
"Apa, apa?" Erlangga membuka kedua tangan sang istri agar melihat wajah manis itu yang tersipu malu.
"Ih ... nggak tahu, akh!" Grael membuang mukanya karena malu.
"Terus, kenapa istriku harus bertengkar dengan seorang maid?" tanya Erlangga menahan tawanya.
"Aku tahu, kalau dia yang menyuruh Rani untuk mendorong aku ke dalam kolam ikan! Karena itu, aku mau dia mendapatkan hukuman!" Grael memasang wajah masamnya.
"Aku sudah bilang, kamu jangan memikirkan siapa pelakunya! Biar itu urusan, aku! Apa kamu tidak percaya sama aku, sebagai suamimu?" tanya Erlangga, dia menarik dagu sang istri agar menatapnya.
Kedua mata mereka saling pandang memandang, di mana Grael melihat sorot mata sang suami seakan membuktikan bahwa Erlangga berkata jujur. Grael pun menaruh kepercayaan pada suaminya untuk mengurus Lydia.
"Aku percaya," ucap Grael seraya merangkul leher sang suami lalu mengecupnya.
"Apa malam pertama kita, kamu tulis?" tanya Erlangga penasaran dengan cerita dewasa yang dibuat oleh sang istri.
"Nggak!" Grael mencubit pinggang Erlangga.
"Yakin?" Erlangga mencium leher sang istri dengan lembut, membuat Grael memejamkan matanya seraya meremaas rambut Erlangga menikmati sentuhan lembut pada kulit lehernya.
"Yes!" ucap Grael dengan intonasi suara yang begitu seksi di telinga Erlangga.
Erlangga membuka baju Grael lalu melihat jelas gundukkan kenyal itu yang begitu menantang naik turun seraya mengikuti alur napas sang pemiliknya.
Senyuman manis pun Grael berikan pada suaminya, saat Erlangga menatapnya dengan penuh hasrat. Dessahan pertama itu keluar dari mulutnya, saat Erlangga menjillat pucuk pentiil yang berwarna merah muda itu dengan lembut secara perlahan.
Terkadang pula, sang suami mengerakan lidahnya dengan cepat, rasanya begitu geli dicampur nikmat membuat tubuhnya dengan refleks memberikan respon yang membuat Erlangga semakin terbakar gairah.
"Aahh!" errangan lembut keluar dari bibirnya saat Erlangga terus menghisap dadanya secara bergantian sembari meremassnya dengan kuat-kuat.
Remaasan yang diberikan Erlangga begitu bertenaga hingga Grael meringis kesakitan pada dadanya, suaminya terlalu napsu ketika sudah melahap dan menyentuhnya, saat itu juga Grael merasakan ada sesuatu yang mengalir dari bawah sana.
Grael langsung teringat pada tanggal yang selalu menjadi tanggal tamu bulanannya datang, dia mencoba menghentikan aksi Erlangga tapi sang suami justru membuka cellana tidurnya.
"Tunggu dulu, Kak!" cegah Grael, dia mendorong tubuh Erlangga dengan kuat lalu bangun dan berlari ke arah kamar mandi dengan tidak memakai benang sehelai pun di tubuhnya.
Erlangga tercengang atas tindakan sang istri yang berlari ke arah kamar mandi begitu saja, dia pun segera menyusul Grael dan mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan keadaan sang istri.
"Yank? Kamu, kenapa?" tanya Erlangga yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Suara ketukkan pintu dan pertanyaan dari sang suami, membuat Grael merasa bersalah. Dia pun membuka pintu kamar mandi dan hanya berani menampakan wajahnya saja.
"Kamu, kenapa? Sakit? Apa aku terlalu kencang, meremassnya? Menghisapnya?" cecar Erlangga dengan pertanyaan yang membuat Grael tambah malu.
"Ihh, bukan!" Grael memajukan bibirnya.
"Terus?" tanya Erlangga untuk memastikan ucapan Grael.
"Datang bulan," jawab Grael dengan sedih.
Sesaat Erlangga terdiam sejenak, sebelum dia mengetahui maksud dari istrinya, kemudian dia tersenyum sembari menarik tubuh Grael dalam pelukannya.
"Maaf," timpal Grael yang merasa bersalah.
"Kenapa minta maaf? Sudah, tidak apa-apa!" Erlangga mengelus rambut panjang sang istri.
"Bukan, itu!" ucap Grael yang merasa malu untuk mengungkapkan apa yang dia maksud.
Erlangga pun tidak mengerti maksud dari Grael sebelum sang istri membisikan kata-kata yang membuat Erlangga terpaksa keluar sendiri untuk membeli kebutuhan istrinya sekarang.
"Pakai baju dulu! Tunggu, sebentar!" Erlangga mencubit pipi sang istri lalu keluar dari kamar.
"Kak, mau kemana? Ikut, dong!" Rangga yang melihat Erlangga keluar dari kamar membawa helm, dia pun mengambil jaket dan helm lalu mengejar Erlangga.
"Lo, ngapain sih ... ikutin, gue mulu!" bentak Erlangga yang menengok ke belakang.
"Gue pengen deket sama, lo! Lo udah berhasil ngambil orang yang gue sayang, gue nggak mau sampai gue juga kehilangan lo, sebagai Abang yang gue sayang!" Rangga sudah duduk di belakang motor sang kakak, lalu memakai helmnya.
"Turun, nggak!" bentak Erlangga.
"Ayolah, Kak! Segitunya kah, Lo benci sama adek sedarah Lo, sendiri!" Rangga enggan untuk turun, dia memeluk sang Kakak dengan erat.
"Bacot, Lo!" Erlangga langsung menyalahkan mesin motor sportnya lalu perlahan keluar dari halaman rumahnya yang begitu luas.
Begitu sampai di gerbang, seorang penjaga mengucapkan selamat malam kepada kedua Tuan mudanya dan membukakan pintu gerbang itu. Kedua penjaga itu merasa heran melihat majikannya akrab satu sama lain karena yang mereka tahu selama ini Erlangga tidak pernah mau dekat dengan Rangga.
Selama di perjalanan menuju minimarket, Rangga merentangkan tangannya lebar-lebar seraya berteriak, "Wooo ... hooo!"
Begitu senang hatinya ketika dia bisa sedekat ini bersama Erlangga, ini pertama kalinya dia diboncengi oleh kakaknya. Dia melihat ke arah sekeliling yang sedang melihatnya begitu norak, tetapi Rangga tidak memperdulikan mereka. Dia tetap melampiaskan rasa kecewa, sedih, sekaligus bahagia pada kehidupannya karena orang dia sayang direbut olah orang yang dia sayangi pula.
__ADS_1
Ada lengkungan bulan sabit pada bibir Erlangga ketika melihat tingkah konyol sang adik melalui kaca spion, ini juga kali pertama bagi dia memboncengi Rangga. Dia pun menancapkan gas motornya lebih kencang untuk menikmati sensasi adrenalin bersama sang adik agar semakin tertantang.
Pada saat motor melaju kencang dan jalanan cukup senggang, Erlangga pun melepaskan stang motor dan merentangkan kedua tangannya sembari berteriak, "Wwwwoooowww!"
Rangga pun mengikuti sang kakak, sehingga mereka bisa sama-sama menikmati suasana malam yang memicu adrenalin jiwa laki-laki mereka.
Setelah kecepatan motor mulai berkurang, Erlangga pun melajukan motornya kembali ke tempat tujuan. Akan tetapi, dari kejauhan terlihat polisi sedang merazia kendaraan, Erlangga juga melihat polisi ingin menghentikan motor mereka tapi Rangga berbisik kepada Erlangga, bila dia bisa melewati polisi itu dan tidak tertangkap maka Rangga akan mencium salah satu banci yang mereka temui saat di persimpangan jalan tadi.
Erlangga pun menampakan senyumannya, dan menyuruh Rangga untuk berpegangan kuat-kuat, kemudian dia melanjutkan motornya secara perlahan ketika polisi itu menyuruhnya untuk menepi. Akan tetapi, Erlangga justru melawatinya dari belakang polisi itu sehingga dia bisa menambah kecepatan penuh pada motornya saat berhasil melewatinya dengan mudah.
"Sial!" umpat Rangga ketika Kakaknya berhasil melewatinya dengan mudah.
Erlangga pun tertawa puas ketika mendengar umpatan Rangga, dia pun mengurangi kecepatan motornya saat matanya melihat seorang waria sedang melantunkan lagu di depan warung pedagang kaki lima.
"Kak, kak, kak! Serius Lo, Kak! Jangan bercanda!" Rangga tidak percaya bila sang kakak menagih ucapannya.
"Lo, laki kan? Laki-laki tuh. harus menepati, janjinya! Ayo, turun!" Erlangga turun dari motornya dan menarik baju Rangga dari belakang seperti anak kucing.
"Kak, kan janjinya cium yang ada di persimpangan arah pulang! Bukan yang ini," ucap Rangga dengan memelas.
"Sama aja, yang ini nggak kalah cantiknya sama yang di persimpangan sana!" Erlangga membuka helm sang adik, ini pertama kalinya Erlangga bicara seakrab itu dengan Rangga.
"Sialan!" maki Rangga saat Erlangga menegur salah satu waria dan mendekat ke arahnya.
Susanti, nama yang berkenalan dengan Rangga saat mereka saling berbasa-basi terlebih dahulu sebelum pada akhirnya ke rencana pada awal tujuan Rangga.
Susanti pun malu-malu ketika Rangga mulai mendekat ke arahnya, dan l suara sorakan pun yang di pimpin oleh Erlangga semakin meriah untuk menyemangati sang adik menepati janjinya.
"Cium, cium, cium!" para teman Susanti yang seprofesi.
Rangga pun menelan saliva-nya dengan kasar lalu memegang pipi Susanti sembari menutup matanya, setelah itu Rangga mendaratkan bibirnya tetap di pipi Susanti.
Suara tepukan tangan pun begitu meriah saat Rangga berhasil mencium Susanti, dalam hitungan beberapa detik Rangga melepaskan ciuman itu seraya langsung mengelapnya.
Setelah ciuman, Erlangga dan Rangga pamit kepada Susanti seraya meminta maaf karena sudah mengganggu waktunya, Susanti pun dengan ramah mengucapkan untuk hati-hati di jalan dan jangan lupa untuk mampir kembali.
Selama perjalan Erlangga tertawa tiada henti-hentinya, sungguh terhibur hatinya saat sang adik menepati janji sebagai seorang laki-laki sejati.
To be continued...
__ADS_1