Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
27. Moment Kebersamaan


__ADS_3

Mata Grael tertuju pada sosok yang sudah dia rindukan, air matanya langsung jatuh saat melihat Rangga yang berdiri dengan wajah yang masih pucat, dia langsung berlari dan memeluknya dengan erat.


"Hai, kok nangis?" tanya Rangga dengan suara yang masih lemah, tapi Grael terus memeluknya tanpa menjawab pertanyaan dari Rangga.


"Maaf ya, aku gak kasih kabar. Aku hanya tidak mau membuat kamu kawatir." Rangga membalas pelukan Grael, dia mengusap rambut hitam panjang milik Grael.


"Jahat!" Grael mencubit perut Rangga karena kesal.


"Eh, iya ... ampun!" Rangga melepas pelukannya dan merintih kesakitan sembari tertawa.


"Tuh kan, Mih ... papi bilang juga apa, begitu Grael datang, Rangga langsung sembuh." Josua tiba-tiba datang bersama Kylie membawakan makanan untuk Grael dan juga Rangga.


"Malem, Tante!" Grael tersenyum malu ketika dirinya tertangkap basah sedang memeluk Rangga.


"Hmm," ucap Kylie yang tidak terlalu suka dengan Grael.


Josua pun langsung menyuruh Grael untuk menemani Rangga makan malam bersama, agar anak kesayangannya itu mau makan dan meminum obat. Begitu Grael mengerti, gadis itu tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Mau aku suapin?" tanya Grael.


"Nanti aja, aku mau makan yang ini dulu." Rangga menarik tangan Grael agar duduk dipangkuannya sembari mencium tengkuk leher sang kekasih.


Sesaat Grael menuruti kemauan Rangga, saat bibir kekasihnya itu terus menyapu pipi dan lehernya, begitu terasa hangat seakan membuktikan bahwa Rangga memang terkena demam tapi sentuhan dari pemuda itu membuat Grael terhanyut oleh gelora asmara sampai Rangga memasukan tanganya ke dalam baju Grael.


Sentuhan Rangga yang begitu lembut membuat Grael tenggelam dalam hasratnya yang mulai menjalar, sampai tiba ingatannya tentang Erlangga yang sudah menjamah seluruh tubuhnya. Dia pun langsung membuka mata dan bangun dari pangkuan Rangga.


"Why?" tanya Rangga yang terkejut melihat sikap Grael yang menghindar.


"A-ah, a-aku ... kita makan dulu, setelah itu minum obat." Grael mengambil piring lalu memberikan satu sendok ke arah mulut Rangga.


"Aku lagi gak napsu makan," ucap Rangga tapi Grael membujuk sampai kekasihnya itu mau makan.


Rangga begitu beruntung bisa dijodohkan oleh Grael, gadis cantik, pintar dan berbakat. Selama ini Rangga hanya sebatas menganggumi tanpa memiliki perasaan cinta, tapi ketika dia menyadari bahwa Grael jauh lebih cantik dari Laura, memiliki sifat penyayang, perhatian dan baik, membuat cinta itu tumbuh di hati Rangga.


Pemuda itu tidak mau hidup di masa lalu yang selalu dibayang-bayangi oleh kepahitan yang ditoreh oleh Laura, kekasih yang amat dia cintai. Bayangan tentang pengkhianatan oleh kedua orang yang dia percayai, membuatnya selalu drop seakan belum bisa bebas dari kepahitan.


Rangga menyadari, bahwa Grael lah yang menjadi obat penawar rasa sakit itu, dia tidak mau kehilangan sosok wanita yang begitu sempurna seperti Grael. Dia tidak mau bila miliknya direbut oleh Erlangga, karena itu dia akan memperjuangkan, mempertahankan Grael serta tahta untuk bisa membahagiakan sang pujaan hati.


"Maaf ya, sudah buat kamu khawatir." Rangga memegang tangan Grael dan menatapnya penuh lekat saat mereka sudah selesai makan bersama.


Kedua mata Grael, membalas tatapan Rangga, dia mengusap pipi Rangga sembari tersenyum. "Jangan diulangi lagi ya."


"Makasih ya udah mau datang ke sini," ucap Rangga yang dianggukan oleh Grael.


"I love you," ucap Rangga tetapi Grael tidak membalasnya.


"Kenapa gak dibalas?" Rangga mengerutkan keningnya, dia merasa kecewa.

__ADS_1


"Nungguin ya?" Grael tertawa melihat kekecewaan pada Rangga.


"Iih, kamu bisa juga yaa ... awas ya, gak bakal aku izinin pulang sebelum bilang sayang sama aku," ancam Rangga.


"Ih ... maksa." Grael menusuk pinggang Rangga dengan lembut.


"Aku kurung disini ya?" Rangga langsung menarik tangan Grael hingga tubuh gadis itu jatuh kedalam dekapannya, lalu dengan cepat membanting gadis itu hingga dia berada di atas tubuh kekasihnya.


Tawa candaan mereka melepaskan rindu yang sempat bersemayam direlung hati mereka masing-masing, walaupun hanya satu hari mereka tidak bertemu. Namun bagi ke duanya terasa lama, deru napas mereka begitu menggebu, sejenak mereka saling memandang hingga akhirnya Rangga mengecup kening Grael dengan mesra saat Grael berada di bawahnya.


"Ngga," Grael menahan bibir Rangga agar tidak menciumnya.


"Aku kangen!" Rangga mencium pipi Grael dan perlahan ingin mencium bibir ranumnya. Namun Grael sudah memalingkan kepalanya lebih dulu.


"El, aku pengen! Mau lanjutin yang sempat tertunda di ruang UKS," pinta Rangga yang menarik dagu Grael agar melihatnya lagi.


Tangan Rangga kini mulai menuntun tangan Grael agar berada di lehernya, sedangkan tangannya masuk ke dalam baju Grael, sembari mengecup telinga sang empu.


"Ngga!" tegas Grael agar Rangga menghentikan aksinya.


"Apa!" Rangga mulai kesal dengan Grael yang mencoba menolaknya.


"Ngga! Rangga!" teriak Kylie yang ingin masuk ke dalam kamar.


"Mami!" ucap Rangga yang panik.


"Iya , Mih?" sahut Rangga yang kini duduk di kursi meja belajarnya.


"Belum tidur? Lihat jam berapa? Anak perempuan kok masih di rumah orang!" ketus Kylie dengan dingin.


"Mih, ini masih jam delapan, lagian juga Mami kok bilang gitu?" ujar Rangga.


"Kamu itu lagi sakit, mesti banyak istirahat! Mami rasa, dia juga paham kok." Kylie menatap sinis ke arah Grael sembari melipat kedua tanganya di depan dada.


"Mih!" Rangga ingin berdiri, tapi Grael sudah menahanya lebih dulu.


"Ah ... Ngga, bener kata Tante, kamu mesti banyak istirahat biar cepat sembuh, aku pamit dulu ya." Grael berdiri dari duduknya dan hendak mencium tangan Kylie tapi calon mertuanya tidak menggubris. Grael pun tersenyum dan langsung pergi keluar.


"Puas, Mami?" Rangga mengambil jaket dan menyusul Grael tapi dicegah oleh Kylie.


"Ngga, mami gak suka kamu sama dia! Mami lebih setuju kalau kamu mau memaafkan Alena dan mau balikan lagi dengan Alena," bentak Kylie.


"Apa, Mih? Memaafkan Laura dan balik lagi? Mami lupa, Rangga sekarang sakit karena siapa? Karena Alena! Dia yang udah buat Rangga hancur, Mih! Sekarang Mami nyuruh aku untuk balikan lagi sama Alena? Gak Mih! Karena Rangga sudah cinta sama Grael!" Rangga meninggalkan Kylie mematung di dalam kamarnya.


"El, tunggu biar aku antar!" Rangga menggenggam tangan Grael ketika gadis itu berada di ruang tamu dan bertemu dengan Josua.


"Loh mau kemana? Di luar masih ujan." Josua menaruh secangkir teh.

__ADS_1


"El, pamit pulang, Om. Gak enak sama Mama di rumah sendirian." Grael melangkah maju menghampiri Josua untuk mencium tanganya.


"Loh kenapa pulang, Papi sudah menelepon Mamamu, kalau kamu bakalan menginap disini, lagian Papi sudah menyiapkan kamar untuk kamu? Apa kamu kurang suka dengan kamarnya? Atau desainnya?" tanya Josua dengan raut wajah sedih.


Mendengar ucapan dari Josua membuat Grael menjadi bingung, dia melihat ke arah Rangga untuk memberi solusi yang tepat, tapi Rangga memilih untuk memihak kepada sang ayah.


"Gak bawa baju seragam, Om!"


"Papi sudah siapkan, semua ada dikamar. Besok kamu tinggal berangkat sekolah dari sini dan diantar jemput oleh Pak Beni." Josua mengajak Grael dan Rangga untuk melihat kamar yang sudah disiapkan oleh Josua.


"Ta-tapi, Om," ucap Grael yang ingin protes.


"Papi paling tidak suka ada kata penolakan, bener kan Rangga?" tanya Josua yang merangkul anak keduanya.


Pintu kamar dibuka lebar oleh Josua, ternyata kamar yang dia tempati untuk ganti baju ternyata benar kamarnya. Grael berpikir dia salah mendengar saat menyuruh kepala maid untuk mengantarnya ke kamar.


"Gimana? Apa ada yang kurang kamu suka? Kalau ada bilang sama papi, nanti Papi ubah sesuai yang kamu mau," ucap Josua.


"Om, maaf sebelumnya, bu-bukan niat Grael untuk tidak berterima kasih, tapi ... Grael gak bisa nerima—"


"Oh, ya ... Papi tahu, ini terlalu cepat dan mengejutkan buat kamu. Maaf, Papi terlalu bersemangat." Josua membalikan tubuhnya ketika hatinya begitu sedih mendengar penolakan dari Grael.


"El?" tatap Rangga agar Grael tidak mengecewakan Josua.


"Bu-bukan ma-maksdu Grael, Om. Cu-cuma ... boleh Grael minta susu? Grael tidak terbiasa kalau gak ada susu sebelum tidur," ucap Grael dengan asal.


Josua dan Rangga langsung menghentikan langkahnya keluar, begitu tercengang mendengar ucapan Grael. Ayah dan anak itu langsung membalikan tubuhnya kembali.


'Aaaiisshh, kenapa gue bilang gitu sih? Mati kutu kan jadinya,' batin Grael, dia tersenyum malu mengingat ucapannya.


"Iya, apa lagi? Kue, buah, atau masker? Ah, papi juga suka maskeran sebelum tidur, bagaimana kalau malam ini kita maskeran?" tanya Josua dengan semangat ketika melihat ke arah Rangga.


"Ah ... iya maskeran! Rangga juga suka maskeran sambil minum susu sebelum tidur," jawab Rangga dengan senyum garingnya untuk mencairkan suasana.


Beberapa menit kemudian, saat Grael sudah mengganti baju tidur begitu juga dengan Rangga dan Josua, kini mereka tengah melakukan perawatan wajah bersama sembari menikmati susu hangat.


Sungguh suasana yang sangat jarang Grael rasakan ketika sang ayah telah tiada, betapa senang hati Grael saat tanganya memakaikan masker wajah kepada Josua, tawanya mengembang saat melihat wajah Rangga dan ayah mertuanya begitu lucu ditambah kostum piayama bercorak hewan sapi.


"Om, lihat sini Om." Grael mengarahkan kamera ponsel Rangga untuk membuat kenangan-kenangan. Mereka pun mengabadikan moment kebersamaan mereka. Josua langsung meng-upload tanpa rasa malu ke dunia media sosial yang kebanyakkan rekan bisnis.


"My little angel with my boy." Josua membuat Caption pada akunnya.


Dibalik kesenangan mereka bertiga, terdapat makhluk kasar yang tidak suka melihat ketiganya tertawa begitu senang, tanganya mengepal saat melihat sang suami begitu memanjakan gadis miskin tersebut.


"Dasar udik!" umpat Kylie.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2