
"Ini hasil rapor Grael Arabella, mohon maaf ya, Pak, sebelumnya. Nilai Grael turun, hasil yang di dapat kurang memuaskan, semoga kedepannya Grael bisa lebih baik lagi ya," ucap Bu Clara yang memperlihatkan nilai-nilai sang istri yang rata-rata 9,8.
"Turun dari mane? Emangnya sebelumnya, nilai El, 10 semua?" batin Erlangga yang melihat hasilnya, dia menatap Grael yang sedang menundukkan kepalanya.
"Buat saya, ini sudah hasil yang sangat memuaskan!" ucap Erlangga yang tanpa melepaskan masker saat bicara sama wali kelas Grael lalu kembali berucap, "Kalau gitu terima kasih banyak!"
Setelah keluar dari ruang kelas, Erlangga keluar bersama Grael. Dia menggenggam erat tangan itu melewati beberapa teman sekolah dari kelas lain, sebagian ada yang menyapa dan sebagian lagi memandang iri melihat Grael datang bersama kekasihnya yang super duper keren.
Pada saat itu pula Grael melihat Rangga dan Josua yang baru datang dan menuju kelas, sontak aja Grael langsung menarik tangan suaminya agar berhenti.
"Kak, hmm ... kita lewat tangga sebelah sana aja, yuk!" pinta Grael dengan raut wajah yang panik, matanya melihat ke arah belakang sang suami, di mana Rangga dan Josua semakin dekat.
"Loh, kenapa? Ada apa?" Erlangga melihat sikap istrinya yang aneh seakan bersembunyi dari seseorang, dia melihat arah pandang yang dilihat oleh sang istri dan ternyata ada Rangga dan juga Josua.
"Papi?" tanya Erlangga pada Grael dan istrinya mengangguk.
"Dah yuk, buruan! Aku masih malu ketemu Papi sama Rangga," ucap Grael secara manja yang memohon sembari memajukan sudut bibirnya.
Erlangga terkekeh lalu mengikuti kemauan sang istri, mereka berbalik mengambil arah jalan yang berbeda. Namun, tiba-tiba Grael melihat Gea bersama kedua orang tuanya usai keluar dari dalam kelas.
"Mampus dah!" Grael membalikan tubuhnya ke arah Erlangga hingga hidupnya menabrak dada bidang sang suami.
"Aduh, Yank. Kamu jalan bagaimana sih!" keluh Erlangga yang bingung dengan sikap istrinya.
"Ssstt! Di sana ada Gea, Kak!" Tunjuk Grael ke arah Gea yang kini melambaikan tangan sembari memanggil namanya.
"El!" Gea mengajak kedua orang tuanya untuk mengenalkan siswa juara satu di kelasnya.
__ADS_1
Grael langsung menyembunyikan wajahnya ke arah dada bidang Erlangga ketika Josua juga memanggil mereka berdua, sedangkan siswa kelas lain yang berada di luar kelas saat orang tuanya sibuk mendengarkan ceramah dari gurunya melihat ke arah Grael dan Erlangga.
"Loh, Er. Kamu di sini? Sudah mengambil hasil rapor?" tanya Josua yang ternyata lebih dulu mendekat ke arah mereka dan Erlangga pun mengangguk.
Rangga melihat Grael yang bersembunyi di dada bidang kakaknya, senyum Rangga pun mengembang ketika matanya melihat Erlangga yang sedang menatap sinis ke arahnya karena memperhatikan Grael dari atas sampai bawa.
"El, gimana hasilnya? Oh ya, kenalin ini bonyok gua!" Gea menepuk bahu Grael dan melihat ke arah pria yang seakan familiar.
"Wah, selamat siang Tuan Josua, tidak menyangka kita bisa bertemu di sini," ucap Ayah—Gea, manik matanya beralih ke arah Erlangga yang hanya mengangguk sebagai tanda salam bertemu. Dia pun baru menyadari bila orang tersebut adalah Erlangga.
"Pak, Erlangga Louis? Nyonya Grael?" ucap Pria itu yang melihat ke arah Grael.
Grael pun terpaksa membalikkan tubuhnya dan tersenyum canggung ke arah ibunda—Gea, sedangkan siswa lainnya masih tercengang dengan ucapan orang tua Gea.
"Erlangga? Nyonya?" ucap siswa yang melihat ke arah mereka.
Selang beberapa menit semua pun sudah berkumpul mengerumuni Erlangga, membuat pihak sekolah pun turun tangan akibat keramaian yang terjadi.
Erlangga yang langsung mendapat kawalan dari pihak sekolah langsung duduk dan memberikan waktu luang untuk para penggemarnya, sedangkan Grael lebih memilih dari jarak jauh agar tidak terlalu terekspos akan statusnya.
Api cemburu sudah berkobar saat melihat sang suami dipeluk secara bergantian di depan matanya dan Erlangga membalas pelukan itu dengan hangat, meski Grael tahu bila inilah resiko menjadi istri seorang artis tetapi tetap saja tidak bisa dia pungkiri bila dirinya masih cemburu.
"Apes bener Kakak ipar gua, sabar ya ... resiko lo yang milih kakak gua, coba Lo milih gua," ucap Rangga dengan bangga sembari merangkul Grael dan tersenyum mengangkat alisnya saat menatap kakak iparnya yang ternyata sudah meliriknya. "Cantik banget semalem! Berapa ronde?"
Grael hanya terdiam seraya melempar tatapan sinisnya yang bersiap akan memakan Rangga saat itu juga, ucapan adik iparnya membuat api yang sudah berkobar melihat suaminya berpelukan sembari tersenyum ramah dengan para teman-temannya langsung meledak saat mendengar ucapan Rangga.
Rangga yang mengetahui bila dia telah membangunkan kucing betina yang sedang lapar langsung melepas rangkulan dan mundur secara perlahan.
__ADS_1
"Ay, ampun, Ay! Cuma bercanda, Ay ... Ay!" Rangga langsung berlari dari amukan siang betina.
Tawa Rangga yang dikejar Grael mengundang rasa cemburu Erlangga yang sedang melakukan sesi tanda tangan dan foto bersama.
"Njas, tangkep Rangga! Jangan sampai ketombe lepek kabur!" teriak Grael saat Rangga berlari dari kejarannya dan mendekat ke arah Anjas.
"Njas, Lo sobat gua yang paling baik kan?" bujuk Rangga yang ternyata berhasil lolos.
"Anjas, iihh!" kesal Grael yang mendorong tubuh Anjas lalu kembali berucap, "Nat, bantuin gua tangkep remahan rengginang!"
Ernata pun mencegah Rangga, tetapi Rangga menyepelekan Ernata yang ternyata pintar bela diri seperti Emira hingga akhirnya dia tertangkap hanya sekali jurus.
"Ah, sial!" umpat Rangga yang tergeletak dilantai karena mendapat serangan dari Ernata. "Ay, ampun, Ay!"
Begitu mangsa telah didapat, Grael langsung menyumpal mulut Rangga dengan penghapus papa tulis. Dia menggosok bibir Rangga hingga hitam, tidak hanya di bibir tetapi juga raut wajah Rangga.
Tidak lupa juga Ernata menguncir rambut panjang Rangga yang berada di ubun-ubun, sedangkan Anjas ikutan menjahili Rangga dengan membuka sepatu lalu dia ikat talinya dan lantas mengalungkan sepatu itu ke leher Rangga.
Sontak teman-teman yang lain tertawa melihat penampilan Rangga, dan memancing Erlangga yang masih sibuk memberikan sesi foto dan pelukan bersama di dampingi para pihak sekolah.
"Asu Lo semua jadi teman!" Rangga melepas kalungnya dan mengejar Anjas sebagai mangsanya.
"Lari, Njas!" teriak Grael dan Ernata secara bersamaan.
Anjas terus berlari sampai akhirnya dia bersembunyi dibelakang Ernata, sontak tangan Anjas memegang bahu Ernata tanpa dia sadar. Membuat mata mereka saling bertemu untuk sesaat sebelum akhirnya Anjas menyadari perbuatannya bila gadis yang selama tiga tahun dia sukai secara diam-diam tidak pernah mau bersentuhan dengan laki-laki lain.
"So-sorry gua nggak sengaja!" ucap Anjas yang akhirnya mendapat pembalasan dari Rangga karena tertangkap.
__ADS_1
To be continued...