Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
198. Rangga tidak pulang


__ADS_3

Keesokkan harinya, Emira membuka matanya perlahan mengumpulkan kesadaran, ternyata dia ketiduran di ruang tamu saat menunggu Rangga pulang. Matanya melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 08.00 pagi, tetapi tidak ada satupun tanda-tanda bahwa sang suami berada di rumah.


Emira menghela nafasnya secara perlahan, ketika dia menyadari bahwa pernikahannya yang berjalan dengan mulus ternyata hanya angan semata. Tidak sesuai dengan harapan yang dia inginkan, karena sejak pernikahannya sampai detik ini dia sama sekali belum punya merasakan waktu bersama sang suami.


Hari libur pun Rangga selalu menyibukkan waktunya di rumah untuk bekerja, bahkan sekarang justru lebih parah. Rangga benar-benar tidak pulang tadi malam bahkan nomor ponselnya pun tidak bisa dihubungi sampai detik ini.


Emira meneteskan air mata, ingin rasanya dia mengajukan protes. Namun, untuk berbicara pun rasanya keluh diutarakan. Wanita berambut pirang itu pun ingin sekali bermanja dengan Rangga merasakan nikmatnya momen pengantin baru, walau hanya sekedar menikmati waktu bersama di rumah.


Angan-angan yang bermimpi untuk bisa pergi bulan madu, sangat jauh atau bisa dikategorikan sangat mustahil. Emira hanya tersenyum membayangkan ucapan Rangga yang menanyakan pada dirinya untuk kemana mereka akan pergi bulan madu? Tapi itu hanyalah buaian semata.


"Oh, come on ... Emira! Stay positive, oke!" ucap Emira pada dirinya sendiri ketika dia malui membereskan piring kotor yang cuma satu dan itu pun bekas dia makan sendiri tadi malam sembari menunggu Rangga pulang.


Setelah itu, Emira pun bergegas mandi untuk berangkat ke sekolah. Tidak membutuhkan waktu yang lama. Dia pun sudah tampil cantik meski raut wajahnya terlihat murung, karena terpaksa hari ini dia harus pergi ke sekolah tanpa sang suami yang mengantarnya.


Kaki putih mulus itu terus melangkah hingga sampai di dalam pintu lift, tangannya memencet tombol agar pintu lift segera tertutup. Namun, sebelum pintu lift itu tertutup seseorang sudah mencegahnya lebih dulu, Emira mendongak ke atas saat pandangannya menunduk ke bawah. Dia melihat seseorang yang dia kenal ikut masuk ke dalam lift bersamanya.


Emira ingin menyapanya tetapi dia urungkan, karena tahu bila orang tersebut adalah kakak kelas yang paling sombong sedunia. Sehingga hanya keheningan dalam ruangan lift tersebut, lelaki itu sibuk dengan ponsel sejak masuk sedari tadi sedangkan Emira juga tidak memperdulikan hal itu.


Tiba-tiba saja, kakak kelas yang cocok sebagai pria sombong membuka suaranya. "Kelas dua IPA ya?"


"Eehhm," jawab Emira dengan bad mood karena memang dia sedang malas bicara ditambah ketika dia tahu yang ngajak bicaranya itu adalah orang yang sombong.


"Jangan sampai ketahuan guru sama anak-anak yang lain, Kalau tidak mau dibully satu sekolahan!" Usai berbicara seperti itu pria itu pun langsung keluar begitu pintu lift terbuka.


Lelaki itu Meninggalkan Emira yang tercengang di dalam lift, tidak percaya atas apa yang kakak kelasnya ucapkan pada dirinya, seakan menunjukkan kalau lelaki itu menganggap dia adalah wanita panggilan.


"Ya Tuhan, eh ... tunggu!" Emira langsung mengejar lelaki sombong tersebut. "Tunggu dulu!"

__ADS_1


Merasa harga dirinya terinjak-injak Emira tidak bisa diam saja diperlakukan seperti itu, dia berusaha mengejar pria berbadan tinggi yang bernama Bima untuk menjelaskan bahwa dirinya tidak seperti apa yang dikatakan oleh kakak kelasnya tersebut.


"Eh, denger ya! Gua bukan cewek yang Lo kira!" Ucap Emira yang berhasil mengimbangi langkah kaki Bima, tetapi sayangnya pria itu justru memasang headset di telinga agar tidak mendengar ocehannya. "Iihh, anjriet!"


Emira berani melepaskan headset milik Bima dari telinga pria itu begitu saja, dia begitu kesal saat ucapannya tidak digubrisnya. Sehingga langkah mereka pun berhenti di tengah-tengah lobi dan Sling bersitatap muka.


"Lo denger kan apa kata gua?" Emira memasang wajah sinisnya menatap ke arah Bima.


"Lo tenang aja, rahasia Lo aman ama gua!" Bima langsung meninggalkan Emira begitu saja sembari memasang headsetnya kembali.


Emira membuka mulutnya lebar-lebar ketika kakak kelasnya itu masih tetap dengan pendiriannya, dia pun segera menyusul Bima tetapi langkahnya berhenti ketika melihat Rangga turun dari mobil bersama dengan seorang wanita.


Tangan Emira mencengkram kuat mengepalkan tangannya, ingin melabrak suaminya saat itu juga, tetapi Bima sudah lebih dulu menariknya dengan kencang untuk masuk ke dalam mobil kakak kelasnya.


"Udah, jangan buat masalah! Sadar diri kalau di posisi pacar gelap! Mending berangkat sekolah dari pada terlambat!" ucap Bima ketika memasang seatbelt. "Pasang sabuk pemangannya sendiri, punya tangan kan?"


Akan tetapi, Emira tidak bisa menahan segala rasa sedihnya, dia pun menangis sejadi-jadinya saat di dalam mobil Bima, tidak peduli dengan pria yang ada di sampingnya. Dia mengeluarkan kegundahan di dalam hatinya dengan menjerit menimbulkan suara lengkingan di telinga Bima.


"Eh, Lo gila ya? Bisa diem kaga? Nangis-nangis aja, gak usah teriak! Masih untung gua tawarin masuk ke dalam mobil!" bentak Bima yang langsung menghentikan mobilnya.


"Iya, maaf!" ucap Emira yang mengambil tisu dari atas dashboard.


Bima pun kembali menjalankan mobilnya, selama perjalanan ponselnya pun berdering, tertera nama Fani—kakak kelas Emira yang menjadi kekasih Bima. Lebih tepatnya hanya cinta sepihak karena Bima sama sekali tidak menyukai Fani.


"Angkat aja! Aku akan diem kok," ucap Emira yang masih menangis.


"Nggak penting!" Bima justru malah mematikan panggilan tersebut.

__ADS_1


"Kakak lagi berantem yang sama pacar Kakak?" Tanya Emira yang membersihkan hidungnya dari air yang berlendir.


"Jangan sok tahu!" Jawab Bima dengan ketus.


"Ya buktinya telepon dari Kak Fani nggak diangkat, apa karena ada aku?" Tanya Emira lagi yang penasaran.


"Udah nangis-nangis aja, nggak usah ikut campur urusan orang!" Bima justru mengambil tisu lalu mengelap air mata Emira dengan kasar saat dia menghentikan mobil di lampu merah.


Deg, Emira langsung tercengang ketika Bima mengusap air matanya. Bagi seorang mungkin hal tersebut biasa saja, tapi bagi kalangan seorang wanita ketika dia menangis karena lelaki yang dicintai lalu air matanya diusap oleh pria lain itu sangat memiliki arti tersendiri.


"Dah gak usah cengok!" Bima langsung memasukkan tisu bekas mengusap air mata Emira ke dalam mulut wanita itu yang tengah terkejut.


"Iiih, Kak Bima!" Emira mengeluarkan tisu dari dalam mulutnya lalu memukul tangan Kakak kelasnya tersebut.


Bima pun tertawa ketika dia berhasil menjauhi adik kelasnya, saat itu juga seorang pengamen pun berdiri di samping kaca mobil sembari bernyanyi. Emira yang melihatnya hanya diam saja tetapi berbeda dengan Bima, dia langsung membuka pintu kaca mobil yang berada di samping Emira lalu memberikannya selembar uang berwarna merah.


"Terima kasih, Kak! Semoga Kakak dan pacar Kakak langeng dan diberikan selamat sampai tujuan!" ucap anak kecil itu yang mengamen.


"Aamiin," jawab serempak antara Emira dan juga Bima.


"Eh, tunggu, tunggu, tunggu! Tadi... yang tadi itu ... dia bilang apa?" tanya Emira yang mencerna ucapan anak kecil itu.


"Apa? Yang tadi apa? Salah denger kali kamu!" ucap Bima yang kembali menjalankan laju mobil ketika lampu merah sudah berganti dengan warna hijau.


"Apa iya, iya?" ucap Emira dalam hatinya.


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2