Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
118. Perjalanan bulan madu


__ADS_3

"Pa–Pak? Pak Erlangga!" panggil Sherly tapi dengan cepat Beni sudah menghadang Sherly agar tidak mengejar Erlangga dan Grael.


Tidak terima bila rencananya gagal, Sherly dengan cepat mendorong tubuh Beni dan mengejar kembali Erlangga dan Grael saat ingin masuk ke dalam lift.


"Pak, ini rapat penting! Bagaimana bisa Bapak kasih kepercayaan begitu saja sama, Pak Rio untuk menanganinya?" tegur Sherly yang menghadang Erlangga.


Hal itu membuat tangan Grael langsung mencengkram kuat telapak tangan Erlangga seraya menunjukan ekspresi yang tidak suka. Sikap Grael membuat Erlangga tahu bila sang istri sangat tidak menyukai sekertaris tersebut.


Erlangga pun tersenyum mengejek ke arah Sherly, lalu menjentikkan kedua jemarinya untuk menyuruh Beni menangani Sherly. Setelah itu, tanpa basa-basi, Erlangga langsung masuk ke dalam lift bersama sang istri.


"Pak Erlangga, tunggu Pak!" panggil Sherly ketika dirinya masih di halangi oleh Beni.


Sherly pun kesal, ketika melihat Grael menyunggingkan sudut bibirnya seakan menunjukkan bahwa gadis itu yang menang. Dia menghentakkan kakinya ke lantai begitu saja seraya mengepalkan telapak tangan. Melampiaskan rasa kesal saat melihat Erlangga merangkul Grael sebelum lift tertutup.


"Dasar pellacur kecil, kali ini aku tidak akan meremehkanmu!" ancam Sherly dalam hati.


Sementara di dalam lift, Grael mendorong tubuh sang suami agar menjauh dari dirinya. Hatinya masih kesal, ketika mengingat bagaimana Sherly mengangkat telepon darinya.


"Apa kamu masih marah?" Erlangga justru menarik pinggang Grael agar tidak menjauh darinya.


"Udah tahu iya masih tanya!" gumam Grael dalam hatinya, dia hanya memalingkan matanya saat jarak di antara mereka begitu dekat.


Erlangga langsung menarik dagu sang istri lalu mengecup bibir ranum Grael seraya berbisik, "Jangan marah! Aku ingin mencoba hal baru bersamamu!"


"Hah?" Grael bingung dengan ucapan Erlangga, tapi pada saat yang bersamaan pintu lift terbuka, langkahnya pun mengikuti kemana langkah kaki Erlangga pergi.


"Pejamkan matamu!" pinta Erlangga yang memakaikan penutup mata pada Grael, dia tahu bila Grael merasa risau dengan apa yang dilakukan olehnya, Erlangga pun berucap, "Percayalah padaku!"

__ADS_1


Usai selesai mengikat, kemudian Erlangga berbisik, "BIRU!"


Wajah Grael langsung berubah, dia menampakan senyuman manisnya meski dalam keadaan mata tertutup, tidak lama kemudian, bibirnya merasakan mendapat sengatan listrik saat sang suami ternyata menciumnya begitu lembut, lalu menarik tanganya untuk mengikuti langkah kaki Erlangga.


Debaran jantungnya semakin kencang ketika Erlangga masih terus memberikan arahan kemana langkah kakinya pergi, tapi satu hal yang dia tahu. Ternyata Erlangga membawanya ke atas gedung perusahaan Grup Jaya.


"Oke, sekarang ... buka matamu perlahan!" Erlangga membuka ikatan penutup mata seraya berkata, "Surpise!"


Grael membulatkan matanya dengan sempurna, tanganya menutup mulutnya yang terbuka karena syok melihat apa yang ada di depan matanya.


"Kak, ini?" Perasaan Grael langsung tersentuh ketika melihat Helikopter dengan para pegawai yang berjejer rapih menyambut kehadirannya di atas gedung, serta bunga yang berjejer mulai dari tempat dia berdiri sampai di pintu helikopter.


"Selamat sore, Nyonya!" ucap Pak Beni yang ternyata sudah tiba lebih dulu setelah menangani Sherly dengan mudah. Beni menepuk tangan sebagai kode para pesuruh untuk datang mendekat ke arah Grael sembari membawa satu buket bunga mawar.


Mata Grael berkaca-kaca saat menerima bunga itu, kemudian dia menangis ketika Erlangga menyiapkan hadiah untuknya meski dia masih belum mengerti kenapa sang suami memberikannya kejutan seperti itu.


"Bukan gitu!" ucap Grael yang masih menangis.


"Terus?" tanya Erlangga yang menunggu jawaban selanjutnya dari Grael.


"Kenapa Kak Erlangga nggak kasih tahu dulu sama aku kalau mau kasih surprise kaya gini!" Grael masih mengeluarkan air matanya.


"Ya kalau aku kasih tahu namanya bukan surpise, Yank!" sahut Erlangga dengan lembut.


"Ya, tapi kan aku malu, masa masih pakai seragam sekolah! Nggak mecing banget!" Grael menutup matanya pakai buket bunga ketika air matanya semakin deras mengalir.


Pak Beni dan semua menahan tawanya ketika mendengar ucapan dari istri atasannya. Begitu juga dengan Erlangga, dia pun segera mendekat ke arah Grael seraya memeluknya, bagi Erlangga, istrinya itu sangat menggemaskan dan selalu membuat hatinya hanya terpokus padanya seorang.

__ADS_1


"Jangan nangis, aku ingin melihatmu bahagia! Karena ini baru awal, kamu belum melihat kejutan lainnya. Jadi ... Tuan Putri, apakah kamu bersedia ikut bersamaku?" tanya Erlangga yang mengusap air mata istrinya.


Grael pun mengangguk dan berjalan menuju helikopter yang siap mengantarnya menuju tempat tujuan. Setiap Langkah kaki Grael melangkah, setiap itu pula dirinya mendapat sambutan hangat dari para pesuruh Erlangga.


Perasaan gugup menyeruak dalam diri Grael ketika helikopter ingin lepas landas, saat itu juga Erlangga menyakinkan Grael bahwa dia akan aman selama berada di sampingnya, melalui mikrofon kecil yang terhubung dengan telinga.


Grael tersenyum dan merilekskan segala ketegangan ototnya karena ini pertama kalinya dia naik Helikopter, dia pun mendapat kejutan lagi dari Erlangga saat sang suami menyuruhnya untuk melihat ke arah bawah saat Helikopter hendak mendarat tepat di bawah kerumunan pesuruh Erlangga yang sudah terlatih untuk bergerak membentuk kata i love you.


"I love you to!" Grael menatap Erlangga dengan mata yang berkaca-kaca seraya tersenyum senang.


Begitu helikopter mendarat, dia mendapat sambutan meriah pada pesuruh Erlangga, mulai dari taburan bunga di mana-mana, serta gerakan seperti seorang prajurit saat tangan Grael di pegang erat oleh Erlangga, dirinya benar-benar bagaikan seorang putri bangsawan hanya saja yang menjadi ganjal di hatinya ketika dia masih mengenakan seragam sekolah.


"Apakah kita akan naik pesawat?" tanya Grael yang masih bingung.


"Ya, tentu Tuan Putri, karena kita belum sampai di tempat tujuan. Apakah kamu lelah? Atau kurang suka?" tanya Erlangga yang memastikan kembali pada Grael.


"Tidak," sahut Grael yang tersenyum. Lantas kakinya melangkah masuk ke dalam pesawat jet pribadi.


Begitu sampai di dalam pesawat, Grael pun di ajak oleh pramugari untuk ikut bersamanya. Tanpa ada rasa keraguan di hatinya, Grael mengikuti sampai di dalam ruangan yang ternyata untuk mengubah penampilan dirinya.


Selesai penampilannya di ubah, Grael keluar dengan balutan dress selutut berwarna merah muda dengan bagian atas memperlihatkan belahan dada yang begitu menggoda. Tidak lupa rambut Grael di Curly untuk menambah kesan dewasa pada sisi Grael yang masih remaja, membuat Erlangga terpesona untuk kesekian kalinya.


"Beautiful!" ucap Erlangga tanpa berkedip.


Begitu cantik, anggun, serta mempesona penampilan Grael di mata Erlangga, hingga sesuatu di bahwa sana juga seakan ikut memberikan komentar pada penampilan sang istri.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2