsung menarik dagu sang istri lalu mellumatnya dengan sedikit penekanan di setiap hisapannya.
Tubuh Grael seketika gemetar, saat mendengar ucapan yang dikontrakkan oleh Erlangga. Seakan Erlangga memberi isyarat bahwa dia tidak mau dikhianati oleh dirinya. Grael menyadari bahwa beberapa detik lalu sikap Erlangga membuatnya takut.
Ciuman kali ini sedikit berbeda, begitu memaksa dan sedikit kasar. Dia sudah berusaha untuk mendorong tubuh Erlangga, tetapi tangan kekar itu begitu kuat menahan tubuhnya.
"Aaakkh!" Grael terkejut saat Erlangga mendorong tubuhnya untuk bersandar di jendela besar yang menjulang tinggi sembari berdiri.
Grael yang tahu bahwa Erlangga sedang cemburu sekaligus ingin melampiaskan birahinya saat keinginan paginya gagal, ingin menggaulinya di tempat terbuka.
"Aah ... Kak, ja–jangan ... aaahh! Please, jangan di sini!" pinta Grael saat jemari Erlangga sudah berhasil membuat sesuatu itu basah di bawah sana.
Di rasa sudah mampu untuk melancarkan jalan si junior keluar masuk, Erlangga langsung membuka gesper dan resleting cellana, dia pun menurunkan sedikit cellananya lalu mengeluarkan sang junior yang sudah siap bertempur dari balik kain katun.
"Aaahhkk ... Kak, pelan sedikit!" Grael meremas kuat-kuat rambut Erlangga, saat si junior berhasil masuk dengan sempurna. Dia tahu, walaupun dirinya meminta untuk tidak melakukannya di luar kamar, tapi tetap saja suaminya itu justru melakukanya karena itu menjadi sensansi tersendiri bagi seorang Erlangga.
"Shiit ... sempit banget!" gumam Erlangga, saat matanya terpejam sembari menikmati denyutan hangat di bawah sana.
Beberapa saat Erlangga membiarkan milik Grael untuk beradaptasi dengan juniornya, dia pun melummat bibir Grael dengan keahlian lidahnya dan di saat dia tahu bahwa sang istri sudah tidak mengerutkan keningnya. Erlangga langsung memaju mundurkan pinggulnya secara perlahan sembari memainkan lidahnya di mulut sang istri.
Suara dessahan ke duanya menambah kesan errotis adegan di siang hari, saat Erlangga memacu gerakannya lebih cepat. Bibirnya pun tersenyum saat mengetahui bahwa Grael juga menikmati permainannya.
Erlangga pun mengubah posisinya, di mana Grael bertumpu pada sebuah bangku yang berada di balkon sedangkan Erlangga memasukinya dari belakang.
__ADS_1
Getaran pada kursi itu pun begitu hebat, takkala gerakan yang diciptakan oleh Erlangga semakin cepat. Pada saat itu pula seorang maid datang mengetuk pintu untuk memberikan beberapa buah kepada Grael.
Grael pun mencoba untuk menghentikan aktivitasnya sebelum maid itu masuk dan melihat mereka, tetapi Erlangga menahan posisi Grael agar tetap pokus pada dirinya.
"Kak!" ucap Grael saat mengetahui bahwa pintu itu akan dibuka oleh seseorang.
"Jangan berisik! Atau kamu mau mereka melihatnya!" Erlangga menarik cepat tubuh sang istri ke dinding yang menghalangi mereka, saat Erlangga masih melakukan tugasnya untuk mengeluar masukan sang junior.
"Aaammpph!" erangan Grael saat berada di dalam mulut sang suami saat Erlangga juga telah sampai pada puncak klimaksnya dengan menghentakan sang junior lebih dalam lagi untuk memuntahkan cairan kental pada rahim Grael.
"I love you, love you so much Arabella!" Erlangga menatap mata Grael dengan lekat, ketika deru napasnya masih tersengal dan raut wajahnya penuh keringat.
"Bersabarlah menunggu cinta itu hadir, tapi percayalah ... aku akan menjadi istri penurut dan tidak akan mengkhianati kamu! Jadi ... jangan buat aku takut!" Grael pun membalas tatapan Erlangga dengan lekat saat deru napasnya masih memburu. Dia mencium Erlangga terlebih dahulu sembari mengeratkan pelukannya.
Erlangga pun menikmati ciuman yang diberikan oleh sang istri seraya menikmati sisa denyutan yang ada di bawah sana.
"Dasar jallang!" umpat maid yang ditugaskan mengantarkan buah untuk Grael, sorot matanya pun menangkap basah ke dua sejoli dari balik dinding balkon yang sedang bermadu kasih.
To be continued...
Halo readers di mana pun kalian berada. Terima kasih sudah mau hadir dan membaca kisah Grael, Author minta dukungannya ya... untuk karya ke dua author ini (KESAYANGAN SANG PEWARIS) yang lagi ikut berpartisipasi dalam lomba season 7 ini. Sebesar apapun dukungan positifnya akan berguna untuk karya author yang satu ini....
jadi jangan lupa untuk
like 👍
komen 💬
vote 🎟️
Rate🌟
dan hadiah 🎁
Terima kasih 🥰
__ADS_1