
"El ... Lo, beneran nggak apa-apa kan? Hubungan lo sama Rangga, baik-baik aja kan?" tanya Ernata, saat mereka berdua sedang menikmati makan siang di kantin.
"Gue ... gue, sama dia—"
"Hai, Ay!" Rangga langsung menaruh nampan nasi ke atas meja lantas dia pun duduk di samping Grael.
Grael hanya tersenyum mengambang saat Rangga masih memanggilnya seperti dulu, berbeda dengan Ernata dia melihat ada yang aneh di hubungan mereka.
"Wooi ... babang Irfan Come back!" Irfan langsung duduk di depan Grael, begitu juga dengan Anjas.
"Ahh ... biang rusuh!" celetuk Ernata.
"Ah, El ... leher lo, kenapa?" tanya Anjas dengan polos.
"Aaakkkhh ... Anjas! Lo bikin gue patah hati!" baru saja Irfan mau memasukan nasi yang berada di sendok ke dalam mulut, lantas menaruhnya kembali ke atas piring.
"Oh, ini ... ini tuh—"
"Ay ... jangan dijelasin ke mereka, aku yakin mereka pasti paham!" Rangga mencoba melindungi identitas Grael dengan merapihkan kerah seragam Grael, seakan itu perbuatannya.
"Wah, wah, wah ... kan, anjriet Lo semua ... nggak mikirin perasaan gue! Walaupun gue udah ikhlasin El buat Lo! Tapi gue masih cemburu, nih ... sue Lo, Ngga!" kesal Irfan yang mengigit beef steak dengan emosi.
Ernata dan Anjas hanya tertawa dengan sikap Irfan yang seperti anak kecil, Anjas menyuruh sahabatnya itu agar bersabar dan segera move on dari Grael. Ucapan Anjas membuat Rangga terasa tertampar, karena sebenarnya Grael sudah bukan miliknya lagi tetapi milik kakak tirinya.
"Ngga? Lo, kenapa?" Ernata melihat ada buliran air mata yang keluar dari sudut mata Rangga.
Rangga menghapus dengan cepat, dia tertawa menutupi perasaanya, bahwa semuanya hanyalah sandiwara semata untuk menutupi pernikahan Erlangga agar tidak terbongkar sebelum Erlangga sendiri yang mengumumkan setelah Grael lulus sekolah, walaupun begitu, Rangga justru menikmatinya sebagai pacar bohongannya.
"Dia tuh sedih, karena pernikahannya di undur, bener kan?" timpal Irfan dengan spontan yang masih fokus makan tanpa melihat ke arah teman-temannya.
__ADS_1
"Sialan, Lo!" maki Rangga yang tertawa.
Mereka berlima tertawa dan tetap hangat walaupun tidak ada Veby di dekat mereka, itulah yang menjadi semakin Veby tambah membenci Grael.
...----------------...
Bel pulang sekolah pun berbunyi lebih awal dari biasanya, karena hari pertama sekolah masih belum stabil dalam memulai mata pelajaran. Grael ingin memberitahu sang suami bahwa hari ini dia akan pulang lebih awal, tetapi karena dia belum memiliki ponsel, akhirnya hanya bisa ikut pulang bersama dengan Rangga.
"Ngga, boleh aku tanya?" Grael mulai membuka suara ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Aku ngantuk, tanyanya nanti aja!" Rangga memasang headphone lantas memejamkan matanya.
"Ngga, aku serius!" Grael membuka headphone pada telinga Rangga.
Rangga pun membuka matanya lalu menangkap tangan Grael seraya menatapnya dengan tajam, dia sengaja tidak ingin berbicara kepada Grael untuk menghindari dirinya yang takut akan lepas kontrol bila selalu berada di dekat wanita pujaannya.
"Ngga, kenapa kamu berbohong sama mereka?" tanya Grael yang membalas tatapan mata Rangga.
"Ya, soal kita! Hubungan kita! Aku nggak mau terus-menerus bohong sama mereka, apalagi Veby. Aku takut dia salah paham!" Grael ingin melepas tangannya tapi Rangga mencengkeramnya dengan kuat.
"Jadi kamu senang kalau kenyataannya kita pisah? Iya?" Rangga menatap mata Grael dengan rasa kecewa.
Helaan napas kasar pun Grael keluarkan, dia terdiam sejenak tidak tahu harus mau bicara apa untuk menjawab pertanyaan Rangga. Hatinya memang tidak ingin berpisah dengan Rangga, tetapi takdir sudah menentukan jalan mereka masing-masing.
"Kenapa, nggak jawab? Apa selama ini benar, saat kita masih pacaran, kamu sudah suka kan? Sama, Kak Erlangga? Jadi kamu hanya menyudut kesalahan sama aku, agar hubungan kita berakhir? Iya kan?" Rangga masih menggenggam tangannya dengan kuat dengan intonasi suara yang begitu dingin.
Degup jantung Grael terasa perih ketika mendengar ucapan Rangga, bagaimana bisa pria yang menjadi cinta pertamanya berbicara seperti itu dan menuduhnya dengan mudah?
"Kenapa diam? Jawab!" bentak Rangga.
__ADS_1
"Kalau kamu berfikiran seperti itu ke aku, terserah!" bentak Grael yang mengeluarkan air matanya karena kesal dengan ucapan Rangga, sehingga dia mengigit tangan itu kuat-kuat agar Rangga mau melepaskan genggamannya.
Tidak seperti yang Grael bayangkan, ternyata Rangga menahan gigitan itu seraya menatapnya dengan buliran air bening yang keluar dari sudut matanya.
"Lepasin!" pinta Grael yang semakin sedih, karena dia sendiri tidak menginginkan perpisaan itu terjadi. Hatinya sangatlah mencintai Rangga karena pria itu yang menjadi cinta pertama Grael, karena sampai kapanpun akan sulit melepas cinta pertamanya, apalagi melepasnya untuk sahabatnya sendiri.
Rangga membiarkan Grael menggigitnya sesuka hati, jika itu membuatnya lega mengeluarkan segala kekesalan yang ada di hati, betapa cintanya Rangga terhadap wanita yang begitu sempurna seperti Grael, hatinya masih belum rela melepaskannya walapun lidahnya berucap sudah mengikhlaskan sang wanita dengan kakak tirinya.
"Jelasin ke aku, kenapa kamu bisa menerima pernikahan dengan dia? Tanpa seijin aku! Pernah kamu membayangkan bagaimana perasaan aku? Saat aku bersabar menunggu kamu untuk mau bertemu dengan aku, tapi nyatanya ... kamu malah menerima lamaran dia!" ujar Rangga.
"Kenapa, aku harus ijin ke kamu? Pernah, kamu bayangin perasaan aku saat kamu mencium Veby? Apakah kamu minta izin dulu, sebelum mencium sahabat aku sendiri? Hah!" cecar Grael yang membalikan pertanyaan kepada Rangga, usai melepas gigitanya sembari menangis.
Semua yang diucapkan oleh Grael memang benar, tapi tidak sepenuhnya dia salah, Rangga mencoba menjelaskan kepada Grael dengan sangat perinci kenapa dia bisa mencium Veby, dia juga jujur bahwa saat mencium Veby, Rangga hanya bisa membayangkan bahwa orang yang dia cium adalah Grael.
Namun, biar bagaimanapun juga. Grael sudah memilih Erlangga untuk menjadi suaminya, dan hubungan dia dengan Rangga sudah berakhir. Grael meminta maaf kepada Rangga tentang semua yang sudah terjadi, karena membuat Rangga kecewa, sudah menerima lamaran Erlangga.
"Sudahlah, Ngga ... apapun itu, tidak akan membalikan semua yang sudah berlalu, aku mau kita berdua berdamai dengan masa lalu dan menerima jalan masing-masing. Aku tidak mau menjadi musuh kamu, belajarlah mencintai Veby, aku tahu dia sangat mencintai ka—"
"El ... stop! Aku tidak mau mendengarnya!" pinta Rangga, karen adia sangat muak dengan Veby.
"Tapi aku tidak mau menjadi orang asing bagi kamu!" isak Grael dengan piluh
"Ok! Aku terima keputusan kamu, tapi tolong! Jangan paksa aku untuk mencintai siapapun kecuali, kamu! Biar itu urusan aku!" bentak Rangga yang tidak mau mendengar atau mengenal nama Veby, bagi Rangga wanita itu adalah penyebab semua dongeng yang ingin Rangga bangun hancur berkeping-keping.
"Ok, satu lagi ... aku tidak mau, berbohong pada Ernata, kalau untuk yang lain aku tidak perduli," Grael menghapus air matanya.
"Iya ... puas!" bentak Rangga.
"Kenapa galak banget, sih? Kan, bisa nggak pake bentak!" Grael tambah menangis di depan Rangga.
__ADS_1
Rangga mengambil napas panjangnya lalu dia hembuskan dengan kasar. "Iya, kakak ipar yang cengeng!"
To be continued...