Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
34. Salah Paham


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan dari Veby, Rangga merasa iba. Rangga memang tipekal orang yang memiliki rasa empati begitu tinggi, karena disitulah letak rasa sayang tumbuh di hati Grael kepada Rangga.


Rangga pun mencarikan tempat tinggal untuk Veby beserta ibunya, walau sebelumnya Rangga membawa Veby pulang ke paviliun milik keluarganya untuk sekedar membersihkan tubuh Veby.


Begitu sampai di rumah yang disewa, Rangga membukakan pintu mobil untuk orang tua Veby, lalu membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan barang-barang milik Veby.


"Ayo, Bu. Masuk!" ajak Rangga yang membuka pintu rumah tersebut.


Memang terlihat sederhana, hanya rumah dengan dua kamar tidur, ruang tamu dan dapur. Namun, bagi sang ibu, itu sudah lebih cukup dari pada harus tidur di jalanan.


"Maaf, Bu! Rangga gak bisa bantu lebih, hanya ini yang bisa Rangga bantu. Mudah-mudahan Ibu dan Veby betah untuk sementara waktu." Rangga memperlihatkan kamar tidur dan menaruh barang-barang milik ibunya Veby.


"Gak apa-apa, Nak Rangga. Ini juga udah lebih dari cukup. Ibu sama Veby berhutang budi sama kamu," ucap Ibu Veby sembari menangis.


"Iya Bu, Ibu gak perlu merasa berhutang budi, karena Veby itu teman Rangga, jadi sewajarnya Rangga bantu." Rangga menggenggam tangan ibu—Veby.


"Beruntungnya Veby punya teman seperti kamu, semoga Tuhan membalas semua kebaikan kamu ya, Nak!" ucap orang tua Veby yang menyentuh wajah Rangga.


"Ya udah kalau gitu, Rangga pamit pulang dulu ya, Bu! Oh, iya ... Ibu sama Veby gak usah khawatir, rumah ini udah Rangga bayar selama enam bulan ke depan!" ucap Rangga yang berpamitan dan segera keluar dari kamar itu.


"Hati-hati di jalan ya, Nak! Salam buat orang tuamu di rumah," ucap Ibunya Veby. Rangga pun hanya mengangguk dan tersenyum.


Sebelum kaki Rangga keluar dari rumah tersebut, Veby menarik tangan Rangga. "Makasih ya!"


Rangga pun tersenyum ke arah Veby dan melihat air mata itu jatuh, lalu tiba-tiba saja Veby memeluk kekasih sahabatnya itu dengan erat. Rangga yang begitu terkejut mendapat serangan mendadak, hanya terdiam tanpa membalas pelukan dari Veby.


"Makasih, Ngga! Elu udah begitu baik sama gue, gue gak tahu harus apa kalau gak ada lo, Lo selalu ada di saat gue butuhin," rengek Veby di dalam pelukan Rangga.


Rangga pun mengembangkan senyumannya sembari membalas pelukan dari Veby dia pun berkata, "Sama-sama, kita kan teman. Jadi, sudah sepantasnya saling bantu di saat teman membutuhkan."


Perkataan Rangga sontak membuat Veby merasakan sakit, gadis itu berfikir bahwa Rangga selalu membantunya itu, karena Rangga juga menyukainya walaupun juga menyukai Grael.


"Te–te–teman?"

__ADS_1


"Ya, karena kamu teman Grael, dan otomatis teman aku juga," ucap Rangga dengan polos.


Veby melepaskan pelukannya, sebelum matanya melihat ke arah mobil Ernata yang berada tidak jauh dengan mobil Rangga. Dia tahu bahwa Grael pasti juga ada di dalam mobil Ernata, senyum jahatnya mulai berkembang di raut wajah Veby.


"Ya, teman ... terima kasih, Ngga!" Veby menarik baju seragam Rangga agar sang empu memeluknya lagi.


Tidak lupa juga Veby beralasan bahwa matanya terkena debu, sehingga dia meminta tolong, kepada Rangga agar mau meniupnya. Usia meniupnya Rangga pun pamit kepada Veby dan langsung masuk ke dalam mobil.


Veby melambaikan tanganya sembari tersenyum melihat kepergian Rangga begitu juga mobil Ernata yang langsung ikut pergi setelah menyaksikan adegan yang membuat Grael salah paham.


"Ck! Upik Abu ya tetap Upik Abu!" Veby melontarkan kata cibiran untuk Grael.


***


Grael yang mengetahui dan melihat langsung kejadian di depan matanya, meremas kuat-kuat tas yang ada pangkuannya. Dia terdiam tanpa menunjukan ekspresi marah, kecewa, dan sakit hati, hanya air mata yang bisa mewakili perasaanya saat ini terhadap Rangga dan juga Veby.


Berbeda dengan Ernata yang sudah terbakar oleh amarahnya melihat Rangga mencium Veby usai berpelukan, dia ingin keluar dan melabrak kedua sejoli yang tengah tertangkap selingkuh tapi dicegah lebih dulu oleh Grael.


"Anterin gue pulang!" ucap Grael dengan isak tangisnya.


"Gue gak habis pikir sama Lo, kalau gue ogah digituin!" Ernata masih terus mengomel.


"Nat, stop! Kalau emang mereka saling cinta, ya udah! Gue milih mundur, ngapain gue harus bertahan kalau Rangga sendiri milih Veby dari pada gue!" Grael mengeluarkan suaranya sebagai melampiaskan rasa sakit hatinya.


Grael menangis sejadi-jadinya dan melihat sahabatnya itu memberhentikan mobilnya dipinggir lalu membiarkan dia meluapkan emosinya, sembari dipeluk oleh Ernata.


"Ya sudah, kalau gitu gue anterin Lo pulang." Ernata mengelap air mata Grael dan kembali menjalankan mobilnya, usai perasaan Grael lebih tenang.


Namun, saat ingin menyalahkan mobilnya kembali, mobilnya tidak mau hidup. Terpaksa Ernata turun dan mengecek mesin mobilnya, dan ternyata benar, mobilnya mogok. Ernata pun menelepon montir untuk menjemput mobilnya.


"Kenapa, Nat?" tanya Grael.


"Sorry," ucap Ernata yang merasa tidak enak dengan Grael.

__ADS_1


Grael tertawa saat mengetahui mobil sahabatnya mogok, sungguh lengkap cobaan Grael pada hari ini. Ernata yang bingung dengan sikap Grael selalu menerima keadaan dengan ikhlas memeluknya dan ikut tertawa.


Hari pun semakin larut, tapi orang montir yang ditunggu oleh ke dua gadis itu tak kunjung datang, Ernata yang mencoba untuk mengeceknya kembali tapi apalah daya dengan pengetahuan yang minim dia pun memutuskan untuk memesan taksi tapi Grael melarangnya,


Grael hanya ingin lebih lama berada di luar, menikmati sejenak semilir angin yang mengembuskan rambutnya yang ikut menyapu rasa beban kecewanya.


"Mau Es krim?" tawar Ernata kepada Grael yang duduk di bagasi belakang mobil sembari melihat lampu jalanan mulai terang karena warna langit sudah berubah menjadi gelap.


"Boleh," ucap Grael.


Ernata pun segera membeli dua bungkus eskrim dan dua bungkus batagor di pinggir jalan, karena kebetulan terdapat pedagang kaki lima yang sedang berkeliling.


Mereka pun menikmati jajanan mereka di pinggir jalan sembari melihat kendaraan yang lalu lalang dengan cahaya lampu, sesekali mereka berdua melontarkan candaan sampai akhirnya sebuah lampu mobil berhenti tepat dihadapan mereka.


Mereka pun menutupi cahaya lampu dengan tangan mereka agar melihat siapa yang turun dari mobil mewah tersebut. Begitu mata mereka telah sesuai dengan cahaya lampu mobil, Grael bisa melihat jelas bahwa pria yang turun dari mobil mewah tersebut adalah Rio—manger Erlangga.


"Kak Rio?" tanya Grael.


"Hai, kenapa? Mogok?" tanya Rio yang ternya melihat ban mobil Ernata juga kempes.


"Siapa, El?" tanya Ernata yang tidak kenal dengan Rio.


"Di—"


"Ah, kenalin. Saya Rio." Rio mengulurkan tanganya dan di sambut oleh Ernata dengan tidak membalas uluran tangan Rio.


Ke dua gadis itu pun menceritakan mobil mereka, lalu mereka mendapat tawaran oleh Rio yang akan mengantar ke dua gadis remaja itu pulang, awalnya Grael menolak, tapi dengan cepat Rio memberi isyarat untuk menurut menerima tawaran Rio.


Terpaksa mereka berdua menerima tawaran dari Rio, dan pada saat Ernata duduk di depan sedangkan Grael di belakang. Ernata terkejut saat melihat Erlangga yang duduk di samping Grael.


"Astaga!" Ernata menutup mulutnya saat melihat ke arah belakang. Erlangga pun tersenyum sembari membungkukkan kepalanya begitu juga Ernata. Dia melirik sekilas ke arah Grael yang tersenyum kaku dan kemudian, mobil itu melaju.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2