
Malam kedua, semua teman-teman sudah pada berkumpul di halaman villa. Mereka mengambil tempat duduk mereka masing-masing berbentuk lingkaran yang mengitari api unggun, sedangkan Rangga masih kesal dengan Grael yang sulit dihubungi dari siang hari.
Rangga yang berdiri sebagi ketua tim tersebut menjelaskan, bahwa malam akan memainkan sebuah game. Siapa yang bisa masuk ke dalam labirin yang berada di samping villa dan berhasil ke luar lebih dulu dan mengambil bendera di samping api unggun. Dia yang akan menjadi pemenangnya dan mendapatkan hadiah yang begitu fantastik.
Semua teman-teman bersorak gembira ketika mendengar penuturan dari Rangga dan juga Anjas, karena semua harus ikut berpartisipasi dalam permainan tersebut termasuk ketua tim, mereka pun menjadi semangat ketika permainan akan dilakukan secara berpasangan. Semua harus andil dalam permainan tersebut dan harus mengikuti peraturan.
Anjas mengajak Ernata untuk menjadi pasangannya, sedangkan Rangga yang ingin mengajak Gea untuk menjadi pasangannya sudah lebih dulu bersama Irfan. Mau tidak mau, Rangga melirik ke arah Veby yang masih sendiri.
"Ck! Sial," gumam Rangga.
Permainan pun dimulai, semua masuk ke dalam sebuah labirin yang begitu luas. Perlahan mereka menelusuri setiap tikungan yang ada di dalam labirin.
Langkah kaki Veby terus mengikuti ke mana kaki Rangga melangkah, matanya terus melihat wajah Rangga yang sedang serius mencari jalan keluar dari labirin tersebut, walaupun mereka berdua bisa keluar.
Veby dan Rangga tidak bisa mendapatkan hadiah tersebut, karena hanya pasangan sesama anggota yang bisa mendapatkan hadiah tersebut. Akan tetapi, jika ketua tim yang berhasil keluar, dia yang akan mendapat penghargaan jabatan sebagai ketua tim ekstrakurikuler.
"Ngga, berhenti dulu! Gue cape ... istirahat sebentar!" keluh Veby kepada Rangga.
Rangga pun menghentikan langkahnya, dan mengajak Veby untuk duduk di bangku besi panjang yang berada di dalam labirin tersebut.
"Thanks." Veby mengambil botol air minum dari pemberian Rangga.
"Anak-anak kok gak kelihatan ya? Apa mereka sudah keluar duluan? Jangan-jangan, cuma sisa kita berdua lagi, Ngga. Di sini!" Veby mulai panik ketika labirin menjadi sepi.
"Gue nggak tahu, dah yuk! Kita jalan lagi," ajak Rangga.
Veby memasang wajah masamnya ketika Rangga meninggalkannya begitu saja, dia pun segera menyusul Rangga dan menggenggam tangan Pria itu.
"Ngga usah pegangan, By." Rangga menjauhkan tanganya dari gadis itu.
"Kan peraturannya juga pegangan, lagian dari tadi juga pegangan. Lo, kenapa sih? Jijik banget sama gue!" keluh Veby.
Rangga masih bergeming, dia tidak mau berdebat dengan Veby dan membahas masalah yang menurutnya tidak terlalu penting. Veby yang kesal dengan sikap Rangga, berlari lebih dulu meninggalkan Pria itu.
__ADS_1
"By ... By! Astaga ... bikin repot aja sih, tuh anak!" Rangga langsung berlari menyusul Veby.
"Lo, kenapa sih?" Rangga menarik bahu Veby agar berhenti berlari.
"Gue kesel sama lo! Kenapa sih, cuma pegangan tangan doang, lo sampai begitu sama, gue? Takut Grael marah? Iya!" Veby mulai mengeluarkan segala rasa sedihnya.
"Gue cuma mau menjaga jarak dari cewek lain, By. Maaf! Bukan niatan jijik untuk pegang tangan lo!" Rangga menarik napasnya dengan kasar.
"Gue tahu, lo punya Grael! Tapi ada nggak, sedikit aja ... lo liat perasaan gue! Gue cinta sama Lo, Rangga! Sayang!" Veby mulai meluapkan emosinya di saat mereka sedang berdua dan mengambil kesempatan untuk menguapkan rasa cinta sama Rangga.
"Veb, gue lagi nggak, ma—"
"Gue tahu ... Lo udah tunangan sama Grael! Gue tahu lo punya Grael, gue tahu! Tapi, bisa gak lo nggak menghindar dari gue?" bentak Veby.
"Kalau lo tahu, gue udah milik Grael—sahabat lo ... seharusnya lo yang bisa jaga jarak sama gue!" bentak Rangga.
"Oke! Gue akan jaga jarak sama lo, gue akan menjauh dari lo, gue janji nggak akan ganggu hubungan lo sama Grael, tapi ... kasih gue kesempatan untuk cium lo, satu kali! Sekali ini aja ... Ngga!" Veby menatap mata Rangga dengan nanar.
"Sorry, gue nggak bisa!" tegas Rangga dan membuat Veby kecewa, dia berlari meninggalkan Rangga yang masih terdiam di sana.
Semua teman-teman sudah keluar dari dalam labirin, sehingga Rangga dan Anjas bisa melanjutkan ke sesi acara selanjutnya. akan tetapi, hujan turun secara tiba-tiba, membuat semua menjadi panik dan berhamburan untuk segera masuk ke dalam villa.
"Ngga! Veby mana?" tanya Ernata yang tidak melihat Veby.
"Di kamar nggak ada?" tanya Rangga.
"Nggak, ada!" sahut Ernata yang begitu panik.
Rangga pun mengingat ketika mereka berdebat di dalam labirin. "Sial! Njas, Fan, bantu gue cari Veby!"
Rangga langsung bergegas kembali keluar bersama Anjas dan Irfan menggunakan jas hujan yang sudah disediakan. Mereka pun menuju tempat lokasi di mana Veby sedang duduk di bangku besi panjang sembari menangis saat mereka melihat ke arah monitor pelacak cctv pada labirin tersebut.
"Veby!" teriak Irfan. Dia pun langsung memberikan payung pada tubuh Veby yang menggigil.
__ADS_1
"Bego, banget sih jadi cewek!" kesal Rangga yang memaki gadis itu.
"Ngga, udah! Lebih baik kita bawa dia masuk dulu ke dalam," ujar Anjas.
"Fan, bawa dia!" pinta Rangga tapi Veby tidak mau. Dia masih tetap pendiriannya bahwa dia mau masuk kalau Rangga yang menggendongnya.
Terpaksa Rangga menggendong Veby ke dalam villa, Ernata yang mendapat perintah untuk menyiapkan segala keperluan Veby pun sudah dia siapkan.
Perlahan Rangga menurunkan Veby dari pelukannya, dia menyuruh Gadis itu untuk segera membersihkan dirinya, lalu keluar dari kamar.
Beberapa menit kemudian, Rangga membawakan sepiring makanan untuk Veby, dia mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar ketika gadis itu membuka pintunya.
"Makan dulu, terus langsung istirahat. Biar kita bisa pulang lebih pagi!" ujar Rangga yang menasihati.
"Ngga usah peduli, aku mau makan atau nggak! Kan kamu sendiri yang bilang kalau kita harus berjaga jarak." Veby langsung masuk ke dalam selimut dan mengabaikan Rangga.
"Terserah!" ucap Rangga, dia hendak keluar dari pintu kamar itu. Namun, dengan cepat Veby memeluknya dari belakang.
"I love you!" Veby menangis sembari memeluk tubuh orang yang dia suka, Rangga yang mencoba ingin melepaskan tangan Veby, dia merasa bahwa tubuh gadis itu panas.
"Please, kiss me! Just this once, Ngga!" Veby menangis sembari meminta pada Rangga.
Rangga pun terdiam, kemudian berkata, "No next time!"
"I, promise!" Veby mengelap air matanya.
Rangga pun menahan pipi Veby dengan kedua tanganya, lalu mencium bibir Veby dengan lembut. Sembari membayangkan wajah Grael yang dia cium, air matanya ikut menetes saat Veby membalas ciumannya dan merangkul rangkul lehernya.
Di sisi lain, seorang wanita baru saja tiba di villa tersebut untuk memberikan kejutan pada tunangannya yang bernama Rangga, tapi bukannya memberikan kejutan pada kekasihnya, justru Grael mendengar percakapan mereka sampai akhirnya, kedua matanya melihat sendiri bagaimana Rangga mencium bibir Veby.
Air matanya menetes, saat menyaksikan adegan yang membuatnya sakit. Grael mundur secara perlahan, sampai akhirnya ada sebuah tangan yang menutup matanya agar tidak melihat adegan tersebut.
Grael melirik ke arah Irfan yang ternyata menutup matanya dengan tangan dia. Irfan menarik Grael agar berbalik menghadap ke arah dia lalu menutup pintu kamar itu secara perlahan, agar tidak mengganggu aktifitas mereka.
__ADS_1
To be continued...