Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
180. Rumah NY


__ADS_3

"Ini kamar Tuan dan Nyonya!" ucap wanita itu.


"Terima kasih, Evelyn!" Erlangga tersenyum manis ke arah Evelyn seraya menutup pintu usai wanita ditafsir oleh Erlangga sekitar 40 tahun itu keluar dari kamar mereka.


Erlangga langsung menarik sang istri ke dalam pelukannya ketika Grael melihat seisi kamar tersebut yang terasa asing tapi entah mengapa dia memiliki perasaan yang nyaman, tangan kekarnya melingkar ke arah pinggang ramping tersebut dan menaruh dagu di atas pundak Grael.


"Apa kau menyukai kamar ini?" tanya Erlangga.


Grael melirik ke arah sang suami dia mengusap lembut dagu yang berbulu tipis tersebut lalu mengangguk seraya senang. Dia pun mengecup bibir suaminya dengan mesra.


***


Hari terus berganti, kini pernikahan Rangga dan juga Emira tinggal dua hari lagi. Rangga yang tidak sabar ingin cepat bertemu dengan sang pujaan hati harus menahan rindu saat tiba harinya, dia pun fokus menyibukkan diri bekerja di perusahaan grup Jaya yang berada di cabang D agar teralihkan dengan rasa rindunya.


Rangga yang hanya lulusan SMA harus bekerja dua kali lipat untuk menjadi pemimpin perusahaan grup tersebut dengan membagi waktunya kuliah di salah satu universitas ternama di ibu kota.


"Permisi, Tuan! Ada Nona Bella yang ingin bertemu!" ucap sekertaris yang bernama Ferdi.


"Bella? Untuk apa dia ke sini?" batin Rangga, dia menyuruh Ferdi untuk mengusir Bella dan tidak tidak ingin diganggu.


Akan tetapi, Bella langsung masuk begitu saja mendobrak pintu ruang Rangga dengan balutan busana yang sangat mini seksi. Rangga melihat wanita itu berjalan menghampirinya.


"Mau apa kau ke sini? Keluar!" Perintah Rangga tanpa melihat ke arah Bella.


Bella pun memasang raut wajah sedihnya dia menaruh bingkisan dari sang ayah tiri ke atas meja kerja Rangga, sandiwaranya pun mulai beraksi ketika Rangga masih terus mengacuhkannya.


"Rangga kenapa sih sikap kamu seperti ini, salah aku apa?" Tanya Bella dengan perasaan yang sedih.


"Sudah nggak usah pura-pura! Gua tahu siapa lo, lo boleh bohongin semuanya termasuk calon istri gua!" ucap Rangga dengan ketus.


"Aku bener-bener nggak ngerti sama kamu! Aku ke sini cuman nganterin ini dari Papa!" Bila memasang wajah teraniayanya.

__ADS_1


"Ck! Udah selesai kan nganterinnya? Keluar!" Bentak Rangga kepada Bella saat wanita itu masih saja terus berdiri.


Bella menangis di hadapan Rangga, dia mulai mengangkat telepon yang berdering sejak tadi di depan Rangga lantas mulai berbicara kepada Jo Mahendra, biar dia sudah memberikan tugas dengan baik.


Rangga pun mendengar bila Jo ingin berbicara dengannya, perasaan semakin kesal dengan sikap sandiwara Bella saat menelpon ayah tirinya. Telinganya terdengar jelas ketika Jo menyuruhnya untuk makan siang bersama dengan Bella.


Tangga yang tidak bisa berbuat apa-apa menerima ajakan cuma Hendra untuk makan siang bersama dengan Bella, terpaksa Rangga pun mengajak Bella ke sebuah restoran yang tidak terlalu elit karena bagi dia Bella hanya mencari alasan agar bisa makan siang bersama dengannya.


Sesampainya di sebuah restoran tanpa menunggu Bella, kakinya masuk begitu saja melangkah ke dalam sebuah restoran yang ternyata sangat penuh dengan keramaian orang, dia mengajak Bella tapi seakan-akan tidak menganggap wanita itu ikut bersamanya.


"Silahkan di nikmati!" ucap pelayan yang menaruh makanan di atas meja Rangga dan Bella.


"Terima kasih ya Mbak!" Sahut bela dengan ramah.


Rangga langsung makan makanan yang ada di hadapannya tanpa menunggu Bella, dia benar-benar menganggap bila bela tidak ada di hadapannya. Hingga membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Thanks ya udah ngajak gua makan!" Ucap Bella, tapi Rangga justru malah asik mengunyah makanannya tanpa menjawab ucapan bela.


"Nggah, gue lagi ngomong sama lo!" Bentak Bella dengan kesal.


"Gue lagi makan! Emang lu nggak punya adab kalau makan itu dilarang ngomong!" Rangga masih asik dengan makanan yang ada di hadapannya.


Bella hanya terdiam dengan memendam rasa kesal yang tumbuh dari hatinya, susah payah dia bisa berada di posisi titik tersebut dia tidak mau mengulangi kesalahannya lagi untuk kedua kalinya.


Rangga makan dengan jurus secepat kilat, dia tidak mau berlama-lama satu meja dengan Bella. Dia pun memanggil pelayan untuk menghitung total jumlah pembeliannya yang menghabiskan seharga tiba ratus ribu.


"Rangga tapi aku masih belum makan beremua?" Bila benar-benar kesal dengan sikap Rangga yang begitu cuek, dingin dan kasar.


"Habiskanlah, aku sudah selesai! Aku pergi duluan, harus bertemu dengan klien penting dari luar negeri, selamat menikmati makan siang Nona Veby!" Rangga memajukan sedikit wajahnya saat menekan nama Veby ke arah sang pemilik nama.


Wanita dengan rambut pirang pendek tersebut marah, ingin sekali dia melampiaskan rasa emosinya kepada Rangga. Akan tetapi, dia teringat bila saat ini dia berada di tempat umum. Sehingga Rangga pun bisa bernapas lega ketika wanita itu sudah menggeser posisnya dan membiarakan pria itu untuk pergi.

__ADS_1


***


Sementara di kampus baru Grael, dia menikmati masa-masa orientasi siswa di mana dia mendapatkan tugas dari para senior untuk mencari nama yang sekiranya mirip dengan namanya. Namun, Grael yang tidak mengetahui siapa nama-nama senior yang ada di kampus tersebut hanya bisa menerima hukuman ketika tubuhnya disiram oleh air.


Grael juga mendapatkan hukuman dengan cara bernyanyi di depan seluruh calon mahasiswa di universitas tersebut, lagu yang dibawakan oleh Grael cukup merdu sehingga dia dibebaskan oleh para senior saat itu juga.


"Kamu yang bernama Grael Arabella?" tanya salah satu senior yang mendekat ke arah Grael.


"Iya, kenapa kak?" tanya Grael.


"Ganti dulu bajunya! Kan basah akibat terkena hukuman." Senior tersebut memberikan baju kepada Grael sebagai baju salin.


"Ini lagi gak prank kan kak?" Grael ragu, dia takut bila senior nya itu mengerjainya. Namun, nyatanya tidak.


"Kalau kamu tidak mau, ya sudah!" ucap Senior itu yang ingin melangkah pergi.


"Eh, tunggu dulu kak! Saya mau kok!" Grael menahan tangan sang senior agar tidak membawa baju salin itu.


Grael tersenyum seraya mengucapkan terima kasih, dia bergegas masuk ke dalam toilet wanita dan segera mengganti bajunya yang basah akibat hukuman yang di berikan oleh para seniornya.


Setelah mengganti pakaian, Grael langsung membuka pintu kamar mandi tersebut tetapi dia kesulitan untuk membukanya. Rasa panik mencuat ke dalam hatinya, begitu khawatir dan ketakutan saat dia tidak bisa membuka pintunya.


Tangannya terus menggedor-gedor pintu tersebut berharap ada seseorang yang mendengarnya sehingga dia bisa keluar dari toilet tersebut yang ternyata adalah toilet rusak.


Senior yang memberikan baju salin pada Grael tersenyum jahat ketika rencananya berhasil mengurung anak baru di dalam toilet.


"Tolong! Apakah ada orang di luar? Saya terjebak di sini!" teriak Grael yang sama sekali tidak kedengeran dari luar.


Grael terus berteriak seraya meminta tolong, meskipun dia menggunakan bahasa asing yang dipakai oleh di negara tersebut tetapi dia masih bisa menyesuaikan logat pada kota tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2