Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
53. Pertemuan Erlangga dengan Rangga


__ADS_3

Hiruk pikuk di area halaman rumah sakit tempat di mana Grael sedang mendapatkan penanganan di ruang UGD. Sebagian para medis sibuk menangani para pasien yang begitu mulai berdatangan masuk ke ruang Unit Gawat Darurat tersebut.


Ketahuilah, kata keramat yang sangat dilarang oleh siapapun saat berada di ruang UGD adalah kata sepi, karena itu sangat pantangan bagi para medis untuk mengucap kata Kramat ketika bertugas di ruang Unit Gawat Darurat.


Di tengah-tengah kesibukan para medis yang menangani para pasien masuk ke ruang UGD. Rangga berlari tergesa-gesa dan mencari Carly, begitu melihat keberadaan kepala maid itu dia langsung menghampirinya.


"Di mana Papi?" tanya Rangga dengan raut wajah yang panik.


Arah pandang Rangga mengikuti arahan dari Carly, dia membuka pintu rawat Unit Gawat Darurat dan melihat sang ayah sedang berbicara pada dokter Raditya yang menangani Grael bersama Nadin.


Perlahan Rangga melangkah mendekati Josua, dugaan dia salah ketika Carly memberitahu Josua berada rumah sakit ternyata bukan ayahnya yang sakit. Pandangan matanya tertuju pada tempat tidur pasien tepat di samping Josua sedang berbincang dengan sang dokter.


Air matanya menetes tak kala melihat wanita yang dia cintai terbaring lemah dengan berbagai selang di tubuhnya. Suara denyutan patient monitor begitu nyaring di telinga Rangga saat melihat pergerakan jantung Grael.


Tubuh kurus pria remaja itu gemetar saat melihat wajah wanita yang dia cintai begitu pucat dengan alat bantu pernapasan. Langkah kakinya semakin mendekat ke arah Grael seraya meneteskan air mata.


"Pih!" panggil Rangga kepada ayahnya.


"Rangga? Ka–kamu bisa di sini? Mami mana?" tanya Josua yang kaget melihat Rangga berada di hadapannya.


Dokter Raditya langsung menyentuh bahu Josua seraya berkata, "Ok, saya permisi dulu!"


"Ah, terima kasih, Dok!" Josua senang akhirnya permintaanya tentang pemindahan Grael ke ruang VVVIP disetujui oleh pihak rumah sakit tetapi masih harus sesuai dengan prosedur rumah sakit.


"Pih, jelasin ke Rangga, kena—"


"Kita bicara di luar!" Josua mengajak Rangga untuk bicara di luar ruangan UGD, dia menjelaskan kejadian yang menimpa Grael. Josua pun sudah menyuruh Carly untuk mencari pelaku yang sudah mencelakai Grael.

__ADS_1


Rangga pun terpuruk mendengar cerita yang dilontarkan oleh Josua, hatinya sesak saat wanita yang dia cintai ternyata benar-benar menjadi istri kakaknya, ditambah kejadian yang menimpa wanita itu yang sampai sekarang belum sadarkan diri.


"Kak Erlangga di mana? Apa dia tahu?" tanya Rangga.


"Dia masih perjalanan pulang," jawab Josua.


"Pih, Rangga ingin melihat Grael, bolehkan?" pinta Rangga saat mengetahui bahwa kakaknya belum tiba.


Josua pun memperbolehkan Rangga untuk menemui Grael, saat para pihak medis sudah memindahkan Grael ke ruang rawat. Josua pun mengingatkan Rangga agar tidak lepas kontrol saat menemui istri dari kakaknya.


"Papi tahu, kamu bisa mengiklaskan Grael untuk kakakmu, jadi berdoalah agar dia bisa segera sadar." Josua menepuk pundak Rangga saat mereka sudah berada di depan ruang rawat inap pasien.


Josua pun membuka pintu kamar Grael saat ruangannya sudah dipindahkan lantas menyuruh Rangga untuk masuk menemui Grael. Langkah kaki Rangga perlahan mendekat ke arah wanita itu yang masih belum sadarkan diri, dia duduk dan mengambil tangan Grael lalu menciumnya dengan lembut sembari meneteskan air mata.


Rindu yang begitu menggebu sudah dia tumpahkan hari ini, ketika tanganya bisa kembali mencium tangan wanita yang sangat dia cintai. Tangisannya pecah saat dia harus menyadarinya bahwa status mereka bukanlah sepasang kekasih, melainkan ipar.


"Ay, bangun ... ini aku, Rangga! Maaf, maafkan aku yang telat datang dan tidak menolongmu, di saat kamu butuhkan!" Rangga kembali terisak saat membayangkan wanita yang dia cintai ketakutan di dalam air.


"Ay ... aku mohon bangun! Aku nggak kuat lihat kamu seperti ini, please bangun sayang ... aku akan merestui pernikahan kamu, aku akan mengikhlaskan kamu sama—"


Hati Rangga benar-benar sakit bila dia harus mau tidak mau mengikhlaskan wanita yang dia cintai bersama kakak tirinya, tetapi hatinya lebih sakit melihat wanita yang dia cintai terbaring tidak sadarkan diri di hadapannya.


"Aku sudah ikhlasin kamu sama Kak Erlangga ... jadi aku mohon, bangunlah! Aku tidak sabar ingin masuk sekolah bareng sama kamu, merasakan menjadi saudara ipar, kamu!" Rangga tertawa mendengar ucapannya sendiri ketika hatinya masih sedih.


"Please ... bangun, El!" Rangga bangun dari duduknya dan mencium kening Grael secara lembut seraya memejamkan matanya yang meneteskan air mata, kemudian mencium bibir Grael saat ingin merasakan terakhir kalinya mencium wanita yang dia cintai.


Di balik pintu kamar rawat inap Grael, Erlangga yang baru saja tiba langsung meneteskan air matanya saat mendengar ucapan sang adik, ditambah saat kedua matanya melihat bagaimana Rangga mencium bibir istrinya. Tangannya mengepal begitu kuat ingin mendobrak pintu itu lalu menarik tubuh Rangga agar menjauh dari istrinya. Namun, kali ini dia bersabar karena merasa iba melihat Rangga yang menjadi kurus.

__ADS_1


"Ngga ... Papi pinta, maafkan adikmu! Papi akan mastikan itu tidak akan terjadi lagi," ujar sang ayah yang menepuk punggung Erlangga.


Rahang Erlangga mengeras seraya mengeratkan giginya menahan amarah yang selalu Josua lontarkan, dia menepis tangan sang ayah yang berada di bahunya dengan kasar.


"Akan aku pastikan anak tersayangmu menerima pukulan dari tanganku sendiri! Ingat baik-baik Pak Tua ... namaku Er! Jadi kalau mau anakmu terbebas dari pukulanku, sebut namaku dengan benar!" Erlangga langsung masuk membuka pintu kamar saat Dokter Raditya juga masuk ke ruangan pasien bersamanya.


Rangga yang masih mengeluarkan air matanya sembari menggenggam tangan Grael, melihat ke arah sang dokter dan Erlangga. Dia pun mengusap air matanya lalu berdiri dari duduknya.


"Kak," sapa Rangga yang memaksa tersenyum ke arah Erlangga.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Erlangga yang menekan kata istri sekaligus mengabaikan Rangga dengan wajah yang dingin.


Raditya melepas stetoskop dari telinganya, lalu berdiri tegap menghadap Erlangga untuk menjelaskan kondisi Grael yang menunjukan perubahan semakin baik.


"Puji syukur, Tuhan!" ucap Rangga yang senang mendengarnya.


Erlangga pun melirik sinis ke arah Rangga, kemudian bertanya kepada dokter. "Kenapa istri saya belum sadar juga, Dok?"


"Sabar, Pak Erlangga! Nyonya Grael lagi di fase di mana dia membutuhkan dorongan kuat dari orang terkasihnya agar cepat sadar dan tau bahwa orang yang dicintainya membutuhkan dia!" Raditya menyentuh bahu Erlangga dan segera pamit dari ruangan itu.


Kata-kata Raditya membuat Erlangga ambigu dalam mengartikan setiap bait yang keluar, hatinya pun berkata, "Orang yang dicintainya membutuhkan dia?"


Mata Erlangga langsung menatap ke arah Rangga yang masih mematung berdiri di ruangan itu, dia pun mendekat ke arah Rangga dan membisikan kata, "Bisa kasih waktu saya dengan istri saya?"


Rangga pun tersenyum lalu menganggukan ucapan Erlangga, sebelum dia pergi pun Rangga menyempatkan melirik ke arah Grael lalu melangkah keluar dari ruang rawat inap.


"Rangga!" panggil Erlangga saat sang adik ingin membuka pintu. Rangga pun membalikan tubuhnya dan melihat ke arah sang kakak.

__ADS_1


"Jangan lupa tutup pintunya lagi!" perintah Erlangga yang masih menatap sinis ke arah sang adik.


To be continued...


__ADS_2