Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
134. Rangga kalah


__ADS_3

...Warning!!...


...adegan dalam bab ini tidak pantas untuk di tiru ya!...


"Serang!" teriak salah anak SMA Citra Bangsa yang mengintruksikan untuk menyerang beberapa anak SMK Pemersatu Bangsa.


Suara riuh di antara masing-masing kelompok pun menggelegar di jalan raya yang begitu sepi oleh kendaraan yang berlalu larang. Mereka saling adu jotos sama lain untuk menjatuhkan lawan masing-masing.


Suara pukulan dan suara teriakan dari masing-masing anak sekolah membuat suasana semakin mencengkram, takala dari mereka menimpuk lawan musuhnya dengan membabi buta.


Melihat kekacauan yang ada di depan mata membuat Emira turun tangan untuk membela nama sekolah, meskipun Rangga sudah melarangnya menunggu di mobil. Namun, tetap saja dia harus membatu calon suaminya dari pengeroyokan yang tidak adil.


"Emira!" teriak Rangga yang begitu kesal ketika wanita yang dia cintai ikut andil dalam perkelahian tersebut.


Bentakan dari mulut Rangga tidak mampu membuat Emira berhenti memberi pelajaran pada siswa yang ingin menikam tunanganya dari belakang. Rangga melihat Emira terus memberikan pukulan dan tendangan pada siswa pria yang sudah terkulai lemas tidak berdaya.


"Emira, sudah! Balik ke mobil!" Rangga menghentikan tangan Emira ketika hampir saja wanitanya membunuh siswa tersebut.


Tidak lama kemudian penyerangan pun kembali saat Rangga memeluk tubuh Emira agar berhenti memukulnya, sontak saja membuat Emira langsung mengubah posisi menarik Rangga agar bangun.


Rangga langsung memasang kuda-kudanya dengan saling membelakangi satu sama lain dengan punggung yang berdekatan, tangan keduanya mengepal erat siap melayangkan pukulan pada lawan untuk melindungi diri mereka.


Rangga sungguh tidak percaya bila Emira begitu peka terhadap musuh yang ingin menyerang, dia menyadari bahwa ilmu bela diri tunangannya ternyata cukup tinggi sebagai seorang wanita.


"Panggil bos kalian, jangan bisanya mengumpat di kandang!" Emira melempar tatapan sinis pada siswa tersebut yang berdiri tepat di hadapannya.


Tidak mau menjawab ucapan Emira, mereka langsung menyerang tanpa memberi kesempatan untuk Rangga menatap Emira yang sedang bicara.


Dalam sekali pukulan dan tendangan, Emira sudah menjatuhkan lawannya dalam hitungan beberapa menit. Bahkan bila Emira menghabisi semuanya dia hanya memerlukan waktu dalam hitungan menit.


Namun sayang mata Emira melihat para teman-teman dari sekolahnya tumbang satu persatu, bila di biarkan makan akan banyak korban, karena itu dia menuju tempat di mana Steven berada, seraya menonton mereka berkelahi.


"Steven, keluar!" Emira langsung menimpuk salah satu kaca mobil dengan batu yang dia duga ada Steven di dalamnya dengan jarak yang cukup jauh.

__ADS_1


Rangga yang masih sibuk berkelahi dengan lawannya menjadi hilang kendali saat melihat gadis berambut pirang itu menimpuk kaca mobil dengan batu hingga pecah.


"Aaakhhhh! Mira!" keluh Rangga saat punggungnya terkena pukulan dari salah satu musuhnya.


Tentu saja membuat Emira menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Rangga yang hampir kehilangan kesadarannya, dia menengok kebelakang saat Rangga menjadi amukan siswa lainnya secara bertubi-tubi.


"Rangga!" teriak Emira, saat itu juga dia berlari menghampiri Rangga dengan menendang beberapa siswa yang mengerumuni Rangga.


Ke lima siswa tersebut tumbang dalam sekejap oleh Emira, dia sudah naik pitam melihat Rangga mengeluarkan banyak darah dari sudut bibir dan beberapa titik di wajahnya.


Anjas dan Irfan yang masih sibuk dengan musuhnya hanya melihat betapa tangguhnya seorang gadis belia menghajar musuh demi melindungi kekasihnya. Satu persatu lawan pun tumbang oleh Emira bahkan lawan yang terus bertarung dengan Anjas dan juga Irfan semua sudah tumbang begitu saja di depan Anjas dan juga Irfan.


Suara tepukkan tangan pun terdengar di telinga Emira saat gadis itu menangisi Rangga yang ternyata babak belur di hajar ramai-ramai oleh para musuhnya.


"Apa mau kamu Stev!" maki Grael dengan intonasi suara yang mulai meninggi.


"Mauku? Aku hanya kasih sedikit pelajaran pada orang yang sudah berani merebut milik orang." Steven menarik pinggang Emira tapi justru tamparan yang dia dapat.


"Dasar baji ngan!" Emira ingin memukulnya kembali, tetapi Steven lebih dulu mencegahnya.


"Apa lepasin? Tidak semuda itu nona! Kamu harus membayar rasa sakit yang sudah kamu buat!" ujar Steven dengan memicingkan matanya melihat Rangga yang begitu menyedihkan.


Steven langsung membawa Emira dengan mudah seperti karung beras, meninggalkan Rangga yang kesakitan yang hampir hilang kesadarannnya.


"Lepasin, Steven!" Emira meronta-ronta di atas bahu Steven.


"Diam lah, sebelum aku menyuruh teman-temanku untuk menghabisi nyawa selingkuhanmu yang payah!" ancam Steven.


Sementara Anjas dan Irfan hanya membiarkan Emira dibawa begitu saja oleh Steven, sedangkan mereka langsung membawa Rangga ke rumah sakit.


...----------------...


"Maaf, Tuan! Makan malam sudah siap!" ucap Anne dengan lembut, dia berdiri di depan tempat tidur yang masih tertutup tirai sembari menunduk.

__ADS_1


"Sepuluh menit lagi kita turun!" sahut Erlangga d Ngan suara ciri khas orang bangun tidur.


"Baik, Tuan!" Anne berjalan mundur dan menghilang dari balik pintu.


Erlangga menatap istrinya masih terlelap tidur di samping akibat pergulatan panas mereka di ranjang baru, senyum pun terukir di wajah Erlangga takala sang tidak mau melepaskan pelukannya saat dia mencoba menyingkirkan tangan Grael dari tubuhnya.


Tangan Erlangga mengusap lembut pipi Grael, dia memanggil nama mesra untuk istrinya agar bangun dari tidurnya. Namun, sayangnya Grael masih menikmati tidur dengan beralasan lengannya sebagai pengganti bantal.


"Sayang, bangun ... kita makan dulu!" ucap Erlangga dengan lembut.


"Kakak mau makan apa, emangnya?" tanya Grael yang sudah bangun tapi masih memejamkan matanya.


"Aku mau makan kamu sampai tidak tersisa sebagai hukumannya," ucap Erlangga yang kesal mendengar panggilan untuknya dari mulut sang istri.


Menyadari kesalahannya, Grael langsung memanggil suaminya dengan sebutan mesra. Matanya pun langsung menatap ke arah Erlangga. "Sayangku, mau makan apa?"


"Semua sudah siap, kita tinggal turun ke bawah, kamu tidak perlu repot-repot masak karena Chef Hans sudah menyiapkan untuk kita," ucap Erlangga.


"Ok, kalau gitu, gendong!" Manja Grael seraya mengecup pipi suaminya.


Tanpa berpikir panjang, Erlangga mengangkat tubuh istrinya untuk masuk ke dalam kamar mandi bersama dirinya. Begitu mereka selesai, Erlangga pun turun bersama istrinya dan menuju meja makan.


Sudah terdapat beberapa maid bersiap untuk melayani ke dua pasutri tersebut, Grael mendapatkan perlakuan romantis kecil dari sang suami ketika Erlangga menggeser bangkunya untuk duduk.


"Selamat malam, Tuan, Nyonya! Menu makan malam hari ini ada, bean sprouts, creamy garlic salmon and mushroom soup." Hans menunjukan satu persatu menu yang telah dia hidangkan di atas meja.


Grael tampak tercengang mendengar semua menu yang diucap oleh Chef pribadi suaminya, Saliva yang dia telan pun begitu sulit ketika namanya sulit dia ingat. Hanya bentuknya yang Grael tahu bila terdapat ada, ikan, jamur, ayam, toge dan masih banyak lagi.


"No! Biar saya yang menyiapkan untuk suami saya!" Larang Grael pada salah satu maid wanita yang tafsir masih muda.


Erlangga tersenyum ketika istrinya protes, dia pun memperhatikan Grael yang masih telaten menyiapkan makan malamnya meski sudah terhidang di atas meja.


***To be continued...

__ADS_1


Mohon maaf ya bila banyak typo dan diksi yang masih acak kadut, nanti bakal di revisi, makasih ya yang sudah mau memberikan dukungan pada karya ini.🙏😘***


__ADS_2