
"Bagaimana? Suka?" Erlangga memeluk tubuh Grael dari belakang saat sang istri melihat pemandangan alam yang masih asri dari atas balkon kamarnya.
"Suka, banget ... makasih, ya." Grael membalikan tubuhnya menghadap Erlangga lalu berniat ingin mengecup bibirnya, tetapi sang suami malah menghindar. Grael pun kembali memasang senyum mengambangnya.
"Istirahat lah, kamu pasti cape! Aku akan ke aula sebentar menemui sutradara Lee," ujar Erlangga. Dia mengacak anak rambut Grael lalu pergi meninggalkan sang istri sendiri.
Begitu Erlangga menuntun pintu kamar, Grael mulai memberikan seribu kata umpatan untuk Erlangga, bagaimana tidak? mereka baru saja menikmati morning kiss di depan Rio, tetapi sikap Erlangga kembali dingin.
"Sabar, El ... sikap dia emang aneh! Pertama bertemu aja, udah buat kamu kesal! Apa dia masih marah ya sama aku? Karena kejadian di rumah sakit saat dia liat aku ... sama, Rangga?" tanya Grael yang mulai menebak.
Langkah kaki Grael tidak berhenti untuk bergerak kesana dan kemari, berbagai cara dia berfikir bagaimana dia bisa tahu kenapa sang suami terus menarik ulur hatinya sesuka hati.
Tidak lama kemudian Grael pun menjentikkan kedua jarinya, seakan dirinya mendapat sebuah ide untuk menjadi seorang istri yang bisa menyenangkan hati suami, dengan begitu dia bisa tahu apakah Erlangga benar-benar marah sama dia atau tidak.
"Ok, malam ini saatnya kamu bersaksi El ... eh, tapi kan ... malam ini, dia ada syuting sampai jam empat pagi?" Grael kembali lemas saat mengingat ucapan Erlangga.
Suara lengkingan dari pita suara Grael keluar, dia pun memendamkan kepalanya ke bantal yang berada di tempat tidur lantas duduk kembali seraya mengacak-acak rambut panjangnya, kata umpatan pun keluar dari mulutnya dengan kesal dan meniup rambut itu dengan kasar saat rambutnya berada di depan wajahnya,
Di saat dia sedang kesal, sebuah notifikasi akun uangnya masuk, tertera nama dari tempat dia bekerja. Ada lingkaran bulan sabit yang melengkung di sudut bibirnya, ternyata uang gajiannya selama sebulan penuh sudah masuk ke dalam rekeningnya.
"Oke, belanja ... belanja ... belanja! Kita searching tempat wisata perbelanjaan." Grael bersemangat ketika berniat untuk membeli alat make up.
"Sip ketemu ... im, coming!" Grael hendak menurunkan satu kakinya, tetapi dia kembali masuk ke dalam selimut saat Erlangga membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
Grael merasakan bahwa tubuh Erlangga naik ke atas kasur lalu mencium keningnya, dia juga mendengar bisikkan cinta yang di lontarkan oleh suaminya. Setelah itu, tidak ada lagi pergerakan yang mencurigakan dari sang suami. Matanya pun membuka secara perlahan untuk memastikan sesuatu, kemudian melirik ke arah samping, ternyata Erlangga sudah memejamkan matanya tepat di sampingnya.
"Tidur?" tanya Grael pada batinnya.
Suara dengkuran halus terdengar di telinga Grael, tubuhnya menghadap sang suami yang sudah tertidur pulas. Bentuk wajah tampan yang terdapat bulu kasar di area dagu, hidung mancung, bibir yang menggoda, dan bulu alis yang tebal membuat Grael tidak bisa mengedipkan matanya saat melihat wajah suaminya.
"I love you too," ucap Grael dengan pelan, dia mengecup lembut bibir Erlangga. Namun, dirinya begitu syok saat menyadari perbuatannya.
Bola mata Grael bulat sempurna, dia menutup mulunya dengan satu tangan, lalu menutup wajahnya dengan selimut. Kakinya bergerak menendang-nendang selimut, saat debaran jantungnya mulai berpacu cepat ketika menyadari bahwa dia sudah membalas cinta sang suami.
Grael mengigit bibir tipisnya seraya tersenyum, dia melihat kembali ke arah Erlangga untuk memastikan bahwa reaksi sang suami, tetapi sepertinya Erlangga tidak mendengar pengakuan cinta dari Grael karena begitu lelapnya tertidur. Akhirnya Grael pun memutuskan untuk tidur bersama dengan sang suami dengan memeluknya dengan erat.
...----------------...
Suasana di lokasi syuting begitu ramai dengan para kru film serta pemain peran utama maupun peran pendukung, berbagai macam alat sudah di pasang dengan tepat dan benar hingga meminimalisir resiko yang terjadi di saat pembuatan film dimulai.
Sebelum Erlangga membawa Grael ke lokasi syuting, dia juga sudah memperkenalkan ya dengan sutradara Lee termasuk kru yang ada saat mereka tiba, sehingga mereka sudah tidak canggung lagi saat sang istri menemaninya.
"Ok, sudah siap? Bisa stand by, ya?" Lee menghampiri Erlangga yang masih di make up oleh ahli dalam me-make over wajah yang penuh terluka.
"Beres!" ucap Mince yang menjadi penghias wajah artis kepercayaan Rio.
Grael pun terkagum melihat hasil make up Mince yang begitu sempurna, ini pertama kalinya dia melihat artis idolanya yang dulu dia kagumi melakukan syuting film secara real.
__ADS_1
"Kenapa lihatinnya gitu? Serem ya?" tanya Erlangga.
"Ah ... ehmmm, nggak kok! Keren!" Grael tersadar dari rasa kagumnya yang terus melihat ke arah penampilan Erlangga yang perfect dari atas sampai bawah.
Suara sutradara pun terdengar ketika memanggil nama Erlangga, dia pun menyuruh sang istri duduk manis melihatnya melakukan adegan yang menguji adrenalin, walaupun dia pernah ditemani oleh Grael. Namun, rasanya kali ini berbeda, Erlangga tampak semangat menjalaninya.
"Ok, siap ... rolling and action!" teriak sutradara dari kejauhan.
"Wow!" Grael begitu semangat melihat adegan sang suami yang bertarung melawan musuh-musuhnya.
Rio yang duduk di samping Grael pun terpukau melihat ekspresi dari istri Erlangga, dia pun mencoba membuka suaranya, "Bagaimana perasaan kamu setelah menikah dengan artis seperti Erlangga?"
Grael melirik ke arah Rio dan perbincangan mereka pun terus berlanjut sampai seorang wanita dengan penampilan seksi baru saja tiba dan menghampiri sutradara. Di saat Grael masih fokus melihat seorang wanita yang seakan pernah dia temui, dari arah jauh Erlangga memberikan kode pada Rio agar membawa masuk Grael ke villa.
Raut wajah Rio yang membaca gerakan mulut Erlangga dan mengartikan gerakan tubuh Artisnya itu seperti orang yang linglung. Dia pun melihat Erlangga dengan emosi menggerakan bahasa isyarat yang baru saja Rio sadari, dia pun berkata, "Ok!"
Erlangga hanya menepuk jidatnya ketika mengetahui bahwa managernya itu sangat bodoh, sedangkan Rio berusaha untuk membujuk Grael untuk kembali ke villa dengan alasan harus menjaga kondisi Grael yang baru saja pulih.
Bujukan Rio membuahkan hasil, Grael pun mau kembali ke villa. Akan tetapi, setelah dia sudah sampai di kamar, Grael teringat bahwa ponselnya tertinggal di saku jaket milik Erlangga yang berada di lokasi syuting, karena jarak villa dan lokasi syuting hanya memerlukan beberapa langkah.
Di saat Grael ingin mendekat ke arah Rio yang duduk di tempat yang sama, matanya langsung menyaksikan adegan panas Erlangga dengan lawan jenisnya yang baru saja dia lihat sebelum balik ke dalam villa.
Grael menelan saliva-nya, kakinya gemetar untuk melangkah kembali menuju ponsel yang sudah ada di depan matanya. Hatinya terasa sakit, sangat sakit ketika melihat bagaimana Erlangga mencium bibir wanita itu dengan buas dan mengingat ketika dia mencoba menciumnya. Namun, Erlangga selalu menghindarinya.
__ADS_1
Grael terus menguatkan hatinya, bahwa Erlangga hanya menjalankan profesinya sebagai artis yang profesional. Akan tetapi, tetap saja hatinya sakit melihat percumbuuan mereka di depan mata, sekarang Grael tahu kenapa Rio memaksanya untuk kembali lebih awal ke villa.
To be continued..