Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
50. Kepergian Erlangga


__ADS_3

Keesokan paginya, Grael menyiapkan segala keperluan sang suami yang ingin berangkat ke kota N selama tiga hari untuk melakukan syuting film layar lebar. Air hangat sudah dia siapkan untuk Erlangga, bahkan baju yang akan suami pakai sudah dia siapkan di atas tempat tidur.


"Kak? Kak Erlangga ... ayo bangun!" Grael mengelus rambut sang suami ketika membangunkan suaminya agar tidak terlambat pergi ke lokasi syuting.


Suara erangan ciri khas seorang baru bangun tidur terdengar di telinga Grael, saat Erlangga terusik dengan helusan lembut dari tangan seseorang, matanya terbuka secara perlahan. Erlangga menangkap sosok bidadari tanpa bersayap berada di depan matanya sedang tersenyum.


"Good morning, honey!" sapa Erlangga yang membalas senyuman Grael.


"Morning too ... ayo bangun! Air hangat sudah aku siapkan untuk mandi, sekarang aku mau bikin sarapan untuk kamu, mau sarapan apa?" balas Grael menyapa sang suami sembari mengusap pipi Erlangga.


"Mau sarapan kamu." Erlangga menarik tubuh sang istri agar berada di dalam dekapannya.


"Astaga, kan semalam juga udah! Masih kurang?" Grael mengigit pipi Erlangga dengan gemas ketika tubuhnya berhasil berada dipelukkan sang suami.


"Masih kurang, Yank! Si junior mau juga dong digigit sama kamu, eh ... jangan digigit tapi di emuut aja!" pinta Erlangga yang masih berat membuka matanya.


"Iihh ... mesum banget sih! Sudah, sana mandi!" Tangan Grael mencubit hidung suaminya dan berniat untuk bangun dari atas tubuh Erlangga. Namun, tubuhnya langsung menerima tarikan dari sang suami, hingga kini Erlangga yang berada di atas tubuh Grael.


"Biarin ... mesum sama istri sendiri, emangnya enggak boleh?" Erlangga mendaratkan wajahnya tepat dibelahan bagian dada Grael seraya merasakan kehangatan dan aroma di bagian tersebut.


"Iiih ... mandi enggak?" Grael menggelitik pinggang Erlangga, agar segera bangun dari atas tubuhnya.


"Mandiin," manja Erlangga yang menahan ke dua tangan Grael agar berhenti menggelitiknya.


"Kalau aku yang mandiin, yang ada kamu nggak jadi berangkat ke lokasi syuting!" ucap Grael.


"Ok, bos!" Erlangga mengecup bibir Grael sebelum akhirnya dia mau mengalah dan mendengarkan kata-kata istrinya.


***


Setelah selesai menyiapkan sarapan, Grael berniat untuk kembali ke atas. Akan tetapi Erlangga sudah lebih dulu menuruni anak tangga dengan penampilan seorang superstar.

__ADS_1


"Mau sarapan apa? Nasi goreng apa sandwich?" Grael menggeser bangku untuk mempermudah Erlangga duduk.


"Ini, kamu yang buat semua?" tanya Erlangga ketika melihat menu sarapan di atas meja makan.


Josua yang sedang menikmati menu nasi goreng buatan Grael, melirik ke arah Erlangga, sedangkan Grael langsung cemas dengan pertanyaan dari suaminya.


"I–iya ... kenapa? Enggak suka ya? Mau dibuatin sama chef James?" gugup Grael, hatinya takut membuat Erlangga marah dengan menu breakfast sederhana buatan dirinya.


"Enggak, usah! Aku mau ini aja." Tunjuk Erlangga ke menu nasi goreng.


Jemari lentik sang istri begitu telaten menyiapkan sarapan untuk Erlangga, mulai dari mengambil nasi goreng yang dia hias semenarik mungkin seperti ala restoran terkenal, sampai menuangkan air minum untuk dirinya. Begitu sempurna menjadi istri idaman. Dalam diri Erlangga, dia merasa bangga karena sudah berhasil merebut Grael dari tangan Rangga.


"Terima kasih," ucap Erlangga. Dia pun membaca doa dan langsung memasukan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya, perlahan dia mengunyah sembari menikmati sarapan buatan sang istri.


Ini pertama kali Erlangga makan nasi goreng yang sama persis citra rasanya seperti buatan mendiang ibunya, dia pun langsung melahap nasi goreng yang ada di hadapannya.


Grael yang menunggu komentar dari sang suami, malah diabaikan. Dia pun memilih untuk ikut makan bersama ke dua pria asing yang kini sudah menjadi bagian keluarganya.


Josua melihat Erlangga seraya menanti jawaban dari mulut sang anak, tetapi Erlangga tidak menggubris ucapan dari Josua, di masih asyik mengunyah nasi goreng yang ada di mulutnya daripada berkomentar tentang ucapan sang ayah, sedangkan Grael yang merasa sikap suaminya harus diubah, menjadi kurang nyaman di antara mereka berdua.


"Kak!" panggil Grael kepada suaminya dengan lembut agar menjawab pertanyaan dari Josua.


"Oh, Papi lagi bicara sama Er? Kirain lagi kontak batin sama anak ke dua Papi," sahut Erlangga yang memberitahu secara tidak langsung bahwa dia tidak suka dipanggil dengan sebutan sama persis seperti adik tirinya.


"Ya, Papi sih ... enggak apa-apa, kalau kamu gak jawab pertanyaan Papi, berati nanti Grael bulan madunya sama Rang—"


Suara sendok dan garpu yang jatuh ke atas piring begitu nyaring di telinga Grael, dia tahu bahwa suaminya sangat marah mendengar sebutan kata Rangga.


"Kak," ucap Grael, yang menahan tangan Erlangga agar bersabar.


"Erlangga, kenyang!" Erlangga berdiri dari duduknya setelah meminum minuman yang sudah Grael tuang ke dalam gelasnya, dia pun berdiri di samping Josua seraya berkata, "Aku bukan Rangga! Namaku Erlangga, jadi jangan pernah Papi sebut namaku dengan nama dia!"

__ADS_1


Erlangga melangkahkan kakinya berjalan menghampiri Rio yang sudah menunggu di ruang tamu, meninggalkan Josua yang tersenyum sinis ke arah sang anak.


Rio pun bangun dari duduknya, dia tersenyum ke arah Grael yang berada di samping Erlangga sembari memperhatikan jalan istri dari artisnya tersebut yang begitu aneh.


"Liatin apa!" ketus Erlangga.


"Enggak! Ade gue, tambah cantik aja," tawa Rio yang menampik pukulan dari Erlangga.


Rio pun tertawa sembari membawakan perlengkapan Erlangga ke bagasi mobilnya, sedangkan Erlangga berpamitan kepada istrinya.


"Jangan pakai, pakaian yang terlalu terbuka! Kalau bosan pergi ke paviliun sebelah selatan, aku akan segera kembali!" Erlangga mencium kening Grael.


"Iya, hati-hati di jalan," sahut Grael dengan lembut saat mencium tangan Erlangga.


"I love you!" Erlangga mencium bibir istrinya sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil. Hatinya begitu berat meninggalkan Grael saat mereka baru saja menikah dua hari yang lalu, tapi kini Erlangga harus meninggalkan Grael seorang diri di rumah utama yang begitu luas dan megah.


Grael pun melambaikan tangan saat mobil Erlangga perlahan mulai menghilang, begitu juga dengan mobil mertuanya yang pergi ke kantor setelah Erlangga pergi.


Kini tinggal Grael yang berada di rumah megah tersebut dengan para maid yang begitu banyak, kakinya melangkah masuk ke dalam kamar. Akan tetapi, beberapa maid memandangnya dengan tatapan tidak suka.


"Bukannya dia yang mau menikah dengan Tuan muda ke dua?" bisik maid.


"Sepertinya selingkuh sama Tuan muda pertama," sahut maid satunya.


"Pantesan ... Tuan muda ke dua di rawat di rumah sakit luar negeri! Kasian, Tuan muda Rangga ... diselingkuhi," bisik maid itu.


Setiap kakinya melangkah, Grael selalu mendapat bisikan dirinya yang menghina dia, tetapi dia tetap tidak menggubrisnya. Namun pada saat mendengar Rangga masuk rumah sakit luar negeri, dia pun menghentikan langkahnya dan berbalik menanyakan soal Rangga.


Para maid itu langsung terdiam dan menunduk kemudian berpamit meninggalkan Grael tanpa menjawab pertanyaan mantu pertama Louis. Grael yang nampak kesal kembali menaiki tangga, sedangkan salah satu maid yang posisinya lebih tinggi dari parai maid lainnya, menyunggingkan sudut bibirnya.


"Wanita kampungan! Mau menjadi Nyonya di rumah keluarga Loius! Kita lihat saja, seberapa lama kamu bertahan menjadi Cinderella di mantu kesayangan Louis atau istri dari Erlangga Loius?" ucap salah satu maid yang menjadi tangan kanan Carly—kepala maid.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2