
"Aku mencintaimu, Emira!" ucap Rangga dengan suara napas yang memburu ketika dia melepaskan tautan ciumannya yang kemudian dia llumat kembali bibir Emira dengan lembut.
Rangga menarik tuas bangku Emira sehingga gadis itu berada di bawah kungkungan Rangga yang terus mellumat habis mulut Emira. Tangannya membelai wajah sang gadis, ketika dia menghisap kuat-kuat bibir bawah Emira yang kini di klaim menjadi miliknya.
Rangga begitu menikmati bibir wanitanya ketika dirinya masih terus mellumat lidah Emira hingga persilatan lidah pun berlangsung begitu lama, entah hasrat lelaki yang dimiliki oleh Rangga atau dendam pribadi yang melampiaskan ingatannya ketika Erlangga mellumat bibir Grael sehingga dia tuang semua dengan mencium bibir Emira begitu lama. Seakan jiwanya sudah lama tidak merasakan hasrat birahi yang begitu lembut.
Suara ponsel Emira pun berbunyi, hingga menganggu kemesraan yang Rangga buat. Hatinya kesal saat Emira mendorong tubuhnya dan lebih mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Steven.
"Halo?" ucap Emira saat itu juga Rangga memasang wajah kesalnya, sehingga dengan cepat Rangga merebut ponselnya yang kemudian dia loudspeaker ponsel itu.
"Di mana? Kenapa aku jemput kamu sudah tidak ada? Pulang sama siapa? Di mana? Kenapa nggak kabarin?" tanya Steven dengan begitu banyak pertanyaan.
"Oh, iya ... tadi a–aku, ke rumah teman sebentar," ujar Emira dengan gugup ketika dia berbohong.
"Pulang!" pinta Steven dengan emosi, dia begitu marah karena tahu Emira sedang berbohong padanya.
"Iya!" sahut Emira dengan menurut.
Tentu saja hal itu membuat Rangga tidak percaya dengan apa yang baru saja kekasihnya ucapkan, Rangga pun melempar tatapan sinis ke arah Emira.
"Apa kamu bilang? Mir? Jelasin maksud kamu apa?" tanya Rangga penuh emosi.
__ADS_1
"Kak, maaf untuk sekarang ini aku belum bisa putus dari Steven sebelum orang tua kamu dan aku buat kesepakatan!" ujar Emira yang merasa bersalah.
Rangga tertawa mendengar penuturan dari wanita yang sudah dia klaim sebagai kekasihnya, seraya berkata, "Jadi, maksud kamu ... aku selingkuhan kamu gitu? Pacar ke dua kamu? Atau pelampiasan kamu?"
"Bu–bukan gitu, maksud aku ... untuk sementara lebih baik kita sembunyikan dulu," ucap Emira sembari menundukan kepalanya seraya takut menatap mata Rangga.
"Oh, jadi aku pacar gelap kamu? Bukan begitu berati sama aja!" bentak Rangga, dia memukul stir untuk melampiaskan rasa emosinya.
Emira begitu terkejut melihat Rangga begitu emosi ketika memukul stir-nya dengan kencang, dia pun hanya bisa menunduk dan terdiam tanpa memberikan komentar.
"Aku antar kamu ke dia! Di mana dia sekarang?" Rangga langsung menyalakan mesin mobil.
"Sekali kamu turun hubungan kita berakhir!" ancam Rangga ketika melihat Emira ingin membuka pintu mobil.
"Percaya sama aku, aku mencintaimu, Rangga! Izinkan aku pergi sendiri, akan aku selesaikan hubunganku dengan Steven." Emira menarik dagu Rangga kemudian mengecup bibir manis itu.
"Panggil aku dengan sebutan mesra, baru aku izinkan!" ujar Rangga, dia membalas ciuman Emira.
"Percaya sama aku, Ayank!" ucap Emira dengan lembut.
"Baiklah, aku izinkan untuk kali ini, tidak ada besok, tidak ada ciuman sama dia, tidak ada sentuhan apapun!" pinta Rangga yang di anggukan oleh Emira seraya tersenyum.
__ADS_1
...----------------...
Irfan terus menikmati masa-masa di mana Grael memberikan penjelasan pada tugas yang diberikan oleh sang guru, dia terus menatap Grael ketika setiap penjelasan keluar dari mulut mungilnya.
"Nyonya, waktunya sudah habis!" ujar Beni yang berdiri di samping Grael.
Grael mengerti, dia pun memberitahu soal mana yang belum dimengerti oleh Irfan dan menyuruhnya untuk bertanya pada Rangga.
"Ok, thanks ya, El!" ucap Irfan yang tersenyum sembari merapihkan buku pelajaran yang dia pelajari selama di perpustakaan.
Setelah itu, mereka keluar dari ruangan dan berjalan menuju halaman parkir sekolah, tapi pada saat bersamaan ada teman-teman dari arah belakang yang tidak sengaja menabrak bahu Grael dari belakang, sehingga dengan refleks Irfan menopangnya agar tidak terjatuh.
Kedua mata mereka saling bertemu apa lagi ketika jarak di antara begitu dekat, membuat Irfan mengabadikan momen yang begitu langka dalam hidupnya.
"Nyonya, kita harus segera pergi!" perintah dari Beni.
Grael mulai paham dengan ucapan Beni, dia pun berpamitan pada Irfan seraya berterima kasih kepada Irfan yang sudah menolongnya agar tidak terjatuh.
"Hati-hati, El ... di jalan!" ucap Irfan yang melambaikan senyuman manis kepada Grae.
To be continued...
__ADS_1