
Suara sirene ambulan berhenti tepat di depan ruang UGD, para rekan medis bergegas membantu mendorong brankar yang terdapat pasien tidak sadarkan diri. Mereka membawa pasien itu hingga ke dalam ruangan rawat UGD.
Carly sang kepala pelayan terus menemaninya dengan setia di depan pintu ruang UGD, tanganya mengepal kuat-kuat sebagai bentuk penyesalannya karena telah gagal menjaga amanah yang Josua berikan.
Pria bertubuh tegap yang sudah memasuki kepala empat tersebut, terus berupaya berdoa untuk keselamatan Grael. Keringat dingin terus mengalir di dahinya, ini kali pertama Carly membuat kesalahan fatal dalam mengemban tugasnya sebagai kepala pelayan Josua.
"Di mana, Erlangga?" tanya Nadin yang baru saja keluar dari ruangan tersebut saat menangani Grael.
Carly dengan berat hati memberitahu bahwa Erlangga sedang berada di luar kota, dan akan pulang lusa, sedangkan Josua sedang berada diperjalanan menuju rumah sakit.
Penuturan Carly membuat Nadin menghela napas kasarnya, dia pun menghubungi Erlangga tetapi nomornya sedang tidak aktif, kemudian dia menelepon Rio untuk memberitahu keadaan Grael.
”Bilang sama Aki-Aki gila itu, saya tidak akan tinggal diam, karena sudah bodoh memaksa Grael dan Erlangga untuk tetap tinggal di rumah neraka itu!" Nadin begitu emosi kepada Carly setelah memberitahu kepada Rio.
Terpaksa Nadin membiarkan Grael tetap berada di dalam ruangan rawat UGD untuk mendapat penanganan yang lebih intensif. Dia menyuruh perawat kepercayaannya agar Carly beserta keluarga Josua termasuk Josua sendiri dilarang menemui Grael tanpa seizinnya.
Tidak lama kemudian, Josua pun datang dengan langkah kaki yang tergesa-gesa dia menghampiri Carly yang masih setia nunggu di ruang tunggu UGD.
"Dasar, bedebah! Apa aku membayarmu mahal hanya untuk ini!" bentak Joshua, tangannya langsung memukul Charly tepat di wajah yang bertugas sebagai ketua dari para maid.
"Maaf, Tuan! Saya telah gagal menjaga amanah yang Tuan berikan, saya pantas menerima hukuman dari Tuan," ucap Carly yang menundukkan kepala saat bibirnya sudah mengeluarkan darah akibat pukulan dari Josua.
"Di mana anakku sekarang? Katakan!" bentak Josua.
Carly menunjukan ruang rawat UGD di mana Grael masih dalam penanganan dan pengawasan dokter. Josua yang langsung tahu di mana Grael, berusaha ingin masuk tapi dicegah oleh beberapa pihak medis.
Keributan di depan ruang UGD pun terjadi, saat Josua berusaha untuk masuk dan menjenguk menantunya, hingga akhirnya Nadin pun ikut turun tangan menangani Josua lantas membawanya ke ruang pribadinya.
Di sana Josua mendapat penjelasan dari Nadin tentang kondisi Grael yang hampir merenggut nyawa kalau tidak segera mendapat pertolongan. Nadin dengan nada emosinya membentak Josua karena sudah tidak bisa melindungi Grael dari orang-orang yang ingin mencelakainya.
__ADS_1
"Saya akan menuntut kamu, sebagai dalang utama! Karena tepat kejadian tersebut berada dirumahmu! Sama halnya ketika Kakaku mendapat siksaan di rumah nerakamu!"
"Jaga mulutmu Nadin! Saya, bisa menuntutmu atas pencemaran nama baik! Oke, saya terima, bila anakku terluka karena kesalahanku sebagai orang tua yang tidak memperhatikan lingkungan sekitar, tetapi jangan bawa-bawa Calista dalam hal ini!" Josua menggebrak meja lalu keluar dari ruangan Nadin.
Emosianya meluap-luap takala mendengar tuduhan yang menyakitkan dari adik iparnya, kini langkahnya menghampiri Carly dan menyuruh untuk mengumpulkan bukti, agar siapapun yang berani macam-macam dengan menantu kesayangannya maka tidak ada ampun baginya.
***
Jam menunjukan 00 : 20 am. Erlangga pun baru selesai menyelesaikan adegan scene sekenarionya bersama Angelina lalu bergegas untuk pergi ke hotel tempat penginapannya.
Pada saat Erlangga baru saja selesai mandi, tiba-tiba Angelina langsung memeluknya dengan balutan lingerie yang begitu seksi. Dia berupaya untuk mencium bibir Erlangga. Akan tetapi Erlangga langsung menghempaskannya begitu saja ke lantai.
Angelina meringis kesakitan saat dengkulnya mencium lantai hingga memar, dia pun meminta Erlangga untuk mengobati lukanya sebagi bentuk tanggung jawab.
"Angelina! Kalau kamu masih bersikap seperti ini, saya panggilin tugas keamanan hotel!" bentak Erlangga yang mendorong bahu Angelina saat wanita itu menangis memeluknya.
"Tutup mulut kamu, Angelina! Kita tidak pernah melakukan apapun, selain ciuman di adegan syuting dan itu bukan cinta, tapi profesional aku sebagai artis!" Erlangga mencengkram kuat-kuat pipi Angelina, dirinya benar-benar muak dengan sikap Angelina.
"Tapi Aku mencintaimu! Semua para fans kita juga mendukung kita sebagai pasangan yang ideal dan serasi. Tidak mau kah kamu menyenangkan perasaan fans kamu? Walapun hanya sekedar pura-pura?" Angelina masih tetap berusaha menggoda Erlangga.
"Apa ini yang di sebut pura-pura?" Erlangga melihat penampilan Angelina yang begitu seksi.
"Tidak apa kamu menganggap hubungan kita ini biasa saja, tapi biarakan aku untuk bisa memberi rasa kepuasan padamu!" ujar Angelina.
"Dasar wanita ja—"
Suara dembrakan pintu kamar hotel begitu keras, sehingga membuat Erlangga melirik ke sumber suara tersebut, dia melihat Rio dengan wajah panik seraya dengan deru napas tersengal-sengal.
"Gra–Grael ... El ... Grael!" ucap Rio yang terbatah sembari mengatur napas yang begitu sulit membuat Erlangga langsung memasang mimik wajah panik.
__ADS_1
"Siapkan mobil, pesan tiket sekarang juga!" Erlangga langsung melepaskan Angelina begitu saja dan segera memakai bajunya.
Belum selesai Rio memberitahu keadaan Grael, tetapi Erlangga langsung bisa menebak hal buruk yang terjadi pada istrinya, Rio pun segera memesan tiket penerbangan malam ini juga tetapi semua tiket telah habis terjual, mereka pun mengambil penerbangan pukul tiga pagi.
***
Pagi hari, di kediaman rumah Louis. Rangga yang baru saja tiba dari luar negeri dalam keadaan tubuh yang agak kurusan masuk menaiki anak tangga. Semua para maid yang melihat Rangga langsung panik dan menundukkan kepalanya.
"Papi ke mana?" tanya Rangga pada salah satu maid. Akan tetapi, maid itu hanya diam dengan tubuh gemetar karena takut menjawab.
"Tuan muda! Seperti biasanya, Tuan besar sudah berangkat ke kantor," ucap Lydia yang menjadi kaki tangan Carly sekaligus menjawab pertanyaan Rangga.
Rangga memasang mimik wajah senyum sinisnya lalu membentak lagi pada salah satu maid yang masih ketakutan saat Rangga menanyakan kebenaran yang terjadi.
"Tuan, muda ... sepertinya anda harus istirahat dulu di kamar, karena saya tahu perjalanan dari luar negeri membuat anda lelah, saya akan membawakan makanan bernutrisi untuk kesehatan Tuan muda," saran Lydia dengan sikap yang masih tenang.
"Saya tidak bicara sama kamu! Saya sedang bertanya sama dia! Dan kamu, kalau masih ingin berkerja di sini sebaiknya katakan di mana Papi?" bentak Rangga kembali.
"Tu–tuan be–besar la—"
"Tuan besar lagi menghadiri rapat penting dengan kolega, jadi saya mohon ... agar Tuan muda mau mendengarkan ucapan saya untuk beristirahat di dalam kamar!" dusta Lydia yang menundukkan kepalanya
Rangga pun langsung masuk ke dalam kamar dan itu membuat Lydia tersenyum sinis karena dengan mudah Rangga menurut dengannya. Akan tetapi, Rangga yang tidak gampang tertipu oleh seorang maid seperti Lydia, dia masuk ke dalam kamar dan menghubungi Carly untuk menanyakan keberadaan sang ayah.
"Apa? Rumah sakit? Ok, saya ke sana!" Rangga langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas pergi ke rumah sakit.
Langkah kaki Rangga berlari kecil saat dia sudah berganti baju dan jaket, kemudian menuruni anak tangga lantas menatap sinis ke arah Lydia yang menanyakan dirinya hendak mau pergi kemana, tetapi Rangga berlalu begitu saja.
To be continued...
__ADS_1