
Pagi hari di lingkungan sekolah, Grael mencoba untuk menjelaskan kepada kedua sahabatnya. Semenjak kejadian semalam, tentang pengakuan Grael yang membuat mereka tercengang terutama Veby.
"Bew, Lo masih marah sama gue?" tanya Grael. Dia mencoba mendekat ke arah sahabatnya itu.
"Nat, anterin gue ke toilet sebentar, yuk!" Veby langsung menarik lengan Ernata tanpa memperdulikan ucapan Grael.
Ernata yang merasa tidak enak dengan Grael, hanya memberikan senyuman, lalu meninggalkan gadis itu di kelas.
"Veb, Lo masih marah sama Grael?" tanya Ernata yang menunggu Veby di depan cermin wastafel.
"Emang Lo gak marah apa, sama dia? Apa salahnya coba jujur!" ujar Veby yang berada di dalam toilet.
"Tapi, kan. Dia udah meminta maaf ke kita dan udah dijelasin alesannya kenapa," ucap Ernata yang mencoba menjelaskan kepada Veby.
Veby membuka pintunya setelah selesai, dia mencuci tangan dan wajahnya agar tidak ada yang tahu bahwa dia habis menahan tangisan di toilet.
"Lo nangis?" Ernata menarik bahu Veby lalu melihat kedua mata Veby yang sudah berwarna merah.
"Cuma pilek gue," elak Veby.
"Lo, marah karena Grael gak jujur atau ... karena Lo suka sama Rangga?" tebak Ernata.
Veby pun semakin meneteskan air matanya ketika mendengar ucapan Ernata, dia tidak bisa menutupi perasaanya kalau dia mencintai Rangga, hatinya begitu sakit menerima kenyataan bahwa Rangga adalah tunangan Grael—sahabatnya.
"Gue suka sama Rangga!" isak Veby yang menangis di bahu Ernata.
Ernata tampak tercengang ketika dia mendengar pengakuan dari Veby, entah posisi dia memihak ke siapa, tapi yang jelas mereka adalah sahabatnya. Ernata pun mencoba untuk memberikan rasa empatik pada Veby agar bisa bersabar dan mengikhlaskan Rangga untuk Grael.
"Gue yakin, Lo pasti bisa move on dari Rangga, masih banyak kok tipe kaya Rangga, jadi semangat!" Ernata mengusap air mata Veby lalu mengajaknya untuk keluar.
Pada saat itu juga Grael berada di depan pintu toilet, mendengar semua pengakuan dari Veby. Ada sedikit rasa bersalah pada diri Grael ketika Rangga menjadi miliknya tapi dia juga mencintai Rangga, sosok cinta pertamanya.
"Grael?" Veby langsung terdiam ketika melihat sahabatnya berada di depan pintu toilet wanita.
"Hai, gue cuma mau ke toilet kok." Grael langsung masuk ke dalam.
__ADS_1
Ernata dan Veby terdiam ketika melihat Grael masuk ke dalam toilet, saat itu juga Rangga datang menghampiri Ernata dan Veby yang masih berdiri di depan toilet perempuan.
"Loh, Grael mana?" tanya Rangga yang hanya mendapat tunjukan mata dari Ernata.
"Nanti, suruh ke ruang Bu Ratih ya," ucap Rangga yang ingin melangkahkan kakinya lagi.
"Kenapa gak Lo aja? Kan Lo tunangannya," ucap Veby.
"Gue mau ke ruang Bu Nabil." Rangga menunjukan beberapa buku paket ke arah Ernata dan Veby.
"Sini gue bantu bawaain," tawar Veby yang merebut beberapa buku pada tangan Rangga, tapi sang empu menolaknya.
"Gak apa-apa, gue bawain. Sekalian ada yang mau gue omongin." Veby langsung merebut buku paket dari Rangga.
Mereka berdua berjalan ke arah ruangan guru, sementara Ernata menunggu Grael yang masih berada di dalam kamar mandi.
Di sisi lain, Veby terus menatap Rangga ketika mereka berjalan beriringan menuju ruang guru sembari membawa buku tugas sekolah.
"Sejak kapan kalian tunangan?" tanya Veby to the point.
"Hari Minggu besok baru gue tunangan sama Grael," sambung Rangga.
"Dijodohin?" tanya Veby dan di anggukan oleh Rangga.
"Lo suka?"
"Kalau gue gak suka, kenapa gue marah saat Irfan meluk tunangan gue?"
"Calon ... calon!" Veby mencoba mengingatkan Rangga.
"Mau calon, atau apa, yang jelas dia milik gue," ucap Rangga dengan posesif. Belum sempat Veby membuka mulunya, tapi mereka sudah sampai terlebih dahulu di ruangan guru.
Usai mengantarkan buku tugas ke ruang guru, Rangga dan Veby keluar. Veby pun terus bertanya tentang hubungan Rangga dan Grael selama perjalanan menuju kelas. Hingga tanpa sadar tubuh Veby menambrak tong sampah dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
Rangga dengan cepat menarik tubuh Veby agar tidak terjatuh, tapi sayangnya justru membuat mereka terlihat saling berpelukan. Suara sorakan untuk kedua sejoli itu pun terdengar oleh Grael dan juga Ernata.
__ADS_1
Ernata melihat raut wajah Grael yang sedang menahan cemburu, sahabatnya itu hanya bisa memalingkan wajah agar tidak semakin terbakar oleh api cemburu. Kemudian memilih masuk ke dalam kelas, meninggalkan Ernata yang masih melihat kejadian tersebut.
***
Tiga hari sudah berlalu dan hari ini adalah hari pertunangan Rangga dengan Grael. Selama itu pula persahabatan Grael dengan Veby merenggang. Berbeda dengan Irfan dan Rangga yang terlihat lebih akrab dari sebelumnya. Grael sudah seberusaha mungkin mengajak bicara terlebih dahulu kepada Veby, tapi tetap saja Veby hanya menanggapinya seperlunya.
"Astaga! Cantiknya, Adek gue." Gracia masuk ke dalam kamar sang adik.
"Baru tahu? Udah dari lahir kali, Kak!" jawab Grael sembari tertawa. Gracia pun mencubit pipi sang adik dengan gemas lalu mengajaknya untuk keluar dan bertemu dengan keluarga besar Group Jaya.
Pertunangan Rangga dan Grael yang diadakan di Villa pribadi milik Group Jaya, yang hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja, walaupun acara tersebut tertutup tapi tidak menutupi kemewahan dan kemegahan pada acara pertunangan tersebut.
Grael keluar bersama Gracia, begitu cantik dan anggun bagaikan sang putri, baju dress dengan panjang selutut berwarna merah jambu menambah kesan manis pada diri gadis remaja itu.
Saat menuruni anak tangga, semua mata langsung tertuju pada Grael yang digandeng oleh sang kakak. Wajah cantiknya membuat orang yang berada di sekitar menjadi terpukau terutama Rangga.
Usai duduk dihadapan Rangga, acara pun dimulai. Selama proses acara berlangsung, Grael menatap sekitar ruangan, matanya tidak menangkap sosok yang ingin dia lihat. Entah kenapa, hatinya begitu sedih dan hampa, sudah seminggu dia belum melihat dan mendengar suara pria itu.
Begitu aneh, ketika Grael mulai merindukan sosok tersebut. Dia hanya memasang wajah datarnya tanpa tersenyum, berbeda dengan Rangga yang begitu sumringah dengan hari pertunangannya dengan Grael.
Acara pun dilanjut dengan pertukaran cincin, usai menyematkan cicin di masing-masing jemari. Rangga yang mengambil kesempatan mencium pipi Grael. Semua orang pun langsung tertawa kecuali Kylie.
"Hajar, Ngga!" teriak sang ayah yang mendukung anaknya.
Dukungan sang ayah, membuat Rangga nekat menarik dagu Grael dengan tangannya, lalu mengecup bibir mungil itu sembari ********** dengan cepat sebelum sang empu mengeluarkan kata umpatan ya.
"Hissh ... Rangga!" Grael memukul dada bidang Rangga sembari mengelap bibirnya yang masih basah akibat ulah Rangga.
"Astaga! Sabar, Ngga!" protes Gracia yang tertawa.
Di sisi lain, Erlangga yang masih pokus berjuang mengambil haknya, menahan dirinya untuk bersabar mendengar kabar bahwa hari ini Grael dan Rangga bertunangan.
Erlangga memang sengaja tidak diundang oleh keluarga Group Jaya karena sang ayah menuruti permintaan Rangga yang tidak mau sang kakak merusak hari bahagianya.
"Gue yakin, Lo pasti bisa melalui ini semua , Er!" ucap Rio yang melihat Erlangga dari kejauhan.
__ADS_1
To be continued...