
Suasana di malam hari begitu sejuk ketika angin semilir tidak terlalu kencang, di temani bintang-bintang di langit serta alunan musik dari Erlangga yang memainkan gitar sedangkan Grael bernyanyi dengan suara yang merdu. Josua sibuk membakar sisa ikan yang dia tangkap.
Sementara Rangga sibuk bermesraan dengan Emira melalui video call dan membahas soal sikap Rangga yang begitu alay menurut Emira.
"Ngga, bantu Papi bawakan bumbu kecap di dalam!" pinta Josua. Dia menata ikan yang sudah di tusuk lalu ditaruh di atas api unggun.
Tidak kunjung mendapat jawaban dari sang anak, Josua menjewer kuping Rangga yang tengah berbaring dengan beralas tikar.
"Aaa ... sakit, Pih!" keluh Rangga yang mengusap telingannya.
"Kalau orang tua ngomong didengar!" ujar Josua.
”Ya, Pih!" Rangga langsung masuk ke dalam untuk mengambil bumbu ikan.
Setelah ikan telah matang di bakar, mereka pun menikmati makan malam bersama. Josua yang tidak mau kehilangan momen berharga bersama menantunya, dia menyuapi Grael dengan penuh kasih sayang bagaikan seorang ayah kandung terhadap anaknya.
"Pih, Rangga juga mau! Aaaaa—"
"Makan sendiri! Kamu sudah besar, juga punya tangan!" ucap Josua yang dingin.
"Papi, nggak adil banget! Masa El di suapi tapi Rangga nggak! Anak Papi itu dia atau Rangga sih?" Rangga merajuk seperti anak kecil.
"Sini gue suapin!" Erlangga menahan leher sang adik lalu memasukan satu suapan besar ke dalam mulut Rangga.
"Gila gede banget!" ucap Rangga yang kesulitan bicara.
Mereka pun menikmati makan malam penuh nikmat, usai makan malam tidak lama kemudian Grael tertidur di pangkuan Erlangga, sedangkan ketiga lelaki yang berkuasa di Grup Jaya saling berbincang satu sama lain.
Ini pertama kalinya mereka bisa piknik bersama, pertama kalinya mereka bisa merasakan kehangatan antara sang ayah, anak dan kakak beradik dan semua itu berkat wanita muda yang masih belia, karena dialah ketiga lelaki Grup Jaya yang awalnya dingin sekarang mulai mencair berkat Grael.
Mereka pun bersyukur karena Grael masuk membawa kehangatan, keceriaan dan warna di kehidupan ketiga lelaki Grup Jaya meskipun di awal sempat perang dingin tapi lambat laun ketiganya semakin akrab.
__ADS_1
Keakraban mereka patut dirayakan, Josua mengeluarkan Wine yang berkelas, dia sudah merencanakan ini sebagai perayaan untuk mereka bertiga. Tidak tanggung-tanggung, Josua membawa banyak wine untuk menemani mereka sebagai pelepas pelipur lara akibat bekerja keras.
"Er, mending kamu bawa masuk istri kamu, kasihan dia sudah malam!" ucap Joshua yang setengah mabuk.
"Ya sudah, Pih ... kalau gitu Rangga juga mau masuk dulu ke tenda!" sahut Rangga yang juga sudah mabuk, dia hendak pergi ke arah tenda Erlangga dan Grael tapi ditarik lengannya oleh Erlangga.
"Eeh, tenda lo, sebelah sana, cunguk!" Erlangga menunjuk belakang Rangga.
"Mana? Oh iya!" Rangga menampakan gigi putihnya kepada Erlangga saat dirinya duduk kembali di samping sang kakak. Akan tetapi sebelum sang kakak membawa masuk Grael ke dalam tenda, Rangga berbisik pada sang Kakak. "Jaga dia, jangan sakiti hatinya apalagi main pisik! Gue tahu Lo suami yang setia sama istri, sampai Lo nyakitin dia, orang yang pertama yang kasih Lo pelajaran adalah gue!"
Mendengar ucapan Rangga yang sedang mabuk, ternyata masih mampu membuat Erlangga cemburu. "Nggak usah nasihatin gue!"
"Terserah Lo! Asal Lo tahu aja, Irfan berencana mau merebut Grael dari Lo, jadi Lo jangan terpancing dengan sekertaris modal kue apem doang! Satu rahasia lagi, tapi Lo jangan bilang-bilang ya!" Rangga menepuk pipi Erlangga dengan kesadaran yang mulai menipis.
Erlangga menepis tangan Rangga dengan kasar hatinya masih panas ketika sang adik menasihatinya. "Apaan?"
"Rahasianya adalah ... gue sayang sama Lo, Kak! Bahkan rasa cinta gue ke Grael kalah sama rasa cinta gue ke Lo! Jadi ... mulai sekarang, Lo harus baik sama adek Lo satu-satunya ini! Gue pengen juga kaya yang lain dapet perhatian dari Abangnya!" Rangga menjatuhkan kepalanya ke arah bahu Erlangga.
Erlangga pun keluar lagi dari dalam tenda setelah menyelimuti Grael, dia berniat mengambil kesempatan untuk mencari informasi dari sang ayah soal ibunya.
"Kenapa keluar lagi, Er! Bukan enak-enak sama istri di dalam! Biar kamu cepat kasih Papi cucu!" ucap Josua yang masih setengah mabuk.
"Er mau lebih dekat lagi sama Papi dan Rangga!" ujar Erlangga yang beralasan.
"Aah, gue tahu! Pasti Grael lagi M kan? Mangkanya Lo nggak bisa wik wik? Hahah kasian burung Lo!" Rangga terbangun dari tidurnya lalu menjatuhkan lagi kepangkuan Erlangga.
"Anak ini!" Josua langsung menampar pipi Rangga dengan pelan.
"Aaah, sakit Pih!" keluh Rangga yang membalikan posisinya menghadap perut Erlangga seraya memeluknya.
"Papi mau punya cucu? Cewek apa cowok?" tanya Erlangga yang menuang satu gelas wine ke arah Josua.
__ADS_1
"Apa saja! Asal kamu jangan menjauhkan Papi dengan cucu-cucu Papi kelak!" sindir Josua yang menenggak wine tersebut.
"Kenapa, Papi begitu memanjakan istri, Er?" tanya Erlangga perlahan menjalankan rencananya.
Josua tertawa, dia pun secara jujur memberitahu bila dulu dia sangat ingin memiliki anak perempuan, dan pada saat Tuhan mewujudkan permintaannya, Tuhan justru merebut keduanya begitu saja.
Sudut bibir Erlangga terangkat seakan dia masih tidak percaya bila ayahnya begitu sedih kehilangan istrinya, di samping itu secara bersamaan Erlangga terkejut bila sang ibu sedang mengandung adik perempuannya.
"Mungkin kamu menganggap Papi adalah pembunuh ibumu! Itulah sebab kau membenci Papi! Tapi asal kamu tahu, mana ada seorang suami yang membunuh istri tercintanya sendiri di saat dia bahagia ketika istrinya mengandung anak perempuannya!" ucap Josua yang menenggak minuman lagi.
Erlangga mencoba mencerna maksud perkataan Josua, dia pun mengingat-ingat lagi kejadian beberapa tahun silam, ketika keluarga yang sedang harmonis tiba-tiba berubah menjadi awan gelap.
Dia melihat sendiri bagaimana ibunya meninggal secara tragis di depan matanya, sampai Beni langsung memeluknya. Sejak saat itulah Erlangga hanya dekat dengan Beni dan tidak lama kemudian Josua membawa Kylie masuk ke dalam rumahnya sebagai ibu sambungnya.
"Apa Papi selingkuh dari Mami—Er? Papi di mana saat itu?" tanya Erlangga dia mulai mengepalkan tangannya ketika ingatan suram itu kembali.
"Selingkuh?" Josua tertawa pelan lalu melanjutkan perkataanya, "Papi lembur kerja, dan mendengar teriakan kamu!"
"Jadi benar, Papi selingkuh dengan Ibunya Rangga?" Erlangga sudah siap melayangkan pukulan bila sang ayah berkata jujur kalau lelaki tua itu benar selingkuh dengan Ibu—Rangga.
"Bagaimana Papi bisa selingkuh dari Mamimu sedangkan Mami kamu adalah orang yang paling Papi cintai sampai detik ini, bahkan mungkin sampai napas terakhir Papi! Mami kamu begitu sempurna, dia selalu ada untuk Papi, tapi Papi tidak ada di saat dia membutuhkan Papi!" Josua menangis sejadi-jadinya bila mengingat kejadian tersebut.
Josua memukul dirinya sendiri bahkan memecahkan botol wine dan akan mengarahkan pada pergelangan tangannya untuk menyusul istri tercinta, tapi Erlangga dengan sigap bangun dan membiarkan Rangga terguling ke rumput demi menyelamatkan sang ayah.
"Kamu pantas membenci Papi! Papi pantas tidak mendapatkan maaf dari kamu! Selama ini Papi terus dihantui rasa bersalah, mungkin Mami kamu di sana telah memberi hukuman untuk Papi dengan cara tersiksa menginginkan anak perempuan!" Josua menangis ke dalam pelukan Erlangga.
"Pih!" ucap Erlangga yang turut mengeluarkan air mata.
Sementara itu, Rangga yang tengah bermimpi basa dengan Emira, berguling kembali dan memeluk kaki Erlangga lalu menciumnya dengan penuh napsu, membuat kakaknya sendiri merasa risih antara sedih dan juga kesal.
To be continued...
__ADS_1